NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Menunggu dan menumbuhkan sebuah cinta

...SELAMAT MEMBACA!...

Malam dengan udara dingin menusuk hingga ke tulang. Lelaki di atas motor itu melipat kedua tangannya di depan dada. Dia memakai jaket tebal. Dino sedang menunggu istrinya di depan supermarket yang mulai sepi.

Dino melihat sekeliling, sambil sesekali mengusap motor besarnya. Dia menyangga kendaraan itu dengan kaki panjangnya.

Seorang perempuan berjalan keluar dari supermarket, membuat Dino menoleh karena mengira itu Dara. Namun, rupanya dia adalah Amora yang menjadi kepedean ditatap oleh Dino. Amora melangkah mendekat, berdiri di samping motor Dino. "Hai, Dino," sapanya.

Dino tidak mengeluarkan suara, nanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Amora pantang menyerah, dia melebarkan senyumnya dan mendekatkan tubuhnya dengan Dino. "Apa kabar? Gak ngabarin kalau udah nikah," katanya. "Lo kenapa bisa sama cewek yang biasa aja itu?"

Kesal, marah, ingin sekali Dino langsung melemparkan umpatan yang ditahan. Dia tersenyum miring, menertawai kepercayaan diri Amora. "Iya, Dara memang biasa aja. Tapi dia, beda jauh sama lo," ujar Dino.

Amora justru tergelak tawa, melepaskan kata-kata kotornya untuk Dara di depan Dino, yang jelas tidak menyukai itu.

"Jelas jauh beda sama gue. Gue cantik, pintar, modis. Sedangkan Dara?"

"Gak ada apa-apanya sama gue," cecar Amora, membuat Dino menatapnya datar.

Dino melihat perempuan di depannya itu tertawa lepas. Namun, hal itu seolah membuat Dino yakin untuk menghujatnya balik. Tidak segan lagi Dino untuk mengeluarkan kalimat yang mungkin akan menyakiti Amora.

"Jauh beda sama lo. Dara cewek baik, sifat itu yang gak lo punya." Suara sarkas Dino langsung menghentikan tawa nyaring Amora. "Dara rendah hati, lo gak bisa kayak gitu," lanjut Dino.

Amora mengangkat sebelah alisnya. "Gue dulu kayak gitu, tapi gak ada yang menghargai."

"Gue mutusin buat berubah jadi lebih tangguh." Kerutan di wajah Amora terlihat jelas, wajah cewek itu memerah.

"Berubah itu jadi yang lebih baik, bukan berubah jadi buruk, Mor," tutur Dino. "Lo emang udah jadi cewek tangguh, tapi sifat rendah hati lo hilang. Itu bakal buat lo kelihatan jahat."

"Percuma baik kalau gak dihargai," gumam Amora. Merasa sudah sangat kesal, dia pun melenggang meninggalkan Dino.

Dino hanya menggelengkan kepala, gadis cupu yang dikenalnya dulu telah berubah drastis. Dari siswi pendiam dan tidak berani membantah, menjadi seorang tanpa perasaan.

Bukan membenci, hanya saja Dino menjadi tidak suka kepada Amora yang baik karena telah menginjak harga diri Dara.

Dara sebrang sana, sepasang mata sejak tadi memandang perdebatan itu dari jauh. Dara panas melihatnya. Dia ... cemburu.

Di bawah langit malam kota Jakarta. Padatnya jalanan lebih longgar daripada di pagi hari. Dara dengan tatapan kosong, bergulat dengan pikirannya.

"Jadi gak?" tanya Dino, membuat Dara sedikit terkejut. "Beli seprainya jadi atau gak?"

"Jadi," jawab Dara.

Mampir ke toko kasur untuk membeli seprai. Itu menjadi tujuan mereka.

Dara menjadi kurang nyaman bila berada dalam satu kamar dengan Dino. Perasaannya yang aneh dan tidak karuan bila di dekat Dino, membuat gadis itu takut. Gelisah. Jantungnya selalu berdebar dan tubuhnya bergetar, merinding.

Gadis itu menghembuskan napas panjang saat melihat lampu masih menyala di toko tersebut. Dia segera turun dari atas motor Dino. "Lo beli sendiri aja. Gue tunggu di sini," ujar Dino.

Dara mengangguk cepat dan bergegas masuk ke toko kasur yang lumayan besar tersebut.

Sejujurnya, Dino merasa tidak rela. Dia takut akan sangat menderita bila berpisah kamar dengan istrinya itu. Memang, mereka mungkin akan tetap berjaga jarak jika berada di atas ranjang yang sama. Namun, Dino berat hati untuk itu.

