“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Yuda dan Ning selesai makan pagi dengan perut hangat dan suasana yang lebih hangat lagi. Sinar matahari masuk dari celah jendela dapur kecil itu, memantul di lantai semen yang bersih walau sudah kusam.
"Biar Mas ikut nyuci piring," kata Yuda seraya ikut berdiri saat Ning memberesi meja makan kecil mereka.
"Enggak papa. Ning bisa kok," jawab gadis itu.
"Bisa apa?"
"Beresin ini sendiri, Mas."
Yuda tercenung, "Kamu biasa lakuin ini sendirian?"
Ning mengulas senyum, lalu mengangguk. "Kata ibu, apa-apa harus ada timbal baliknya. Selama ini mereka udah ngidupin Ning sampai sebesar ini. Jadi, hal kek gini biasa aja. Cuma ini yang Ning bisa lakukan buat balas," terang gadis itu ringan. Tanpa beban apapun. Namun, sukses membuat darah Yuda membeku.
Gadis di sampingnya ini positif vibes sekali. Ia yang awalnya kesal karena jelas tau Ning hanya dimanfaatkan, dan dimanipulasi, kini malah berangsur mengendur. Lalu tersenyum, "Mulai sekarang, enggak sendiri lagi."
Ucapan Yuda terasa sederhana. Tapi, membawa senyum di wajah teduh itu. Mereka mencuci piring bersama, sesekali saling membercandai satu sama lain.
Piring-piring bekas sarapan sudah tersusun rapi di rak. Bak cuci juga sudah bersih.
"Nah, karena udah selesai, kita pergi sekarang!" seru Yuda bersemangat. Ning tersenyum.
“Mas, Ning ganti baju dulu,” ucapnya pelan. "Yang ini basah."
Yuda mengangguk sambil mengelap meja. “Iya. Santai aja.”
Ning masuk kamar. Ia membuka lemari, menatap deretan baju yang tadi malam ia susun dengan hati-hati. Tangannya berhenti pada satu gamis sederhana berwarna krem pucat. Warnanya sudah tidak secerah dulu, tapi itu yang paling rapi. Yang paling ia sayang.
Ia mengenakannya perlahan, memastikan jilbabnya rapi, lalu bercermin. Wajahnya terlihat lebih cerah, meski baju itu jelas bukan baru. Ning menarik napas, mencoba percaya diri, lalu keluar kamar.
"Udah?" Yuda mendongak. Seketika ia terdiam.
Ning mengangguk.
"Pa—kai— itu?" pandangannya memindai Ning.
Ning mengangguk lagi. “Ini… baju dari Ayah,” ucapnya, "dulu Ayah kasih masih baru."
Yuda tersenyum kecil, tapi matanya tak bisa menyembunyikan rasa terenyuh. Ia tahu betul, baju ini pasti punya cerita. “Ayo.”
Mereka keluar rumah. Yuda mengunci pintu, lalu mengajak Ning naik motor.
"Ning bisa bawa sendiri kok, Mas," ujar Ning kala Yuda mengambil Kruk dan menyimpannya di depan.
"Mulai sekarang, udah ada Mas. Enggak ada cerita bisa sendiri. O iya, satu lagi..." Yuda menatap gadis itu, "Biasakan bilang tolong. Mas bakal langsung datang," sambungnya dengan senyuman.
Ning menunduk, menyembunyikan senyum malu-malu.
Awalnya jalanan biasa saja, sampai Ning sadar arah yang mereka tuju terasa asing.
“Mas…” Ning mencengkeram jaket Yuda. “Kita mau ke mana?”
“Jalan-jalan,” jawab Yuda ringan.
Saat gedung-gedung tinggi mulai terlihat, Ning gelisah. Matanya membulat saat papan nama mal besar menjulang di depan mereka.
"Mas… kita mau ke sini?" tanyanya. Ia memang tidak pernah menapaki lantai mal.
"Iya, kenapa?"
"Enggak usahlah, Mas. di situ kita mau ngapain?"
"Namanya juga Mal, ya jalan-jalan, beli-beli," jawab Yuda ringan.
Ning gelisah, "Ummm... Ning enggak bawa uang," katanya.
Yuda terkekeh. "Mas bawa kok."
"Ke pasar ajalah, Mas."
"Lah tadi kan udah ke pasar."
"Di pasar juga bisa jalan-jalan, sama beli-beli. Mas mau beli apa?"
Yuda menahan gelinya, kentara sekali Ning yang gelisah itu.
"Baju."
"Di pasar juga ada baju. Lengkap, Mas."
Istrinya itu masih saja nego-nego an. Yuda jadi makin gemas.
"Di sini, bajunya enggak ada di pasar."
"Baju kan sama aja fungsinya, Mas."
Yuda mematikan motor di pinggir jalan. Ia menoleh, menatap Ning lembut.
"Kenapa enggak mau ke sana?"
