Kemandirian Nayanika Gentari Addhitama mulai terkikis karena seorang lelaki yang 10 tahun lebih tua darinya, Erza Naradipta. Pesona lelaki yang dipanggil paman itu tak terbantahkan. Demi sebuah benih suka yang tumbuh menjadi cinta membuat Nika rela menjadi sosok lain, manja dan centil hanya untuk memikat lelaki yang bertugas menjaganya selama kuliah di luar negeri.
Akankah cinta Nayanika terbalaskan? Ataukah Erza hanya menganggapnya sebagai keponakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Siap Salah
Dua manusia tua itu sudah diurus oleh anak buah Ezra. Lelaki itu mulai memutar tubuh dan menatap Nika dengan begitu dalam.
"Are you okay?" Nika mengangguk.
Mata yang begitu jeli mulai melihat ke arah pergelangan tangan sang gadis. Ada luka memerah di sana. Segera diraihnya tangan Nika tanpa aba.
"Sakit?" Lagi, Nika menggeleng.
Ezra segera menarik tangan Nika dengan penuh kelembutan menuju mobil. Sebelum mobil dihidupkan dia menghubungi seseorang.
"Kunci lebih rapat lagi semua informasi tentang Nona. Jika, ada yang macam-macam segera tindak tanpa harus bertanya. Hiu di lautan sedang kelaparan."
Nika tercengang mendengar ucapan Ezra yang begitu kejam. Gadis yang tengah duduk anteng di kursi penumpang perlahan menoleh ke arah lelaki yang baru saja mengakhiri panggilan.
"Ternyata sama kejamnya kayak Uncle," keluhnya di dalam hati.
Mobil pun berhenti di apartment. Nika sudah menduga dia akan dibawa ke tempat ini. Dan feelingnya kembali benar ketika Ezra membawanya ke unit milik lelaki tersebut.
"Obat-obatan di unit saya lebih lengkap."
Bisa sekali Ezra beralasan. Nika pun tak ingin berdebat. Mengikuti kemauan sang mantan pengawal. Dia sudah duduk di sofa yang ada di ruang depan. Ternyata ucapan Ezra bukan hanya sekedar bualan. Obat-obatan luka begitu lengkap.
Dengan sangat hati-hati Ezra mengobati luka di tangan Nika. Gadis itu terus memperhatikan wajah lelaki dari jarak dekat. Begitu berkharisma.
"Maaf."
Atensi mulai beralih. Pandangan mereka berdua bertemu. Sorot mata sendu Ezra begitu kentara.
"Kamu harus terlibat dalam masalah pribadi saya."
"It's okay, Paman," balas Nika dengan senyum kecilnya.
"Mereka hanya ingin meminta bantuan pada keponakan Pa--"
Tangan Nika yang tak luka ditarik hingga bibir mereka beradu dengan sangat pas. Mata Nika pun melebar dan jantungnya ikut berdebar. Gadis cantik itu mencoba memundurkan tubuh. Namun, ditarik lagi oleh Ezra. Dan kini, tubuh kecil itu didekap hangat olehnya.
"Kamu bukan keponakan saya."
Pelukan erat pun Ezra berikan hingga Nika sulit untuk melepaskan. Sang gadis yang ingin berontak pun tak bisa karena tubuhnya merasakan kenyamanan yang begitu dia rindukan.
Puas memeluk tubuh Nika, mereka pun kembali canggung. Nika yang biasa centil kini malah menjadi perempuan kaku.
"Nika mau ke kamar mandi."
Nika sudah mengatur napasnya. Menyandarkan tubuhnya di daun pintu dengan tangan yang ada di depan dada. Jantungnya masih bergemuruh hebat. .
"Bisa santai enggak sih jantung?" gumamnya sembari terus mengatur napas.
Nika segera menyambungkan kejadian hari jni dengan laporan Elang tiga Minggu yang lalu. Remaja lelaki itu diberi tugas untuk mencari tahu tentang Allana. Semenjak kembali ke kampus, dia tak pernah melihat dosen pengganti itu. Menanyakan kepada teman-temannya pun mengatakan tidak tahu. Ada hal yang janggal.
"Dia dibawa tunangannya."
Hanya itu yang Elang beritahukan. Biasanya laporan Elang begitu rinci, tapi tidak untuk laporan tentang Allana. Anehnya, setiap kali Nika bercerita tentang hatinya kepada Ezra, remaja lelaki itu tak pernah menentang ataupun melarang.
"Ikuti apa kata intuisi dan hati."
Harusnya dia mencegah. Tapi, jatuhnya Elang tak melarang. Padahal, intuisi dan hatinya terkadang ingin menjadi sosok antagonis di dalam hubungan Ezra dan Allana.
"Apa yang dimaksud Elang dibawa tunangannya ... Bukan dibawa pindah. Melainkan dibawa ke penjara?"
Nika yang sangat penasaran mulai menghubungi Elang. Menunggu panggilannya dijawab oleh remaja lelaki kepercayaannya.
"Hem."
Suara remaja itu mulai terdengar. Nika segera menyebut satu nama, Allana. Dia juga menceritakan perihal kedua orang tua Allana yang memberikannya uang untuk membantunya berbicara dengan sang mantan pengawal.
"Dari awal lu tahu semua ini kan?" tekan Nika dengan nada sedikit emosi. Bukannya menjawab, Elang malah menanyakan keadaan Nika.
"Nika baik-baik aja. Cuma pergelangan tangan aja yang merah bekas dicengkeram si tua bangka."
Dari balik sambungan telpon Elang membuang napas kasar. Dia pun mulai memperingatkan gadis itu.
"Jangan pikirin perihal si Alien alien itu. Tapi, pikirin gimana nasib paman lu."
Panggilan pun Elang akhiri. Sontak Nika mengerang kesal karena remaja itu tak pernah mengatakan hal dengan benar. Selalu menyisakan teka-teki yang harus dia pecahkan sendiri.
"Apa maksudnya?"
Nika memilih mencuci wajah agar mengurangi kegugupan akan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Ezra. Baru saja membuka pintu dengan pelan, samar terdengar suara Ezra dari ruang depan.
"Siap salah, Bang Res."
Nika tak pernah mendengar Ezra berbicara seformal itu layaknya tentara. Nama yang disebut Ezra pun harus dicari tahu.
"Bang Res."
Keingintahuan yang besar membuat Nika keluar dari kamar mandi. Menghampiri Ezra yang sudah berdiri dan rapi.
"Saya ada urusan mendadak. Saya antar kamu ke asrama."
Sikap Ezra mencurigakan. Dan kalimat Elang pun mulai terngiang. Serta nama yang disebut Ezra kembali terdengar.
"Apa jangan-jangan yang ditelpon Paman tadi Uncle?"
Nika semakin terdiam. Mulai menyusun puzzle yang Elang berikan. Matanya langsung melebar ketika kalimat 'siap salah' terdengar di telinga.
"Apa Uncle tahu kalau tadi bibir Nika dan bibir Paman menyatu?"
"GAWAT! GAWAT!!"
...**** BERSAMBUNG ****...
Udah double up nih. Masa enggak mau komen.
cerdik harus di lawan cerdik erzaa
lnjut trus Thor
semangat
tenang Nika.... para singa jantan dan opa Aksa serta kakek Aska di serang sama Ezra bukan di serang yang dalam kekerasan tapi minta restu buat mencintai dan menikahi kamu .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