Masih sekolah dan menikah.
"Tidak ada angan sama sekali dalam pikiranku untuk melakukannya, apalagi menikah dengan laki - laki yang seusia dan tanpa cinta, haruskah aku menerima takdir yang telah Engkau tuliskan untukku ya Allah....", Tita Andriana.
"Harusnya aku menikah dengan gadis kecil impian gue, bukan cewek asal comot dari bunda. Dan lagi gue masih remaja, masih hura - hura, bukannya bertanggung jawab menghidupi anak gadis orang" Kennan Wijaya Atmadja.
Pernikahan di usia remaja yang masih labil akan ada banyak kesalahpahaman diantara mereka. Mampukah Tita bertahan dengan sikap Kennan yang dingin dan sulit ditebak. Ataukah Tita akan memilih ikhlas meninggalkan Kennan.....
Diusahakan sering update, dukung author dengan vote, like n komen ya...
Masih sering proses revisi.🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Tengyu so much readers😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikha dito, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Setidaknya Kennan Pulang
Set....
Mau tak mau Kennan membalikkan tubuhnya menghadap Tita. Menatap gadis yang masih betah menunduk dengan terisak di depannya. Ada rasa nyeri yang menyelimuti lubuk hatinya melihat gadis itu.
Bagaimanapun Kennan hanyalah manusia biasa yang punya rasa marah, benci ataupun sebaliknya rasa sedih, sakit, maupun rasa suka. Mungkin....
Perlahan tangan kiri Kennan melepaskan kedua tangan Tita yang memegangi lengan kanannya.
Melihat reaksi Kennan, Tita mendongak dengan mata sembab sisa menangis di single sofa balkon ditambah dengan isakan yang tak mau berhenti saat ini.
Dengan pandangan berkabut Tita memandang Kennan seolah meminta penjelasan, kenapa???
Kennan tercekat saat wajah sembab itu memandangnya dengan sendu. Mengapa Tita seperti sedih sekali, bukankah seharusnya dia senang jika Kennan memberinya kebebasan untuk memilih kehidupannya sendiri. Apa yang sebenarnya ada dipikiran gadis ini? Kennan tak bisa menebaknya.
Kennan bukan cowok yang pandai membujuk dia hanya terbiasa dibujuk. Kak Vina atau bunda selalu membujuknya jika dia rewel maupun mogok, Naura juga.... selalu membujuknya untuk meminta sesuatu atau minta diantar ke suatu tempat.
Dan sekarang di depannya, sorang gadis yang biasa dia abaikan seperti meminta dibujuk atau dirayu mungkin, agar dapat menghentikan tangisannya.
Bagaimana Kennan melakukannya, dia tak tahu. Namun melihat tatapan penuh kesedihan itu, Kennan juga tidak mampu beranjak untuk pergi.
Kennan hanya mampu mematung tanpa bisa bergerak maupun bersuara.
Ditengah keterdiamannya, Kennan melihat Tita meraih kedua tangannya kemudian berkata, "Tidak bisakah abang tinggal dan membicarakan ini baik baik?". Tita bertanya tersendat di sela isakan tangisnya.
Kennan membuang pandangan dari gadis yang masih saja terisak di depannya. "Tidak ada yang perlu dibicarakan Ta, tidak ada cinta diantara gue sama lo. Semuanya tidak bisa dipaksakan, gue gak pengen semakin menyakiti lo. Mengertilah...." Kennan berusaha mempertahankan egonya.
"Tapi...kita belum mencobanya Bang. Kita belum pernah memulainya...haruskah berpisah secepat ini. Bagaimana dengan Bunda, keluarga Abang??", Tita berharap Kennan sedikit memberinya kesempatan.
Kennan melepaskan tangannya dari Tita kemudian mendudukkan diri pada pinggiran ranjang. Dia menautkan kedua tangannya bertumpu pada paha sambil menundukkan kepalanya. Kennan bingung, yang ada dipikirannya sekarang hanya bagaimana dia bisa menghindar untuk tidak bertemu dengan Tita itu saja.
Entah mengapa setiap melihat Tita, Kennan selalu tidak bisa menahan emosi. Di mata Kennan Tita selalu salah.
Bagaimana lagi Kennan harus menghadapi Tita.
Hening. Tidak ada suara diantara keduanya. Hanya lirih suara isak tangis Tita yang sudah mulai reda. Mungkin dia sudah dapat mengontrol emosinya.
Tiba - tiba Tita mendudukkan diri di hadapan Kennan.
"Tita gak mau Abang pergi.... Tita gak pengen sendiri....", Tita berkata lirih.
Kennan mendongak....perkataan Tita membuatnya bingung, kenapa Tita masih saja berkata seperti itu. Apa yang dipikirkan gadis itu. Mungkinkah dia tidak rela meninggalkan kenyamanan dan kemewahan di rumah ini. Secara dia kan anak panti.
"Ini hanya akan membuat kita saling menyakiti nantinya Ta...", Kennan masih saja tidak mau membuat dirinya dekat dengan Tita.
Tita yang sudah bertekad akan memperbaiki hubungannya dengan Kennan tetep kekeh berusaha meyakinkan Kennan meskipun belum ada cinta diantara keduanya.
