Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 10
Isak tangis terdengar dengan begitu pilu saat dokter menutup seluruh tubuh Mutiara dengan kain putih. Bima pergi dari sana menuju meja kerjanya. Sedangkan Aruna menatap kosong ke rah jenazah ibunya yang sudah terbujur kaku.
Dokter tak bisa menyelamatkan ibunya yang mengalami penda-/rahan hebat. Kerena minimnya alat dan juga fasilitas yang sis butuhkan untuk menyelamatkan nya-wa Mutiara. Apalagi Bima melarang semua orang untuk membawa Mutiara ke rumah sakit. Hingga akhirnya Mutiara menyerah dan tidak bisa bertahan lagi.
"Aruna ..." panggil Bu Asih mersngkul bahu Aruna yang sedari tadi terdiam menatap kosong ke arah jenazah ibunya.
"Aku sudah tidak punya siapa-siapa Bi. Pria itu sudah merenggut segalanya dariku, harta dan harapan terakhirku juga sudah diambil. Hidupku selama ini sudah menjadi milik dia, dari kecil aku selalu berusaha untuk menjadi anak kebanggaannya. Walau yang kudapat hanyalah rasa sakit makian dan pukulan. Selama ini aku bertahan karena ibu, Tapi kini ibu sudah tidak ada. Tak ada alasan lagi bagiku untuk bertahan di sini, Bi! Dia bukan ayahku, dia adalah monster dan iblis dalam kehidupanku!" ucap Mutiara tanpa air mata tapi penuh penekanan.
Bi Asih hanya bisa menangis mendengar ucapan Aruna. Gadis malang yang harus menerima takdir pahit dan berjuang dengan segala kekuatan yang dia miliki. Pemakaman Mutiara semua di urus oleh orang-orang Bima. Bahkan Aruna dan semuabyabg ada di rumah itu tak boleh ada yang ikut ke pemakaman. Pria yang sudah tak punya hati nurani untuk Mutiara dan juga Aruna.
"Amu kemana kamu?" tanya Bima saat melihat Aruna membawa ransel dan juga koper kecil di tangannya.
"Pergi. Semua hukuman kamu berakhir saat ibu susah meninggal," jawab Aruna dingin menatap Bima yang berdiri di atas tangga.
"Siapa yang menyuruhmu pergi? Siapa yang bilang kalau hukumanmu berakhir! Hukumanmu tak berakhir hanya karena wanita itu ma-ti!" jawab Bima tanpa perasaan.
Padahal secara tak langsung dia lah yang sudah mem-bu-nuh mutiara karena keegoisannya. Dan sekarang dia masih ingin mengurung Aruna di sangkar emas penuh luka miliknya.
"Apa kematian ibuku belum cukup untukmu? Untuk menutupi semua kesalahanmu yang selalu kamu timpahkan kepada kami? Anda menutupi kebodohan dan kesalahan anda kepada kami! Aku bukan boneku Pak Bima. Atau kau ingin aku juga ma-ti? Baiklah jika memang itu keinginanmu!" jawab Aruna mengambil pi-/sau yang ada di dekat meja.
sreeeeettttt
praaaang
Dengan cepat dan tanpa pikir panjang dia memo-to-ng urat na-dinya sendiri. Salah satu penjaga Bima menepis tangan Adrian yang menggenggam senjata. Namun sayang tangannya sudah tergores sehingga membuat cairan merah mengalir di lantai.
"Bawa dia ke klinik terdekat dan pastikan tak ada yang tahu akan hal ini. Dan pastikan juga jika dia tak tahu aku dia anakku!" perintah Bima.
Semua orang di buat kaget dengan yang dilakukan oleh Aruna. Bi Asih bahkan menjerit saat melihat hal itu terjadi, dia berlari dan ikut ke dalam mobil untuk menjaga Aruna. Dia tidak memiliki siapapun, Ayah tidak mencintai dan menyayangi dia. Aruna pasti sangat kesepian dan membutuhkan orang untuk hanya sekedar menguatkannya.
"Aruna, bertahanlah nak! Kenapa kamu malah bertindak bodoh seperti itu! Kamu adalah anak yang kuat, kamu anak hebat kebanggaan ibu. Tidak boleh seperti ini, ibumu pasti akan kecewa dia atas sana!" ucap Bi Asih membelai rambut Aruna dengan lembut.