Ning menunduk. "Di pasar aja. Di situ... Tempatnya bagus, pasti mahal."
"Pasti?"
"Ning emang belum pernah ke sana. Tapi... kata Mbak Dewi di sana mahal-mahal, bajunya enggak pantes dipake Ning."
Yuda tersenyum. Ia menyadari, lingkungan keluarga Ning enggak hanya toxic, tapi juga menghancurkan mental Ning dari kecil. "Udah terlalu lama kamu di sana... Terlalu banyak menelan doktrin 'kamu tak pantas'. Pelan-pelan aku akan naikin kepercayaan dirimu, dan kamu memang seorang yang lebih dari pantas, Ning." Ucapan ini, bergaung di kepala Yuda saat itu.
“Kita ke sana.” Ia menunjuk deretan toko di emperan jalan, tak jauh dari mal.
Ning tampak lebih lega. "Mas mau beli baju apa?"
"Gamis."
"Gamis? Mas mau pakai gamis?"
Yuda tertawa pelan. "Boleh?"
"Itu kan pakaian perempuan..." Ning agak cemberut.
"Ya udah, gamisnya buat kamu. Mas yang belikan."
Wajah Ning berubah.
"Kamu istri Mas. Jadi, Mas harus belikan kamu baju."
"Ning masih punya baju kok."
"Itu kan bukan dari Mas. Suami itu, harus kasih istri baju. Nah, sekarang, kamu pilih! Ayo!"
Pipi Ning memerah, ini pertama kalinya, dia disuruh milih baju untuk dirinya sendiri.
Di toko itu, baju-baju digantung rapat. Ning menyentuh kain-kain itu dengan mata berbinar.
Yuda mengangguk, tapi ia ingat betul, saat mereka masuk, tatapan penjaga toko langsung berubah. Dari ujung kepala sampai ujung kaki Ning dipandangi, lalu diabaikan. Dan Yuda tak suka.
“Mas…” Ning berbisik, dengan mata berbinar mengangkat satu gamis warna abu-abu. "Ini bagus enggak?"
"Bagus."
"Ning mau beli ini, Mas."
"Itu kayaknya terlalu besar."
"Enggak papa, Mas." Ning terlihat senang sekali.
"Mbak!"
Tak ada penjaga toko yang menyahut.
"Mbak! Untuk baju ini, ada yang size lebih kecil?"
Yuda menahan diri. Tak ada usaha melayani.
"Mas! Udahlah yang ini aja. Lebih baik pake baju yang longgar.
"Enggak, enggak, enggak. Kita ke sini mau beli. Pake uang." Yuda mulai jengkel karena diabaikan.
Ia datangi satu penjaga toko yang pura-pura sibuk menata baju di hanger.
"Mas!"
Ning berusaha menyusul dengan bantuan kruknya.
"Ini... Ada size yang lebih kecil, enggak?"
"Enggak ada!" jawab si penjaga terdengar ketus.
Yuda makin jengkel.
"Mas..." Ning akhirnya berhasil menyusul.
“Sudah,” kata Yuda tiba-tiba, meletakkan kembali baju itu. “Kita pergi.”
Ning kaget. “Eh? Pergi? Tapi...”
"Kita cari toko lain. Masih banyak yang pelayanannya ramah." Yuda menarik tangan Ning.
"Eh, tapi Mas... Yang tadi itu bagus loh..."
"Ada yang lebih bagus....Mas tau tempatnya, pelayannya juga ramah," balas Yuda.
"Huh! Pembeli songong! Punya uang enggak seberapa saja, minta dilayani kayak raja," sindir si penjaga toko. Pelan, tapi masih terdengar di telinga Yuda.
Lelaki muda itu semakin jengkel, dia tertawa tanpa suara, tawa jengkel karna merasa si karyawan pasti tak tau siapa dia.
Yuda berhenti di depan toko. Lalu mengambil gawainya. Iya, gawai yang sejak semalam dia tahan untuk tak dikeluarkan, kini keluar juga karena terbawa emosi.
Ia menelepon seseorang, lalu menunggu beberapa menit sampai pemilik toko muncul.
"Mas Yuda!?"
Yuda tersenyum, masih senyum yang dia tahan dari rasa jengkelnya.
"Maaf Mas. Enggak nyangka Mas Yuda bakal mampir di toko ini."
Yuda tak pakai banyak basa basi. Dia langsung menunjuk Ning. "Dia istriku."
Pemilik toko itu tampak kaget.
"Kami lagi nyari gamis."
"Kami ada gamis, Mas Yuda." Pemilik toko itu memanggil salah satu pegawai, tapi bukan yang tadi. "Tolong pilihkan satu buat istrinya Pak Yuda ini," katanya.
"Oh, tidak! Tidak! Aku mau dia!" potong Yuda sambil menunjuk pegawai yang meremehkan tadi. "Aku mau dia yang melayani istriku."