Meratapi kesedihannya dengan motor kesayangan. Dino menunduk dalam, memasang wajah melasnya sambil menunggu Dara di parkiran. "Nasib gue gini banget, ya," gumamnya.

"Gak." Dino segera menepis pikiran buruknya sejauh mungkin. Setan mungkin merasuki pikirannya sehingga menjadi kotor. "Lo udah dapetin dia. Jangan buat dia kecewa sama lo," katanya.

Persetan dengan ego, tidak akan Dino lakukan.

Dara semangat sekali, sesampainya di rumah, dia langsung mencuci seprai yang baru saja dibeli. Lalu, gadis itu menjemurnya pada tali panjang terbentang di halaman, tepatnya samping rumah.

Angin malam berhembus kencang, kain lebar itu mungkin akan segera kering dan Dino menjadi sangat galau.

Dara meluruskan kakinya, duduk di lantai teras sambil menatap langit kosong. Dia merasa, akhir-akhir ini terasa seperti sangat luar biasa dari hari-hari sebelum pernikahan terjadi. Ibu rumah tangga, Dara masih tidak menyangka tengah menyandang status tersebut.

"No," panggil Dara, menyadari keberadaan Dino di belakangnya.

Dino terkejut, gadis itu peka sekali, tetapi tidak dengan perasaannya.

Lelaki dengan pakaian santai itu ikut duduk di samping sang istri. "Kenapa?" tanya Dino.

Dara menoleh, menatap Dino. Ternyata, ukiran wajah itu sempurna membuatnya berdebar kencang. Dara mematung, menelisik dalam ke netra cerah milik Dino. "No, aku nggak bisa," ucapnya pelan.

Dino mengerutkan dahi, tidak mengerti maksud gadis di hadapannya. Dia mengikuti arah pandang Dara, yang beralih ke atas langit. "Gak bisa apa, Ra?"

"Lo ada masalah?" tanya Dino. Aneh. Dara terlihat berbeda.

Dara menggelengkan kepala. "Ini sulit, No." Tanpa menatap Dino, dia mengutarakan kalimat yang tersimpan dalam hatinya, tanpa menjelaskan hingga membuat Dino bingung. "Aku nggak bisa ngelakuin tugas sebagai istri," katanya.

Baru setelah itu, Dino terhenyak sebentar. Dia pikir, sesuatu yang buruk telah terjadi pada gadisnya. "Gak masalah, Ra. Sekarang belum bisa, itu gak apa-apa. Gue tunggu," jawab Dino.

"Gue mau jagain lo dan lo harus nurut sama gue. Gitu aja, gue udah seneng, kok."

"Gak perlu dipaksa, atau nanti bisa jadi luka."

"Lo punya perasaan, gue bisa jaga. Dan gue punya perasaan, lo juga harus bisa jaga!"

"Gue tunggu cinta lo buat gue, Ra. Sampai kapanpun." Dalam sekali. Kalimat itu berasal dari lubuk hati Dino, yang paling jauh. Ini adalah kali pertama, dia mengatakan kata-kata cinta untuk seorang gadis.

Dara menatapnya tanpa berkedip, seperti imajinasi yang berputar-putar dalam pikirannya, sehingga Dara menjadi terbang. Namun, ini nyata, bukan ilusi. Impian, harapan, kehidupan, hari ini akan Dara garis bawahi hanya untuk Dino.

"Maaf, belum bisa cinta." Dara menunduk.

Tangan berat dan hangat mendarat di pucuk kepalanya, kemudian turun ke pipi Dara dan membelai kulit lembut itu. Keduanya saling menatap dengan dalam, netra yang tengah berbinar itu saling mengikat. "Gue tunggu dan akan gue bantu," kata Dino. Lalu, Dino memajukan wajahnya dan mencium kening Dara.

Pipi memerah, jantung yang hampir lepas, perasaan yang tidak karuan. Dara terbuai dalam rentetan kata romantis dari seorang Dino. Lelaki itu telah merobek hatinya dan memaksa masuk ke sana.

.....

Kejadian semalam, sungguh membuat Dara sangat malu. Apa laki-laki itu benar dengan tulus mengatakannya? Bersedia menunggu cinta Dara dan akan membantu menumbuhkan perasaan romantis? Benarkah bukan mimpi?

Saat bangun dari tidurnya, Dara langsung kaget setelah sadar dari semua mimpinya. Untunglah Dino sudah tidak ada di sampingnya. Jantung Dara berdetak kencang. Dia segera mengecek seluruh tubuhnya, apa masih lengkap atau ada yang hilang.

