Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENJA DI ATAS NISAN PERTEMUAN TAKDIR
Duka adalah kawan setia yang kini tak pernah pergi dari sisi Tirta. Desa Gadhing, tempat ia menghabiskan masa kecil dengan tawa dan aroma nasi hangat, kini hanyalah hamparan puing yang menghitam. Angin senja berhembus membawa sisa bau sangit kayu yang terbakar, seolah alam pun menolak untuk melupakan tragedi semalam.
Tirta bersimpuh di depan dua gundukan tanah yang masih basah. Tak ada nisan marmer yang megah, hanya dua batu kali yang ia pungut dari sungai, diletakkan sebagai penanda tempat peristirahatan terakhir ayah dan ibunya. Di matanya yang dulu bening dan pemalu, kini hanya tersisa kekosongan—sebuah ruang hampa yang perlahan diisi oleh bara dendam yang membara.
Dimas Rakyan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Pemuda periang itu kini tampak jauh lebih tua dari usianya. Ia mendekat dengan langkah pelan, seolah takut mengganggu percakapan batin antara Tirta dan arwah orang tuanya. Di tangannya, ada bungkusan daun pisang berisi nasi dan sepotong ikan asin yang sudah dingin.
"Matahari sudah hampir tenggelam, Tirta. Kau belum menyentuh air sejak pagi," kata Dimas pelan. Suaranya serak karena terlalu banyak menghirup asap. "Makanlah sedikit. Tubuhmu butuh kekuatan jika kau ingin pergi dari sini."
Tirta tak bergeming. Jemarinya mengelus tanah makam yang kasar. "Mengapa mereka, Dimas? Mengapa orang-orang yang hanya tahu cara mencintai tanah ini harus berakhir bersimbah darah di atasnya?" bisiknya. Suaranya begitu datar, namun setiap katanya mengandung kepedihan yang menyayat.
Dimas menghela napas, matanya ikut berkaca-kaca menatap cakrawala yang memerah seperti darah. "Dunia ini tidak pernah adil pada orang kecil seperti kita, Tirta. Tapi meratapi makam ini selamanya tidak akan mengembalikan senyum ibumu atau petuah ayahmu. Kita tidak bisa diam saja."
Kata-kata Dimas seolah menjadi hembusan angin yang menyalakan kembali bara di hati Tirta. Pemuda itu berdiri, debu tanah menempel di lututnya. Ia menoleh, menatap Dimas dengan tatapan yang membuat Dimas sempat merinding. Itu bukan lagi tatapan pemuda petani yang dungu.
"Aku akan mencari mereka," ucap Tirta, suaranya kini sekeras baja yang ditempa. "Lurah Karta, Demang Wirya, dan siapa pun yang mengayunkan pedang di desa ini... aku akan menuntut setiap tetes darah yang jatuh ke bumi Gadhing."
Dimas tersenyum miris, namun ada binar keberanian di matanya. "Aku sudah menduga kau akan mengatakan itu. Dan kau tahu, aku tidak akan membiarkanmu berjalan sendiri menuju lubang singa."
Perjalanan mereka dimulai saat rembulan muncul di balik awan hitam. Keduanya meninggalkan reruntuhan desa tanpa menoleh lagi. Dengan bekal seadanya dan tekad yang membaja, mereka menembus hutan, mendaki perbukitan, dan bersembunyi di dalam gua-gua gelap saat fajar tiba. Tirta lebih banyak diam, sementara Dimas mencoba menjaga kewarasan mereka dengan bualan-bualan kecil yang gagal menyembunyikan kesedihan.
Berhari-hari kemudian, mereka sampai di sebuah kota kecil yang cukup ramai di wilayah utara. Di sebuah kedai makan yang bising oleh suara para pedagang dan pengelana, Tirta duduk di sudut yang paling gelap, telinganya tajam menangkap setiap desas-desus.
"Kau dengar? Pasukan matahari hitam milik Demang Wirya sudah terlihat di pinggiran hutan utara," bisik seorang pedagang kain kepada rekannya.
"Benar. Kabarnya mereka mengincar Padepokan Ki Ageng Lingga. Mereka mencari sesuatu di sana," timpal yang lain sambil meneguk tuaknya. "Tapi menyerang padepokan itu bukan perkara mudah. Ada Mayangsari di sana."
"Siapa Mayangsari?" tanya si pedagang kain penasaran.
"Kau tidak tahu? Dia adalah putri angkat Ki Ageng. Cantik seperti dewi, tapi beringas seperti badai. Konon, ia memiliki jurus Angin Lembah yang sanggup merobek baju lawan sebelum mereka sempat mencabut pedang."
Tirta mengerutkan dahi. Nama Mayangsari dan Ki Ageng Lingga seolah memicu getaran aneh di dalam ulu hatinya. Ada rasa akrab yang ia sendiri tidak mengerti darimana asalnya.
Malam itu, rasa penasaran membawa Tirta dan Dimas menuju hutan lebat di perbatasan padepokan. Di bawah keremangan cahaya bulan yang terhalang rimbunnya pohon raksasa, mereka melihat siluet pertarungan yang luar biasa.
Lima orang pria berpakaian hitam mengepung seorang wanita bertubuh ramping yang mengenakan pakaian ringkas berwarna hijau lumut. Wanita itu—Mayangsari—bergerak dengan keindahan yang mematikan. Setiap langkahnya seperti tarian di atas air, ringan dan tidak bersuara. Namun, setiap ayunan tangannya menghasilkan dentuman udara yang sanggup menggetarkan dedaunan.
"Menyerahlah, Mayangsari! Serahkan kitab itu dan kau akan hidup sebagai selir Demang Wirya yang paling dimanja!" teriak salah satu perampok sambil mengayunkan pedang besarnya.
"Lebih baik aku mati bersama tanah ini daripada menyerahkan warisan guru kepada anjing-anjing seperti kalian!" sahut Mayangsari dengan nada meremehkan.
Namun, jumlah musuh terlalu banyak. Di tengah pertarungan yang melelahkan, seorang perampok berhasil melancarkan serangan licik dari belakang. Bilah pedang menggores bahu Mayangsari, membuat kain hijaunya koyak dan darah mulai merembes. Wanita itu terhuyung, nafasnya mulai memburu.
Melihat noda darah itu, ingatan Tirta kembali pada kematian ibunya. Amarah yang ia tekan selama berhari-hari mendadak meledak. Ia tidak lagi peduli pada peringatan Dimas atau keselamatannya sendiri.
"Hentikan!" teriak Tirta.
Ia melompat ke tengah arena pertarungan. Gerakannya terlihat canggung, tidak seperti pendekar yang terlatih, namun ada aura yang sangat berat terpancar dari tubuhnya. Saat seorang perampok mencoba menebasnya, Tirta secara naluriah menggerakkan tangannya. Kekuatan panas dari ulu hatinya mengalir deras.
DUAARR!
Hanya dengan dorongan telapak tangan kosong, dua perampok terlempar ke belakang, menghantam batang pohon hingga retak. Mereka memuntahkan darah segar dan tak lagi bisa berdiri. Sisa perampok yang lain bergidik ngeri melihat pemuda kurus yang matanya mulai menampakkan kilatan merah itu. Tanpa menunggu perintah kedua, mereka segera memapah kawan mereka dan lari menghilang ke dalam kegelapan hutan.
Keheningan kembali menyelimuti hutan. Mayangsari, yang masih memegangi bahunya yang terluka, menatap Tirta dengan pandangan penuh selidik. Matanya yang tajam seolah ingin menembus jantung pemuda di depannya.
"Siapa kau? Dan dari aliran mana kau berasal?" tanya Mayangsari. Suaranya terdengar dingin namun ada getar kekaguman di dalamnya.
Tirta mendadak tersadar. Aura merah di matanya memudar, dan sifat pemalunya kembali muncul ke permukaan. Ia menunduk dalam, tidak berani menatap mata indah wanita itu. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena ia sendiri terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"Aku... namaku Tirta. Aku bukan dari aliran mana pun. Aku hanya seorang petani dari Gadhing," jawabnya gagap, sangat kontras dengan kekuatannya beberapa saat lalu.
Mayangsari mengerutkan kening. Seorang petani yang sanggup menghempaskan dua prajurit terlatih hanya dengan satu dorongan? Ini tidak masuk akal. Namun, melihat luka di bahunya yang mulai terasa perih, ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh saat ini.
"Petani dari Gadhing, ya?" Mayangsari tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mampu membuat jantung pria mana pun berdegup kencang. "Kau menyelamatkan nyawaku, Tirta. Tapi kau harus tahu, dengan mencampuri urusan ini, kau baru saja menarik dirimu ke dalam badai yang lebih besar dari yang bisa kau bayangkan."
Malam itu, di bawah saksi rembulan yang perak, dua takdir yang berbeda arah kini bersatu. Tirta yang membawa luka masa lalu, dan Mayangsari yang memegang kunci masa depan persilatan. Jalan menuju dendam kini terasa semakin terjal, namun Tirta tahu, ia tidak bisa lagi kembali menjadi pemuda petani yang dulu.