NovelToon NovelToon
Pernikahan Panas Sang Aktor

Pernikahan Panas Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: MissKay

Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.

Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu

​Brian duduk di sofa, menyesap kopi hitam tanpa gula sambil menatap layar monitor yang menampilkan CCTV gerbang depan. Arumi, yang tadinya gelisah, kini tampak sedikit lebih tenang. Meskipun suaminya tetap menunjukkan wajah yang kesal,, ketegangan di antara mereka mencair setelah Hendra memberi laporan.

​Brian meletakkan cangkirnya dan menoleh ke arah Arumi. "Hendra sudah di jalan. Dona dan Frans berdua ada dalam satu mobil."

​Arumi menghela napas lega, senyum tipis terukir di wajahnya yang sempat pucat. "Syukurlah... setidaknya mereka aman. Aku sangat khawatir jika sesuatu terjadi pada Dona di jalanan Jakarta sesunyi itu."

​Brian bangkit, berjalan mendekati istrinya. Ia tidak lagi menatapnya dengan kesal, melainkan dengan sorot mata yang lebih tenang. "Kamu ini terlalu lembut, Arumi. Tapi setidaknya sekarang aku tidak perlu menjelaskan pada Paman Scott kenapa putrinya hilang di bawah pengawasanku."

​Arumi memegang lengan Brian. "Terima kasih sudah membiarkan Hendra membawa mereka kembali dengan baik, Brian. Aku tahu kamu sebenarnya peduli pada Frans."

​Brian hanya berdecak namun ia tidak menepis tangan istrinya. "Aku peduli pada kinerjanya. Tapi malam ini, dia punya banyak penjelasan yang harus diberikan."

...***...

Suara deru mesin mobil memasuki halaman luas. Lampu sorot mobil Hendra menyapu pilar-pilar megah kediaman Aditama. Arumi segera berdiri, langkahnya ingin menuju pintu depan, namun Brian menahannya dengan lembut.

​"Tetap di sini, sayang. Biar mereka yang masuk menghadap kita," ujar Brian.

​Pintu besar terbuka. Hendra masuk terlebih dahulu, memberikan hormat singkat kepada Brian dan Arumi. Di belakangnya, muncul Frans yang berjalan dengan tegak namun penuh rasa hormat, menggandeng tangan Dona yang tampak dingin bergetar namun masih dengan dagu terangkat, menunjukkan sifat keras kepalanya yang belum padam.

​"Kami kembali, Tuan Muda," ucap Frans dengan suara rendah dan berat.

​Arumi tidak bisa menahan diri. Ia melangkah maju dan memeluk Dona. "Dona! Kamu membuat kami jantungan. Kenapa nekat sekali, sayang?"

​Dona melepaskan pelukan Arumi perlahan, matanya langsung tertuju pada Brian yang berdiri di tengah ruangan. "Jangan salahkan Kak Arumi, Kak. Aku yang memaksanya. Dan jangan salahkan Frans, karena aku yang memaksanya malam ini."

​Brian menyilangkan tangan di depan dada, matanya menatap tajam ke arah tangan Frans yang masih sempat menggenggam jemari Dona sebelum akhirnya Frans melepaskannya karena sadar diri.

​"Duduk," perintah Brian singkat namun mutlak. "Frans, jelaskan padaku sebelum aku memutuskan apakah besok kamu masih bersamaku atau harus menghadap Tuan Bagas untuk menyerahkan diri."

Suasana di ruang tamu yang luas itu kini lebih kondusif. Dona, meski sudah gemetar, tapi berusaha duduk dengan punggung tegak di hadapan Brian. Arumi duduk di samping Brian, memberikan dukungan kepada mereka melalui tatapannya, sementara Frans berdiri dengan sikap sempurna di sisi sofa, menunjukkan penghormatan penuh pada atasannya.

​"Dona, jelaskan padaku dengan tenang," ujar Brian, suaranya tidak lagi dingjn, namun tetap berwibawa.

​Dona menarik napas panjang menatap Brian sendu. "Kak Brian, maafkan aku karena sudah membuat kekacauan malam ini. Aku tahu tindakanku tidak dewasa. Tapi aku datang ke sini karena aku tahu Frans sedang dalam posisi terjepit. Pernikahan dengan wanita itu bukan karena cinta, Kak. Bandot tua itu menggunakan rahasia masa lalu ayah Frans untuk memaksanya. Aku hanya ingin Frans bebas dari tekanan itu."

