Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.
Tidak ada yang berani menentangnya.
Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.
Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:
kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.
Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.
Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Meski kacau, meski absurd…
Untuk sesaat, Jema merasa normal.
Atau setidaknya… tidak sendirian.
“DAN AKU MAU KALIAN TUTUP MULUT!” ujar Jema tiba-tiba.
“Jangan sampai orang kantor tahu. Ini cuma kita bertiga. Kalau kalian bisa… ya sudah, datang aja ke nikahan aku besok.”
Eve dan Anne membeku seperti baru melihat hantu di jam makan malam.
Anne memegang dada, dramatis, “Jema… aku terharu. Tapi… kita itu cuma nyuruh kamu cari pacar, bukan menikah beneran.”
Eve mengangguk cepat, “Iya! Iya! Kita cuma nyuruh kau cari pacar buat dibawa ke nikahan Vella. BUKAN NGIKUT SERTIFIKAT NIKAH!”
Jema menghela napas panjang, “Kalian pikir aku MAU melakukan pernikahan sialan ini? Tentu saja tidak. Tapi yaah… sudahlah. Intinya seperti itu.”
Anne langsung panik, tubuhnya maju seolah mau mengintervensi takdir, “Jem, kamu… kamu tidak lagi diperas, kan? Atau terlilit hutang? Kalau iya, bilang. Kita bisa jual Badu, kucing Eve.”
“HEY!” protes Eve spontan.
Anne mendesis, “Lebih baik kucing daripada kamu menikah sama pria tua botak, gendut, atau sugar daddy palsu!”
Eve menambah dramanya, matanya berkaca-kaca, “Jem… calon suami kamu bukan suami orang, kan? Atau… jangan bilang… dia pria tua yang hobi main golf dan punya perut buncit. Jem, kamu normal kan? Kamu tidak dijual, kan Jem?”
Jema terpaku sejenak. Lalu…
“HAHAHAHAHA!!”
Dia tertawa keras jenis tawa bar-bar yang membuat pasangan di meja sebelah terlonjak karena mengira ada gorila kabur dari kebun binatang.
Jema menepuk meja sampai sendok bergetar.
Karena… bayangan Lucane si pria tua dengan perut buncit, botak, pakai polo golf, sungguh terlalu lucu.
“Oh Tuhan…” Jema memegangi perutnya. “Kalau kalian tahu orangnya… kalian pasti nangis karena saking gantengnya, bukan karena aku dijual. ya tapi dia memang tua”
Anne dan Eve justru makin panik.
“JEM! NASIBMU BURUK SEKALI!”
“KALAU GANTENG, KOK NIKAH SAMA KAMU? ADA APA INI!”
“JANGAN-JANGAN DIA PSIKOPAT!”
“KITA LAPOR POLISI SAJA!”
Jema benar-benar terbahak sampai pipinya panas.
Melihat Jema tertawa, Eve dan Anne malah ikutan menangis dramatis, bahkan Anne sempat menawarkan hal paling absurd.
“Kalau kamu mau kabur, kita kabur sekarang. Kita culik kamu. Kita naik taxi. Kita ke bandara. Kita ke thailand”
Eve mengangguk, “Aku sudah punya tas lari, isinya mie instan sama powerbank, tinggal gas!”
Jema menatap mereka berdua… dengan tawa tipis yang akhirnya berubah serius.
“Apa kalian tidak waras… tapi makasih,” ucapnya pelan.
Sejenak, suasana melembut.
Kekacauan berganti kehangatan persahabatan.
Namun Jema menambahkan dengan gaya asal-asalan penuh sarkas,
“Kalau aku kabur, dia bakal nyari aku sampai ke ujung dunia. Dan aku males dikejar orang kaya merepotkan.”
Anne terkejut. “ASTAGA, DIA KAYA?! JADI BENERAN SUGAR DADDY?!”
Jema langsung lempar tisu ke muka Anne.
“Diam, Anne.”
“Tapi kaya?” bisik Eve lirih.
Jema menutup wajah, frustasi, “ASTAGA. KALIAN BERDUA MEMBUAT HIDUPKU 3 KALI LEBIH SIAL.”
Mereka bertiga pun tertawa keras.
* * * *
Di lantai bawah tanah, ruangan gelap kecuali cahaya biru dari layar-layar raksasa yang menampilkan peta dunia.
Titik-titik merah menyala di New York, Tokyo, Dubai, dan Saint Petersburg.
Semua menandai lokasi-lokasi yang terhubung ke pengkhianatan Elena.
Lucane berdiri di depan peta itu, jas hitamnya rapi, mata tajamnya seperti pisau.
