Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permulaan KKN
Ini adalah cerita sederhana mengenai kisah KKN ku yang penuh dengan hal-hal yang seru dan menyenangkan. Banyak hal yang terjadi diantara kami berlima belas dan semua itu akan terangkum sederhana dalam buku ini dengan sedikit bumbu fantasi.
Sebuah cerita yang berhasil merubah hidup ku menjadi sedikit lebih baik. Aku pernah menonton dan mendengar percakapan antara seorang laki-laki dan perempuan
“Kenapa kamu suka menolong orang?” tanya si perempuan
“Karena aku pahlawan kan” jawab si cowok
“Bukan itu maksud ku” balas lagi perempuan, seperti tidak puas dengan jawaban sederhana itu lalu si cowok malah tersenyum ringan
“Yah, mungkin aku melakukanya untuk diri ku sendiri”
“Walau cuman sebentar—aku ingin ada orang yang mengingat ku melalui kebaikan tersebut” kata si cowok melanjutkan ucapanya dengan tenang
“Hidup itu berarti dikenal dan di ingat oleh orang lain” lanjutnya lalu si cewek pun bertanya kembali
“Terus, apa yang harus ku lakukan supaya di ingat”, dan si cowok pun menjawab lagi dengan tenang
“Sedikit saja, asalkan bisa mengubah hidup orang lain—maka itu pasti sudah cukup” ungkapnya sambil menatap wajah si perempuan dingin tersebut. Keduanya pun saling bertatapan, untuk sejenak si perempuan mencoba untuk memahami ucapan yang telah disampaikan oleh teman cowoknya tersebut.
Ingatan ini kembali terbayangkan dalam pikiran ku saat aku menatap wajah teman-teman KKN ku yang sedang berkumpul membicarakan sesuatu. Aku tidak tau kenapa ingatan ini bisa muncul lagi, tapi mungkin karena kebaikan mereka yang aku dapatkan sejak berteman dengan mereka.
Aku pun tersenyum ringan, muncul perasaan lega dalam diri ku. Walau belum terlalu memahaminya tapi aku yakin kalau ini adalah sesuatu yang baik. Aku bisa hidup kembali berkat mereka—dalam hari-hari yang berat dan hampir putus asa aku berhasil bangkit kembali ketika mengingat mereka, mengenang semua yang terjadi selama ini. Karena mereka kehidupan ku yang payah dan gelap menjadi lebih hebat dan berwarna kembali. Aku jadi ingin hidup lebih lama lagi, belajar lebih rajin dan mengetahui lebih banyak lagi tentang dunia ini lalu menulisnya dengan baik untuk orang-orang dimasa depan.
Ini lah kisah ku—kisah hidup ku sebagai manusia yang sembuh dan terselamatkan dari kegelapan masa lalu.
Kisah ini dimulai pada hari pertama aku berkumpul dengan mereka, maksud ku adalah teman-teman KKN ku. Waktu itu tepatnya malam hari kami berkumpul untuk melakukan foto studia. Pada malam itu untuk pertama kalinya kami berkumpul lengkap sehingga aku bisa melihat dengan jelas wajah teman-teman ku satu persatu.
Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa, kami berfoto studio bersama untuk keperluan kelompok KKN. Semuanya berjalan dengan baik dan biasa saja. Aku juga belum merasakan apapun seperti diriku sekarang, aku hanya melakukan tugas ku dengan baik sebagai anggota divisi PDD yaitu merekam dan membuat konten untuk diposting pada sosial media KKN kami. Teman-teman ku juga bersedia mengikuti arahan dan kemauan ku dengan senang. Aku pun ikut senang karena bisa melakukan tugas ku dengan benar.
Masuk pada hari berikutnya kami berkumpul bersama lagi dengan dosen pembimbing lapangan atau DPL sebutanya untuk membahas keberangkatan kami esok hari. DPL banyak membahas tentang program kerja yang akan kami laksanakan selama menjalani KKN dan semuanya mendapatkan persetujuan serta saran darinya. Setelah itu kami juga memperkenalkan diri masing-masing lalu berfoto bersama.
Kemudian hari pun berganti, hari dimana kami akan berangkat ke lokasi KKN. Jujur saja, aku masih berat meninggalkan kamar ku selama 30 hari kedepan. Aku punya banyak ketakutan dan kekhawatiran mengenai KKN. Semua ini akibat pengaruh dari cerita-cerita buruk yang diceritakan oleh para senior ku yang sudah melalui KKN. Aku takut hal tersebut juga akan terjadi padaku dan akan mengubah hidup ku jadi lebih buruk lagi. Ketika membayangkan hal-hal tersebut membuat ku makin khawatir.
Aku jadi berpikir untuk tidak KKN saja, “Kenapa harus ada KKN diperkuliahan? KKN itu untuk apa sih?” pikiran ini muncul sebelum aku melakukan KKN yang dimana aku belum mengalami hal-hal yang menyenangkan dan seru yang terjadi saat melakukan KKN.
Bagi ku KKN ini adalah sebuah pelarian dari kehidupan ku yang buruk dimasa lalu. Aku berharap dengan KKN bisa menemukan sesuatu yang bisa merubah hidup ku—sedikit saja tidak apa-apa asalkan aku bisa menjadi lebih baik dari diriku yang sebelumnya maka itu sudah lebih dari cukup.
Setelah melalui perjalanan yang lumayan lama akhirnya kami pun sampai dilokasi KKN. Saat itu karena dibalai desa lagi ada kegiatan sehingga kepala desa dan masyarakat yang lain pun tidak bisa menyambut kami secara langsung. Kami pun datang sebagai orang asing, tidak punya kenalan dan tempat tinggal yang jelas.
Hari itu kami beristirahat disamping rumah dan ada juga yang dibawah pohon kecil. Cahaya matahari yang terik membuat kami sangat kepanasan dan juga kelaparan lalu kami pun makan bersama disamping rumah.Kami makan bekal yang dibawa oleh para perempuanya. Rasanya aneh tapi kami terlihat begitu akrab seperti orang-orang yang sudah lama saling kenal. Setelah itu kami pun lanjut melakukan bersih-bersih rumah yang nantinya akan menjadi posko tempat tinggal kami dalam 30 hari kedepan melaksnakan KKN disini. Kami bekerja sama menyapu dan mengepel lantai, mencabuti rumput liar lalu memasukan barang-barang kami kedalam posko. Semuanya masih baik-baik saja dan berjalan normal sebagaimana dunia ini bekerja.
Beberapa saat kemudian hari pun mulai gelap, kami pun bersiap-siap untuk pergi kebalai desa karena malam ini adalah acara penyambutan dan penerimaan kami sebagai mahasiswa KKN yang tentunya akan dihadiri oleh banyak warga. Kami sedikit gugup dan juga lapar karena sudah lama menunggunya dari tadi sore. Meskipun begitu malam itu kami akan melakukan yang terbaik, menunjukan siapa kami dan kesungguhan kami untuk menjalani KKN ditempat tersebut.
Kami pun menyampaikan program kerja kami dibantu DPL lalu setelah itu memperkenalkan diri kami masing-masing. Pertama adalah Anwar sebagai koordinator desa atau kordes lalu disusul Putra selaku wakilnya.
“Perkenalkan nama ku Anwar selaku kordes dalam kelompok ini” ucap seorang cowok berambut kribo dan bibir tebal.
“Baik sebelumnya terima kasih, dan perkenalkan nama ku Putra sebagai wakil kordes” bicara seorang cowok berbadan tinggi dan besar.
Kemudian yang lainnya pun menyusul memperkenalkan diri juga “Baik selamat malam bapak dan ibu, perkenalkan nama ku Tian” ucap seorang perempuan kecil dengan wajah yang selalu menampakan kesedihan.
“Perkenalkan nama ku Ruka asal dari Kendari” bicara seorang perempuan berpenampilan menawan
“Baik, perkenalkan nama ku Fatin” kata seorang perempuan bertubuh lebih tinggi dari yang lainnya
“Terima kasih atas kesempatanya, perkenalkan nama ku Zee” ujar seorang perempuan bergaya tomboi
“Oke, selamat malam perkenalkan nama ku Nadin” ucap seorang perempuan berwajah imut dan kecil
“Halo Nadin” sapa para warga lalu kami pun tertawa
“Baik perkenalkan nama ku Eni dari jurusan ilmu sejarah” ucap seorang perempuan dengan tatapan selalu tajam seperti sedang marah.
“Baik, selamat malam semuanya. Perkenalkan nama ku Sulis dari fakultas kedokteran” ucap seorang perempuan yang terlihat selalu berenergi
“Perkenalkan nama ku Wati dari jurusan sosiologi” ujar seorang perempuan berpenampilan kalem
“Oke terima kasih atas kesempatanya, perkenalkan nama ku Kazen atau bisa juga dipanggil Enal” ucap seorang cowok bertubuh kecil dengan wajah menahan kantuk
“Halo Enal” sahut para warga lalu Enal berhenti sejenak membiarkan situasi tenang
“Perkenalkan juga nama ku Srikandi, biasa dipanggil Sri” kata seorang perempuan cantik berkacamata.
“Baik, bismillah perkenalkan nama ku Dani” bicara seorang cowok bertubuh tinggi dengan penampilan sangar
“Hai Dani” sapa para warga kembali
“Aku dari jurusan pendidikan vokasional tekhnik informatika” lanjut Dani
“Oke perkenalkan nama ku Ikon dari jurusan pendidikan matematika. Aku biasa dipanggil El” ucap seorang cowok dengan penampilan agak berantakan
“Halo kak El” sapa para warga lagi masih semangat
“Ehehe” Ikon membalasnya dengan senyuman lalu yang terakhir
“Perkenalkan nama ku Dila—“
“Hai Dila” warga kembali menyapa lalu Fatin pun melambaikan tanganya sebagai balasanya sambil tersenyum ramah dan setelah itu melanjutkan kembali ucapanya. Dan itulah kami semua ber-lima belas saat memperkenalkan diri masing-masing didepan warga desa.
Malam pun makin larut, aku berpikir semuanya sudah akan berakhir tapi ternyata belum. Masih ada sesi tanya jawab oleh warga kepada kami, saat itu lah sesuatu yang aneh terjadi.Tiba-tiba saja seisi ruangan jadi sepi padahal masih banyak orang. Aku pun mencoba menoleh kebelakang tapi tidak bisa, tubuh ku tidak bisa bergerak.
“Selamat datang didunia ku” terdengar suara bicara dari seorang pemuda lalu ia berjalan kedepan.
“A-apa yang terjadi—“gumam ku mencoba untuk bergerak tapi tetap tidak bisa, teman-teman ku juga begitu dan sepertinya hanya pemuda tersebut yang bisa bergerak
“Sebelumnya perkenalkan nama ku adalah Dirga, kebetulan aku masih sekolah kelas dua SMP. Jadi aku adalah junior kalian” ucapnya
“K-kenapa aku tidak bisa bergerak” bicara Anwar
“Ohh hebat juga, tak ku sangka kamu bisa bicara padahal belum aku izinkan” kata Dirga
“A-apa yang kamu lakukan” tanya Anwar
“Tenang saja, semua orang disini akan baik-baik saja—tapi kalian harus jawab pertanyaan ku dulu”
“Pertanyaan?” Anwar mengulanginya karena bingung
“Iyah, kalau kamu bisa menjawabnya dengan tepat maka aku akan membebaskan kalian. Yah anggap saja ini sebagai ujian buat kalian untuk bisa diterima KKN disini” tutur Dirga
“Baiklah, aku akan menjawabnya” balas Anwar lalu Dirga pun memulai pertanyaanya.
“AI atau kecerdasan buatan manusia, kalian pasti semua tau kan. Saat ini perkembangan AI ini sudah sangat pesat, makin kesini semakin banyak yang menggunakan AI untuk mempermudah segala kehidupan terutama dalam mendapatkan informasi. Tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan AI ini sangat membantu banyak orang, tapi disisi lain justru membawa dampak negatif juga jika penggunaanya kurang tepat” tutur Dirga sebagai pengantar pertanyaanya
“Nah yang menjadi pertanyaan ku adalah bagaimana tanggapan kalian mengenai hal tersebut. Apakah AI ini nantinya dapat menggantikan banyak pekerjaan manusia itu sendiri?” begitu pertanyaanya lalu Dirga pun menekan agar segera dijawab
Anwar pun diam sejenak untuk berpikir lalu ia mulai bicara, “AI itu kayak chat gpt yah—“ bicaranya tapi Dirga langsung menekanya makin kuat sehingga mambuat Anwar merasakan sakit
“Yang lain” ujar nya lalu melihat kearah Ruka
“Tunggu,apa yang akan terjadi jika kami tidak bisa menjawab dengan tepat” tanya Anwar
“Kalian tidak ditolak untuk melaksanakan KKN disini dan kemungkinan terburuknya kalian akan terjebak didalam sini selamanya” jawa Dirga dengan ekspresi yang seram
“Huff” Ruka merasa lega karena akhirnya bisa berbicara
“Jawab cepat” suruh Dirga dengan nada tinggi lalu Ruka pun mulai bicara. Jawabanya lumayan bagus, tapi Dirga belum puas sehingga dia meminta lagi yang lainnya untuk menjawab dan kali ini adalah giliran Ikon.
“Hmm” mendengar jawaban Ikon membuat Dirga hanya diam saja lalu tiba-tiba terdengar suara
“Baik, aku mau izin menambahkan” itu adalah Zee
“Yah memang tidak bisa dipungkiri AI pada zaman sekarang ini sudah banyak digunakan oleh orang-orang, terutama para gen-z. Mengenai tanggapan ku—sori maksudnya tanggapan kami mengenai AI ini adalah bahwasanya penggunaan AI ini mampu memberikan dampak yang baik terutama untuk para pelajar, bukan hanya pelajar tapi hampir seluruh kalangan manusia yang punya keingin tahuan yang tinggi. AI ini tentu bisa mempermudah kita dalam mendapatkan berbagai informasi yang ada didunia ini. Tinggal tanyakan saja maka AI akan berikan jawaban yang tepat” tutur Zee lalu melanjutkan kembali
“Tapi dibalik semua itu, ada juga dampak buruknya yaitu kebenaran informasi yang ada karena tidak semua informasi yang diberikan AI itu benar atau sebutanya hoaks. Selain itu juga dengan adanya AI ini bisa membuat orang jadi malas dan gak mau berusaha keras dalam belajar karena udah tau kalau ketemu sesuatu yang sulit dijawab maka tinggal tanya AI saja. Setelah itu akan muncul semua jawabanya tapi yang jadi pertanyaanya apakah jawaban itu benar-benar sudah tepat. Siapa yang bisa memvalidasinya” kata Zee sehingga membuat Dirga diam lalu mulai tersenyum tapi belum selesai sampai disitu
“Izin menambahkan kembali jawaban teman ku” bicara juga teman ku yang lain yaitu Fatin
“Heh?” Dirga terkejut karena ada lagi orang lain yang bisa bicara tanpa izinnya.