Dalam keadaan seperti itu Aruna masih sadar, sbelah tangan Bi Asih menekan pergelasn tangan Aruna.
"Tak ada alasan aku untuk hidup dan tetap tinggal di sana, Bi. Aku ingin pergi dari sana, tapi pria itu tidak mengizinkan aku. Tuan Bima masih belum cukup menyik-sa-ku selama ini. Apa karena aku anak perempuan yang tidak diinginkan sehingga diperlakukan seperti ini. Aku tidak pernah meminta kepada Tuhan untuk dilahirkan dan menjadi anggota keluarga Rahardian. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama dengan kedua orang tuaku. Bukan seperti ini Bi," jawab Aruna.
"Apa salah jika aku terlahir sebagai seorang wanita. Padahal dia selalu mendidikku dengan keras lebih dari anak laki-laki. Arkha saja tidak pernah melakukan segala macam jenis kegiatan yang biasa aku lakukan. Yang katanya semua itu adalah tugas dari laki-laki. Bahkan arka tidak boleh terluka, nyamuk saja tidak boleh menggigit kulit Arkha. Terkadang aku merasa iri melihat adikku begitu disayangi oleh ayahku sendiri. Aedangkan aku merasa diasingkan olehnya, tak ada satupun yang kulakukan membuatnya bangga. Aku sudah lelah, Bi," tambah Aruna membuat Bi Asih Semkin tergugu.
Aruna di bawa ke dalam ruang perawatan saat tiba di klinik yang cukup jauh dari perumahan elit Bima. Semua sesuai perintah dari Bima, karena tidak ingin ada yang tahu jika Aruna adalah anaknya. Apalagi Aruna dalam keadaan seperti itu, akan menjadi banyak pertanyaan bagi orang di luar sana. Dia belum mau membiarkan Aruna menyusul ibunya. Entahlah dia masih cukup dendam dengan Aruna yang selalu menantang dan menatapnya dengan penuh amarah.
Cukup lama Aruna berada di dalam ruang tindakan. Selama diobati Aruna bahkan dengan sadar dan melihat sendiri bagaimana tim medis melakukan tindakan dan perawatan untuk lengannya. Bahkan jarum dan benang yang masuk ke dalam tangannya tak terasa sedikitpun. Seolah tubuhnya susah mati rasa dengan rasa sakit secara fisik. Hati dan fikirannya yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Masih terguncang dengan kepergian sang ibu. Apalagi dia juga tidak diperbolehkan untuk pergi ke makam ibunya. Entah bagaimana cara pria itu menangani pemakaman mutiara. Entah dilakukan dengan baik atau tidak, tak ada yang bisa melawan keinginan Bima Rahardian.
"Aruna ..." panggil Bi Asih setelah lebih dari satu cara penunggu di luar. Menunggu dengan gelisah karena khawatir terjadi apa-apa kepada Aruna.
"Aku tidak apa-apa Bi, aku tidak jadi ma-ti dan menyusul ibu. Mungkin Tuhan belum mengizinkan aku ma-ti, dan memintaku untuk membalas dendam kepada pria itu. Aku akan tumbuh menjadi wanita kuat yang akan melawan dia suatu Hari nanti. Aku akan mengingat semua momen ini. Apalagi saat kematian ibuku, tak ada sedikitpun raut sedih di dalam wajahnya. Sepertinya dia malah lebih bahagia melihat ibuku sudah tiada," ucap Aruna sambil menatap langit-langit ruang tindakan di klinik.
"Jangan banyak bicara dulu, lebih baik kamu gunakan kesempatan ini untuk tidur. Karena pipi tahu kalau di rumah, kamu pasti tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Apalagi selalu diganggu dan disuruh ini dan itu oleh Pak Bima!" Bi Asih mengusap kepala Aruna pelan.
Dulu dia juga yang mengasuh Aruna sejak masih bayi karena mutiara selelu membatu suaminya di kantor. Saat itu kantor Rahardian sedang dalam masa sulit. Sehingga mereka harus berusaha membuat perusahaan stabil. Hal itulah yang membuat Bima merasa jika Aruna pembawa sial. Karena setelah Aruna lahir, perusaannya berada dalam ambang kebangkrutan.
Aruna akhirnya menurut dan benar kata Bib Asih. Dia membutuhkan tidur yang cukup agar memiliki tenaga untuk menghadapi monster di rumahnya. Karena Bima pasti tak akan membiarkannya pergi begitu saja.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/