NovelToon NovelToon
Keturunan Pendekar

Keturunan Pendekar

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Anak Yatim Piatu / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

perjalanan seorang remaja yang mencari ilmu kanuragan untuk membalaskan dendam karena kematian kedua orang tuanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kematian Tiga Iblis

Anggun melesat dengan kecepatan tinggi

"Iblis! Terima ini!" teriak Anggun. Ia langsung merangsek maju, menyerang Ludira yang berada paling dekat dengannya.

"Swiiing"

" He he he,aku akan memelukmu, Ah!"

Ludira, yang menganggap remeh kemampuan Anggun, hanya terkekeh sambil mengayunkan belatinya. Namun, tawanya seketika lenyap saat ujung pedang Anggun nyaris membelah tenggorokannya jika ia tidak segera membuang tubuhnya ke samping. Anggun tidak memberikan ruang napas. Ia menggunakan jurus Tarian Kelopak Maut, sebuah ilmu pedang tingkat tinggi dari perguruannya yang memadukan kecepatan dan kelembutan yang mematikan.

"Kurang ajar! Anak ingusan ini ilmunya tinggi Juga!" umpat Ludira.

"Hiaaaaat"

"Wuuut"

" Wuuut'

Melihat Ludira terdesak, Sunar segera melompat membantu. Ia mengayunkan pukulan berantai , menciptakan desingan angin yang berat. "Kakang Badra, ambillah pusaka itu! Biar kami yang mengurus bocah ini!"

Badra mengangguk. Ia tidak peduli pada harga diri pendekar. Baginya, Sisik Naga Emas adalah segalanya. Ia kembali melesat menuju bibir kolam. Namun, Dewi Mayang tidak tinggal diam. Ia mengibaskan selendang sutranya yang sekeras baja, menghalangi langkah Badra.

"Lawanmu adalah aku, Badra!" seru Dewi Mayang.

Pertarungan pecah menjadi dua titik. Anggun melawan duet maut Sunar dan Ludira, sementara Dewi Mayang menahan Badra. Anggun menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Ia berkelit di antara cakar maut dan tusukan belati Ludira dengan kelincahan seekor rusa.

Tring! Tring!

Bunga api memercik saat pedang Anggun beradu dengan senjata kedua iblis itu. Anggun teringat wajah Raka, teringat saat-saat mereka berlatih bersama sebelum peristiwa tragis di Jurang Neraka. Kesedihan itu berubah menjadi tenaga dalam yang meluap.

" Hiaaaaat! ini untuk Raka!" Anggun menusukkan pedangnya ke arah bahu Sunar.

" Wuuut"

" Craaash"

" Aaaaargh"

Sunar mengerang kesakitan saat ujung pedang Anggun berhasil melukai bahunya. Namun, di saat yang sama, Ludira menyerang dari belakang dengan licik. "Mati kau, perempuan jalang!"

Wuuut

Anggun terdesak. Posisinya sulit karena ia harus menghadapi dua lawan tangguh sekaligus. Saat belati Ludira hampir menyentuh punggungnya, sebuah bayangan melesat dari kegelapan hutan dengan kecepatan tinggi menangkis serangan Ludira

"Wush"

"Prakkk!"

" Traaaang"

Sebuah tendangan keras menghantam pergelangan tangan Ludira hingga belatinya terpental jauh.

"Siapa?!" teriak Ludira kaget.

Sesosok pemuda berdiri dengan gagah di samping Anggun. Rambutnya agak berantakan, namun sorot matanya tajam bagaikan elang yang telah melewati badai. Pakaiannya nampak kusam, namun aura tenaga dalamnya terasa begitu murni dan luas, jauh lebih kuat daripada sebelumnya.

"Raka?!" Anggun mematung, air mata seketika menggenangi pelupuk matanya. "Kau... kau masih hidup?" ucapnya seakan tak percaya

Raka menoleh sedikit, memberikan senyum tipis yang menenangkan. "Maaf membuatmu bersedih kak Anggun. Jurang Neraka ternyata tidak seburuk yang mereka katakan. Justru di sanalah aku menemukan sesuatu yang luar biasa"

Ternyata, selama berada di dasar jurang, Raka menemukan sebuah gua rahasia , bekas pertapaan seoarng pendekar sakti di masa lalu Di sana ia mendapat Pedang Pusaka Matahari dan mempelajari jurus Pedang Mataharinya secara Lengkap

"Raka! Kau bocah setan! Bagaimana mungkin kau selamat dari jurang itu?!" Badra yang sedang bertarung dengan Dewi Mayang berteriak kaget

"Tuhan belum mengizinkanku mati sebelum aku mencabut nyawa kalian, guru Mayang biarkan kami yang menghadapi mereka" sahut Raka dingin. Ia mencabut pedangnya, dan seketika itu juga, udara di sekitar mereka terasa bergetar hebat. Hawa pedang itu terasa sangat menggiriskan

Kini situasi berbalik. Raka dan Anggun berdiri bersisian, menghadapi Tiga Iblis Gunung Kunyit yang kini berkumpul menjadi satu karena ketakutan.

