NovelToon NovelToon
Selir Palsu Dari Abad - 21

Selir Palsu Dari Abad - 21

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah sejarah / Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.

Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.

Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Langkah Kecil, Dampak Besar

Pagi itu, halaman istana tidak dipenuhi pejabat atau prajurit.

Yang berdiri berbaris justru para pelayan muda, beberapa janda prajurit, dan anak-anak kecil dengan pakaian sederhana tapi bersih.

Song An berdiri mematung di bawah tangga batu.

“Apa aku salah tempat?” bisiknya pada Mei.

Mei tersenyum lebar. “Tidak, Yang Mulia. Mereka menunggu Anda.”

“Menunggu aku? Kenapa?”

Sebelum Mei menjawab, seorang gadis kecil maju dengan langkah ragu. Tangannya memegang gulungan kain kecil.

“Ini… untuk Yang Mulia,” katanya pelan.

Song An menerima kain itu. Bordirannya tidak rapi, benangnya bahkan ada yang miring.

Tapi pola bunga kecil di sudutnya dibuat dengan sangat hati-hati.

“Aku yang belajar menjahit di ruang kerja baru itu,” lanjut gadis itu. “Terima kasih karena kami boleh belajar.”

Song An terdiam.

Di belakang gadis itu, seorang janda prajurit menunduk hormat. “Kami sekarang bisa mencari penghasilan sendiri. Tidak perlu bergantung belas kasihan keluarga jauh.”

Seorang pelayan muda ikut bicara, gugup tapi berani,

“Dan kami… kami mulai belajar membaca. Aku sudah bisa menulis namaku sendiri.”

Song An memegang kain kecil itu erat-erat.

Ia menoleh ke atas tangga.

Kaisar Shen berdiri di sana, tangan terlipat di lengan jubahnya, memperhatikan dengan senyum tipis yang jelas mengatakan, ini bukan kebetulan.

Song An menyipitkan mata ke arahnya.“Kau yang mengatur ini?”

Kaisar turun beberapa anak tangga. “Mereka yang minta. Katanya ingin mengucapkan terima kasih langsung.”

Song An menatap kembali orang-orang di depannya, tiba-tiba tenggorokannya terasa aneh.

“Kalau kalian semua terus begini,” katanya akhirnya, “aku bisa jadi rajin kerja seumur hidup.”

Beberapa dari mereka tertawa kecil.

Ketegangan formal mencair.

Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, halaman istana terasa seperti halaman rumah besar yang hangat.

------

Siang harinya, bangsawan wilayah yang sebelumnya menunjukkan ketidakpuasan akhirnya tiba di istana.

Jumlahnya enam orang. Usia rata-rata tidak muda. Tatapan mereka tajam dan penuh perhitungan.

Biasanya, pertemuan seperti ini kaku dan penuh basa-basi.

Tapi hari itu berbeda.

Alih-alih langsung ke ruang sidang, mereka justru dibawa melewati,

- ruang belajar anak-anak pelayan

- ruang kerja janda prajurit

- gudang pangan yang kini tertata rapi

Para bangsawan itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka. “Ini… paviliun selir lama, bukan?” gumam salah satu dari mereka.

“Benar,” jawab Song An santai yang ikut mendampingi. “Dulu isinya orang saling curiga. Sekarang isinya anak-anak belajar huruf.”

Seorang bangsawan lain mengerutkan kening. “Istana bukan tempat rakyat biasa keluar masuk.”

Song An menoleh padanya. “Tapi istana dibangun dari pajak rakyat biasa.”

Pria itu terdiam.

Kaisar yang berjalan di depan tidak menoleh, tapi sudut bibirnya naik sedikit.

-------

Di ruang sidang, suasana tetap tegang… tapi tidak meledak.

Salah satu bangsawan akhirnya bicara terus terang.

“Yang Mulia, perubahan terlalu cepat membuat banyak orang takut. Tatanan lama memberi kami peran jelas.”

Kaisar mengangguk. “Dan sekarang?”

“Kami takut tidak lagi dibutuhkan.” jawab salah satu mereka

Sunyi sejenak.

Song An yang duduk di sisi ruangan berkata pelan,“Kalau seseorang hanya merasa dibutuhkan karena orang lain menderita, mungkin perannya memang perlu diubah.”

Beberapa kepala menoleh padanya.

