Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 Maju Salah Mundur Salah
"Kak!" Aluna ke dapur dengan wajah tampak memerah memanggil Jiya yang sedang membuat sarapan di dapur.
"Ada apa?" tanya Jiya dengan santai.
"Apa-apaan sih. Kakak, kenapa harus mengatakan semua kepada dia, tentang apa yang terjadi 3 tahun lalu dan aku tidak menyuruh Kakak untuk membicarakan apapun kepadanya," sahut Aluna.
"Kakak hanya menjalankan tugas sebagai seorang kakak untuk mewakilkan adiknya meminta maaf," jawab Jiya.
"Bukan permintaan maaf yang ingin Kakak sampaikan kepadanya, tapi Kakak ini mempermalukanku dan membuatku begitu buruk di matanya. Apa yang kakak lakukan bukan hanya mempengaruhi hubungan ini tetapi juga pekerjaanku di kantor!" tegas Aluna.
"Kamu takut jika Ravindra akan memecat kamu?" tanya Jiya.
"Aku bersusah payah untuk masuk ke dalam perusahaan itu dan perjuanganku tidak main-main. Aku yang seharusnya menjelaskan kepadanya apa yang terjadi agar kesalahpahaman di antara kami tidak semakin buruk, kenapa Kakak mengambil langkah terlalu jauh dan membuatku rumit seperti ini!" tegas Aluna dengan penuh kemarahan besar.
"Aluna sebuah pekerjaan bukan hal yang harus diributkan seperti ini dan lagi pula Abi tidak mengizinkan kamu untuk bekerja, apa kamu harus mempermasalahkan hal yang tidak penting," sahut Jiya benar-benar begitu santai.
"Hah"
Aluna mendengus kasar mendengarnya. Kenapa kakaknya itu Sangat enteng sekali berbicara.
"Kakak tidak akan pernah mengerti karena Kakak tidak pernah bekerja dan tidak punya dia untuk bekerja!" tegas Aluna langsung pergi dari dapur.
Jiya tampak kesal dan bahkan sampai meletakkan sendok dengan kasar ketika mendengar perkataan adiknya itu.
Siapa yang tidak kesal pada Jiya jika dia terlalu banyak ikut campur tentang urusan pribadinya.
****
Aluna bersama dengan keluarganya sedang sarapan bersama. Aluna hari ini sangat malas untuk ke kantor karena sudah pasti akan bertemu dengan Ravindra.
Aluna memiliki rencana untuk meminta maaf kemarin pada Ravindra secara langsung, tetapi Jiya sudah mencuri start terlebih dahulu dan mencari permasalahan lebih besar.
"Aluna, Umi dan Abi akan secepatnya mengurus pernikahan kamu," ucap Umi.
"Umi, pernikahan apalagi yang harus dipercepat. Aluna sudah mengatakan tidak akan menikah dengan Firman dan jika Firman ingin mencari istri untuk memberikannya anak, maka cari saja wanita lain dan bukan Aluna!" tegas Aluna protes sudah yang kesekian kalinya.
"Kamu tidak perlu jual mahal seperti itu Aluna. Kakak tahu kamu sebenarnya setuju menikah dengan Firman dan kamu tidak perlu merasa tidak enak dengan Kakak," sahut Jiya
Mendengar perkataan itu membuat Aluna mual dengan giginya tampak rapat melihat penuh amarah kepada Jiya.
"Umi tidak mengatakan kamu akan menikah dengan Firman. Tetapi dengan Ravindra, putra Tante Risma," sahut Wulan.
"Apa!" Bukan Aluna yang terpekik kaget tetapi Jiya.
Aluna hanya mengekspresikan rasa kaget dengan mata melotot
"Maksud Umi?" tanya Aluna.
"Jangan melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. Abi benar-benar akan murka kepada kamu dan memberi kamu pelajaran atau tidak menganggap kamu sebagai anak jika kamu berani meninggalkan pernikahan itu!" tegas Abraham.
Aluna masih tidak percaya jika Ravindra ternyata setuju perjodohan mereka dilanjutkan.
"Umi siapa yang memutuskan semua ini?" tanya Jiya.
"Keluarga kita sudah membuat masalah besar 3 tahun lalu dan sudah pasti ini keputusan bukan dari Umi. Melainkan keputusan dari mereka sendiri," jawab Wulan.
*****
Aluna seperti biasa bekerja di kantor dengan sangat serius, tiba-tiba saja dia merasakan sesuatu yang tidak enak, ada sesuatu hal yang membuatnya merasa aneh. Aluna dengan sangat refleks melihat ke depannya dan siapa sangka ternyata Ravindra berdiri di depan pintu ruangannya dan memperhatikannya.
