NovelToon NovelToon
REVENGE; The Mad Twin'S

REVENGE; The Mad Twin'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Identitas Tersembunyi / Keluarga / Teen School/College / Crazy Rich/Konglomerat / Dendam Kesumat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Hey, ini ku letakkan di—" ucapan Biyan terhenti ketika ia menyentuh lengan Ara dan gadis itu tiba-tiba saja menyentaknya.

Seolah baru menyadari tindakannya, Ara langsung menatap Biyan kaku. "Ma-maaf. Aku tidak bermaksud begitu."

Meski bingung tapi Biyan menggeleng saja. "Tidak. Salahku karena mengagetkanmu."

Tapi entah ini hanya perasaannya saja tapi Biyan merasa sikap Ara padanya berbeda hari ini. Gadis itu terlihat was-was saat berada disekitarnya. Apa ia melakukan sesuatu yang membuat Ara jadi takut padanya?

"Oh, um. Itu letakkan di sana saja, Abhi. Aku akan membantu anak-anak lain di luar kelas," kata Ara dan langsung pergi begitu saja.

Tak lama Ares mendekat dan menyenggol pelan lengan Biyan, "Kalian bertengkar?"

Biyan menoleh padanya. "Terlihat begitu?"

"Ya, biasanya Ara selalu semangat dan ceria jika bersamamu. Tapi tadi ia terlihat agak aneh. Kau melakukan sesuatu padanya?" Ares bertanya selidik dengan mata memicing.

"Apa aku terlihat buruk dimatamu?"

"Bukan buruk tapi sedikit berbeda."

"Maksudmu?" tanya Biyan penasaran.

"Jujur saja, semenjak kehilangan ingatanmu kau terlihat mampu untuk menyakiti seseorang, Abhi. Padahal dulu rasanya aku selalu ingin melindungimu karena kau terlihat lemah, tapi sekarang kau terlihat begitu percaya diri dengan aura kuat."

"Kalian benci aku yang seperti ini?" tanya Biyan lagi.

Ares menggeleng dengan senyuman lebar, ia merangkul pundak Biyan begitu saja. "Justru kami senang karena rasa cemas kami jadi sedikit berkurang. Jadi, kau melakukan sesuatu pada Ara atau tidak?"

Biyan terdiam sejenak. "Oh, aku hampir menciumnya di gudang belakang kemarin."

Pengakuan spontan Biyan membuat Ares menoleh kaku ke arahnya dengan raut wajah blo'on.

"Huh?! Ka-kau apa?!"

"Well, dia terlihat manis saat cemburu jadi aku ingin menciumnya tiba-tiba. Tapi Ara menolakku. Kupikir ia menyukaiku, apa aku salah?"

Ares menatap Biyan tak percaya. "Wah, aku tak tahu siapa yang tolol di antara kalian," ucapnya lalu menghela napas. "Lalu dia menghindarimu setelahnya?"

"Tidak. Kami bersikap biasa saja."

"Oh? Lalu kenapa hari ini Ara terlihat berbeda padamu? Kau yakin tak melakukan sesuatu?"

Biyan menatap Ares datar seolah ia sudah lelah menjawab pertanyaan itu lagi dan lagi. Membuat Ares langsung terkekeh pelan sembari meminta maaf.

"Mungkin Ara sudah punya pacar jadi ia tak mau kau dekat-dekat dengannya," jawab Ares asal.

"Tapi aku pacarnya."

"Yeah, aku— Hah?! Apa?! Ka-kau bilang apa?!"

Remaja tampan itu menoleh lagi dan tersenyum lebar lalu menunjuk dirinya sendiri. "Aku pacarnya."

Tiba-tiba saja otak Ares mengalami Malfunction dan membuatnya terdiam bagai orang tolol.

***

(Dirumah sakit)

"Hey, kau kenapa?" tanya Dean yang masih penasaran saat mereka baru saja melangkahkan kakinya keluar lift.

"Tidak ada," jawab Biyan cuek.

Dean hanya menghela nafas pelan kemudian menepuk pundak sang sepupu. "Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi kita akan bertemu adikmu sekarang, jadi rubah ekspresimu itu," peringat Dean lalu berjalan kearah kamar sepupunya.

Seolah menyadarinya, Biyan langsung perlahan kembali melembutkan ekspresinya saat Dean membuka pintu kamar rumah sakit dan masuk begitu saja tanpa menunggunya.

