NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Kisah cinta masa kecil / Kencan Online / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:18
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Sakit Perut

Sabtu pagi kali ini terasa sedikit berbeda. Biasanya, Raka akan terbangun dengan sisa-sisa kepenatan minggu kerja yang menumpuk di punggung, ditambah beban psikologis menghadapi akhir pekan yang kosong. Namun, ketika cahaya matahari menerobos celah gorden apartemennya pukul delapan pagi, hal pertama yang ia rasakan bukanlah kekosongan, melainkan rasa haus yang hebat dan sedikit rasa tidak nyaman di perut.

Efek samping dari sate taichan super pedas tadi malam.

Raka mengerang pelan, meregangkan tubuhnya di kasur, lalu tersenyum tipis. Rasa mulas ini nyata, fisik, dan menuntut perhatian segera. Itu jauh lebih baik daripada rasa sakit di dada karena ingatan masa lalu yang biasanya menyapanya di Sabtu pagi. Aroma bawang putih dan cabai rawit seolah masih menempel samar di napasnya, menjadi bukti tak terbantahkan bahwa ia benar-benar pergi keluar semalam, tertawa bersama Bayu, dan mendengarkan celotehan Rini di tengah asap pembakaran sate.

Ia bangkit, menyeret langkah ke dapur untuk mengambil segelas air dingin. Apartemennya hening. Hening yang sama seperti minggu-minggu sebelumnya, tetapi entah mengapa, frekuensinya terasa tidak terlalu memekakkan telinga.

Setelah menghabiskan air dalam sekali teguk, Raka bersandar pada *counter* dapur, memandang ke sekeliling ruang tengahnya. Apartemen tipe studio ini rapi. Terlalu rapi. Dinding bercat krem, sofa abu-abu, rak buku yang disusun berdasarkan tinggi buku, dan lantai yang bersih tanpa debu.

Dulu, mantan kekasihnya terobsesi dengan kebersihan dan minimalisme. *“Barang yang nggak perlu cuma bakal jadi sarang debu, Ka. Bikin bersin,”* begitu katanya dulu setiap kali Raka ingin membeli pajangan atau karpet bulu. Raka menurut. Ia membuang keinginan-keinginan kecilnya demi kenyamanan pasangannya. Bahkan setelah wanita itu pergi, Raka tanpa sadar menjaga apartemen ini tetap seperti museum: steril, dingin, dan tidak boleh disentuh oleh kekacauan.

Pandangan Raka terhenti pada sudut ruangan dekat jendela. Kosong. Hanya ada lantai parket yang mengkilap.

Tiba-tiba, kekosongan di sudut itu mengganggunya. Bukan karena mengingatkannya pada ketiadaan seseorang, melainkan karena itu menyadarkannya bahwa ia masih hidup dengan aturan main orang lain yang bahkan sudah tidak ada di sini.

"Gue suka tanaman," gumam Raka pada dirinya sendiri, suaranya terdengar serak di ruang kosong itu.

Itu sebuah fakta yang sudah lama ia kubur. Raka suka warna hijau. Ia suka bau tanah basah. Dulu di rumah orang tuanya, ia sering membantu ibunya menyiram pot-pot suplir. Tapi mantannya benci tanah. *Kotor*, katanya.

Raka meletakkan gelas kosongnya dengan bunyi *tak* yang tegas di meja. Ia tidak akan menghabiskan Sabtu ini dengan mencuci seprai atau melamun di toko buku. Ia butuh sesuatu yang hidup di ruangan ini. Sesuatu yang bernapas, tapi tidak banyak bicara.

Satu jam kemudian, Raka sudah berdiri di pinggir jalan raya yang cukup bising, di sebuah sentra tanaman hias yang berjejer di trotoar tak jauh dari stasiun kereta. Matahari mulai menyengat, dan debu jalanan bercampur dengan aroma pupuk kandang serta tanah basah. Sebuah kombinasi bau yang anehnya menenangkan bagi Raka.

Seorang bapak tua bertopi lusuh sedang menyemprotkan air ke deretan tanaman gantung ketika Raka mendekat.

"Cari apa, Mas? Buat *indoor* atau *outdoor*?" tanya bapak itu ramah, selang air masih di tangannya.

