"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_13
Narendra semakin gelisah sejak mamah meminta kami untuk menginap di rumah utama malam ini. Alasannya terdengar sederhana, bahkan masuk akal—besok sore papah harus kembali ke Jepang untuk menyelesaikan proses akuisisi salah satu perusahaan di sana. Namun bagi Narendra, permintaan itu bukan sekadar soal menginap. Ada kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan, dan entah kenapa, kegelisahan itu menular kepadaku juga.
Rumah utama keluarga Narendra selalu punya caranya sendiri untuk membuat siapa pun merasa kecil. Bangunannya megah, halaman luas dengan danau buatan di belakang, dan suasana yang tenang tapi sarat wibawa. Setiap sudut rumah ini seolah menyimpan cerita dan pengaruh besar dari pemiliknya. Dan malam ini, rumah itu terasa lebih hidup karena kami semua berkumpul.
“Aduh, kalian kok masih di sini?” suara mamah Farah memecah keheningan ruang makan. Beliau baru saja kembali setelah berbincang dengan papah di ruang keluarga. Tatapannya singgah padaku dan Narendra yang masih duduk berhadapan di meja makan. “Masih mau makan lagi?”
Narendra mendongak, lalu tersenyum cengengesan khasnya. “Ini mah bukan makan, Mah. Kita lagi konferensi meja kotak.”
Aku yang sejak tadi menopang dagu ikut nimbrung. “Iya, lagi meeting. Bahas yang indah-indah.”
Mamah Farah tertawa kecil, gelengan kepalanya lembut. “Kalau mau lanjutin rapatnya, di kamar aja sana. Tapi mandi dulu, terus salat Asar.”
Aku melirik Narendra. Di balik wajah santainya, aku bisa melihat jelas raut frustasi yang berusaha ia tutupi. Matanya sempat menerawang, lalu kembali fokus pada ponsel yang sejak tadi ia pegang. Aku tahu, pikirannya sedang ke mana-mana.
“Mah,” aku membuka suara dengan nada hati-hati, “Rayna nggak bawa baju ganti. Kita boleh pulang sebentar nggak buat ambil baju?”
Narendra yang tadinya sibuk dengan ponsel langsung menoleh ke arahku.
Namun sebelum ia sempat berbicara, mamah Farah lebih dulu menjawab dengan wajah antusias. “Lho, nggak perlu pulang. Mamah sudah menyiapkan semua kebutuhan kamu.”
Aku mengernyit. “Semua…?”
“Iya,” lanjut mamah penuh semangat, “mulai dari baju, tas, sepatu, sampai aksesoris. Semuanya sudah ada di walking closet kamar Narendra. Sekarang kamar itu resmi jadi kamar kamu juga.”
Aku dan Narendra kompak menganga. Reaksinya hampir bersamaan, bedanya ekspresi Narendra lebih menyerupai orang yang pasrah pada takdir.
“K-kapan mamah nyiapinnya?” tanya Narendra, dan pertanyaan itu juga mewakili kebingunganku.
Mamah Farah tersenyum lebar, lalu menjentikkan jarinya dengan gaya dramatis. “Mamah kan sobat kentalnya Mimi Peri. Tinggal tring, jadi deh.”
Aku hanya bisa menggeleng pelan, begitu juga Narendra. Mamah lalu berlalu meninggalkan kami sambil melambaikan tangan, gaya dadah-dadah ala Miss Universe.
Aku menghela napas panjang. “Aku sudah berusaha,” kataku lirih, “tapi sepertinya di catatan Lauhul Mahfudz kamu hari ini nggak ada jadwal ketemu Ajeng.” lanjutku memasang wajah duka cita
“Terima kasih,” jawabnya singkat, bola matanya berputar jengah.
Aku memilih diam dan mengekor saat Narendra menaiki anak tangga menuju lantai dua, tempat kamarnya berada. Setiap langkah terasa seperti mendekatkan diriku pada wilayah yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Sebentar lagi aku akan menginjakkan kaki di kamar Narendra—untuk pertama kalinya. Dan entah kenapa, pikiranku langsung melayang pada satu hal: ini jelas sesuatu yang belum pernah ia lakukan bersama Ajeng.
“Good job, Rayna. One step closer,” gumamku sambil menepuk dada sendiri dan tersenyum smirk.
Narendra berhenti di depan pintu kamarnya dan mengarahkan pandangan ke sebuah layar monitor kecil di samping pintu. Tak lama kemudian, suara mekanis terdengar pelan.
*Retina detected.*
Pintu kamar terbuka otomatis. Aku mengikutinya masuk.
Kamar Narendra jauh lebih luas dari yang kubayangkan. Sebuah kasur king size dengan bed cover hitam bermotif garis menjadi pusat ruangan. Warna abu-abu dan putih pada dinding berpadu rapi, menciptakan aura maskulin yang kuat namun tetap nyaman. Aroma khas wewangian pria langsung menyusup ke indra penciumanku begitu pintu tertutup—aroma yang familiar, tapi kali ini terasa lebih intim.
Konsep kamarnya tak jauh berbeda dengan yang ada di penthouse, tapi suasana di sini jauh lebih adem. Mungkin karena rumah utama ini dikelilingi pepohonan, atau mungkin karena… tidak ada pengaruh siluman kalajengking di dalamnya.
“Cih…” Narendra berdecak pelan.
Aku mengikuti arah pandangannya dan mendapati satu set meja rias berwarna putih tulang lengkap dengan beragam alat make-up yang tertata rapi di samping kiri kasur.