"Kak Dean!" Terdengar pekikan gembira dari sang adik yang menyapu pendengaran Biyan. Membuat hatinya seperti menghangat lagi dan lagi.

"Eh, kau sendiri kak? Dimana Kak Biyan?" tanya Abhi saat tak melihat sosok kembarannya dimana pun.

"Aku disini. Kenapa? Merindukanku?" goda Biyan yang sedang melangkah masuk sambil menunjukkan smirknya lalu duduk disofa, membuat Abhi mendecak sebal.

"Aku hanya bertanya saja. Dasar narsis!" desis Abhi yang ditanggapi kekehan oleh Biyan. Menggoda kembarannya adalah kegiatan yang paling menyenangkan bagi Arbiyan.

"Eyy~mengaku saja kalau kau merindukanku. Ingin kupeluk, hm?"

"Apaan sih, Kak Biyan?!" pekik Abhi sebal dengan wajah memerah. Membuat Dean tertawa geli melihat tingkah sepupu-sepupunya.

"Sudah lah, Biyan. Berhenti menggodanya," tegur Dean lalu duduk dikursi yang tepat disamping ranjang Abhi.

"Bagaimana kabarmu Nara-ku yang manis?" tanya Dean cemas tapi dengan nada bercanda, apalagi saat melihat wajah adik kecil mereka yang cukup pucat.

Abhi mendengus. "Kak Dean, orang yang mendengar akan mengira kau sedang berbicara dengan seorang gadis."

Dean terbahak. "Kenapa? Aku suka memanggilmu begitu, kau lebih manis ketimbang kakak menyebalkanmu itu," ucapnya sembari menunjuk Biyan santai.

"Kak Dean!"

"Oke, oke, maaf. Jadi, bagaimana kabarmu, Abhi?"

"Lebih baik kurasa," jawab Abhi dengan cengiran khasnya kemudian berubah cemberut seketika. "Kenapa Kak Dean baru datang? Lalu dimana Daddy? Apa kalian tidak menyayangiku lagi?" tanya Abhi dengan nada manja dan memasang mode merajuk, membuat Biyan hanya bisa memutar bola matanya gemas.

Adiknya ini memang kelewat manja jika sudah bersama dengan Dean, apalagi jika didukung dengan Dean yang juga memanjakkannya. Lengkap sudah! Kalau saja ada Daddy mereka, maka Abhinara akan benar-benar di perlakukan seperti pangeran.

"Eyy~bukan begitu. Aku sibuk mengurus kepindahanku disini, jadi baru sempat menjengukmu. Jangan marah, yaa?" bujuk Dean sambil mengelus puncak kepala Abhi sayang.

Abhi mengangguk paham kemudian kembali tersenyum lebar menampakkan gigi-gigi putihnya.

"Kak Dean tidak datang bersama Daddy?"

Dean menggeleng pelan membuat raut wajah Abhi kembali mengerut. "Tapi Ayah bilang akan menghubungimu nanti."

"Yang benar?!" seru Abhi senang dengan raut wajah berbinar-binar, bahkan Biyan sampai terkekeh-kekeh dibuatnya.

"Iya~" jawab Dean ikut-ikutan tertawa. Bukankah Sudah dibilang kalau hanya dengan berdekatan dengannya saja akan membuatmu bahagia kan? Itu terbukti sekarang.

"Kak, lapar~~" rengek Abhi manja.

"Kau belum makan? Dimana Bibi? Aku baru sadar tidak melihatnya sedari tadi."

"Ibu pulang. Aku yang suruh, soalnya Ibu terlihat lelah jadi aku memintanya istirahat dirumah saja. Toh, aku sudah tidak apa-apa," jawab Abhi santai.

"Begitukah?"

"Kak Dean, aku lapar~~~" rajuk Abhi lagi dengan membuat puppy eyes, membuatnya terlihat sangat imut. Tapi lagi-lagi membuat Biyan merinding, membayangkan wajahnya akan terlihat menyeramkan jika ia melakukan hal itu.

Mereka kembar identik. Ingat?

"Biyan, belikan makan siang sana," perintah Dean dan mendapat pelototan tajam dari sang empunya.

"Kenapa aku?!" protes Biyan.

"Kau ingin membuat adikmu kelaparan?! Kulaporkan pada Bibi baru tahu rasa kau!" ancam Dean dan disambut kekehan geli dari Abhi.

