Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.
Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.
Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Kegelapan di dalam gudang kimia itu bukan sekadar ketiadaan cahaya; rasanya pekat dan berbau logam, seolah-olah udara di dalamnya telah dipadatkan oleh tekanan tak kasat mata. Keyra menahan napas, langkah kakinya seringan kapas saat ia meluncur masuk melewati ambang pintu, tepat sebelum pintu itu menutup kembali secara otomatis di belakangnya.
Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suaranya akan memantul di dinding-dinding beton. Di luar, suara Raka yang sedang berakting panik terdengar samar—teriakan tentang korsleting listrik dan bahaya kebakaran—memaksa Julian untuk tetap berada di lorong. Keyra tahu ia hanya punya waktu kurang dari enam puluh detik. Julian bukan orang bodoh; begitu dia melihat panel listrik yang hangus karena koin lima ratusan, dia akan langsung menyadari bahwa ini adalah sabotase.
Mata Keyra yang mulai terbiasa dengan kegelapan menyapu ruangan dengan cepat. Gudang itu penuh dengan rak-rak tinggi berisi botol reagen dan peralatan kaca yang memantulkan sedikit cahaya bulan dari ventilasi atas. Di sudut ruangan, di atas sebuah meja kerja baja yang dingin, benda itu berada.
Koper perak itu terbuka sedikit. Keyra mendekat, langkahnya lebar namun hati-hati. Di dalamnya, sebuah perangkat yang menyerupai rangkaian *motherboard* futuristik berdengung halus. Cahaya biru redup berdenyut dari intinya, seirama dengan detak jantung manusia yang sedang lari maraton. Itu bukan mesin biasa. Keyra bisa merasakan bulu kuduknya berdiri hanya dengan berada dalam radius satu meter darinya. Ada medan statis yang membuat udara di sekitarnya terasa bermuatan listrik.
"Oke, tarik napas, ambil, lari," gumam Keyra pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan tangannya yang gemetar.
Ia mengulurkan tangan, jemarinya hampir menyentuh pegangan koper ketika suara *klik* pelan terdengar dari arah pintu. Bukan suara pintu terbuka, tapi suara kunci yang diputar dari luar. Kunci elektronik.
Keyra membeku. Rencana Raka meleset. Julian tidak pergi memeriksa panel listrik cukup lama, atau mungkin, dia mengunci pintu ini dari luar sebagai tindakan pencegahan otomatis.
"Sial," desis Keyra. Ia menyambar pegangan koper itu, membanting tutupnya hingga tertutup, dan mengangkatnya. Berat. Jauh lebih berat dari yang terlihat, seolah-olah ada gravitasi tambahan yang terperangkap di dalamnya.
Saat itulah pintu gudang mendesis terbuka. Bukan karena Julian membukanya dengan kunci manual, tapi karena sistem keamanan mendeteksi pergerakan di dalam—atau mungkin Julian memang sudah tahu ada tikus yang masuk perangkap.
Cahaya senter menyilaukan mata Keyra. Siluet Julian berdiri di ambang pintu, tinggi dan mengintimidasi. Wajahnya tidak terlihat, tertutup bayangan, tetapi postur tubuhnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang laboratorium rahasianya baru saja disusupi.
"Koin di panel listrik. Klasik," suara Julian terdengar datar, tanpa emosi. "Temanmu di luar cukup gesit, tapi dia lupa kalau gedung ini punya sistem *backup* daya mandiri. Lampu di lorong mati, tapi sensor di ruangan ini tidak pernah tidur, Keyra."
Keyra mundur selangkah, koper itu ia dekap erat di depan dada seperti tameng. "Minggir, Julian. Gue nggak mau ribut, tapi gue bakal teriak kalau lo macem-macem."
Julian tertawa kecil, suara yang kering dan hampa. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya hingga rapat kembali. "Teriak saja. Dengan *sound system* di lapangan yang sedang *check sound* volume penuh, tidak ada yang akan mendengar jeritanmu di sini. Letakkan koper itu."