Aluna seketika menjadi panik dan langsung menunduk, sejak mengetahui bahwa Ravindra adalah pria yang telah dia tinggalkan di hari pernikahan yang membuat Aluna tidak berani berkutik dan menata Ravindra.
Aluna bahkan selalu menghindari pertemuan dengan Ravindra.
"Aluna!" Aluna kaget ternyata seseorang sudah berdiri di sebelahnya menegur.
"Ke-kenapa?" tanyanya gugup.
"Kamu di panggil. Pak Ravindra," jawab rekannya tersebut.
Aluna melihat ke arah pintu dan laki-laki yang sejak tadi memperhatikannya sudah tidak ada di sana.
"Hey, kenapa malah melamun. Ayo cepat!" ucap wanita tersebut.
"I-iya," jawab Aluna benar-benar begitu gugup
Dengan pernah keyakinan akhirnya Aluna berdiri dari tempat duduknya dan sekarang sudah berada di depan pintu ruangan Ravindra. Beberapa kali terlihat jelas bagaimana Aluna menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan dengan kegugupan yang begitu besar.
"Ya Allah! Apa yang harus aku lakukan, dia menyetujui pernikahan itu dan apa mungkin dia akan memecatku?" Aluna hanya bisa menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aluna akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu ruangan tersebut dan suara dingin Ravindra sudah terdengar menyuruh untuk masuk membuatnya semakin takut dan bahkan sampai memejamkan mata.
Krekkk.
Aluna perlahan memasuki ruangan tersebut dengan terus melihat ke arah lantai dan jari-jarinya saling memencet satu sama lain.
Kegugupan semakin terlihat jelas di wajah Aluna. Sementara Ravindra tampak santai duduk di kursinya menatap Aluna begitu sangat dalam entahlah apa yang sekarang ada di pikiran Ravindra.
"Ada apa, bapak memanggil saya?" tanyanya.
"Apa kamu melihat saya berada di lantai sehingga kamu hanya menunduk?" tanya Ravindra memberi sindiran kepada Aluna dan membuat Aluna perlahan mengangkat kepalanya dan barulah dia bisa menetap atasannya itu.
"Jangan ke mana-mana pandangan kamu, saya sedang berada di sini dan seharusnya kamu melihat dengan jelas!" tegas Ravindra.
Aluna tidak memberi jawaban apapun dengan kesulitan menelan ludah.
"Lihatlah dia hanya diam pada tempatnya dan tidak mengeluarkan suara sama sekali, kenapa gadis ini begitu keras kepala dan bahkan tidak mengeluarkan kata maaf atas apa yang telah dia lakukan," batin Ravindra.
"Apa orang tua kamu sudah menyampaikan bagaimana keputusan saya dengan keluarga saya?" tanya Ravindra dengan menaikkan satu alisnya.
"Sudah Pak," jawabnya.
"Lalu kamu setuju menikah kembali dengan saya?" tanya Ravindra.
"Ke-kenapa bapak masih menginginkan perjodohan ini dilanjutkan dan sementara waktu itu saya sudah meninggalkan pernikahan kita?" tanya Aluna.
"Jadi kamu menyadari telah melakukan semua itu. Saya pikir kamu lupa bahwa kamu pernah meninggalkan pernikahan kamu," ucap Ravindra.
Aluna tidak berbicara lagi benar-benar menunduk dengan wajahnya tampak begitu semakin gugup dan bahkan sampai memerah
"Saya akan jawab pertanyaan kamu kenapa saya menerima pernikahan ini dan kembali menikah dengan kamu, yang pertama karena Ibu saya yang menginginkannya dan yang kedua saya ingin membalas kamu," jawab Ravindra berterus terang membuat Aluna kaget.
Pria di hadapannya itu benar-benar sangat menakutkan, tatapan matanya seolah-olah ingin menerkam dirinya.
"Bapak ingin membalas saya?" tanya Aluna.
"Benar! Apa kamu pikir saya akan kembali menikah dengan wanita yang sudah meninggalkan pernikahan saya tanpa ada tujuan. Saya hanya ingin melihat bagaimana reaksi kamu saat di pelaminan dan calon suami kamu tidak ada. Saya juga ingin meninggalkan pernikahan dan pergi bersama orang lain," ucap Ravindra.
Aluna hanya diam saja dan mungkin pasrah jika sampai semua itu terjadi.
"Kamu berani macam-macam dan mengambil tindakan di hari pernikahan, maka kamu akan berhadapan dengan saya dan karir kamu di perusahaan ini juga berada di tangan saya!" tegas Ravindra tidak main-main memberi ancaman kepada Aluna membuat Aluna diam.
Bersambung.....