NovelToon NovelToon
V.I.P (KILL YOU)

V.I.P (KILL YOU)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Mata-mata/Agen / TKP / Psikopat itu cintaku / Agen Wanita
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dae_Hwa

“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”

Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?

Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VIP9

Bzzzzztt! Bzzzttt!

Tubuh Abirama bergetar hebat ketika stun gun menekan kuat perutnya.

“AaAAaa—aAA~” jeritan pria itu bergelombang disela kepalanya yang berguncang tak beraturan.

Punggung kekarnya semakin menegang sebelum ia akhirnya tumbang di atas lantai.

Brugh!

Kejutan listrik tadi membuat otot-otot Abirama terkunci sementara, pria itu layaknya mayat hidup sekarang — sadar penuh, tapi tak mampu menggerakkan apa pun.

Matanya melotot murka menatap sang resepsionis, bibirnya miring seperti orang terkena stroke.

“Shhssiyalaa-an!” Meski bibir tertarik ke satu sisi, Abirama masih bisa memaki. Ia mencoba menggerakkan jari, namun tetap nihil.

Petugas resepsionis tadi masih menyeringai di ambang pintu, dengan bangga menunjukkan gigi kekuningan — jejak panjang persahabatan dengan nikotin. Pria berwajah sangar itu melangkah mendekat. Anehnya, gaya jalannya yang biasa macho kini berubah kemayu.

“Sudah lama penginapan ini nggak kedatangan tamu setampan dirimu, hihihihi!” Petugas tersebut ketawa ketiwi ala Mimi Peri. “Bolehlah secelup dua celup.”

‘Alamak ... tulang lunak rupanya,’ batin Abirama panik. Semakin menegang lah tubuh pria tampan itu.

Ibnu Prasetyo, pria berusia 45 tahun itu telah menjabat sebagai petugas resepsionis di Penginapan Seruni Laut selama lebih dari lima tahun — sebuah tempat yang sering menjadi persinggahan bagi pelancong yang tidak terlalu memperhatikan fasilitas atau riwayat gelap tempat itu. Di tempat itulah, Ibnu melampiaskan nafsu menyimpang, ia memperkosa para mangsa pilihannya sebelum akhirnya diseret menuju ajal.

Kini, pria yang memiliki kelainan sek_sual itu berjongkok di samping Abirama. Sudut bibirnya semakin melengkung, tangan kirinya perlahan meraih ujung kaos Abirama. Ia menariknya perlahan ke atas, sedikit demi sedikit menyingkap perut kotak-kotak yang menonjol.

“Omo omo omo ...!” jerit Ibnu sambil memukul-mukul manja. “Bagus sekali bentuk tubuhmu. Kamu pasti sering olahraga ya?”

Dengan tubuh menggelinjang bak cacing disiram air panas, jemarinya semakin bergerak liar — meraba perut hingga memijit otot-otot kekar di lengan Abirama.

“Aaaahhh!” desahnya girang disertai jantung berdebar-debar. “Kokop aku, Massssshhhh!”

Abirama hanya bisa pasrah melihat bibir muncung berkumis klimis mendekati wajahnya, ia memejamkan mata — entah sudah berapa banyak ia memanggil sang Khalik subuh itu.

‘Ya Tuhan,’ batin si jomblo abadi nelangsa. ‘Memang benar aku ingin segera melepas keperjakaanku, tapi nggak harus sesama batang jagung ‘kan? Demi apapun, gapapa banget ini pistol karatan sampai menua karena gak kawin-kawin, yang penting jangan sampai lepas perjaka sama musang birahi begini!’

Bugh!

Brugh!

Doa Abirama menembus langit. Petugas resepsionis yang hendak memperkosanya tiba-tiba ambruk — tersungkur di atas perutnya setelah seseorang menghantam kepalanya.

Abirama cepat-cepat membuka mata, jantungnya nyaris copot dari dada. Di sudut pandangnya, seorang perempuan berdiri terpaku sambil memegang lampu meja yang kini retak di bagian kap.

‘Dinda?’

