Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.
Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.
Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.
Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.
Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?
Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Revan Dinodai?
Anika berusaha keras menampilkan sikap santai.
“Apakah Tuan Muda Kedua Morris memperlakukanmu dengan baik?” tanyanya ringan. “Kudengar dia playboy terkenal.”
Kening Ayuna langsung mengernyit. Jika dulu, ia takkan berani membicarakan hal semacam ini. Namun, sekarang ia bisa menjawab dengan penuh keyakinan.
“Renan sangat baik padaku,” katanya lembut namun tegas. “Rumor itu tidak benar.”
Melihat senyum bahagia di wajah gadis itu, cahaya yang sulit dijelaskan melintas di mata Anika.
Tatapannya turun ke bibir Ayuna. “Lipstiknya terlihat bagus,” pujinya. “Sangat cocok untukmu.”
“Terima kasih.” Ayuna tersenyum cerah. “Saya harus pergi sekarang. Renan menunggu saya di luar. Saya akan menghubungi Anda nanti.”
Ia benar-benar menyukai kakak perempuan cantik ini—hangat, elegan, dan terasa anehnya akrab.
Anika berdiri di tempatnya, memperhatikan punggung gadis itu. Ia melihat bagaimana Ayuna sedikit mengangkat roknya dan berlari kecil ke arah Renan. Pria itu tersenyum lalu menepuk kepalanya dengan gerakan alami dan penuh kasih.
Tak perlu kata-kata, kedekatan mereka terlihat jelas.
Namun, saat Renan menangkap bayangan sosok Anika dari sudut matanya, jantungnya berdegup tak terkendali.
Sesaat, ingatannya terseret ke masa yang tidak pernah ingin ia ulang.
Wajah wanita itu—tenang, elegan—pernah menatapnya dengan sorot yang tidak pernah ingin dia lihat. Bukan kebencian yang meledak-ledak, melainkan kemarahan yang telah melewati batas manusiawi. Seperti tatapan pada orang yang ingin ia benci sampai mati, namun bahkan kematian terasa terlalu ringan.
Renan mengepalkan rahang.
Di kehidupan sebelumnya, saat ia akhirnya menyadari siapa wanita itu dan apa yang ia cari, semuanya sudah berakhir.
Ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Terlalu lambat menoleh ke belakang.
Kilasan itu lenyap.
Renan menunduk sedikit, memastikan Ayuna ada di hadapannya—nyata, hidup, tersenyum.
Apakah efek kupu-kupu telah terjadi?
Apakah Anika menemukannya terlalu cepat?
“Kenapa warna lipstikmu berbeda dari sebelumnya?” tanya Renan, suaranya tenang namun waspada.
Ayuna tersipu. “Aku tidak menemukan lipstikku. Seorang wanita di kamar mandi memberikannya padaku. Sepertinya mahal… aku berniat mengembalikannya dan menggantinya dengan yang baru.”
“Tentu.” Renan tersenyum lembut. “Besok aku akan menyuruh seseorang mengantarkan satu set lipstik ke rumah. Kamu tinggal pilih.”
Lalu, nadanya sedikit menurun. “Tapi kamu ingat apa yang pernah kukatakan, kan? Jangan mudah percaya pada orang asing. Terutama di lingkungan seperti ini. Semua orang sangat penuh perhitungan.”
“Aku tahu,” jawab Ayuna sambil terkekeh. “Aku hanya, entah kenapa merasa wanita itu tidak akan menyakitiku. Rasanya akrab.”
Tatapan Renan menjadi dalam.
Gadis yang sungguh polos.
Dia memang kakak kandungmu, wajar jika kamu merasa dekat.
Anika jelas sudah mencurigai sesuatu. Mungkin sekarang ia sudah menyuruh orang untuk menyelidiki.
Tak apa.
Mereka hanya perlu menunggu.
“Ayo temui Kakak,” ujar Renan sambil menggenggam tangannya. “Dia pasti sudah selesai bersosialisasi.”
Di sisi lain aula, asisten mendekati Anika yang masih berdiri diam. “Nona?”
“Ayo pulang,” kata Anika pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari arah pasangan itu pergi. “Belikan aku satu set lipstik. Dan juga—”
Ia berhenti sejenak, matanya menyipit. “Periksa jadwal Renan akhir-akhir ini.”
“Baik.” Angguk asisten.
❀❀❀
Renan saat ini sedang mencari kakak laki-lakinya. Barusan, ia merasa melihat sosok Silvia di sudut aula.
Hari ini adalah jamuan makan keluarga Morris. Keluarga Lubis jelas tidak diundang. Ditambah lagi, mengingat perilaku Silvia selama ini, mustahil kemunculannya tidak disertai niat tersembunyi.
Apakah Silvia akan melakukan sesuatu yang keterlaluan?
