NovelToon NovelToon
BANDHANA

BANDHANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Beatt

Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Di dalam mobil - Perjalanan pulang

Anindita duduk di kursi belakang Mercedes hitamnya, menatap kosong ke luar jendela. Jalanan Jakarta yang macet, gedung-gedung tinggi yang menjulang, manusia-manusia yang berlalu lalang—semuanya terlihat blur, tidak penting.

Pikirannya terus memutar kata-kata Zaverio.

"Bagaimana jika aku bilang aku pergi karena dirimu?"

Apa maksudnya? Karena Anindita? Karena dia tidak cukup baik? Karena Anindita terlalu banyak masalah? Karena mencintai Anindita terlalu menyusahkan?

Semakin dia berpikir, semakin kepalanya sakit.

Kirana yang duduk di kursi pengemudi melirik dari kaca spion, melihat wajah majikannya yang pucat dan kosong. Hatinya terasa tercabik. Dia tahu kebenaran—Tuan Zaverio sudah menceritakan semuanya padanya. Tapi dia tidak bisa memberitahu Anindita. Bukan haknya. Dan jika dia memberitahu, itu berarti mengkhianati kepercayaan Tuan Zaverio yang sudah menyelamatkan hidupnya.

Kirana mengambil keputusan impulsif. Alih-alih menuju apartemen Anindita di kawasan Kuningan, dia memutar setir dan mengarahkan mobil ke arah berbeda.

"Kirana?" Anindita akhirnya sadar. "Ini bukan jalan ke apartemenku."

"Saya tahu, Nyonya." Kirana tersenyum tipis lewat kaca spion. "Tapi saya pikir Nyonya butuh sesuatu yang lain sekarang. Bukan apartemen yang sepi. Bukan pekerjaan. Tapi... ketenangan."

Anindita ingin protes, tapi entah kenapa, dia membiarkan saja. Mungkin Kirana benar. Mungkin dia memang butuh sesuatu yang berbeda.

Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di pinggir pantai Ancol. Waktu sudah sore, matahari mulai condong ke barat, langit berwarna jingga keemasan yang indah. Ombak bergulung pelan, angin laut berhembus sejuk.

Anindita turun dari mobil, melepaskan heels Louboutin-nya, dan melangkah ke pasir pantai dengan kaki telanjang. Pasir terasa lembut dan hangat di telapak kakinya. Dia berjalan menuju bibir pantai, membiarkan ombak membasahi kakinya.

Dingin. Menyegarkan. Membuat pikirannya sedikit lebih jernih.

Kirana mengikuti, ikut melepas sepatunya, dan berjongkok di samping Anindita yang juga berjongkok menyentuh air laut.

"Nyonya," panggil Kirana lembut. "Apa ada yang mengganggu pikiran Anda? Anda bisa membaginya dengan saya. Saya... saya bukan hanya asisten Anda, tapi juga teman, kan?"

Anindita menatap Kirana—wanita muda berusia dua puluh delapan tahun yang sudah bekerja bersamanya selama lima tahun. Wanita yang selalu ada, selalu setia, selalu bisa diandalkan.

"Kirana," kata Anindita pelan, matanya tidak menatap Kirana tapi air laut di depannya. "Kau tahu sesuatu yang tidak aku ketahui, kan?"

Kirana membeku.

"Zaverio Kusuma tidak mungkin datang ke rumah sakit tanpa kau beritahu." Anindita akhirnya menatap Kirana, mata coklatnya menatap tajam, membaca. "Aku ingin kejujuranmu, Kirana. Sebenarnya apa hubunganmu dengan Zaverio Kusuma? Kenapa kau seperti... mengerti tentang kami berdua?"

Kirana terdiam lama. Dia menatap laut, angin meniup rambutnya yang tergerai, wajahnya penuh konflik internal yang menyakitkan.

"Kirana," Anindita meraih tangan asistennya, menggenggamnya lembut. "Jika kau menganggapku sebagai teman, bukan hanya majikan... tolong beritahu aku."

Dan saat itulah pertahanan Kirana runtuh.

Dia menarik nafas panjang—nafas yang gemetar, penuh beban rahasia yang sudah lama dia pendam.

"Nyonya..." Suara Kirana bergetar. "Sebenarnya... saya adalah orang yang diselamatkan oleh Tuan Zaverio saat masih kecil."

Anindita terdiam, mendengarkan dengan seksama.

"Waktu itu saya berusia sepuluh tahun. Orang tua saya meninggal dalam kecelakaan, saya tidak punya siapa-siapa, hidup di jalanan." Air mata mulai menggenang di mata Kirana. "Suatu malam, saya hampir... hampir diperkosa oleh sekelompok preman. Saya pikir itu akhir hidup saya. Tapi kemudian Tuan Zaverio datang—saat itu beliau baru berusia 20 tahun, tapi dia... dia menghancurkan mereka semua. Menyelamatkan saya."