Tita memberanikan diri menautkan jemarinya dengan jemari Kennan.
"Bang...Tita gak tau salah Tita apa? Tita juga gak tau apa yang membuat abang seperti ini". Tita menjeda perkataannya. "Cobalah sebentar saja Tita dikasih kesempatan untuk belajar menjadi istri yang baik. Biarkan Tita melayani Abang. Meski Tita tidak akan mendapat balasan dari abang, Tita ikhlas. Mari kita mencoba mengenal, setidaknya anggaplah Tita sebagai adik bang Kennan. Mungkin untuk beberapa bulan kedepan sampai Tita lulus sekolah. Setelah itu Abang boleh melepaskan Tita".
Kennan terkejut dengan ucapan Tita, dia memandang wajah Tita intens. Ada luka di sana, tatapan itu menunjukkan kesedihan yang cukup dalam. Ada sedikit rasa bersalah bergelayut di benak Kennan. Haruskah Kennan merobohkan benteng pertahanan yang sudah dibangun kokoh olehnya.
"Tidak bolehkah Tita mendapatkan kesempatan merasakan kehangatan keluarga yang utuh....hemm?" Tita bertanya dengan mata berkaca - kaca. Tidak sungkan Titapun mengelus intens jemari Kennan dengan jempol tangannya.
Ada desir halus di dalam hati Kennan saat Tita mengelus jemari Kennan. Namun Kennan tetap diam kemudian membuang pandangannya, dia takut pertahanannya runtuh.
"Maafkan Tita Bang..... Awalnya Tita menerima pernikahan ini karena ingin berbakti sana Bunda. Bunda sudah sangat banyak membantu Tita juga anak - anak panti. Karena bunda juga Tita menemukan kehangatan seorang mama yang Tita rindukan". Tita tetap saja mengelus jemari Kennan dengn lembut.
"Tita gak tahu kalau ternyata pernikahan ini membebani abang mengikat abang yang masih ingin bebas. Tita bener - bener minta maaf". Tita kembali menatap Kennan suaminya dengan intens meski wajah itu telah memalingkan wajahnya ke arah lain.
Tidak ada jawaban dari Kennan baik menolak maupun menerima permintaan maaf dari Tita. Dia diam seribu bahasa.
Kebisuan Kennan membuat dada Tita kembali sesak, tak ayal kembali bulir bening mengaliri wajah Tita. Isakan tangisnya mulai terdengar menyayat di heningnya malam yang sudah beralih ke dini hari.
Huh....Kennan menoleh mendengar isak tangis Tita, Pada dasarnya Kennan bukan cowok yang tidak punya hati. Diapun menangkup wajah Tita, sedikit terkejut karena wajah dalam tangkupannya itu sangat dingin seperti es. Refleks Kennan menghapus cairan bening dengan ibu jarinya. "Berhentilah menangis Ta, udah malem takutnya ada yang denger".
"Jawablah Bang...", Tita masih berharap, tak peduli dengan ucapan Kennan.
Kennan tak menyahut.
Tita menghela nafas panjang....
Kennan beranjak.
"Abang mau tetap pergi?", Tita tak mengerti kenapa hati suaminya sebeku itu.
"Dah pagi....nanti harus sekolah", Kennan seperti enggan menanggapi Tita. Dia berjalan menuju pintu balkon yang baru tertutup separuh.
Kennan menutup seluruh pintu balkon kemudian mengunci serta menutup gordennya.
Kennan melangkah kembali mendekati Tita yang masih menatapnya sendu.
Tap....
Kennan sedikit membungkuk memegang kedua bahu Tita, membantunya berdiri.
"Tidurlah...nanti terlambat sekolah", Kennan memapah Tita untuk tidur di atas ranjang.
Tita yang sudah merasa lemas karena tenaganya telah habis terkuras akibat menangis hanya pasrah saat Kennan memapahnya untuk tidur.
Tita merebahkan tubuhnya sedikit ke tengah ranjang. Memposisikan diri menghadap Kennan yang masih membantunya menarik selimut ke atas tubuhnya.
Kennan yang merasa sedikit iba melihat kondisi Tita yang seperti tak mampu membuka matanya akibat terlalu banyak menangis memutuskan untuk naik ke atas ranjang. Kemudian memposisikan bantal ke belakang punggungnya untuk menyenderkan tubuh pada kepala ranjang.
Tak lupa Kennan mematikan lampu kamar menyisakan satu lampu tidur yang tetap menyala redup di sisi ranjangnya. Menumpukan tangan kanan ke wajahnya untuk membantunya memejamkan mata.
Tita tersenyum tipis melihat Kennan mau menemaninya, perlahan menutup mata berharap Kennan tidak pergi meninggalkannya.
🍨🍨🍨🍨
Hai....hai....readers gimana???
Kurang gregetkah....???!!!
Maklum masih perdana😉😉😉
Bantu vote, like n komentnya ya....biar othor cemungut nich💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻
Tengyu.......😍😍😍😍😍
..selalu sehat walat. sukses selalu dan terus semangat berkarya. .💪🏻💪🏻🔥