Menyentuh seluruh tubuh bergantian dengan gerakan cepat, bahkan memeriksa pakaiannya masih lengkap atau tidak. Dara menghela napas panjang dan membanting tubuhnya ke belakang. Lega. Dia menatap atap kamar yang kosong, hanya ada lampu.

Ibarat atap kamar yang hanya terdapat satu lampu di sana, seperti hati luas Dara berisikan satu nama. Dino Pamungkas.

Sakit. Dara memukul pelan kepalanya yang pusing. Itu membingungkan membuatnya melayang entah ke mana. Tidak peduli sudah, Dara bergegas turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.

Pagi yang sial. Saat pikirannya dikacaukan oleh Dino, laki-laki itu malah muncul tepat di depannya ketika membuka pintu. Keduanya saling melemparkan tatapan tajam. "Mau mandi?" tanya Dino. Dara mengangguk singkat, kemudian menerobos hingga Dino sedikit tergeser ke samping.

Tingkah Dara yang aneh, membuat Dino merasa bersalah karena mencium gadis itu sembarang malam kemarin. Tidak peduli, Dino merasa sedikit puas dengan itu. Dia pun masuk ke kamar untuk bersiap.

.....

Sungguhan. Seolah tidak terjadi apa-apa pada malam kemarin. Padahal, Dino baru saja mengucapkan kalimat romantis padanya, tetapi Dara tetap ingin berpisah kamar.

Dara pulang bekerja lebih awal. Dia tidak mendapat lembur sejak saat itu. Seprai yang dijemur di samping rumah, sudah kering dan segera diangkat oleh Dara. Suaminya belum pulang dari bengkel, Dara tadi memakai jasa ojek untuk sampai ke rumah.

Dara merentangkan seprai lebar itu hingga menutupi kasur yang terletak di pojok ruangan. Dia menatanya dengan rapi, dengan setulus hati melakukan pekerjaan melelahkan tersebut.

Selesai sudah. Urusannya dengan seprai telah usai. Dara beranjak keluar dari kamar itu, kemudian melangkah ke dapur untuk memasak makan malam.

Sebenarnya, Dara merasa tidak enak hati karena memaksa suaminya untuk pindah kamar. Namun, hatinya selalu gelisah dan membuat batinnya selalu bertempur di malam hari. Dara tak pernah menjalin hubungan dengan lelaki mana pun, hanya Ayah dan Kakak laki-lakinya saja.

Kakak laki-laki yang membuatnya cukup merasakan cinta, seperti dari seorang kekasih.

Gadis itu langsung menyambut suaminya yang baru pulang bekerja. Mengajaknya makan malam terlebih dahulu. Tadi, Dara sudah menghubungi suaminya bahwa dirinya pulang lebih awal. Berkat Dino, bosnya berbaik hati.

"No, seprainya udah aku pasang. Kamu bisa tidur di sana," ujar Dara.

Dino terdiam sejenak. Rasa bahagianya karena disambut dengan makan malam, seketika melesat jauh. "Ra," panggil Dino. Dia meletakkan alat makannya dan membuat Dara ikut berhenti. "Gue sebenernya ... gak mau pisah kamar sama lo."

Dara tersentak kaget, sedikit batuk karena tersedak nasi.

"Gue mau, kita tetap satu kamar. Gue janji, Ra, gak akan ngapa-ngapain. Gue bakal jaga jarak, Ra!" Ucapan yang terdengar tulus dan bersungguh-sungguh. Dara menjadi benar-benar tidak enak. "Ra, boleh, ya? Kita tetap satu kamar," kata Dino.

Petir bergemuruh, angin berhembus kencang menerbangkan daun-daun yang berguguran di tanah. Serta air bening mulai menetes dari langit. Rembulan bersembunyi di balik gelapnya awan, seolah mendukung untuk cuaca gelap malam ini.

Iya adalah jawaban yang diberikan Dara. Dia benar-benar tidak tega melihat mata Dino bersinar untuk memohon, wajahnya terlihat sangat melas. Mau bagaimana lagi, rumah ini milik Dino, Dara tak punya hak lebih.

Ini kali pertama, seorang Dino hendak menangis seperti itu. Perlu digarisbawahi, Dino adalah ketua geng yang dikenal kasar, beringas, dan agresif kepada sesama makhluk. Mungkin, jika Mahen dan Bama tahu, dia akan tertawa paling keras.

...DON'T FORGET buat selalu tinggalkan jejak...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!