Anindita menggenggam tangan Kirana lebih erat.

"Tuan Zaverio membawa saya ke rumahnya, memberikan saya tempat tinggal, menyekolahkan saya, memberikan saya kehidupan baru." Kirana tersenyum melalui air matanya. "Saya tumbuh dengan bantuan keluarga Kusuma. Dan saya mengabdikan hidup saya untuk Tuan Zaverio sebagai pembalas budi."

"Tapi..." Anindita mencoba memahami. "Tapi kenapa dia menempatkanmu di perusahaanku? Kenapa dia—"

"Karena Anda, Nyonya." Kirana menatap Anindita dengan mata berkaca-kaca. "Tuan Zaverio bukanlah orang yang mudah percaya pada siapapun. Dia dingin, tertutup, tidak pernah menunjukkan emosi. Tapi waktu itu... waktu itu dia sering menceritakan tentang seorang gadis yang sangat dia cintai. Gadis bernama Anindita Paramitha."

Anindita terhenyak. Dadanya sesak.

"Setiap kali dia menceritakan tentang Anda, wajahnya... berubah." Kirana tersenyum—senyum yang tulus walau air matanya masih mengalir. "Dia tersenyum dengan cara yang tidak pernah saya lihat dia lakukan pada siapapun. Matanya berbinar. Suaranya lembut. Seolah semua masalah di dunia tidak ada saat dia berbicara tentang Anda."

"Waktu itu Tuan baru berusia 23 tahun, tapi saya bisa melihat—dia benar-benar, benar-benar jatuh cinta dengan Anda, Nyonya. Bukan cinta biasa. Tapi cinta yang... yang seperti di novel-novel. Cinta yang membuat seseorang rela melakukan apapun."

Anindita menggeleng, air matanya mulai jatuh. "Tapi dia meninggalkan aku, Kirana. Kalau dia benar-benar mencintaiku, kenapa dia—"

"Saya tidak bisa memberitahu Anda alasannya, Nyonya." Kirana memotong, suaranya tegas walau lembut. "Saya tidak punya hak untuk itu. Itu bukan rahasia saya untuk diceritakan."

"Tapi?" Anindita merasakan ada kelanjutan.

"Tapi yang jelas..." Kirana menatap lurus ke mata Anindita. "Tuan tidak pernah meninggalkan Anda. Tidak sekalipun. Dia selalu peduli kepada Anda. Dia selalu memantau Anda dari jauh. Dan dia..." Suara Kirana bergetar. "Dia hanya mencintai Anda seorang. Sampai sekarang. Sampai detik ini."

Anindita melepaskan genggamannya, berdiri dengan tiba-tiba. Kepalanya berputar, dadanya sesak, nafasnya tersengal.

"Tidak... tidak... ini tidak masuk akal. Saat pernikahan ku... Aku lihat sendiri dia dengan wanita lain di hari pernikahanku, waktu itu! Kalau dia benar-benar mencintaiku, kenapa dia—"

"Nyonya, tolong dengarkan saya—"

"CUKUP!" Anindita berteriak, tangannya memegang kepalanya yang terasa pecah. "Cukup, Kirana. Aku tidak mau mendengar lagi. Aku... aku tidak bisa..."

Dia hampir terjatuh, tapi Kirana cepat menangkapnya.

"Nyonya! Hati-hati!"

Anindita bernafas dengan susah payah. Bayinya. Dia harus memikirkan bayinya. Dia tidak boleh stress seperti ini.

"Bawa aku pulang, Kirana," bisiknya lemah. "Kumohon... bawa aku pulang."

"Baik, Nyonya."

Tapi sebelum Kirana membantu Anindita berjalan kembali ke mobil, Anindita berbalik menatapnya—mata yang memerah karena menangis, tapi ada ketegasan di sana.

"Dan Kirana," katanya pelan tapi tegas. "Mulai sekarang, berhenti memberitahu Zaverio tentangku. Jika kau tetap melakukannya... aku akan memecat mu. Aku serius."

Kirana tercekat. Hatinya hancur berkeping-keping. Tapi dia mengangguk.

"Saya... saya mengerti, Nyonya."

Kebohongan. Kirana tidak akan berhenti. Karena Tuan Zaverio sudah menyelamatkan hidupnya, dan satu-satunya cara Kirana bisa membalas adalah dengan menjaga wanita yang Tuan cintai—walau itu artinya harus mengkhianati kepercayaan Anindita.

...****************...

