Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: PERSIAPAN UJIAN NASIONAL
#
Dua minggu sebelum ujian nasional.
Kami berlima berkumpul di perpustakaan sekolah tiap hari. Dari jam tujuh pagi sampe jam lima sore. Belajar bareng. Saling ngajarin.
Matematika. Fisika. Kimia. Biologi. Bahasa Indonesia. Bahasa Inggris.
Semua mata pelajaran kami pelajarin habis-habisan.
"Sat, ini rumus turunan yang kamu tanya kemarin," kata Arjuna sambil nulis di kertas.
Aku liat. Aku catat di buku. "Oh iya, gue ngerti sekarang. Makasih, Jun."
Vanya baca buku biologi. "Eh, kalian tau gak? Sistem peredaran darah itu ada dua. Peredaran darah besar sama kecil. Ini penting banget buat ujian."
Adrian sama Nareswari catat cepat.
Kami fokus. Serius. Ini ujian terakhir kami. Ujian yang nentuin masa depan.
Tapi...
Aku susah fokus.
Tiap kali aku baca buku, pikiran aku melayang. Inget rumah yang dibakar. Inget ibu yang kolaps. Inget ayah yang hampir meninggal. Inget Nareswari yang dipukulin. Inget semua kejadian mengerikan yang kami alamin.
Tangan aku gemetar pegang pulpen. Mata aku gak bisa fokus liat tulisan di buku.
"Sat? Lu gak papa?" tanya Adrian sambil liat aku khawatir.
Aku kedip-kedip. "Eh? Iya, gue gak papa. Cuma... cuma capek dikit."
Bohong. Aku gak cuma capek. Aku trauma. Tapi aku gak mau bikin mereka khawatir.
***
Malam itu aku gak bisa tidur.
Tiap kali tutup mata, aku mimpi buruk. Mimpi dipukulin preman. Mimpi rumah terbakar. Mimpi ayah meninggal di depan aku.
Aku terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin.
Jam dua pagi. Masih gelap.
Aku duduk di pinggir kasur. Pegang kepala. "Kenapa... kenapa aku gak bisa lupain semua itu...?"
Bisikku pelan. Frustasi.
Aku coba tidur lagi. Tapi mimpi buruk datang lagi. Lebih mengerikan.
Aku akhirnya gak tidur. Cuma duduk sampe subuh. Natap langit-langit.
***
Hari berikutnya di perpustakaan.
Aku duduk sambil baca buku. Tapi mata aku kosong. Gak masuk apa-apa yang aku baca.
Vanya duduk di sebelah aku. Dia liat aku lama. Terus dia tutup bukunya.
"Sat... lu gak gak papa kan?"
Aku angkat kepala. "Hah? Aku gak papa kok."
Vanya geleng. "Jangan bohong. Aku liat lu dari kemarin. Lu susah fokus. Lu sering melamun. Lu... lu ketakutan. Aku tau."
Aku diem. Gak bisa jawab.
Vanya pegang tangan aku. "Sat... ayo keluar. Kita ngobrol."
"Tapi..."
"Gak ada tapi-tapian. Ayo."
Vanya narik tangan aku. Kami keluar dari perpustakaan. Jalan ke taman belakang sekolah. Tempat sepi. Cuma ada pohon-pohon besar sama bangku kayu.
Kami duduk di bangku.
Hening.
Cuma suara burung sama angin.
"Sat... cerita ke aku. Apa yang lu rasain?"
Aku liat tanah. Gak berani liat Vanya.
"Aku... aku gak tau, Van. Aku... aku ngerasa kayak gak bisa bernapas. Tiap kali aku coba fokus belajar, pikiran aku kemana-mana. Inget semua kejadian buruk yang kita alamin. Aku... aku takut, Van. Aku takut gagal ujian. Aku takut gak dapet beasiswa. Aku takut... aku takut semua perjuangan kita sia-sia."
Suaraku gemetar. Air mata mulai keluar.
Vanya diem. Dengerin.