"Alat ini bahaya," balas Keyra, matanya liar mencari celah. Jendela belakang. Raka bilang ada jendela di belakang rak bahan kimia. Tapi jaraknya lima meter, dan Julian menghalangi jalur lurusnya.
"Bahaya adalah persepsi. Bagi semut, hujan adalah bencana. Bagi manusia, itu berkah," ujar Julian, melangkah maju perlahan. "Kau tidak mengerti apa yang kau pegang. Itu bukan sekadar mesin waktu. Itu jangkar."
"Gue nggak peduli!" Keyra melihat celah sempit di antara dua rak besi. Jika ia bisa melempar koper itu ke arah jendela untuk memecahkan kacanya, dia mungkin bisa melompat keluar. Itu perjudian besar, tapi diam di sini berarti kalah.
Tanpa peringatan, Keyra melempar sebuah gelas ukur kaca yang ada di meja terdekat ke arah Julian. *PRANG!* Pecahan kaca berhamburan. Julian menepisnya dengan gerakan tangan yang nyaris terlalu cepat untuk dilihat mata manusia, namun momen itu memberi Keyra kesempatan.
Keyra menerjang maju, bukan ke arah pintu, tapi menabrak bahu Julian untuk menerobos ke sisi ruangan tempat jendela berada. Ia menggunakan berat koper itu sebagai pemberat untuk menambah momentum tabrakannya.
Namun, Julian jauh lebih kuat dari perawakannya yang kurus. Lengan pemuda itu bergerak secepat kilat, mencengkeram lengan atas Keyra untuk menahannya. Cengkeraman itu kuat, dingin, dan kaku seperti catut besi.
"Dapat," desis Julian.
Saat kulit mereka bersentuhan, dunia runtuh.
Bukan runtuh dalam arti metafora. Keyra tersentak hebat, bukan karena rasa sakit fisik, melainkan karena guncangan visual yang menghantam otaknya. Saat tangan Julian menyentuh kulitnya, realitas di sekitar mereka berkedip. *Glitch*.
Suara mendenging tinggi—seperti suara *feedback* mikrofon yang diperkuat seribu kali—menusuk telinga Keyra. Selama sepersekian detik, gudang kimia itu lenyap. Dinding-dinding beton berubah menjadi susunan kode biner hijau yang berjatuhan, lalu berganti menjadi hamparan padang rumput abu-abu, lalu kembali lagi menjadi gudang.
Tapi yang paling mengerikan adalah Julian.
Di mata Keyra, sosok Julian tidak stabil. Wajah pemuda itu bergeser. Satu detik dia melihat wajah Julian yang tampan dan dingin, detik berikutnya wajah itu terdistorsi—seperti gambar televisi rusak yang kehilangan sinyal. Matanya melebar, mulutnya memanjang secara tidak wajar, dan tekstur kulitnya pecah menjadi piksel-piksel kasar yang berantakan.
"Le... pas..." Keyra mencoba berteriak, tapi suaranya terdengar seperti rekaman kaset kusut yang diputar lambat. *L-le-e-p-p-a-a-s-s...*
Julian tampak terkejut. Cengkeramannya mengendur sejenak. Ia menatap tangannya sendiri yang sedang memegang Keyra, seolah ia juga merasakan sengatan distorsi itu. Wajahnya yang berkedip-kedip antara manusia dan *noise* statis menunjukan ekspresi kebingungan murni.
"Kau..." Suara Julian terdengar berlapis, seperti dua orang berbicara sekaligus dengan nada yang berbeda. "Kenapa kau bisa memicu resonansi?"
Efek *glitch* itu membuat kepala Keyra pening luar biasa, seolah otaknya dipaksa memproses informasi visual yang tidak seharusnya dilihat mata manusia. Namun, naluri bertahan hidupnya lebih kuat dari rasa mual itu. Melihat Julian yang terdistraksi oleh fenomena aneh di tubuhnya sendiri, Keyra menghentakkan kakinya sekuat tenaga ke tulang kering Julian.