"Serang mereka!" perintah Badra.

"Heaaaaah"

" Wuuuut"

" Wuuut"

" Wuuuut"

Tiga Iblis itu maju bersamaan, mengeluarkan seluruh tenaga dalam mereka. Badra dengan jurus Tapak Iblis, Sunar dengan cakar mautnyanya, dan Ludira dengan jurus pukulan beracun.

"Hiaaaat"

Raka dan Anggun bergerak seirama. Seolah-olah mereka adalah satu jiwa dalam dua tubuh. Raka menggunakan jurus pedang yang sangat cepat hingga bayangannya sulit diikuti, sementara Anggun mengisi celah-celah pertahanan dengan serangan-serangan yang tak terduga.

SLASSSHH!

Hoeeek

Plash

Pedang Raka menebas dada Sunar. Darah menyembur. Sebelum Sunar sempat berteriak, pedang Anggun menyambar lehernya dari sisi lain. Sunar, salah satu dari Tiga Iblis, roboh tak bernyawa.

Syuuut

"Sunar!" teriak Badra murka. Ia menyerang Raka dengan membabi buta. Namun, Raka kini bukan lagi pemuda yang dulu bisa ia permainkan. Dengan satu gerakan memutar, Raka menangkis serangan Badra dan mengirimkan pukulan tenaga dalam yang menghantam telak ulu hati Badra.

Hiaaaat

Wuut

Bugh

Aaaaaa

Badra terpental, memuntahkan darah segar. Ludira yang melihat kedua saudaranya kalah, mencoba melarikan diri menuju kolam naga untuk mengambil pusaka sebagai jaminan. Namun, Naga Api yang sedari tadi terluka kini bangkit kembali dan menyemburkan api tepat ke arah Ludira.

Hooosh

"Aaaaaaaa!" Ludira menjerit saat tubuhnya ditelan api panas sang naga. Ia tewas menjadi abu sebelum sempat menyentuh pusaka.

Kini tinggal Badra yang tersisa, bersandar lemas pada batu besar dengan luka parah di sekujur tubuhnya. Raka dan Anggun melangkah mendekat, pedang mereka terhunus.

Namun, di tengah kemelut itu, saat perhatian semua orang tertuju pada sisa-sisa pertempuran dengan Tiga Iblis dan amukan Naga Api yang mulai melandai karena kelelahan, sebuah fenomena aneh terjadi. Kabut tebal berwarna kelabu tiba-tiba muncul entah dari mana, menyelimuti area Kolam Naga.

Hawa dingin yang menusuk tulang terpancar darinya, menetralkan panasnya kawah gunung untuk sejenak.

"Waspada, Anggun! Ada yang aneh dengan kabut ini!" Raka memperingatkan sambil memasang posisi bertahan.

" He he he"

Dari dalam kabut itu, terdengar tawa lirih yang dingin dan bergema. Sosok misterius muncul, mengenakan jubah panjang kelabu yang nampak menyatu dengan kabut di sekitarnya. Wajahnya tertutup topeng perak yang berkilau di bawah sinar bulan merah.

"Hantu Berkabut..." desis Dewi Mayang yang langsung mengenali aura tersebut. " Dia yang membunuh keluarga kalian..."

Hantu Berkabut tidak memedulikan mereka. Dengan gerakan yang sangat halus—seperti melayang di atas air—ia meluncur menuju tengah kolam. Naga Api mencoba menyerangnya, namun Hantu Berkabut hanya menggerakkan tangannya sedikit, melepaskan gelombang energi gelap yang membuat sang naga terdiam sesaat seolah-olah membeku.

Dengan kecepatan kilat, tangannya meraih Sisik Naga Emas. Cahaya emas itu seketika meredup saat bersentuhan dengan energi gelap sang Hantu Berkabut.

"Akhirnya... kunci untuk menguasai Dunia Persilatan ada di tanganku," ucap Hantu Berkabut dengan suara parau.