"Aku... aku mimpi buruk tiap malem. Mimpi dipukulin. Mimpi rumah dibakar. Mimpi ayah meninggal. Aku gak bisa tidur, Van. Aku... aku capek. Aku pengen semuanya berhenti. Tapi aku gak bisa. Karena ujian nasional tinggal dua minggu lagi. Aku harus kuat. Tapi... tapi aku gak tau gimana caranya..."
Aku nangis. Keras. Semua keluar. Semua beban yang aku pendem selama ini.
Vanya peluk aku. Erat.
"Sat... kamu sudah sangat kuat. Kamu udah lewatin banyak hal yang bahkan orang dewasa gak sanggup lewatin. Tapi... tapi jangan memaksa dirimu sendirian. Kami ada di sini. Aku ada. Adrian ada. Arjuna ada. Nares ada. Kita keluarga. Kita bantuin satu sama lain."
Aku nangis di pundak Vanya. Gak bisa berhenti.
"Aku... aku takut jadi beban kalian..."
Vanya geleng. Dia belai rambut aku. "Kamu bukan beban. Kamu sahabat kami. Saudara kami. Dan kita... kita gak akan ninggalin kamu. Apapun yang terjadi."
Aku peluk Vanya balik. Nangis sejadi-jadinya.
Vanya cuma peluk aku. Gak ngomong apa-apa lagi. Cuma peluk. Biarkan aku nangis sampe puas.
Setelah lama, tangisan aku berhenti. Napas aku lebih tenang.
"Makasih, Van..."
Vanya senyum. "Sama-sama, Sat. Sekarang kita balik. Kita belajar bareng. Dan kali ini... kali ini kamu gak sendirian lagi."
***
Hari-hari berikutnya lebih baik.
Aku masih susah tidur. Masih mimpi buruk. Tapi sekarang aku gak sendirian.
Tiap kali aku mulai panik, Vanya, Adrian, Arjuna, atau Nareswari selalu ada. Mereka peluk aku. Tenangkan aku. Ingetin aku bahwa aku gak sendirian.
Perlahan-lahan, aku mulai bisa fokus lagi. Mulai bisa belajar dengan baik.
Kami belajar sampe malam. Kadang sampe jam sepuluh malam. Di perpustakaan. Di warung Pak Hadi. Di rumah salah satu dari kami.
Kami saling ngajarin. Saling ngasih semangat.
"Sat, lu pasti bisa! Nilai lu selalu sempurna! Lu paling pinter di antara kita!"
"Gue gak paling pinter. Kalian juga pinter."
"Ah, lu terlalu rendah hati. Tapi gak papa. Kita semua pasti lulus dengan nilai bagus!"
***
Malam sebelum ujian nasional.
Kami berlima ke musholla sekolah. Musholla kecil di pojok gedung. Sepi. Tenang.
Kami shalat maghrib bareng. Terus shalat isya.
Setelah shalat, kami duduk melingkar. Tangan saling berpegangan.
Arjuna yang pimpin doa.
"Ya Allah... kami hamba-Mu yang lemah. Kami sudah berusaha maksimal. Kami sudah belajar sekuat tenaga. Tapi kami tau... semua tergantung kehendak-Mu. Kumohon... kumohon berikanlah kami hasil terbaik. Berikanlah kami nilai yang bisa membawa kami ke masa depan yang lebih baik. Berikanlah kami kekuatan untuk menghadapi ujian besok. Dan... dan apapun hasilnya... kami ikhlas. Karena kami percaya... Engkau punya rencana terbaik untuk kami. Aamiin."
"Aamiin," kami semua jawab bareng.
Kami diem sebentar. Menikmati keheningan.
Terus Vanya bisik. "Apapun yang terjadi besok... kita tetep bareng kan?"
Aku ngangguk. "Tetep. Selamanya."
Adrian senyum. "Selamanya."
Nareswari juga. "Selamanya."
Arjuna angkat kepalan tangan. "Buat masa depan kita."
Kami semua angkat kepalan tangan. Tempelkan di tengah.
"Buat masa depan kita."
***
*Andri: "Saat beban hidupmu terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri, ingatlah: Allah tidak menciptakan manusia untuk berjalan sendirian. Dia kirimkan saudara-saudara sejati yang akan menguatkanmu di saat lemah, memelukmu di saat hancur, dan berdiri bersamamu hingga akhir."*