Dengan ujung sepatunya, Dinda mendorong bahu Ibnu hingga bergeser dari perut Abirama sampai terkulai di lantai.

“Dia mati, kah? Duh, gimana niiiiiih?!” Dinda panik.

“Heuumm heummm!” Abirama memanggil dengan bibir miring, Dinda langsung menoleh.

Kembali sadar dengan situasi, Dinda lekas berjongkok, membantu Abirama duduk bersandar ke dinding. Matanya sempat melirik dua titik kecil kemerahan di perut pria itu, bekas sengatan stun gun.

“Mas polisi gapapa?” tanyanya cemas. Meskipun dikenal bermulut pedas, tetapi Dinda sebenarnya berhati lembut.

Abirama sudah bisa mengangguk pelan, otot-otot yang tegang berangsur mengendur.

“Efeknya lima menitan la-gi ... mungkin hilang,” sahutnya sesekali terbata, rahangnya masih kaku. “Din, to-long buka tali pinggang ku dong.”

Plak!

Dinda langsung menampar Abirama.

“Wadoooowww!” Bibir yang tadinya miring, langsung kembali normal.

“Jangan kurang ajar, ya, Mas!” sembur Dinda. “Ini pelecehan namanya!”

“Jangan salah paham ....” Hilang miring, terbitlah meringis. “Maksudku, tolong bantu buka, terus iketin tangan si ngondek itu. Sebelum dia bangun.”

Bibir mungil Dinda menganga lebar, langsung salah tingkah dan buru-buru menggeser tatapannya ke arah Ibnu.

“O-oooh, dia masih hidup?” gumam Dinda gugup dan salah tingkah.

Tanpa menatap wajah Abirama, ia meraba asal, jemarinya berhenti di pinggang pria itu.

“Ini beneran buat ... ngiket orangnya, kan?” tanyanya cepat, seolah meyakinkan diri sendiri.

“Iya, Din,” desah Abirama. “Demi Tuhan, ini keadaan darurat.”

Dinda mengangguk sembari menarik napas panjang.

“Awas, jangan salah pegang,” peringat Abirama.

Dinda mendecak kesal. “Berisik!”

Begitu tali pinggang terlepas, ia langsung bergerak cepat, mengikat kedua tangan Ibnu dengan cekatan. Sesekali pandangannya melirik Abirama yang mulai bisa meregangkan badan, bahu dan lehernya.

“Kamu bukannya seharusnya ada di balai desa, Din?” tanya Abirama, suaranya masih serak. “Kok bisa kamu di sini?”

Dinda berhenti sejenak, mengencangkan simpul terakhir sebelum akhirnya duduk bersimpuh di lantai. Ia menghembuskan napas panjang, raut wajahnya berubah serius.

“Setelah di antar sama kalian,” ucapnya pelan. “Aku memang sempat istirahat di balai desa. Tapi, karena aku masih nggak enak hati, jam setengah empat pagi — aku keluar lagi. Nyari Lala dan Rani.”

Dinda menelan ludah.

“Tapi setelah aku kembali dan hampir sampai di balai desa, di situ aku lihat ... ada lebih dari lima pria berbadan besar, mereka pakai masker respirator.”

“Lalu?” tanya Abirama antusias.

“Mereka nyemprot sesuatu,” jawab Dinda lirih. “Aku nggak tau apa. Tapi nggak lama setelah itu, anak-anak KKN dibawa keluar. Mereka udah nggak sadar. Diangkat kayak barang.”

Dinda menarik napas panjang, seolah menguatkan diri.

“Aku ingat, kemarin waktu rapat,” lanjutnya pelan. “Bu Niken sempat nyebut alamat penginapan kalian. Penginapan Seruni Laut. Makanya aku ke sini.”

Abirama mendengarkan dengan tenang.

“Dari kejauhan aku lihat Mas polisi,” sambung Dinda. “Pas mau aku samperin, tiba-tiba listrik padam. Gelap total. Dalam pikiran ku, mungkin listrik padam juga karena ulah mereka. Aku jadi panik ... takut ketahuan, terus aku sembunyi di tempat aman.”

Ia mengusap lengannya sendiri, merinding oleh ingatan itu.