"Aku punya kartu as mereka, Kak," lanjut Dona menjelaskan. Ia mengambil ponselnya yang sudah sedikit basah di saku celana. "Aku punya bukti bahwa Tuan Bagas terlibat dalam pencucian uang dengan jaringan di luar negeri. Kalau Kak Brian membantu Frans membatalkan pernikahan ini, aku akan memberikan bukti ini padamu. Kita bisa menjatuhkan pria itu tanpa harus mengotori tangan kita."

​Brian beralih menatap Frans. "Frans, bagaimana menurutmu? Apa benar semua yang dikatakan Dona?"

​Frans menundukkan kepala sejenak sebelum menatap langsung ke mata Brian. "Benar, Tuan Muda. Saya meminta maaf karena tidak jujur sejak awal. Saya merasa tidak berhak melibatkan Anda dalam masalah pribadi keluarga saya. Saya sudah mencoba menerima pernikahan itu demi keselamatan ayah saya, tapi hati saya... hati saya tetap tertinggal pada Nona Dona."

​Frans mengambil jeda sebentar. "Tapi malam ini, setelah melihat kenekatan Nona Dona, saya menyadari bahwa melarikan diri bukan solusi. Saya harus menolak pernikahan itu secara gentle dan menghadapi konsekuensinya sendiri."

​Brian terdiam cukup lama, ruangan itu menjadi sunyi. Ia melirik Arumi yang memegang tangannya, seolah memohon agar ia memberikan restu. Brian kemudian bersandar di sofa, menatap Frans dan Dona lagi. Matanya lagi-lagi beralih dari Dona ke Frans, lalu ke Arumi yang menatapnya penuh harap.

​"Frans," panggil Brian akhirnya. "Kamu adalah tangan kananku. Aku tidak suka orangku ditekan oleh siapapun, termasuk oleh seorang Kepala Polisi sekalipun."

​Brian berdiri, masih menatap Frans. "Selesaikan urusanmu dengan Tuan Bagas. Putuskan hubungan itu secara bersih. Gunakan bukti-bukti yang dimiliki Dona jika itu diperlukan untuk melindungi ayahmu. Aku akan memberikan perlindungan hukum dan keamanan dari belakang."

​Brian menatap Dona yang mulai tampak lega, lalu kembali menatap Frans dengan serius.

​"Jika kamu sudah menyelesaikan urusanmu dengan benar tanpa meninggalkan celah masalah bagi keluarga Aditama. Maka setelah itu, kalian berdua boleh berhubungan. Aku tidak akan menghalangi kalian lagi," ucap Brian dengan serius.

​Mendengar itu, mata Dona berbinar haru. Arumi tersenyum lebar dan langsung mengusap punggung tangan suaminya dengan bangga.

​"Terima kasih, Tuan Muda. Saya tidak akan mengecewakan Anda," ucap Frans dengan rasa hormat yang mendalam.

...***...

Kabar bahwa Brian Aditama akan memberikan perlindungan penuh di belakang layar menjadi angin segar bagi keluarga Frans. Malam itu juga, Frans menemui ayahnya, Hans, untuk membicarakan keputusannya.

​Hans, yang selama ini tampak stres karena beban rahasia masa lalunya, terduduk lemas di kursi ruang tamunya saat Frans bercerita. Namun, bukannya marah atau takut, Hans justru mengembuskan napas panjang seolah seluruh beban di pundaknya luruh seketika.

​"Batalkan, Frans," ucap Hans dengan suara parau namun mantap. "Ayah lebih baik menghadapi proses hukum yang adil daripada melihatmu menghabiskan sisa hidupmu di penjara yang bernama pernikahan tanpa cinta. Apalagi sekarang Tuan Brian ada di pihak kita. Ayah tidak lagi merasa terbebani."

​Dengan restu ayahnya dan bukti-bukti yang diberikan Dona, Frans pun berangkat menuju kediaman Bagas, ayah Lena yang merupakan Kepala Polisi itu.

Keesokan paginya

Suasana di rumah mewah itu sangat formal dan kaku. Bagas duduk di kursi tunggalnya dengan seragam dinas yang masih melekat, sementara Lena duduk di samping ibunya, tampak anggun namun sorot matanya menunjukkan ego yang tinggi.

​"Jadi, apa maksud kedatanganmu pagi-pagi begini, Frans? Persiapan pernikahan sudah 90%. Jangan bilang kamu ingin membahas detail katering lagi," ujar Bagas dengan nada meremehkan.