Apartemen Anindita - Malam hari

Anindita menjatuhkan dirinya ke atas kasur king size di kamarnya, memeluk bantal dengan erat. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya tidak bisa berhenti bekerja.

Zaverio. Hardana. Savitha. Vyan. Undangan pernikahan. Bayinya. Semuanya bercampur jadi satu kekacauan yang membuat kepalanya mau pecah.

"Kenapa?" bisiknya ke dalam bantal, air matanya membasahi sarung bantal sutra. "Kenapa masa laluku terus menghantui? Kenapa tidak bisa membiarkanku hidup dengan tenang?"

Tangannya melayang ke perutnya, mengusapnya lembut.

"Maafkan Mama, sayang. Mama seharusnya kuat untukmu. Mama seharusnya tidak menangis seperti ini. Tapi Mama... Mama tidak tahu harus bagaimana lagi."

Dia menutup matanya, mencoba tidur, tapi bayangan Zaverio terus muncul.

Zaverio yang tersenyum saat mereka pertama kali bertemu di panti asuhan. Zaverio yang membelikan dia es krim cokelat favoritnya setiap akhir pekan. Zaverio yang memeluknya saat dia menangis karena kelelahan. Zaverio yang berbisik 'aku mencintaimu' di telinganya di malam berbintang.

Dan Zaverio yang meninggalkannya tanpa kata di malam tergelap hidupnya.

"Zaverio Kusuma..." Anindita berbisik marah, frustrasi, terluka. "Kumohon jangan datang di hadapanku lagi. Kau membuat semua rasa sakit yang sudah kubur... kembali lagi. Aku sudah berusaha hidup dengan baik. Kumohon berhenti pura-pura peduli kepadaku!"

Tapi bahkan saat dia mengucapkan kata-kata itu, hatinya tahu kebenarannya:

Dia tidak pernah benar-benar melupakan Zaverio. Dia hanya mengubur perasaannya dalam-dalam. Dan sekarang, dengan kehadiran Zaverio kembali, semua yang dia kubur mulai bangkit lagi.

Dan yang paling menakutkan?

Dia tidak yakin bisa mengubur perasaan itu lagi untuk kedua kalinya.

...****************...

Di tempat lain - Mansion Kusuma

Zaverio duduk sendirian di perpustakaan pribadi mansion Kusuma yang megah, sebuah gelas whisky di tangannya—sudah yang ketiga malam ini. Perapian menyala, tapi kehangatan api tidak bisa menyentuh kedinginan di hatinya.

Di tangannya yang lain, sebuah foto lama—foto Anindita di usianya yang 18 tahun, tersenyum di taman panti asuhan, matahari sore membuat rambutnya berkilau. Foto yang dia ambil diam-diam, foto yang dia simpan di dompet kulit selama dua belas tahun.

"Maafkan aku, Dita," bisiknya pada foto itu, jemarinya mengusap wajah Anindita di foto dengan lembut—seolah bisa menyentuh wajah aslinya. "Maafkan aku karena tidak cukup kuat untuk memberitahu kebenaran. Maafkan aku karena membiarkanmu membenciku. Maafkan aku karena... karena mencintaimu terlalu banyak hingga aku rela menghancurkan diriku sendiri demi melindungimu."

Dia meneguk whisky-nya, membiarkan cairan itu membakar tenggorokannya—rasa sakit fisik yang jauh lebih mudah ditanggung dibanding rasa sakit di hatinya.

Ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dia simpan, tapi dia tahu siapa pengirimnya.

"Kau sudah melanggar perjanjian kita, Zaverio. Kau mendekati Anindita lagi. Ingat konsekuensinya?"

Zaverio menatap pesan itu dengan mata yang dingin, penuh kebencian.

Dia mengetik balasan dengan jari yang bergetar karena kemarahan:

"Aku tidak peduli lagi dengan perjanjianmu. Aku sudah membayar hutangku dua belas tahun lalu. Dan jika kau berani menyentuh Anindita, aku akan menghancurkanmu. Aku bersumpah demi nyawaku."

Send.

Dia melempar ponselnya ke sofa, kembali menatap foto Anindita dan berbisik:

"Tidak ada yang akan menyakitimu lagi, Dita. Walau itu artinya aku harus menjadi monster. Walau itu artinya aku harus menghancurkan dunia. Tidak ada yang akan menyakitimu selama aku masih bernafas."

Dan di malam yang sunyi itu, dua hati yang saling mencintai tapi terpisah oleh rahasia dan kebohongan, sama-sama menangis dalam kesepian mereka masing-masing.

Tidak tahu bahwa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Tidak tahu bahwa kebohongan Hardana akan segera terungkap.

Dan tidak tahu bahwa pilihan yang mereka buat malam ini akan mengubah segalanya—untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!