"Tuan Kedua, sepertinya Tuan Muda Sulung akan dinodai." Suara laporan staf pemantauan keamanan terdengar dari earpice di telinganya, Renan berhenti.
Sudut bibirnya berkedut.
"Dinodai?" tanyanya ragu.
"Di mana?"
Begitu lokasi disebutkan, ekspresinya langsung mengeras. Tanpa ragu, ia menghubungi Asisten Gery.
“Bawa dokter keluarga ke kamar 308,” perintahnya singkat.
“Dan dua pengawal.”
“Baik.”
Asisten Gery kebetulan sedang mencari Pak Revan. Meski bingung menerima panggilan mendadak dari Tuan Muda Kedua, ia tak berani menunda dan segera membawa orang ke lantai atas.
Begitu melihat Asisten Gery tiba, Renan menoleh pada Ayuna.
“Menjauh sedikit. Jangan sampai terkena imbas.”
Ayuna mengangguk, ekspresinya tenang namun matanya penuh kewaspadaan.
Detik berikutnya.
Brak!
Pintu kamar 308 ditendang hingga terbuka oleh kaki panjang Renan.
Sudut mata Asisten Gery berkedut. “Pak Renan, bukankah Anda bilang jangan membuat keributan?”
“Hanya untuk menakut-nakuti orang di dalam,” jawab Renan ringan.
Ia lalu menoleh ke belakang. Tatapannya singgah pada Ayuna sejenak, meredam ketajaman di wajahnya.
“Tunggu di luar sebentar,” katanya pelan namun tegas.
“Tidak perlu melihat hal-hal yang tidak pantas.”
Ayuna terdiam sejenak, lalu mengangguk tanpa bertanya.
Asisten Gery menggeleng melihat perilaku Renan berubah begitu cepat. Ia melangkah masuk lebih dulu, namun begitu melihat pemandangan di dalam kamar, wajah Asisten Gery langsung berubah. Tanpa pikir panjang, ia melepaskan jasnya dan bergegas masuk.
Di atas ranjang, Revan terbaring dengan mata terpejam, tubuhnya berat dan tak memberi respons. Nafasnya terengah, kancing kemejanya terbuka, dan kulitnya memerah tidak wajar, jelas bukan kondisi sadar.
“Pak Revan!”
Teriakan panik terdengar bersamaan dengan jeritan perempuan.
"Ah!"
Silvia berdiri kacau, rambutnya berantakan, hanya berbalut handuk mandi. Ia baru saja merasa rencananya berhasil hingga pintu itu dihancurkan begitu saja.
“Apa yang kalian lakukan? Keluar!” teriaknya panik.
Renan menyipitkan mata, jelas terganggu oleh suara melengking itu.
“Tutup mulutnya.”
“Renan! Berani-beraninya kau!” Silvia berteriak histeris.
“Jangan sentuh aku! Aku akan bilang pada papaku!”
“Menarik,” Renan mencibir. “Sepertinya Nona Lubis punya hobi yang cukup terbuka. Kalau begitu, tidak perlu dipakaikan baju. Cukup bungkus dengan handuk dan antar pulang.”
“Nanti Pak Lubis bisa melihat sendiri selera putrinya.”
Wajah Silvia langsung pucat.
“Tidak! Jangan!” Ia berusaha memberontak, tapi sia-sia.
“Ssst.” Renan mengangkat jarinya ke bibir. “Nona Lubis tidak ingin dilihat orang lain dalam keadaan seperti ini, bukan?”
“Tenang saja. Pengawal keluarga Morris terlatih dengan baik. Mereka akan mengantarmu pulang dengan aman.”
Tanpa memberi kesempatan lagi, dua pengawal segera membungkus Silvia dengan handuk besar dan menyeretnya keluar melalui pintu belakang.
Ayuna terpaku. Tenggorokannya terasa kering. Tanpa sadar ia menahan napas. Ia hampir tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Asisten Gery, yang menyadari kondisi Pak Revan tidak normal, segera memanggil dokter keluarga. “Cepat periksa beliau.”
Setelah memastikan situasi terkendali, Ayuna masuk ke dalam kamar.
“Renan, apa tidak apa-apa jika dia langsung dipulangkan seperti itu?”
“Sekalipun papanya marah, dia hanya akan datang meminta maaf,” jawab Renan tenang. “Selama kita berada di posisi lebih tinggi, kita tidak akan salah.”
Ia menatap Ayuna dalam-dalam, seolah menegaskan sesuatu yang penting. “Kamu tidak perlu mengkhawatirkan perasaan siapa pun. Justru orang lainlah yang harus memikirkan perasaanmu.”
Ayuna berkedip pelan.
Apakah ini yang disebut berdiri di sisi kekuasaan?
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻
Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta