Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Perkenalan
Saga tertegun. Tatapannya tertuju pada gadis yang nampak familiar baginya.
'Bianca? Kok dia ada di sini? Jangan bilang dia calon adik ipar gue,' gumam Saga dalam hati.
"Diana, Radit, Bian, kenalkan ini Saga, anak aku dan Soraya," ujar Kaisar memperkenalkan sang putra yang baru saja tiba.
"Ya ampun, kamu gagah sekali. Persis seperti ayah kamu," puji Diana.
Saga pun duduk di seberang Bian. "Terima kasih. Tante juga cantik sekali. Aku kira Tante itu calon adik tiri aku. Soalnya Tante masih kelihatan muda banget." Saga balik memuji Diana.
"Kamu bisa aja sih," ujar Diana malu-malu.
"Beneran, kalau gak ada dia. Aku pasti nyangkanya Tante itu yang namanya Bian, calon adik tiri aku." Dagu Saga menunjuk kepada Bian. Bian sedikit tersentak karena namanya disebut oleh Saga. "Halo, Bian. Salam kenal ya. Sebentar lagi kita akan jadi saudara tiri. Semoga kita bisa makin akrab ya."
Bian hanya membalasnya dengan senyum tipis. Sungguh Saga ini tidak berada di pihak yang sama dengan Bian. Maka Bian tak terlalu bersimpati.
"Maaf ya, Diana, Bian. Saga ini emang gampang banget muji orang. Apalagi ke orang yang cantik kayak kamu dan Bian," ucap Soraya khawatir pujian Saga dianggap berlebihan.
"Gak apa-apa, Ya. Aku malah seneng karena Saga ini anaknya supel juga kelihatannya. Kita pasti bisa cepet deket."
"Saga ini emang mirip sama ayahnya. Gampang deket sama orang, apalagi perempuan." Ada sedikit nada menyindir dari kata-kata Soraya.
"Selama ini emangnya Kaisar masih deketin cewek-cewek, Ya? Padahal dia udah nikah sama kamu?" tanya Diana pura-pura terkejut. Padahal jiwa cassanova sang calon suami sudah sangat ia ketahui sejak dulu.
"Hey, itu karena aku belum ketemu sama kamu," ujar Kaisar membela diri sambil mencubit gemas dagu Diana yang duduk di sampingnya.
"Bisa selugas itu ya kamu sekarang." Diana menanggapi, kemudian ia menatap ke arah Soraya. "Kamu kok bisa tahan sama dia selama ini, Ya?" tanya Diana pada Soraya.
"Yah, karena... kamu bisa jawab sendiri sekarang. Itulah kenapa saat kita dipertemukan lagi. Masing-masing dari kita udah langsung tahu ada yang masih belum selesai dan ada yang harus segera diselesaikan untuk bisa memulai kembali apa yang belum kita selesaikan."
"Aku setuju sama kamu," ujar Diana cepat. Kemudian ia melingkarkan lengannya pada Kaisar. "Semoga selama ini kamu udah kenyang ya main sama cewek. Ke depannya aku gak mau ya kalau sampai ada lagi orang ketiga di antara kita. Ngerti?" Disentuhnya hidung bangir Kaisar.
Bian cukup syok melihat interaksi sang ibu dengan Kaisar. Diana tak pernah nampak seromantis itu dengan sang ayah sebelumnya.
Kaisar sendiri meraih tangan Diana dan mengecup punggung tangannya. "Gak akan dong, Sayang. Petualangan aku udah selesai, dan kamu adalah pelabuhan terakhir aku."
"Udah, udah. Jangan mesra-mesraan depan kita. Cepet nikah sana Ayah sama Tante Diana," goda Saga. Semua terkekeh bahagia mendengarnya, kecuali Bian.
Bian belum bisa menerimanya. Hatinya masih terasa sakit melihat kedua orang tuanya yang malah bersama dengan orang lain.
"Kamu sendiri, Saga, apa kamu gak masalah dengan ide tentang tukar pasangan ini?" tanya Radit dengan wajah serius.
"Gak sama sekali, Om. Selama ini aku tahu Ayah dan Ibu gak bahagia dengan pernikahannya. Mereka tetap mempertahankan pernikahan semata-mata karena bisnis. Juga aku yakin, Om, Tante, Ayah, dan Ibu sampai memutuskan untuk bertukar pasangan kayak gini, pasti udah mikirin segala macamnya. Jadi gak ada alasan untuk aku gak setuju atau mempermasalahkan ini. Apalagi dasar dari keputusan yang kalian ambil ini adalah karena ingin bersama dengan orang yang masih kalian cintai. Jadi, aku sama sekali gak masalah."
Kata-kata Saga benar-benar membuat Bian tertampar. Ia sama sekali tak pernah berpikir seperti itu. Ia rasa Saga benar. Bahkan Bian melihat sendiri wajah bahagia sang ibu yang selama ini tak pernah ia lihat jika sang ibu bersama dengan ayahnya. Bian pun mulai merubah hatinya untuk lebih ikhlas.
Sisa makan malam itu dihabiskan dengan obrolan-obrolan ringan, tawa canda, sambil menghabiskan makanan yang tersaji.
Usai makan mereka menuju parkiran.
"Sekarang, Ayah sama Tante Diana silahkan lanjut berkencannya. Begitu juga Ibu dengan Om Radit. Pasti banyak yang pengen kalian omongin tentang pernikahan kalian masing-masing."
"Tapi Bian..." ucap Radit.
"Bian biar sama aku aja, Om," potong Saga. "Aku sama Bian juga harus pendekatan sebagai saudara tiri. Jadi udah ini aku bakal ajakin Bian jalan-jalan bentar. Nanti aku sendiri yang bakal anterin Bian pulang. Gak apa-apa, 'kan, Tante? Om?"
Radit tak langsung mengiyakan. Ia justru ingin mengajak Bian bersamanya dan mendekatkan Bian dengan Soraya, tadinya.
"Ide bagus, Saga. Tante titip Bian, ya," sahut Diana setuju.
Karena Diana sudah berkata demikian, Radit pun berubah pikiran. Sepertinya tidak ada salahnya juga Bian mendekatkan diri dengan calon kakak sambungnya.
"Ya udah. Nanti tolong antarkan Bian ke rumah, ya," pesan Radit pada Saga.
"Siap, Om. Om gak usah khawatir. Aku pasti jagain calon adik tiri aku ini."
Kemudian Radit bersama Soraya masuk ke mobil Radit, Kaisar bersama Diana menggunakan mobil Kaisar, dan Saga bersama Bian masuk ke mobil Saga.
Mobil mewah Saga pun sudah bergabung dengan mobil-mobil lain di jalanan.
"Mau ke mana kita?" tanya Bian akhirnya bersuara.
Saga tersenyum puas. Pasalnya ia memang menunggu Bian membuka obrolan lebih dulu.
"Ke Hotel."
Mata Bian membelalak. "Ap-apa? Hotel?!"