NovelToon NovelToon
Crazy Obsession

Crazy Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Pelakor jahat
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Bertepuk12

Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.

​Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.

​Namun, Afnan belum puas.

​Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.

​"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."

​Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.

​Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?

#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Suara denting lift yang terbuka di lantai tertinggi terdengar, Afnan melangkah keluar dengan sepatu hak setinggi sepuluh sentimeter, beberapa karyawan spontan menyapanya dengan manis setelah mereka melihat di papan pengumuman, bahwa wanita itu diperlakukan secara berbeda oleh atasan mereka.

"Morning Mrs Afnan." Sapa salah satu pegawai dengan senyuman manis.

Menoleh, Afnan membalas senyuman itu tak kalah manis, tanpa memberhentikan langkahnya ia berkata lembut, "Pagi." Serunya sedikit heran.

Sebab, bagaimana bisa orang-orang itu tau namanya? Namun memilih abai, ia segera merapikan blazer merah menyalanya sebelum mendorong pintu kaca besar menuju ruang kerja pribadi Algio, tanpa mengetuk ia masuk.

"Kau terlambat lima menit, Afnan." Suara bariton itu menyambut Afnan yang kini berdiri kaku sembari menampilkan senyuman tanpa dosa, giginya terlihat berjejer rapi.

Tentu saja Afnan sadar akan kesalahannya, belum ada seminggu bekerja, ia sudah terlambat, namun mau bagaimana lagi? Wanita itu terlalu malas untuk bangun terlalu pagi, belum lagi acara berdebat dengan Dareen.

Afnan tersenyum tipis, meletakkan tas brandednya di atas sofa kulit hitam dan berjalan perlahan menuju meja kerja Algio, duduk dipinggiran meja dengan kaki menyilang, seolah menunjukan kekuasaannya.

"Lima menit untuk memastikan penampilanku sempurna sebelum melihat wajahmu Algio, tidakkah itu harga yang murah?" Afnan berkata pelan, bibirnya maju beberapa centimeter.

Algio langsung meletakkan pulpennya, pria itu mendongak, menatap sang wanita dengan binar yang sulit diartikan, "Sungguh? Namun itu tidak etis jika kau terlambat, sweetie. "

"Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak ingin bangun pagi, mataku akan membengkak, kau tau?" Afnan langsung mencecar begitu saja, bersedekap dada merajuk.

"Heum? Memang ada seorang pegawai yang memerintah atasannya?" Algio tertawa pelan, menatap tak percaya Afnan. Wanita itu semakin manis jika merajuk.

Decakan kecil terdengar, Afnan dengan penuh sadar menunjuk dirinya sendiri, "Tentu saja ada, lihat aku." Serunya santai, menaruh jari telunjuknya kembali.

"Kau berani?" Algio mengernyitkan kening tajam, bibirnya menurun, membentuk senyuman datar tanpa ekspresi.

Mengerjabkan netranya, Afnan menatap Algio tak senang, "Algio." Beonya dengan manja, tak senang apabila pria itu tiba-tiba menjadi tegas.

Helaan nafas terdengar, Algio berdiri dari duduk manisnya, mengunci tubuh sang wanita di antara kedua tangannya, terdapat meja yang menyangga tangan Algio.

"Dan kau lagi-lagi kurang ajar namun aku tidak bisa melakukan apapun." Algio tertawa pelan, tangannya terangkat, merapikan sehelai surai yang jatuh di pipi Afnan.

Menggenggam jemari Algio, Afnan kini tersenyum dengan begitu lebar, "Kau memang payah, marah sedikit saja tidak bisa padaku, namun jika bersama Leona, kau akan terus merajuk."

"Jangan membawa wanita unik itu, Afnan," Algio menyentil dahi sang wanita, "Kemana dia pergi?" Tanyanya penasaran.

"Kau sudah merindukannya?" Afnan memberikan tatapan penuh ejekan, walaupun mereka bertiga adalah sahabat, nyatanya? Algio dan Leona tidak akur barang sejenak pun.

Netra Algio terbelalak, "Merindukan wanita perfeksionis dan nyentrik itu? My Lord, aku masih begitu waras."

