Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Serigala di Antara Iblis
Di lembah terlarang yang menjadi salah satu markas tersembunyi Faksi Iblis, ribuan prajurit bayangan dan monster kiriman berkumpul. Suasana sangat mencekam; udara dipenuhi dengan energi negatif yang menyesakkan dada. Chen Kai berdiri di atas tebing batu, menatap pasukannya dengan mata hitam yang kini tampak lebih lelah namun lebih tajam setelah peristiwa di Sekte Pedang Suci.
Ia sedang memeriksa bilah Pedang Iblis Keruntuhan saat suara tawa yang melengking dan penuh penghinaan memecah keheningan.
"Jadi, ini bocah yang katanya meratakan Sekte Pedang Suci sendirian?"
Dari balik kabut darah, muncul sesosok pria raksasa dengan kulit berwarna abu-abu dan tato rantai yang melilit seluruh lengannya. Di belakangnya, berdiri ratusan prajurit elit yang auranya jauh lebih ganas daripada pasukan biasa.
Dia adalah Lord Vrakas, salah satu dari Empat Jenderal Faksi Iblis. Dia dikenal sebagai "Penghancur Gerbang" dan telah melayani faksi selama ratusan tahun.
"Vrakas," desis Bayangan Roh yang berdiri di samping Chen Kai. "Jaga bicaramu. Tuan Muda Chen Kai bertindak atas mandat langsung dari tetua pusat."
"Mandat?" Vrakas meludah ke tanah, menciptakan lubang kecil yang berasap. "Faksi Iblis bukan tempat penitipan anak-anak klan yang hancur. Aku mendengar kau menggunakan ramuan 'Amukan Tanpa Jiwa' hanya untuk melawan satu ketua sekte tua? Memalukan. Jika itu aku, aku akan memakan jantung Yun Che dalam sepuluh langkah tanpa bantuan obat-obatan."
Vrakas melangkah maju, setiap pijakannya membuat tanah bergetar. Ia berhenti tepat di depan Chen Kai, yang tingginya hanya sebatas bahu pria raksasa itu.
"Dengar, Nak. Kau mendapatkan Cermin Pelacak itu, tapi kau menghancurkannya. Sekarang kau ingin memimpin kami ke markas Bulan Hitam tanpa kepastian lokasi? Kau hanya akan membawa kami ke dalam jebakan kakakmu," Vrakas merendahkan wajahnya, menatap Chen Kai dengan mata yang merah membara. "Berikan pedangmu padaku, dan kembalilah menjadi tabib kecil di akademimu yang konyol itu sebelum aku meremukkan tulang-tulangmu."
Suasana mendadak membeku. Pasukan di bawah tebing berhenti bergerak. Bayangan Roh sudah memegang belatinya, siap untuk bertindak, namun sebuah tangan dingin menahannya.
Chen Kai perlahan mengangkat kepalanya. Tidak ada ketakutan di wajahnya, hanya kehampaan yang mengerikan.
"Kau bicara terlalu banyak untuk seseorang yang hanya tahu cara menghancurkan dinding." ucap Chen Kai datar. Suaranya terdengar seperti es yang pecah.
"Apa kau bilang?!" Vrakas meraung, tangannya yang sebesar paha manusia bergerak cepat mencengkeram leher Chen Kai.
Namun, sebelum tangan itu menyentuh kulit Chen Kai, ribuan duri kristal hitam yang sangat tipis namun sangat kuat meledak dari tubuh Chen Kai, menusuk telapak tangan Vrakas dan memaksanya menarik kembali tangannya dengan darah yang mengucur.
"Kau ingin pedangku?" Chen Kai menarik Pedang Iblis Keruntuhan setengah inci dari sarungnya. Aura hitam yang keluar begitu pekat hingga cahaya matahari di atas lembah itu seolah tersedot masuk. "Ambillah. Tapi aku tidak menjamin tanganmu akan tetap menempel di bahumu setelah menyentuhnya."
"BOCAH SIALAN!" Vrakas melepaskan Qi-nya. Tekanan dari Ranah Transformasi Esensi Tahap 3 meledak, menghancurkan batu-batu di sekitar mereka. Ia menarik sebuah gada raksasa dari punggungnya yang diselimuti api hijau.
"Berhenti!" Bayangan Roh berteriak, mencoba menengahi.
Namun, Chen Kai tidak mundur satu inci pun. Mata hitamnya berkilat merah sesaat—sisa dari amukan primordial semalam. "Vrakas, kau merasa kuat karena kau sudah lama berada di sini. Tapi kau lupa satu hal... aku tidak bergabung dengan Faksi Iblis karena aku ingin mengikuti kalian. Aku bergabung karena aku butuh alat untuk balas dendam."
Chen Kai melangkah maju, membiarkan tekanan Qi Vrakas menghantam tubuhnya yang terluka. "Jika kau menghalangi jalanku, kau bukan lagi rekan. Kau adalah target."
Ketegangan mencapai puncaknya. Vrakas sudah mengangkat gadanya, dan Chen Kai sudah siap melepaskan teknik pembalasan kristalnya. Namun, tiba-tiba sebuah pesan telepati bergema di pikiran mereka berdua, datang dari otoritas tertinggi Faksi Iblis.
"Cukup! Vrakas, biarkan dia memimpin garis depan. Chen Kai, buktikan kata-katamu di markas Bulan Hitam. Jika kau gagal... Vrakas memiliki izin untuk memanen jiwamu."
Vrakas mendengus kasar, menurunkan gadanya namun tetap menatap Chen Kai dengan penuh kebencian. "Kau beruntung kali ini, Tikus Kristal. Tapi ingat, di medan perang nanti, aku akan berada di belakangmu. Bukan untuk melindungimu, tapi untuk melihat kapan kau akan jatuh."
Vrakas berbalik dan memimpin pasukannya pergi, meninggalkan debu dan kebencian yang menggantung di udara.
Chen Kai menyarungkan kembali pedangnya. Tangannya yang sempat memegang hulu pedang gemetar, bukan karena takut, melainkan karena luka dalamnya yang belum sembuh total dari Sekte Pedang Suci kembali berdenyut.
"Kau mengambil risiko besar, Tuan Muda." kata Bayangan Roh pelan.
"Di dunia ini, tidak ada tempat bagi mereka yang tidak memiliki taring," jawab Chen Kai. Ia menatap ke arah utara, tempat yang ia yakini sebagai lokasi markas Bulan Hitam. "Ayo berangkat. Aku sudah muak dengan permainan politik ini. Aku ingin jawaban, meskipun aku harus membakar seluruh dunia untuk mendapatkannya."