Song An melanjutkan dengan nada ringan, “Negeri ini bukan kehilangan peran untuk kalian. Negeri ini sedang menambah peran baru untuk lebih banyak orang.”

Salah satu bangsawan tua menghela napas. “Dan kalau kami tidak bisa menyesuaikan?”

Kaisar menjawab kali ini, “Maka kalian akan tertinggal. Tapi pintu untuk belajar tetap terbuka.”

Percakapan berlangsung lama, tapi tidak lagi seperti dua kubu berseberangan.

Lebih seperti orang-orang yang pelan-pelan sadar bahwa dunia memang sudah bergerak.

Lelah yang Terlihat

Malamnya, setelah semua selesai, Song An berjalan sendirian di koridor panjang.

Langkahnya lebih lambat dari biasanya.

Hari itu terasa panjang.

Ia berhenti di balkon kecil, menyandarkan dahi ke tiang kayu.

“Capek?”

Suara itu datang lembut dari belakang.

Song An tidak menoleh. “Sedikit.”

Kaisar berdiri di sampingnya. Tidak bicara dulu.

Hanya menemani.

“Aku dulu cuma capek karena lembur,” kata Song An pelan. “Sekarang capek karena mikirin satu negeri.”

Kaisar tersenyum tipis. “Menyesal naik jabatan?”

Song An menoleh padanya. “Tidak. Cuma… ternyata peduli itu melelahkan juga.”

Kaisar tertawa pelan. “Akhirnya kau mengerti kenapa aku sering terlihat galak dulu.”

“Oh, jadi itu alasanmu?” tanya Song An

“Sebagian.”jawab Kaisar Shen

Song An menggeleng, tapi tersenyum.

Momen yang Sederhana

Malam semakin larut. Angin dingin turun perlahan.

Song An menggigil kecil tanpa sadar.

Kaisar melepas jubah luarnya dan menyampirkannya ke bahu Song An.

Ia terdiam sebentar.

“Terima kasih,” katanya pelan.

Kaisar menatap langit. “Negeri ini berubah bukan karena perintahku saja.”

Song An mengangkat alis. “Tapi?”

“Tapi karena ada seseorang yang terus mengingatkanku untuk melihat orang-orang kecil.” ujar Kaisar Shen

Song An menunduk, memainkan ujung kain bordir pemberian pagi tadi yang masih ia bawa.

“Aku cuma tidak mau hidup sia-sia dua kali,” katanya pelan.

Kaisar menatapnya lama, lalu berkata pelan,“Kalau begitu, mari kita pastikan tidak ada rakyat yang merasa hidupnya sia-sia juga.”

Song An tersenyum tipis, “Kesepakatan yang berat.”

“Kau yang mulai.” ujar Kaisar Shen

Mereka berdiri berdampingan di bawah langit malam yang tenang.

Istana tidak lagi terasa dingin.

Ia hidup.

Dan di antara tembok-tembok yang dulu penuh rahasia dan kepura-puraan, kini tumbuh sesuatu yang jauh lebih kuat kepercayaan, pelan tapi pasti.

Perubahan besar tidak selalu datang dengan dentuman.

Kadang ia datang seperti pagi tadi dalam bentuk kain bordir miring dari tangan kecil yang akhirnya punya harapan.

Bersambung

1
Mineaa
ya Ampuuunnn.....raja permaisuri..... slow banget sich kalian.....
kalau begini kapan babby launching nya.....
Naviah
lanjut thor
Endang Sulistia
sama2 kabur..🤭🤭🤭
Endang Sulistia
kasian..🤭🤭
Wulan Sari
permaisuri Song An is the best cara berfikirnya 👍........ monggo di lanjut Thor semangat 💪❤️ salam
Cindy
lanjut kak
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Wahyuningsih
q mampir thor..... thir buat song an badaz abiz bla oerlu dpt bonus ruang dimensi biar mkin sru n keren 😄😄😄
Cindy
lanjut kak
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Eka Haslinda
akhirnya.. calon permaisuri sdh dipilih 👍👍
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Tiara Bella
bagus ceritanya berasa lg nnton dracin....
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Wulan Sari
lanjut
Wulan Sari
biyasa di dalam pasti ada intrik kekuasaan semoga kaisar Shen dan selir 2 bisa mengatasinya semangat 💪 salam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!