Di belakangnya, Liam menunggu instruksi.
“Semua data dari jaringan luar sudah kita kumpulkan,” lapor Liam pelan.
“Nama-nama yang terlibat bukan hanya dari cabang Alexander, tapi juga dari beberapa aliansi lama.”
Lucane diam sesaat, lalu berkata,
“Waktu mereka sudah habis.”
Beberapa jam kemudian, ruang rapat bawah tanah diaktifkan.
Di meja bundar logam, delapan orang pria duduk kepala dari berbagai divisi rahasia Alexander keuangan, keamanan, logistik, komunikasi, dan operasi luar negeri.
Mereka bukan karyawan biasa mereka adalah arsitek kekuasaan.
Lucane masuk tanpa suara. Semua berdiri.
Ia meletakkan map hitam di atas meja dan membuka satu halaman logo bergambar kepala naga bermahkota.
“Operasi Phantom,” katanya.
“Target setiap jaringan bayangan yang menentang Alexander. Setiap informan, perantara, dan kaki tangan yang membantu Elena. Aku ingin mereka hilang dari peta… sebelum matahari berikutnya.”
Salah satu kepala divisi, pria tua dari cabang Asia, menatap ragu.
“Dengan segala hormat, Tuan Lucane, beberapa dari mereka masih berpengaruh besar. Jika kita serang terbuka, ini bisa memicu perang antara dewan..”
Lucane mengangkat tangannya, menghentikan.
“Dewan tidak mengaturku,” katanya dingin. “Mereka hidup karena aku menjaga keseimbangan. Sekarang, aku akan mengembalikan keseimbangan itu dengan caraku.”
Keheningan menyelimuti ruangan.
Tak ada yang berani membantah.
Malamnya, di hanggar pribadi dekat pelabuhan New York, tiga jet hitam disiapkan.
Setiap jet membawa tim bayangan dengan kode: Phantom-One (Tokyo), Phantom-Two (Dubai), dan Phantom-Three (Moskow).
Lucian berdiri di antara mereka, memberikan instruksi terakhir.
“Kalian tidak mewakili Alexander. Kalian tidak meninggalkan tanda.
Tidak ada nama, tidak ada bukti.
Kita bersihkan dunia ini… dengan sunyi.”
Tim-tim itu berangkat tanpa suara.
Dalam hitungan jam, perburuan global dimulai.
* * * *
Di Tokyo, seorang mantan broker senjata ditemukan menghilang dari penthouse-nya di Shibuya.
Di Dubai, sebuah kapal kargo terbakar di pelabuhan Al Maktoum, membawa data rahasia yang tak pernah sampai ke tangan pembeli.
Dan di Moskow, seorang pengusaha bayangan yang pernah berbisnis dengan Elena ditemukan tertidur di dalam mobilnya mesin masih hidup, oksigen tidak.
Semua operasi berjalan sempurna.
Tanpa jejak.
Tanpa nama.
Lucane mengawasi semuanya dari ruang kontrol Alexander.
Setiap kali satu titik merah di layar berubah menjadi abu-abu, ia menutup mata sebentar bukan untuk berdoa, tapi untuk memastikan tak ada emosi tersisa.
Liam berdiri di belakangnya.
“Phantom berjalan mulus, Tuan. Tidak ada kebocoran.”
Lucane hanya menjawab, “Belum. Tapi akan selalu ada satu yang lolos. Selalu.”
* * * *
Pukul 11 malam, telepon terenkripsi di mejanya berdering.
Sebuah suara berat dari seberang lautan terdengar.
“Lucane … kau membuat dunia gelisah lagi,” kata suara itu. “Kau membersihkan terlalu cepat. Dewan Eropa bertanya-tanya, apakah Alexander masih bisa dikendalikan?”
Lucane menatap layar peta global yang kini hanya menampilkan satu titik merah yang tersisa di Monaco.
Suaranya datar, tapi mematikan:
“Alexander tidak pernah dikendalikan.
Alexander mengendalikan.”
Telepon ditutup.
Lucane menatap titik merah terakhir di layar itu lama.
Ia tahu siapa yang ada di sana Orion Vale, mantan mitra lamanya seseorang yang dulu ia anggap saudara, kini menjadi otak di balik kebocoran besar.
Lucane tersenyum tipis.
“Waktumu sudah tiba,” bisiknya.
Ia mengenakan mantel hitamnya, mengambil pistol perak yang sudah dikunci sidik jarinya, lalu berjalan keluar ke dalam malam hujan.
Liam menatap punggungnya dari jauh, lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri,
“Ketika dunia tidur… Lucane Kyle berburu.”
* * * *