NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:205.7k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

Yuda dan Ning selesai makan pagi dengan perut hangat dan suasana yang lebih hangat lagi. Sinar matahari masuk dari celah jendela dapur kecil itu, memantul di lantai semen yang bersih walau sudah kusam.

"Biar Mas ikut nyuci piring," kata Yuda seraya ikut berdiri saat Ning memberesi meja makan kecil mereka.

"Enggak papa. Ning bisa kok," jawab gadis itu.

"Bisa apa?"

"Beresin ini sendiri, Mas."

Yuda tercenung, "Kamu biasa lakuin ini sendirian?"

Ning mengulas senyum, lalu mengangguk. "Kata ibu, apa-apa harus ada timbal baliknya. Selama ini mereka udah ngidupin Ning sampai sebesar ini. Jadi, hal kek gini biasa aja. Cuma ini yang Ning bisa lakukan buat balas," terang gadis itu ringan. Tanpa beban apapun. Namun, sukses membuat darah Yuda membeku.

Gadis di sampingnya ini positif vibes sekali. Ia yang awalnya kesal karena jelas tau Ning hanya dimanfaatkan, dan dimanipulasi, kini malah berangsur mengendur. Lalu tersenyum, "Mulai sekarang, enggak sendiri lagi."

Ucapan Yuda terasa sederhana. Tapi, membawa senyum di wajah teduh itu. Mereka mencuci piring bersama, sesekali saling membercandai satu sama lain.

Piring-piring bekas sarapan sudah tersusun rapi di rak. Bak cuci juga sudah bersih.

"Nah, karena udah selesai, kita pergi sekarang!" seru Yuda bersemangat. Ning tersenyum.

“Mas, Ning ganti baju dulu,” ucapnya pelan. "Yang ini basah."

Yuda mengangguk sambil mengelap meja. “Iya. Santai aja.”

Ning masuk kamar. Ia membuka lemari, menatap deretan baju yang tadi malam ia susun dengan hati-hati. Tangannya berhenti pada satu gamis sederhana berwarna krem pucat. Warnanya sudah tidak secerah dulu, tapi itu yang paling rapi. Yang paling ia sayang.

Ia mengenakannya perlahan, memastikan jilbabnya rapi, lalu bercermin. Wajahnya terlihat lebih cerah, meski baju itu jelas bukan baru. Ning menarik napas, mencoba percaya diri, lalu keluar kamar.

"Udah?" Yuda mendongak. Seketika ia terdiam.

Ning mengangguk.

"Pa—kai— itu?" pandangannya memindai Ning.

Ning mengangguk lagi. “Ini… baju dari Ayah,” ucapnya, "dulu Ayah kasih masih baru."

Yuda tersenyum kecil, tapi matanya tak bisa menyembunyikan rasa terenyuh. Ia tahu betul, baju ini pasti punya cerita. “Ayo.”

Mereka keluar rumah. Yuda mengunci pintu, lalu mengajak Ning naik motor.

"Ning bisa bawa sendiri kok, Mas," ujar Ning kala Yuda mengambil Kruk dan menyimpannya di depan.

"Mulai sekarang, udah ada Mas. Enggak ada cerita bisa sendiri. O iya, satu lagi..." Yuda menatap gadis itu, "Biasakan bilang tolong. Mas bakal langsung datang," sambungnya dengan senyuman.

Ning menunduk, menyembunyikan senyum malu-malu.

Awalnya jalanan biasa saja, sampai Ning sadar arah yang mereka tuju terasa asing.

“Mas…” Ning mencengkeram jaket Yuda. “Kita mau ke mana?”

“Jalan-jalan,” jawab Yuda ringan.

Saat gedung-gedung tinggi mulai terlihat, Ning gelisah. Matanya membulat saat papan nama mal besar menjulang di depan mereka.

"Mas… kita mau ke sini?" tanyanya. Ia memang tidak pernah menapaki lantai mal.

"Iya, kenapa?"

"Enggak usahlah, Mas. di situ kita mau ngapain?"

"Namanya juga Mal, ya jalan-jalan, beli-beli," jawab Yuda ringan.

Ning gelisah, "Ummm... Ning enggak bawa uang," katanya.

Yuda terkekeh. "Mas bawa kok."

"Ke pasar ajalah, Mas."

"Lah tadi kan udah ke pasar."

"Di pasar juga bisa jalan-jalan, sama beli-beli. Mas mau beli apa?"

Yuda menahan gelinya, kentara sekali Ning yang gelisah itu.

"Baju."

"Di pasar juga ada baju. Lengkap, Mas."