"Leona masih mengistirahatkan tubuhnya di hotel, kau ingin menyusul? Bagaimana jika kita reuni?" Pinta Afnan dengan intonasi semangat.

Memutar bola matanya jengah, Algio menggelengkan kepalanya ogah-ogahan, "Reuni bersama wanita kurang adab itu? Aku masih begitu sibuk Afnan, tidak memiliki waktu."

"Kau menyebalkan." Afnan mengerucutkan bibirnya ke depan, menyentak bahu Algio kasar.

"Kau tampak lelah. Apa pria kasar itu menyulitkanmu lagi semalam?" Tanya Algio dengan suara rendah yang penuh perhatian. Berusaha merubah topik pembicaraan.

Afnan memejamkan mata sejenak, "Tentu saja, bagaimana bisa Kak Dareen tidak menyulitkanku? Tentu saja hidupnya tidak akan berwarna dan berjalan normal." Dumelnya kesal.

Mendengar itu membuat Algio tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar penuh ejekan, lantas pria itu menarik tubuh Afnan, membawa mereka ke kursi sofa yang lebih luas.

Tentu saja bagi staf lain yang melihat akan berasumsi bahwa kedua manusia itu adalah sepasang kekasih, walaupun kenyataannya bukan, namun tingkah mereka bahkan lebih romantis dari sepasang kekasih pada umumnya.

Cara Algio berbisik di dekat telinga Afnan atau saat cara Afnan menyandarkan kepalanya di bahu Algio, menurut mereka itu adalah hal wajar.

"Ayo kita makan siang di luar, tempat biasa." Ajak Afnan dengan semangat, membayangkan makanan berat yang akan mengisi perutnya.

Bibir Algio berkedut, tersenyum tak berdaya, "Kau lihat jam itu, honey?" Titahnya menggerakan kepala pelan, menunjuk jam dinding.

"Ya, tentu saja aku lihat, kau pikir aku buta?" Tandas Afnan kesal, sebab pertanyaan Algio yang terkesan unik.

"Sekarang jam berapa?"

"Pukul 8.30 AM. Lalu?" Afnan mengerucutkan bibirnya ke depan, tentu saja ia mengerti arah pembicaraan Algio.

Decakan kecil terdengar, "Dan kau ingin makan siang di saat orang-orang masih breakfast? Apa kau serius?" Sindir Algio menggelengkan kepala tak percaya.

"Memangnya kenapa, sama-sama makan, tidak berbeda." Afnan berkata pelan, santai, walaupun ia sudah makan, entah mengapa perutnya masih keroncongan.

"Kau ini, tahan laparmu, nanti sebelum makan siang kita ada rapat bersama-" Algio menggabungkan kalimatnya sejenak, menatap Afnan tanpa arti, bagai ingin membuat wanita itu mati penasaran.

Afnan mengernyit, "Bersama?"

"Tebak bersama siapa?"

"Kau pikir aku dukun yang bisa menebak rekan kerjamu?"

"Kau tidak memeriksa jadwalku hari ini?"

"Tidak, aku sibuk makan dan tidur."

Decakan terdengar, Algio mendesah kecewa, memang apa yang akan ia harapkan dari seorang wanita malas seperti Afnan? Yang hidupnya dulu hanya dipenuhi dengan clubbing, main, tidur, belanja.

Hanya itu.

"Suamimu, Dareen, jadi kau harus mempersiapkan mental dengan baik, honey," Algio mengelus perlahan surai Afnan, "Aku masih memiliki laporan yang belum kuselesaikan."

"Heun?"

"Tunggu makananmu datang untuk breakfast, setelah rapat aku akan mengajakmu makan siang, mengerti?" Algio tersenyum lembut, dan langsung pergi begitu saja kembali ke mejanya.

Meninggalkan Afnan yang masih lemot, alias belum terlalu memahami ucapan Algio.

Sedangkan di sisi lain, Wiliam pria berwajah tampan dengan setelah kemeja formal itu bagai setan penunggu alias seolah tak terlihat keberadaannya, padahal sedari tadi pria itu duduk di sebelah kanan sofa, mengerjakan proposalnya.

Dan benar saja, Wiliam malah mendapatkan tontonan yang begitu memualkan dan menyebalkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!