“Waktu listrik udah nyala, aku lihat dari kejauhan kamu ngobrol sama ... si ngondek ini,” ucapnya sambil melirik Ibnu yang terikat. “Terus kalian ke arah tangga darurat.”

Dinda diam beberapa detik, jantungnya berdebar-debar sebelum melanjutkan.

“Pas aku mau nyusul, pintu lift tiba-tiba terbuka. Aku lihat ... dua temen kerja kamu yang ikut anterin aku ke balai desa, dibawa pake troli sama dua pria badan gede.”

Abirama langsung tegang. “Temen-temenku?!”

Dinda mengangguk. “Aku langsung sembunyi lagi,” lanjut Dinda cepat. “Nunggu situasi aman. Setelah mereka pergi, aku nyusul lewat tangga darurat. Aku buka pintu darurat satu-satu, pelan-pelan ... sampailah di lantai ini. Aku lihat si tua homo ini nyetrum kamu. Bajingan emang!”

Refleks Dinda menonjok wajah Ibnu.

“Sekarang gimana? Kamu udah bisa jalan?” tanya Dinda. Ia membantu Abirama berdiri.

Pria itu mengangguk. Abirama lekas berjalan ke arah ranjang dan menunduk, meraih tas ransel hitam yang sempat ia selipkan di bawah sana. Resleting dibuka cepat. Dari dalam, Abirama mengeluarkan sebuah rompi taktis berwarna gelap. Rompi satu-satunya.

“Pakai ini,” ujarnya singkat.

Ia meraih bahu Dinda dan langsung memakaikan rompi itu ke tubuh gadis tersebut, menarik talinya hingga pas di badan.

“Tempat ini terlalu berbahaya buat kamu,” sambungnya lembut. “Setidaknya rompi ini bisa melindungi kamu dari serangan benda tajam dan timah panas.”

“Lalu kamu, MasPol?” tanya Dinda.

“Udah tugasku mengayomi masyarakat, yang penting ... kamu pulang dengan selamat,” jawab Abirama dengan senyuman hangat. “Sekarang, ayo kita pergi. Kita cari Bu Niken, dia akan bantu kamu pulang.”

Pffftt!

Di saat yang bersamaan, dari ambang pintu —terdengar suara tawa yang meremehkan.

“Romantis juga ya kalian.”

*

*

*

Readers, selasa ini saya libur sehari yahh. Jadwal sedang padat 🙏🏼

1
Sriwahyuu
cepat sembuh author kesayangan kami😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
amiinnnn
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
jadi sedih otor. semoga ga ada yang bahaya yah. cepat sembuh dan pulih.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
belum taaauuuuu dia
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
izzz jabir kalilah kau babang.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasar si babang, masih aja nakal
Anna
Cepet pulih mentor terbaikk kuhhhh, mau selama apapun Anda hiastus. Saya akan tetap setia menunggu 🫶
Anna
Dinda heyyyy tolong. Bahkan Mas Edwin saja di bikin semapot tanpa menyentuh ama Mbak Bella. 🤣
Anna
Definisi peduli tapi gengsi🫢🤣
jay naomi
semoga cepat sembuh semangat othor q.
Wenty Lucia Wardhani
cepat sehat author kesayangan....🥰🥰🥰
youyouen Rahayu
syafakillah kak semg ALLAH mengangkat segala penyakit kak author,diberikan kesehatan seperti semua dn bisa berkarya lagi,love you kak author semngtt sellu yaaa akn ku nanti setiap upnya,dengan sesabar mungkn,maaf ya kak author kalau aku sellu mengintip trs🙈🙈 di cerita ini.
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
😂😂
CallmeArin
semoga segera di angkat penyakitnya Thor 🤲🏻
Sayuri
aamiin ya Allah 🥺
Sayuri
y Allah kget q :(
k dehwa lekas sembuh 😩
Sayuri
kmu blm tw ja bu bella gmn din.. klo tau, bs trcngang
Sayuri
yg hcker kpal selam itu y tor?
Sayuri
/Joyful/
Sayuri
ber berbagi apa papa ed?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!