Istrinya itu masih saja nego-nego an. Yuda jadi makin gemas.

"Di sini, bajunya enggak ada di pasar."

"Baju kan sama aja fungsinya, Mas."

Yuda mematikan motor di pinggir jalan. Ia menoleh, menatap Ning lembut.

"Kenapa enggak mau ke sana?"

Ning menunduk. "Di pasar aja. Di situ... Tempatnya bagus, pasti mahal."

"Pasti?"

"Ning emang belum pernah ke sana. Tapi... kata Mbak Dewi di sana mahal-mahal, bajunya enggak pantes dipake Ning."

Yuda tersenyum. Ia menyadari, lingkungan keluarga Ning enggak hanya toxic, tapi juga menghancurkan mental Ning dari kecil. "Udah terlalu lama kamu di sana... Terlalu banyak menelan doktrin 'kamu tak pantas'. Pelan-pelan aku akan naikin kepercayaan dirimu, dan kamu memang seorang yang lebih dari pantas, Ning." Ucapan ini, bergaung di kepala Yuda saat itu.

“Kita ke sana.” Ia menunjuk deretan toko di emperan jalan, tak jauh dari mal.

Ning tampak lebih lega. "Mas mau beli baju apa?"

"Gamis."

"Gamis? Mas mau pakai gamis?"

Yuda tertawa pelan. "Boleh?"

"Itu kan pakaian perempuan..." Ning agak cemberut.

"Ya udah, gamisnya buat kamu. Mas yang belikan."

Wajah Ning berubah.

"Kamu istri Mas. Jadi, Mas harus belikan kamu baju."

"Ning masih punya baju kok."

"Itu kan bukan dari Mas. Suami itu, harus kasih istri baju. Nah, sekarang, kamu pilih! Ayo!"

Pipi Ning memerah, ini pertama kalinya, dia disuruh milih baju untuk dirinya sendiri.

Di toko itu, baju-baju digantung rapat. Ning menyentuh kain-kain itu dengan mata berbinar.

Yuda mengangguk, tapi ia ingat betul, saat mereka masuk, tatapan penjaga toko langsung berubah. Dari ujung kepala sampai ujung kaki Ning dipandangi, lalu diabaikan. Dan Yuda tak suka.

“Mas…” Ning berbisik, dengan mata berbinar mengangkat satu gamis warna abu-abu. "Ini bagus enggak?"

"Bagus."

"Ning mau beli ini, Mas."

"Itu kayaknya terlalu besar."

"Enggak papa, Mas." Ning terlihat senang sekali.

"Mbak!"

Tak ada penjaga toko yang menyahut.

"Mbak! Untuk baju ini, ada yang size lebih kecil?"

Yuda menahan diri. Tak ada usaha melayani.

"Mas! Udahlah yang ini aja. Lebih baik pake baju yang longgar.

"Enggak, enggak, enggak. Kita ke sini mau beli. Pake uang." Yuda mulai jengkel karena diabaikan.

Ia datangi satu penjaga toko yang pura-pura sibuk menata baju di hanger.

"Mas!"

Ning berusaha menyusul dengan bantuan kruknya.

"Ini... Ada size yang lebih kecil, enggak?"

"Enggak ada!" jawab si penjaga terdengar ketus.

Yuda makin jengkel.

"Mas..." Ning akhirnya berhasil menyusul.

“Sudah,” kata Yuda tiba-tiba, meletakkan kembali baju itu. “Kita pergi.”

Ning kaget. “Eh? Pergi? Tapi...”

"Kita cari toko lain. Masih banyak yang pelayanannya ramah." Yuda menarik tangan Ning.

"Eh, tapi Mas... Yang tadi itu bagus loh..."

"Ada yang lebih bagus....Mas tau tempatnya, pelayannya juga ramah," balas Yuda.

"Huh! Pembeli songong! Punya uang enggak seberapa saja, minta dilayani kayak raja," sindir si penjaga toko. Pelan, tapi masih terdengar di telinga Yuda.

Lelaki muda itu semakin jengkel, dia tertawa tanpa suara, tawa jengkel karna merasa si karyawan pasti tak tau siapa dia.

Yuda berhenti di depan toko. Lalu mengambil gawainya. Iya, gawai yang sejak semalam dia tahan untuk tak dikeluarkan, kini keluar juga karena terbawa emosi.

Ia menelepon seseorang, lalu menunggu beberapa menit sampai pemilik toko muncul.

"Mas Yuda!?"

Yuda tersenyum, masih senyum yang dia tahan dari rasa jengkelnya.