​Frans duduk dengan punggung tegak tanpa tersinggung, ia meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja kaca di hadapan mereka.

​"Saya datang untuk membatalkan pernikahan ini, Tuan Bagas," ucap Frans tenang dan lugas.

​Ruangan itu mendadak hening. Lena tersentak, wajahnya berubah merah padam. "Apa kamu bilang? Kamu gila, Frans? Kamu tahu siapa ayahku?"

​Bagas tertawa sinis, matanya berkilat mengancam. "Sepertinya kamu lupa apa yang ada di tanganku, Frans. Satu telepon dariku, dan ayahmu akan langsung memakai baju oranye malam ini juga."

​Frans tidak bergeming. Ia mendorong amplop cokelat itu lebih dekat ke arah Bagas. "Silakan telepon, Tuan. Tapi sebelum itu, silakan lihat isi amplop ini. Di dalamnya ada detail transaksi antara Anda dengan perusahaan Scorpio di New York yang selama ini menjadi incaran interpol. Tuan Brian Aditama sudah mengetahui hal ini, dan pengacara keluarga Aditama sudah menyiapkan berkasnya."

​Wajah Bagas yang tadinya merah karena marah, perlahan memucat. Tangannya gemetar saat membuka isi amplop tersebut.

​"Ini... dari mana kamu mendapatkan ini?" tanya Bagas dengan suara yang tak lagi angkuh.

​"Itu tidak penting," jawab Frans tegas. "Poin saya adalah batalkan pernikahan ini dengan alasan ketidakcocokan. Bersihkan nama ayah saya dari ancaman Anda, maka dokumen asli ini tidak akan pernah sampai ke tangan Divisi Propam atau media. Kita berakhir secara damai, atau kita hancur bersama."

​Susi menatap suaminya dengan tidak percaya. "Pa? Lakukan sesuatu! Dia menghina kita!"

​Namun, Bagas hanya terdiam. Ia tahu bahwa melawan Aditama saat mereka sudah memegang bukti adalah menyerahkan tubuhnya ke singa. Ia menatap Frans dengan kebencian mendalam, namun tak bisa berbuat apa-apa.

​"Pergi kau dari sini," desis Bagas tajam. "Pernikahan ini batal. Jangan pernah muncul di hadapan keluargaku lagi."

​Frans berdiri, merapikan jasnya tersenyum samar, dan membungkuk hormat untuk terakhir kalinya. "Terima kasih atas pengertiannya, Tuan. Saya Permisi."

Saat Frans keluar, ia mendapati mobil SUV hitam milik Brian terparkir di seberang jalan. Dona menyembul dari jendela mobil dengan wajah cemas yang langsung berubah menjadi senyum lebar saat melihat Frans berjalan dengan langkah ringan.

​Frans masuk ke dalam mobil, dan tanpa aba-aba, Dona langsung menghambur memeluknya.

​"Sudah selesai?" tanya Dona singkat.

​"Sudah," jawab Frans sambil mengelus rambut Dona. "Saya sudah bebas, Nona."

​Dona memukul pelan dada bidang Frans , "Panggil aku Dona, Frans. Kamu bukan asistenku, tapi calon suamiku," bisik Dona mesra.

1
Miss Kay
Hai readers, Pernikahan Panas Sang Aktor sedang mempersiapkan season dua. Ceritanya nanti lebih hot and danger. Di tunggu yah... 👍
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
masak udh tamat thor, bagus in, knp tamatnya gantung
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
top
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
in sebenarnya yg lbh kaya siapa ya diantara ke 3 sahabat in, brian, reno, apa juan, harusnya yg kaya raya jadi raja kan brian sang tokoh utama, kok sprtinya dsn yg paling berkuasa si juan, mulai àgak ilfill sm jl critanya, maaf thor sekedar bertanya
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰: jg tamat dl ya soalnya bnr2 buagus
total 2 replies
kal sum
lanjut toorr
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
ini kok ceritanya gt juan ya, juan ini sapa ya, terus kelanjutan yg reno gimana ya, kok kd2 bingung, tokoh utama brian dan arumin jg gak ad
Miss Kay
nice
Miss Kay
Hi, reader ku tercinta. Terima kasih sudah mengikuti, membaca, dan menyukai cerita ini. Dukung terus cerita ini ya, agar aku semangat update. Berikan like, masukkan ke perpustakaan kalian, dan jangan lupa vote nya. 🤭🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!