Raka memandang sekeliling. Ia buta soal nama tanaman hias kekinian. "Buat di dalam apartemen, Pak. Yang... nggak gampang mati."

Bapak itu tertawa kecil, memperlihatkan gigi-giginya yang tak rata. "Semua tanaman kalau nggak dirawat ya mati, Mas. Tapi kalau cari yang bandel, tahan banting, sebelah sini."

Raka mengikuti si penjual ke bagian belakang lapak yang lebih teduh. Di sana berjejer pot-pot dengan berbagai bentuk daun.

"Ini Lidah Mertua, *Sansevieria*," tunjuk bapak itu pada tanaman dengan daun tegak, keras, dan runcing berwarna hijau tua dengan tepian kuning. "Ini jagoan. Lupa disiram seminggu juga dia santai aja. Bagus buat nyerap racun rokok atau udara kotor."

Raka berjongkok, mengamati tanaman itu. Daunnya terlihat kaku dan tajam, sangat kontras dengan selera mantannya yang menyukai bunga-bunga kecil berwarna pastel yang rapuh. Tanaman ini terlihat kokoh. Mandiri.

"Kalau yang itu?" Raka menunjuk tanaman lain dengan daun lebar berlubang-lubang.

"Itu Janda Bolong, *Monstera*. Lagi hits, Mas. Tapi dia butuh perhatian lebih dikit daripada si Lidah Mertua tadi. Harus rajin dilap daunnya biar kinclong."

Raka berpikir sejenak. Ia teringat bagaimana ia merawat mantannya dulu—perhatian penuh, detail, dan melelahkan. Ia belum siap untuk komitmen semacam itu lagi. Ia butuh sesuatu yang bisa tumbuh bersamanya tanpa menuntut terlalu banyak.

"Saya ambil yang Lidah Mertua aja, Pak. Yang ukurannya sedang," putus Raka.

"Siap. Mau ganti pot sekalian? Pot plastik hitam bawaannya kurang ganteng kalau buat di apartemen."

Raka mengangguk. Matanya menyapu tumpukan pot gerabah dan keramik. Dulu, jika membeli perabotan, ia pasti akan memilih warna putih atau krem. Aman. Bersih. Pilihan mantannya.

Tangan Raka terulur, melewati pot putih, dan menyentuh sebuah pot keramik berwarna abu-abu semen dengan tekstur kasar yang belum dipoles halus. Warnanya maskulin, berat, dan tidak berusaha terlihat cantik.

"Saya mau pot yang ini."

"Wah, selera Mas *industrial* ya. Bagus, Mas. Kokoh."

Proses tawar-menawar berlangsung singkat. Raka tidak terlalu pandai menawar, dan ia juga tidak keberatan membayar sedikit lebih mahal untuk "teman baru" ini. Saat ia menunggu bapak penjual memindahkan tanaman ke pot baru dan menambahkan media tanam, Raka mengeluarkan ponselnya. Ada notifikasi di grup WhatsApp yang baru dibuat semalam bernama *“Tim Sate Taichan”*.

**Bayu:** *Info dong, obat sakit perut yang manjur apaan? Gue bolak-balik toilet dari subuh.*

**Rini:** *Lemah banget sih Mas Bayu. Aku aman-aman aja nih.*

Raka tersenyum. Jempolnya mengetik balasan.

**Raka:** *Minum air anget, Bay. Sama tolak angin. Gue juga agak mulas dikit tadi pagi.*

Interaksi kecil itu terasa ringan. Tidak ada beban emosional, tidak ada kode-kode rumit yang harus dipecahkan seperti pesan-pesan dari mantannya dulu. Hanya percakapan sederhana tentang sate dan sakit perut.

Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih, Raka memesan taksi *online*. Membawa pot keramik berisi tanah dan tanaman seberat lima kilogram dengan motor bukanlah ide bagus.

Perjalanan pulang terasa berbeda. Raka memangku pot itu di dalam mobil. Ujung daun Lidah Mertua yang keras sesekali menyentuh dagunya saat mobil berguncang. Ada aroma tanah basah yang menguar di dalam kabin mobil ber-AC itu, menutupi bau pewangi jeruk sintetik mobil.

