"Saya berharap dimasa depan nanti kita akan berjumpa lagi, tapi tidak sebagai teman. melainkan sebagai pasangan yang sudah terikat secara Agama mau pun Negara. Saya akan menjadi seorang Ayah, sedangkan kamu menjadi seorang Ibu bagi anak-anakku kelak." Itulah kata-kata yang diucapkan oleh seorang siswa laki-laki kepada Yuri saat kelulusan sekolah, akankah mereka berdua bisa dipertemukan kembali dikemudian hari? Lalu siapakah siswa laki-laki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pajar Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
"Mba Lia, si Yuri kenapa? Kok tumben enggak masuk? Biasanya kalau
dia lagi enggak enak badan masih dipaksa masuk kerja. Tumben banget dia hari
ini enggka masuk.” Ya begitulah Yuri, walau pun keadaan badanya tidak enak ia
terus memaksa bekerja.
“Saya juga enggak tahu Rin, kemarin pas pulang kerja saya lihat di
keluar dari ruang kosong sambil nangis loh.”
“Hah! Masa sih? Serius Mbak? Dia lagi ngapain tuh di ruang kosong.”
Sebelum Lia melanjutkan ceritanya, ia menoleh ke arah lain agar tidak ada orang
yang mendengar.
“Pas Yuri keluar dari ruang kosong, enggak lama keluar Pak Adi dari
ruang koson juga. Kelihatan aneh banget tahu.” Airin menutup mulutnya dengan
satu tangannya, pikiran dia sudah pergi ke mana-mana tentang Yuri dan juga Adi.
“Pasti ada sesuatu deh, ini pasti ada hubungannya kenapa Yuri sampai
enggak masuk kerja hari ini.”
“Bisa jadi.”
…
Aku sudah memberithuankan Airin bahwa hari ini aku tidak masuk kerja.seharusnya
aku melapor ke atasan, tapi aku tidak mau jika memberitahukan kepada atasanku.
Selesai mengirim pesan aku kembali memasukan baju ke dalam tas besar, aku sudah
memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuaku. Jika mengingat kejadian saat aku
dilecehkan aku selalu menangis dalam kesendirian rasanya aku ingin bertemu
dengan ibu dan memeluknya erat-erat menumpahkan segala keluh kesahku pada orang
tuaku agar aku tenang.
"Uukkhh, Mah. Aku takut, aku mau pulang Mah."
Dulu saat di sekolah aku sudah pernah dilukai oleh kakak kelas hingga
wajah dan tubuku terluka. Sekarang saat di dunia kerja pun aku mengalami hal
yang lebih parah dari saat aku masih di sekolah. Yaitu di lecehkan oleh
atasanya sendiri.
…
"Pak Alex, anda mau kemana? Jam pulang kerja kan masih lama.”
“Saya mau pulang lebih awal, saya mau ke tempat Yuri.”
“Untuk apa Bapak ke sana?”
“Saya mau melihat keadaannya, saya punya perasaan enggak enak. Seperti
ada sesuatu di hati saya. Tolong kamu urus sisa pekerjaan saya ya.” Bergegas
Alex keluar dari ruang kerjanya menuju parkiran, ia terus berlari terburu-buru
bahkan karyawan lain yang melihat bosnya merasa heran. Baru saja Alex membuka
pintu mobilnya, ada seserang memanggil namanya.
"Alex!" Setelah Alex
mendengar suara yang memanggil namanya, Alex pun langsung mengalihkan pandagannya
ke arah sesorang ia kenal. Yang tak lain adalah Ratna.
"Alex sayang." Ratna
dengan manja dan langsung merangkul lengan Alex. Alex yang saat ini tengah buru-buru
ingin kembali ke tempat Yuri, segara melepaskan tangan Ratna dari lenganya dan
mengabaikan Ratna dengan wajah dinginya
"Alex, kok kamu gitu sih sama aku?” Ia sengaja memperlihatkan wajah
cemberutnya seimut mungkin agar Alex merasa bersalah atas sikapnya terhadap
dirinya, sayangnya semua itu sia-sia Alex
pun tidak memperdulikan panggilan Ratna, yang saat ini ia fikirkan sekarang
adalah Yuri.
“Alex, kamu ini kenapa sih? Aku sengaja loh datang ke sini buat ketemu
sama kamu, kita jalan-jalan yuk.”
“Jalan-jalan aja sendiri, saya sibuk!”
“Kamu mau pergi ya? Aku ikut ya.”
“Jangan! Saya ada urusan penting, saya mau pergi sendiri.” Biar pun Alex
melarangnya tetap saja Ratna tidak mengidahkan larangan Alex, bukannya pergi
karena dirinya sudah diusir, ia malah pindah tempat untuk membuka pintu mobil
yang lain.
“Kenapa kamu buka pintu mobil saya? Kamu mau ngapain?”
“Aku mau ikut.”