"Iya! Iya! Aku belikan!" ucap Biyan kemudian beranjak dari sofa dan berjalan keluar kamar.

"Kak Biyan, jangan lupa ice cream juga," pinta Abhi lagi.

"Malas! Beli saja sendiri sana!"

"Kak Dean~"

"Hey! Arbiyan! Ikutin saja permintaan adikmu!"

"Arrghh! Fine!" geram Biyan jengkel sembari melangkahkan kakinya semakin cepat sebelum adik bawelnya itu meminta hal lain lagi. Sesampainya didalam lift, Biyan langsung mengulum senyum.

Jujur ia tidak benar-benar marah atau kesal pada adiknya tadi, ia hanya senang karena setidaknya adik kesayangannya itu baik-baik saja. Karena sebenarnya Arbiyan tidak pernah benar-benar marah kepada adiknya itu, bahkan ketika Abhi yang selalu meledek atau mengganggunya sekalipun.

Arbiyan terlalu menyayangi Abhinara melebihi siapapun didunia ini bahkan dirinya sendiri.

***

Arbiyan menghentikan mobilnya disebuah restauran cepat saji, ia keluar kemudian memasuki restauran tersebut dengan santai dan langsung menuju tempat pemesanan.

Sempat ragu apakah boleh membelikan makanan cepat saji seperti ini pada pasien rumah sakit.

Tapi karena Abhi menyukai makanan seperti ini makanya Arbiyan tak ambil pusing dan memilih membelikannya saja.

"3 burger lengkap ukuran jumbo dan berikan aku 2 buah ice cream rasa strawberry. Untuk di Take out, " kata Biyan.

"Baik. Tunggu sebentar," jawab seorang gadis yang bekerja sebagai penerima pesanan.

Biyan hanya mengangguk sekali kemudian mencari tempat duduk sambil menunggu sebelum ponselnya mulai berdering dengan hebohnya. Ia mengambil benda itu dan langsung menjawab panggilannya.

"Ya?"

"Ini aku. Evelyn."

"Oh? Kak Eve. Ada apa?"

"Hanya mau memberitahumu aku sedang di kotamu saat ini."

"Hah? Kakak di Indonesia?! Dengan siapa?"

"Dengan Neo."

"Oh! Kirim salam untuk kak Neo."

"Dia mendengarmu. Lalu bagaimana dengan Abhi? Aku sudah mendengar dari Ayah."

"Baiklah. Abhi sudah sadar dan dalam keadaan sehat, kak."

"Oke, aku akan berkunjung saat pekerjaanku selesai."

"Iya, kak."

Lalu panggilan terputus.

Arbiyan menarik nafas panjang, keningnya kembali berkerut. Memikirkan untuk apa 2 orang kepercayaan Daddy-nya itu datang ke Indonesia? Biasanya mereka hanya akan dikirim untuk menyelesaikan sebuah misi. Tapi apa?

Ya, sudahlah. Nanti bisa ia tanyakan pada Dean saja.

Mata Biyan mulai menjelajah ke sekeliling restoran tersebut guna menghilangkan rasa bosannya, hingga tatapannya jatuh pada cafe diseberang jalan. Matanya memicing memastikan dia tidak salah lihat.

Aracell?

Sedang apa dia dicafe itu sendirian?

Bertemu seseorang atau?

Tak lama seorang pria mendekati meja Ara dan duduk di hadapan gadis itu. Ara tak menolak yang berarti mereka saling mengenal.

Siapa?

Rahang Biyan mengeras tiba-tiba, matanya memancarkan kilatan amarah seketika. Bahkan beberapa orang yang melewati dirinya bergidik ngeri melihat ekspresi Biyan.

Membayangkan gadis itu bertemu dengan orang lain dan tertawa bersamanya membuatnya merasa semakin tidak suka saja.

Akan ia tanyakan besok.

"Permisi, pesanan anda."

Biyan tersadar dari lamunannya kemudian beranjak mengambil pesanan nya dan lekas membayar. Lalu ia langsung bergegas menuju mobilnya. Baru saja ia hendak membuka pintu mobil, ponselnya kembali berdering.

Dean is calling..

"Kenapa? Aku sedang dalam perjalanan sekarang."

"Biyan! Ga-gawat! Abhi! Abhi mengamuk!"