Sesampainya di apartemen, Raka langsung meletakkan tanaman itu di sudut kosong dekat jendela—tempat yang tadi pagi terasa hampa.

Ia mundur beberapa langkah, berkacak pinggang, dan mengamati hasilnya.

Perubahannya drastis. Warna hijau tua dan pot abu-abu kasar itu memecah dominasi warna krem yang membosankan. Sudut itu kini terlihat hidup. Tegas.

Namun, posisi sofa rasanya jadi kurang pas. Sofa itu menghadap ke arah televisi secara kaku. Raka merasa perlu mengubahnya. Tanpa berpikir panjang, ia mendorong sofa itu, menggesernya sedikit menyerong agar lebih santai. Ia juga memindahkan *standing lamp* dari sudut kanan ke kiri, dekat dengan tanaman barunya.

Suara gesekan kaki sofa dengan lantai parket terdengar nyaring, tapi Raka tidak peduli. Ia berkeringat. Napasnya sedikit memburu. Ini adalah aktivitas fisik pertama yang ia lakukan di apartemen selain sekadar berjalan dari kasur ke kamar mandi.

Setelah sepuluh menit menggeser-geser perabotan, Raka duduk di lantai, bersandar pada sisi sofa. Ia melihat sekeliling.

Susunannya berubah. Tidak lagi simetris sempurna. Ada sedikit "kekacauan" yang disengaja. Dan di sana, berdiri tegak si Lidah Mertua, menyerap cahaya matahari siang yang masuk lewat jendela.

Raka mengambil napas dalam-dalam. Udara di apartemen ini terasa lebih segar. Mungkin hanya sugesti, atau mungkin tanaman itu memang bekerja cepat. Yang jelas, bau "masa lalu"—bau pembersih lantai lemon dan ketiadaan—kini bercampur dengan bau tanah organik.

Ini adalah keputusan impulsif pertamanya untuk apartemen ini yang murni berasal dari keinginannya sendiri. Bukan karena saran mantannya, bukan karena diskon, tapi karena ia, Raka, menginginkannya.

Ia bangkit, mengambil ponsel, dan memotret sudut baru itu. Tanpa *filter*, tanpa *angle* yang estetik berlebihan. Ia mengirimkannya ke grup *Tim Sate Taichan*.

**Raka:** *[Mengirim Foto] Baru beli mainan baru buat di kamar.*

**Rini:** *Wah! Sansevieria ya Pak? Keren potnya. Estetik banget!*

**Bayu:** *Buset, kirain beli PS5, taunya kembang. Tapi oke juga sih Ka, biar nggak suram-suram amat tuh goa lo.*

Raka tertawa kecil membaca pesan Bayu. "Goa". Mungkin selama ini Bayu benar. Tempat ini adalah goa tempatnya bersembunyi. Tapi hari ini, ia sedikit merenovasi goa itu.

Ia berjalan ke dapur, mengambil segelas air lagi—bukan untuk dirinya, tapi sedikit untuk tanaman barunya. Si penjual bilang jangan terlalu sering disiram, tapi sedikit air di hari pertama sebagai tanda sambutan rasanya tidak akan menyakiti.

Saat menuangkan air ke tanah di pot itu, Raka melihat air meresap perlahan, mengubah warna tanah menjadi hitam pekat.

"Selamat datang," bisik Raka pelan. "Jangan mati cepet-cepet ya."

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Raka merasa ia tidak sedang menunggu waktu berlalu di apartemen ini. Ia sedang menjalaninya. Garis waktu memang tidak bisa menghapus masa lalu, dan Raka tahu bayang-bayang mantannya mungkin masih akan muncul sesekali—saat ia melihat sabun cuci piring atau mendengar lagu tertentu.

Tapi sekarang, di sudut ruangan ini, ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak memiliki memori tentang "dia". Sesuatu yang hanya mengenal Raka versi sekarang. Raka yang menyukai pot abu-abu kasar dan tanaman yang tangguh.

Raka kembali duduk di sofa yang posisinya sudah berubah, memejamkan mata sejenak, dan menikmati Sabtu siang yang tenang. Bukan sepi, tapi tenang. Ada perbedaan besar di antara keduanya, dan Raka baru saja mulai memahaminya.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!