“Enggak boleh, saya, ‘kan sudah bilang. Saya mau pergi sendiri, kuping
kamu tuli ya!” Alex sedikit membentak, ia kesal melihat Ratna yang tidak punya
rasa sopan santun terhadap dirinya.
“Kamu tega banget bilang aku tuli.”
“Ya, habisnya kamu enggak dengar apa yang saya bilang. Sekarang kamu
tutup pintu mobil saya sekarang.” Ratna menghentakan kakinya, karena kesal ia
membanting pintu dengan keras membuat Alex melotot ke arahnya, Ratna tidak
peduli dengan tatapan horror milik Alex ia kesal karena dirinya tidak boleh
ikut bersamanya.
Bergegas Alex masuk ke dalam mobil, dan menancapkan gasnya membuat ban
mobil berdecit kencang hingga kuping terasa ngilu.
“Hari ini gue sial banget sih, Alex susah banget sih kalau didekatin
sama gue, padahal guekan mau jalan-jalan sama dia.” Gerutunya, Ratna yang gagal
mengajak Alex jalan-jalan memutuskan untuk pergi ke tempat lain.
1 jam lewat 15 menit Alex sampai di tempat kostan Yuri, utung saja ia
masih ingat jalan menuju kostanya. Ia ingin melihat keadaan Yuri sekarang, ia
merasa Yuri sedang tidak baik-baik saja.
“Assalammualaikum, Yuri.” Alex mengetuk pintu kostan Yuri, tapi tidak
ada jawaban sama sekali.
“Yuri, ini saya Alex. Kamu ada di dalam?” Ia mengeluarkan ponselnya, ia
menghubungi Yuri. Tersambung tapi tidak dijawab. Alex menarik napasnya dan
mengebuskan napasnya pelan, sepertinya Yuri tidak ingin ditemui saat ini. Alex
pun memutuskan kembali ke kantornya ia akan datang ke sini lagi untuk melihat
keadaan Yuri.
Sudah 1 minggu berlalu, Yuri belum juga masuk kerja. Bahkan tidak
memberikan kabar sama sekali ke tempat kerjanya, teman-teman Yuri juga bingung
kenapa dia tidak masuk kerja selama 1 minggu ini, Airin dan Lia berusaha untuk
menayakan kabar lewat pesan. Sayangnya tidak ada balasan sama sekali.
“Yuri belum masuk juga ya?” Adi bertanya kepada Airin juga Lia.
“Belum, Pak. Saya sudah hubungi dia tapi tidak ada jawaban dari dia,
pesan saya juga hanya dibaca saja.”
“Begitu ya.” Sejujurnya Adi mengkhawatirkan keadaan Yuri, sudah 1 minggu
ia tidak masuk kerja bahkan ponselnya saja susah untuk dihubungi. Ia tahu
penyebab Yuri tidak masuk kerja karena ulah dirinya. Seharusnya ia sadar akan
perbuatannya akan bertampak dengan mental Yuri saat ini. Jika karyawan lain
tidak masuk selama 3 hari berturut-turut tanpa kabar mereka akan diberikan
peringatan melalui surat. Tapi tidak dengan Yuri, Adi masih memberikan
kesempatan untuk kembali bekerja di perusahaan ini
"Aku terlalu cepat
melakukan hal itu pada Yuri. Aku harus bagaimana? Agar Yuri bisa kembali
kerja." Adi yang sudah tidak semangat untuk bekerja, mau tidak mau
dia harus mengadakan meeting di perusahan DM. yang sebentar lagi akan
mengadakan acara besar di sebuah hotel bintang 5, untuk merayakan kesuksesan
kedua perusahaan. Barkat kedua perusahaan bekerja sama keuntungan perusahaan
semakin lama semakin meningkat.
Tok,tok,tok
"Masuk,” ujar Adi.
"Pak, 1 jam lagi kita akan berangkat ke Daya Makmur. Saya sudah
menyiapkan mobil dan laporan.”
“Terima kasih, selesai satu pekerjaan kita akan berangkat ke sana.”
“Kalau begitu saya permisi.”
…
"Pak Adi?" panggil Ali, terlihat Adi tidak terlalu focus
dengan miting hari ini.
"Iya, ada apa pak Ali."
"Saya perhatikan dari tadi, sepertinya Pak Adi sedang mikirkan hal
lain? Kayanya Pak Adi tidak terlalu focus ya sama miting ini? Apa ada sesuatu
yang sedang mengajal di hati Bapak? Terkait dengan acara pesta yang akan di
adakan di hotel nanti?"
“Mohon maaf jika saya melakukan tindakan yang tidak professional,
seharusnya saat meeting berlangsung saya harus focus. Apalagi ini acara penting
yang akan diadakan sebentar lagi. Tapi Pak Ali tenang saja, Ini tidak ada
hubunganya dengan perusahaan, saya sedang memikirkan bawahan saya yang bernama
Yuri."
"Maksud Pak Adi, Yuri yang minggu lalu datang ke sini untuk
menemani pak Adi meeting?”