"Hah?! Sebentar lagi aku tiba!"

Biyan langsung melempar kantong yang dipegangnya dijok belakang kemudian masuk lalu men starter mobilnya dan melesat begitu saja.

10 menit kemudian,

Lagi.

Seperti kemarin, Biyan keluar dari mobil setelah mobilnya terparkir sembarangan dipekarangan rumah sakit. Kemudian ia berlari sekencang mungkin menuju kamar sang adik, benar-benar mengabaikan semua orang. Jika kemarin ia berlari diiringi perasaan senang, sedih dan campur aduk kini ia berlari karena takut serta panik.

Abhi mengamuk— itu kata Dean.

Satu kalimat yang membuat jantung Biyan serasa berhenti bekerja. Apa yang terjadi? Kenapa adiknya mengamuk? Tadi dia terlihat baik-baik saja lalu sekarang kenapa?!

Ketika pintu lift terbuka, Biyan sudah disuguhkan dengan beberapa dokter serta perawat yang berlarian menuju kamar adiknya.

Separah itukah?

Tanpa basa-basi, Biyan juga ikut berlari hingga ia memasuki kamar adiknya yang terlihat berantakan. Beberapa perawat tengah berkerumun entah karena apa, perlahan ia memasuki kerumunan tersebut dan mendapati sang adik tengah menangis histeris sambil berteriak-teriak, ditambah lagi ditangannya terdapatnya pecahan kaca hingga membuat telapak tangan adiknya mengeluarkan darah yang cukup banyak.

Ia tak percaya melihat adiknya yang lembut dan ceria bisa mengamuk sampai seperti ini. Ranjang rumah sakitnya berantakan dengan keadaan kasur yang sudah terlempar jauh, vas bunga pecah berserakan dilantai dan jangan lupakan kaca jendela rumah sakit yang juga pecah akibat dilempar sesuatu—mungkin kursi.

"Abhi, jatuhkan pecahan kaca itu. Tanganmu terluka, ayo kakak obati," bujuk Dean berusaha mendekati.

"Tidak! Jangan mendekat! Kumohon jangan mendekat! Atau kubunuh kalian!" bentaknya histeris sambil mengacung-acungkan pecahan kaca tersebut. Membuat siapapun yang hendak mendekat membatalkan niatnya.

Bahkan para dokter bingung harus melakukan apa. Satu-satunya jalan adalah menyuntik obat penenang tapi itu akan sulit jika pasiennya mengamuk sambil memegang benda tajam seperti ini.

"Abhi."

"Kumohon! Jangan mendekat! Jangan menyakitiku lagi! Sakit! Sakit! Sakit sekali! Aku tidak tahan!" rintihnya masih dengan menangis seolah merasakan sakit yang teramat sangat.

Arbiyan terdiam kaku mendengar semua ucapan sang adik yang begitu memilukan. Abhinara terlihat sangat ketakutan dan seperti menahan sakit. Mata hitamnya yang selalu terlihat berbinar itu kini terlihat menggelap, bahkan ketika Abhi menatapnya ia ketakutan setengah mati. Seolah-olah Biyan adalah monster yang akan membunuhnya.

"Arbiyan! Lakukan sesuatu!" seru Dean panik saat ia menyadari kehadiran Biyan yang mematung seperti orang gila.

"Keluar!" perintah Arbiyan dan mendapati tatapan heran dari para dokter serta perawat.

"Biyan, apa yang—"

"KUBILANG KELUAR SEMUA!" bentak Biyan dengan tatapan tajamnya, bahkan dari tubuhnya menguar aura sang Otoriter. Membuat siapapun tak bisa membantah ucapannya, meskipun itu Dean sekalipun.

Perlahan semua orang diruangan itu keluar, meninggalkan Arbiyan dengan sang adik yang masih menangis dan sesekali menjerit.

Setelah dirasa ruangan mulai sepi, Biyan kembali memfokuskan dirinya pada sang adik.

"Hey, Abhi ini aku Biyan."

"Tidak! Tidak! Pergi! Pergi kalian bangsat! Jangan menyentuhku! Jangan lakukan lagi! Aku mohon!"

"Abhinara."

"Kumohon pergilah!" teriaknya dengan masih mengacungkan pecahan kaca tersebut.