"Sriiing"

" Wush"

Boooom

"Berhenti!" teriak Raka. Ia melompat, mencoba menebas sang Hantu. Namun, Hantu Berkabut hanya mengibaskan lengan bajunya, menciptakan ledakan angin yang melemparkan Raka kembali ke daratan.

"Kalian terlalu sibuk dengan sampah-sampah seperti Tiga Iblis ini," ucap Hantu Berkabut sambil melirik Badra yang sekarat. "Jika kalian ingin pusaka ini, carilah aku di Lembah Kematian. Tapi aku ragu kalian akan sampai di sana hidup-hidup."

Whuuus

Dalam sekejap, sosok itu menghilang bersamaan dengan memudarnya kabut tebal tersebut. Sisik Naga Emas pun ikut lenyap.

Suasana Puncak Gunung Api mendadak sunyi. Badra akhirnya mengembuskan napas terakhirnya karena luka-lukanya, mengakhiri riwayat Tiga Iblis Gunung Kunyit. Namun, kemenangan Raka dan Anggun terasa hambar. Musuh utama mereka, pembunuh orang tua mereka, baru saja melarikan diri dengan membawa pusaka yang sangat berbahaya.

Raka mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia melarikan diri. Kita harus membalas kematian keluarga kita, Anggun."

Anggun mendekati Raka, memegang bahunya dengan lembut namun kuat. "Kita tidak akan membiarkannya tenang. Kita sudah berlatih untuk hari ini, Raka. Jika dia ingin kita datang ke Lembah Kematian, maka kita akan memberinya kematian yang sebenarnya di sana."

Dewi Mayang berjalan mendekat, wajahnya terlihat sangat serius. "Hantu Berkabut memiliki ilmu yang jauh di atas Tiga Iblis. Dia adalah bagian dari organisasi gelap yang ingin menjungkirbalikkan dunia persilatan. Jika ia berhasil menyerap kekuatan Sisik Naga Emas, tak ada seorang pun yang bisa menghentikannya. tetapi jangan terlalu khawatir aku pernah mendengar jika Pusaka Sisik Naga Emas tergantung jodoh, walau ia sudah berhasil belum tentu ia berjodoh dengan Pusaka itu"

Raka menatap ke arah lereng gunung, tempat Hantu Berkabut menghilang. "Maka kita harus bergerak sekarang, Guru Mayang. Tak ada waktu untuk beristirahat. Dendam ini harus tuntas sebelum bulan merah ini berganti."

"Aku ikut denganmu, Raka. Ke mana pun kau pergi," ujar Anggun dengan ketetapan hati yang bulat.

Setelah memberi penghormatan dan berpamitan pada Dewi Mayang, Raka dan Anggun melesat turun dari puncak Gunung Api. Mereka bergerak bagaikan dua garis cahaya di tengah kegelapan malam, mengejar bayangan Hantu Berkabut

1
Was pray
baru aja muncul si raka tokan sama saka repe udah tenggelam.... 🤣🤣
angin kelana
untuk kesaktian ajian,jurus,pusaka agar di berinama agar menjiwai novel silat indonesia.
angin kelana
lanjuuuutt
angin kelana
awal yg menarik lanjuuuuttt..
Redy Ryan Little
Bagus
Hendra Yana
ditunggu up selanjutnya
Was pray
kasihan di Raka, isoh ngambang Ra isoh nyuling, isoh nyawang Ra lisoh nyanding.. sengsara membawa luka
Hendra Yana
lanjut
Hendra Yana
semangat
Dewi kunti
smg tidak terpecah belah
Was pray
wah saka dikasih hati minta jantung, Raka nasibnya gak pernah mujur, ibarat berakit-raki ke hulu berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu sengsara kemudian, 😄😄
Blue Angel: ha ha ha
total 1 replies
Hendra Yana
di tunggu up selanjutnya
Blue Angel
kembali ke jaman dulu
Blue Angel: inbok aja
total 2 replies
Dewi kunti
hadeeeeehhh tegang bacanya
Batsa Pamungkas Surya
👍🙏lanjutkan💪
Dewi kunti
kayak kurang tepat ya kalimatnya "berguru di pada Ki geni"
Blue Angel: ha ha ha, untung sunar nya udah di bikin koit yah
total 6 replies
Hendra Yana
lanjut
Batsa Pamungkas Surya
mantaaaap
Hendra Yana
up lagi dong
anggita
ikut dukung like👍 iklan👆👆, untuk novel laga lokal. moga lancar novelnya.
Blue Angel: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!