"Mamah emang the best, Selain lemari baju, beliau juga nyiapin ini buat aku. Ajeng pasti kejang kalau tahu. " Kekehku dalam hati.
“Kamu dulu aja yang mandi,” titah Narendra datar. “Setelah itu baru aku.”
Aku sempat menduga ia akan marah atau setidaknya berkomentar sinis, tapi ternyata tidak. Tanpa menyahuti ucapannya, aku langsung melengos menuju kamar mandi yang tersambung dengan walking closet.
Selesai mandi dan berganti pakaian, aku mengambil mukena dari lemari dan bergegas keluar untuk menunaikan salat Asar. Namun langkahku terhenti saat melihat Narendra duduk di sofa sambil menelepon. Raut wajahnya memerah, tangannya meremas pahanya berulang kali. Tak perlu waktu lama untuk aku tahu, bahwa lawan bicaranya adalah si siluman kalajengking.
Begitu panggilan itu berakhir, aku melanjutkan langkah tanpa berkata apa pun. Aku salat dengan khusyuk, sementara Narendra masuk ke kamar mandi. Sampai hari ini, kami memang belum pernah salat berjamaah seperti pasangan suami istri pada umumnya. Dalam hati, aku mulai menyusun rencana, mungkin ini bisa jadi syarat keduaku nanti.
Setelah Narendra selesai salat, kami turun ke lantai satu. Tidak ada obrolan berarti di antara kami. Aku lebih memilih mengekori mamah, sementara Narendra ikut memancing bersama papah di danau buatan belakang rumah. Suasana sore itu hangat dan damai—angin sepoi-sepoi, pantulan cahaya senja di permukaan air, tawa kecil papah saat ikan-ikan kecil mengusik kail pancingnya dan tawa lepas Naren saat mengejek papah. menjadi perpaduan yang hangat. aku melihat pemandangan itu bersama mamah di gazebo tepi kolam.
Makan malam berlangsung sederhana tapi penuh kehangatan. Hingga akhirnya, setelah semua selesai, Narendra berpamitan.
“Mah, Pah,” katanya sambil berdiri, “Naren sama Rayna naik duluan ya. Udah capek banget.”
Papah mengangguk, mamah tersenyum penuh arti. Begitu mendapat izin, Narendra langsung menggandeng tanganku menuju kamar. di hadapan mamah papah, aku benar-benar diperlakukan selayaknya seorang istri.
---
Di kamar Narendra, aku merebahkan tubuh di sofa dengan napas panjang. “Astaga… tulang-tulangku rasanya kayak mau copot semua.”
“Ngapain di situ?” tanya Narendra ketus
“Tidur,” jawabku singkat.
“Ya ngapain tidur di situ?”
Aku menoleh sambil manyun. “Di sinetron azab jeritan hati istri kan biasanya begitu. Istrinya disuruh tidur di sofa atau di lantai, terus suaminya bobok syantik di kasur.”
Narendra mendengus. “Dasar korban sinetron. Kamu tidur di kasur. Aku aja yang di situ.”
Ia sudah bersiap mengambil bantal dan selimut dari lemari.
“Ngapain masih di situ?” tanyanya lagi saat melihat aku tak bergeming.
“Ini sangat melanggar aturan persinetronan,” sahutku sambil bangkit dan berjalan ke arah kasur.
Narendra akhirnya menyerah dan ikut merebahkan diri. Aku mematikan lampu utama, menyisakan cahaya remang dari lampu tidur di balik ranjang. Untungnya, kami tidak memiliki perbedaan kebiasaan tidur. Aku suka tidur dengan lampu redup, dan sepertinya Narendra juga. AC tetap menyala, dan tak ada protes.
Tok… tok… tok…
Kami saling pandang.
Tok… tok… tok…
“Sayang, ini mamah.”
Narendra hendak bangkit, tapi aku segera menahannya. “Mas, selimut sama bantalnya sembunyiin dulu. Kalau mamah lihat, ketahuan dong.”
“Disembunyiin di mana?”
Aku menyingkap selimutku. “Sini aja.”
Narendra dengan cepat memasukkan bantal dan selimut ke dalam, lalu aku menutupnya kembali.
Klik. Pintu terbuka. Narendra sudah berdiri di depan.
“Ada apa, Mah?”
“Mamah lupa ngasih ini,” kata mamah sambil menyodorkan segelas susu cokelat. “Kamu kan nggak bisa tidur sebelum minum ini.”
Aku memutar bola mata dari balik selimut.
Oh..telnyata kalau mau bobok halus mik cucu dulu. aku terkikik dibalik selimut
“Astaga, sekarang nggak lagi, Mah,” jawab Narendra, meski tetap menerima gelas itu.
“Mantu mamah udah bobok?” tanya mamah sambil melongok ke dalam.
“Udah.”
“Cepet banget.”
“Dia mah asal kepalanya dielus juga langsung pules.”
Aku hampir tertawa. Emang pengarang handal suami gue
“Ini susunya kok rasanya aneh ya, Mah?” Narendra berhenti setelah satu tegukan.
“Perasaan kamu aja,” jawab mamah sambil tersenyum misterius. “Udah, habisin. setelah itu langsung bobok.”
Dari balik selimut, aku mengamati senyum mamah yang penuh makna. Entah kenapa, firasaku mengatakan malam ini belum akan berakhir dengan biasa-biasa saja.
plisss dong kk author tambah 1 lagi