Julian mengerang—suaranya masih terdistorsi seperti robot yang kehabisan baterai—dan melepaskan Keyra. Dunia kembali stabil dalam sekejap mata. Gudang itu kembali gelap dan padat. Julian kembali terlihat seperti manusia biasa, meski napasnya memburu.
Keyra tidak membuang waktu untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Ia berputar, mengayunkan koper itu sekuat tenaga ke arah jendela kaca di belakang rak. *PYAR!* Kaca jendela pecah berantakan. Tanpa menoleh lagi, Keyra memanjat rak besi dan melompat keluar menembus bingkai jendela yang bergerigi.
Ia mendarat di rumput basah dengan bunyi *gedebuk* keras, berguling untuk meredam dampak jatuhnya. Rasa sakit menjalar di bahu dan lututnya, tapi adrenalin membakar rasa sakit itu menjadi energi murni.
"Keyra!" Suara Raka terdengar dari balik semak-semak.
Keyra bangkit, napasnya tersengal parah, mendekap koper perak itu seolah nyawanya bergantung di sana. Raka muncul dari kegelapan, wajahnya pucat karena khawatir. Ia segera menarik Keyra menjauh dari dinding gudang, berlari menuju area parkir belakang sekolah yang sepi.
Mereka berlari tanpa henti sampai mencapai batas pagar sekolah, di mana suara hiruk-pikuk persiapan festival terdengar jauh lebih aman. Raka akhirnya berhenti di balik sebuah pohon besar, membungkuk memegang lututnya.
"Gila... lo gila," Raka terengah-engah, menatap Keyra dan koper di tangannya. "Lo dapet. Gue pikir lo ketangkep pas Julian balik lagi."
Keyra bersandar pada batang pohon, merosot duduk di atas akar yang menonjol. Tangannya masih gemetar, tapi bukan karena lelah berlari. Ia menatap telapak tangannya sendiri, tempat di mana Julian tadi mencengkeramnya. Masih terasa ada sisa getaran listrik statis di sana, menggelitik saraf-saraf di bawah kulitnya.
"Key? Lo oke?" Raka menyadari kebisuan Keyra. Ia berlutut di depan gadis itu. "Dia ngapain lo? Dia mukul lo?"
Keyra menggeleng pelan, matanya kosong menatap kegelapan.
"Bukan dipukul," bisik Keyra, suaranya serak. Ia menatap Raka dengan tatapan horor yang baru. "Raka... pas dia pegang gue... gue liat dia *rusak*."
"Rusak gimana? Maksud lo dia cacat?"
"Enggak. Bukan cacat fisik." Keyra menelan ludah, mencoba mencari kata-kata yang masuk akal untuk menjelaskan kegilaan tadi. "Dia nge-*glitch*. Kayak karakter *game* yang *bug*. Gue liat badannya pecah jadi piksel. Gue denger suara statis. Raka, pas gue sentuh dia... rasanya gue nggak lagi nyentuh manusia. Gue nyentuh sesuatu yang nggak seharusnya ada di sini."
Raka terdiam, keningnya berkerut dalam. Ia menatap koper di pelukan Keyra, lalu beralih ke wajah temannya yang pucat pasi. Angin malam berhembus dingin, tapi keringat dingin membasahi pelipis Keyra.
"Mungkin itu efek alatnya?" Raka mencoba merasionalisasi, meski nadanya ragu. "Lo bilang alat itu punya gelombang aneh."
"Mungkin," jawab Keyra, meski hatinya menyangkal. Tatapan Julian saat itu... kebingungan di mata Julian... itu bukan reaksi seseorang yang alatnya malfungsi. Itu reaksi seseorang yang baru saja menyadari bahwa samarannya retak.
Keyra memejamkan mata, bayangan wajah Julian yang terdistorsi masih menghantui kelopak matanya. "Apapun dia, Raka... kita baru saja nyuri jantungnya. Dan gue yakin, dia nggak bakal berhenti ngejar kita sampai dia dapetin ini balik."