Arbiyan yang memang pada dasarnya keras kepala, mendekati Biyan perlahan. Tidak memperdulikan ancaman serta makian dari sang adik. Bahkan ketika pecahan kaca tersebut menggores lengannya hingga berdarah, Biyan tidak perduli.

"Abhi."

"Kubilang jangan mendekat, brengsek!"

Kembali Abhinara mengayun-ayunkan pecahan kaca tersebut dengan brutal hingga—

Bats!

Biyan mengernyit tertahan, menahan sakit dibagian perut sebelah kanannya. Darah mulai mengucur dari luka sobekan akibat pecahan kaca tersebut. Tapi ia seolah mati rasa, mengabaikan sakitnya karena ia tahu sakit ini tidak seberapa dibandingkan yang dirasakan adiknya.

Kemudian ia merebut pecahan kaca tersebut secara paksa hingga membuat telapak tangannya ikut-ikutan terluka juga. Lalu membuang pecahan kaca itu sejauh mungkin.

"Tidak! Jangan mendekat! Jangan! Jangan lakukan lagi! Berhenti menyakitiku! Kak Arga!"pekik Abhi sembari terduduk dan meringkuk dipojokan dekat jendela. Sesekali ia menarik rambutnya ketakutan sambil memeluk tubuh ringkihnya.

Mata Biyan membulat mendengar sebuah nama yang entah sadar atau tidak telah diucapkan oleh sang adik.

Kak Arga?

Amarahnya meledak seketika.

APA YANG DILAKUKAN BAJINGAN ITU PADA ADIKKU!

Kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, bahkan darah semakin mengucur deras dari telapak tangannya akibat remasan kuat yang dilakukan olehnya.

Nafasnya tersengal-sengal dikarenakan amarahnya, matanya menatap nyalang, dan rahangnya mengeras dua kali lipat.

Percayalah, Arbiyan terlihat seribu kali lebih mengerikan dibandingkan ekspresi datar dan dinginnya yang seperti biasa.

"Kumohon! Jangan menyakitiku lagi! Aku tidak tahan! Sakit! Itu sakit!" isak Abhi.

Suara parau adiknya kembali terdengar dan membuat Biyan harus meredam amarahnya sementara.

Perlahan ia berlutut dan mendekati Abhinara lalu menariknya kedalam pelukannya, meskipun Abhi meronta-ronta minta dilepaskan tapi Biyan tidak perduli. Bahkan ketika lukanya terkena pukulan-pukulan menolak dari sang adik hingga luka sobek dibagian perutnya semakin melebar, Arbiyan tak bergerak.

Apapun akan dilakukan untuk adiknya, meski nyawanya sekalipun menjadi taruhannya. Karena untuk saat ini, untuk detik ini saja Biyan hanya ingin menghilangkan ketakutan adik kesayangannya dengan berada disampingnya dan memeluknya seperti ini. Menyalurkan rasa aman pada adiknya. Mengatakan bahwa semua baik-baik saja sekarang dan tidak ada yang perlu ditakutkan lagi.

Apapun untuk adiknya.

Hingga 5 menit kemudian Biyan merasakan pergerakan adiknya semakin berkurang, bahkan kini Abhinara membalas pelukannya. Menyembunyikan wajahnya diceruk leher Biyan dan menangis sejadi-jadinya.

"Kak Biyan, aku takut. Aku takut."

"Tenanglah. Aku disini. Ssttt! Tidurlah adikku sayang," ucap Biyan lembut sambil mengelus puncak kepala Abhi lembut.

"Aku berjanji akan membuat mereka yang melakukan ini padamu menyesalinya. Bahkan mereka akan seribu kali merasakan sakit dari yang kau rasakan. Jadi tenang dan tidurlah," kata Biyan lagi penuh dengan afeksi.

Tapi tidak dengan otaknya yang tengah menyusun rencana-rencana keji untuk orang-orang brengsek tersebut.

1
Ryo gunawan
dabel up lah thor
Helmi Sintya Junaedi
beruntung abhi punya kakak yg sangat menyayanginya,,, cari pelakunya sampai dapat balas kn perbuatan nya,,
CutiePie
next! 😊
CutiePie
curiga sih mereka pelakunya 😡
CutiePie
heh 😂😂
CutiePie
bguss
CutiePie
Ini bagus sekali!
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!
CutiePie
😍😍
CutiePie
😭😭
CutiePie
semangat!
QueenBwi
💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!