"Maaf Mas. Enggak nyangka Mas Yuda bakal mampir di toko ini."

Yuda tak pakai banyak basa basi. Dia langsung menunjuk Ning. "Dia istriku."

Pemilik toko itu tampak kaget.

"Kami lagi nyari gamis."

"Kami ada gamis, Mas Yuda." Pemilik toko itu memanggil salah satu pegawai, tapi bukan yang tadi. "Tolong pilihkan satu buat istrinya Pak Yuda ini," katanya.

"Oh, tidak! Tidak! Aku mau dia!" potong Yuda sambil menunjuk pegawai yang meremehkan tadi. "Aku mau dia yang melayani istriku."

1
bibuk Hannan & Afnan
hayuh loh, kalian semuanya knp tdk jujur sedari awal saat Ranu sadar siuman dr koma mengenalkan Ning sebagai anggota keluarga baru status nya istri Yudha biar tdk ada kesalah pahaman
Agunk Setyawan
Ning dimanfaatin Bu anggun orangvtua egois Yuda juga aneh knp g jujur
sutiasih kasih
knapa g jujur aj bu anggun... demi kbaikan smua org....
krn klo diam & mnyembunyikan fakta.... yg ada semakin mnmbah masalah...🙄🙄
Ariany Sudjana
muak lama-lama dengan keluarga Yuda, apalagi Bu anggun, uang ada, tapi menyodorkan Ning untuk menemani Ranu terapi, dan ga mau jujur kaalu Ning itu istrinya Yuda
Sapna Anah
kenapa ga jujur aja sebelum terlambat makin d tutupi justru makinmenyskitkan bagi Ranu dan ning
muthia
bu Anggun egois, kasian ning😭
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
smakin ngeselin in novel, banyak ahli terapys knp nyusahin ning, udh gt si anggun jg gak bil kl ning istri yuda, bodohnya lg ning juga gak bilang kl sdh nikah, ah
Bunda Juna
ibunya goblok greget bnget knpa gak jujur dari awal .....
Sri Rahayu
knp sih ngga terus terang ma Ranu...kl Ning itu istri nya Yuda...ya resiko lah apa yg akan Ranu rasakan, drpd.bohong trs nanti terlalu dlm perasaan Ranu pd Ning... lanjut Thorr😘😘😘
mama
bu anggun soplak.. greget bgt.. tak skip aja lah nunggu semuanya kebongkar aj baru tau rasa.. buat ning ny pergi jauh thor setelah tau semuanya.. biar Yuda sama anggun kalang kabut nyari🤣.. enk aj ning mau di manfaatin cuma buat kesembuhan ranu.. gk mikir ati ny ning blas km yud sm bu anggun😭
Arin
Mending jujur sekarang sebelum terlalu jauh. Daripada nunggu nanti-nanti Bu Anggun
Arieee
sembunyikan terus biar anak u saling benci😡😡😡😡😡😡
Nurmaulida Zahra
satu kata egois untuk keluarga yuda
Sri rahayu
demi anaknya hidup dia menghancurkan anaknya yg lain .sungguh kejam Bu anggun .seharusnya setelah Ranu bangun jujur sebenarnya Ning udah menikah dengan Yuda .jadi Ranu tidak mengharap Ning terlalu dalam
Sri rahayu
kasihan Ning tidak tau sekenario orang tua Yuda dan Yuda sendiri .dia seperti pion yg diumpankan kepada Ranu supaya Ranu mau berusaha tetap hidup dan berjalan seperti sedia kala .mungkin nanti Ning di suruh menikah dengan Ranu .dan Ning tidak tau sekenario yg mereka ciptakan
sutiasih kasih
mna ktegasanmu dbg suami yud....
jgnlah krna ibumu km tega mmbuat ning dlm posisi sulit... pdhl km pun jga merasakn ancaman dlm rmh tanghamu...
boleh bakti trhdp org tua yud.... tpi mnolak hal yg akn mmbuat rmh tanggamu hncur jga suatu keharusan yuda........
krna prmintaan ibumu itu konyol... & mrmaksakn khendaknya...🙄🙄
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Arieee
demi anak yang sakit anak yang sehat ditekan sampai sakit hati🤧🤧🤧🤧
Ariany Sudjana
Yuda bodoh, ga mau bicara sama Ning, apa yang dirasakan. Ning juga bodoh, suami pulang kerja, kok tetap urus Ranu, suaminya dulu yang diprioritaskan. Bu anggun juga bodoh, kan orang kaya, kenapa Ning yang disuruh jadi terapisnya Ranu? ini yang akan menghancurkan rumah tangga Yuda dan Ning
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!