“Terkait AI ini yang menjadi ketakutan saat ini adalah adanya robot AI yang katanya bisa menggantikan pekerjaan manusia, misalnya mengentik, menghitung, mengatur waktu bahkan mengajar sebagai guru. Satu-satunya bidang yang tidak bisa dikerjakan AI saat ini adalah bertani, karena secanggih apapun AI pasti tidak akan bisa melakukan pekerjaan fisik dilapangan. Selain itu AI juga tidak punya intuisi yang sebagus petani” ungkap Fatin
“Banyak lagi sebenarnya seperti perawat, paramedis, guru, seniman yang kreatif, ilmuan, diplomat, psikologi, tukang listrik dan sebagainya. Sederhananya AI itu tidak punya perasaan seperti empati, tanggung jawab, kreativitas orisinal, dan keterampilan yang dipelajari dari pengalaman” ucap juga Sulis tak lama setelah itu terdengarlah suara tepuk tangan yang meriah dari kami.
“Haha, yang benar saja” kata Dirga sambil tersenyum seakan masih belum percaya dengan kejadian yang dia alami saat itu karena pertama kalinya ada orang yang bisa lepas dan bebar dari kekuatan ruang waktunya.
“Sepertinya mereka ini bukan orang-orang sembarangan” gumanya lalu mengangkat tanganya dan mengatakan menyerah
“Kalian menang, aku kalah” ucapnya lalu membatalkan kekuatanya dan orang-orang pun kembali bisa bergerak, sesisi ruangan kembali normal seperti tidak terjadi apa-apa.
“Bagaimana penanya, apakah cukup?” ujar Dila menanyakan kembali
“Yah, cukup terima kasih banyak atas jawabanya” balas Dirga lalu pergi keluar.
Malam itu aku masih bingung dengan apa yang terjadi barusan, aku masih tidak percaya karena ini adalah dunia nyata. Mana mungkin ada manusia yang memiliki kekuatan seperti dalam film bergenre supranatural. Namun kejadian waktu itu benar-benar nyata, bahkan teman-teman ku yang lain pun juga mengalaminya sendiri.
“Tempat apa ini sebenarnya?”
“Desa apa yang menjadi lokasi KKN kami ini” pikir ku merasakan tekanan yang aneh dari para warga yang berada dalam ruangan.Mereka masih semangat dan antusias menunggu acara sampai selesai lalu menerima kami sebagai mahasiswa KKN. Aku juga jadi ikutan bersemangat malam itu, rasa lapar dan ngantuk ku jadi hilang. Namun pikiran ku masih terus bingung dan bertanya-tanya, seakan belum percaya.
“Baiklah, kami ucapkan terima kasih kepada adik-adik mahasiswa yang telah memilih desa ini sebagai tempat KKN. Semoga kalian beta disini dan bisa memberikan manfaat kepada seluruh masyarakat demi kemajuan desa kami” ucap kepala desa lalu menerima kami secara resmi bersama warga lain yang masih hadir dalam acara penerimaan itu. Kami pun tersenyum lebih lega, setelah melalui hari yang panjang dan melelahkan serja kejadian yang aneh akhirnya tidak sia-sia. Beberapa pesan kepala desa dan tokoh masyarakat akan menjadi catatan penting bagi kami kedepannya. Kami berharap bisa melaksnakan KKN ini dengan sukses.
Ini lah awal mula kisah kami yang melaksanakan KKN disebuah tempat aneh, banyak kejadian-kejadian aneh pula yang kami alami disini dan tujuan kami adalah mempelajari dan memahami hal tersebut.
Dan perkenalkan nama ku adalah Enal—aku adalah salah satu mahasiswa yang melakukan KKN dan terlibat dalam kisah-kisah yang luar biasa ini. Aku adalah penulis cerita ini sekaligus tokoh yang mengalami langsung semua kejadian yang terjadi dilokasi tempat kami melaksanakan KKN—yang berhasil merubah hidup kami terutama aku sendiri menjadi lebih baik, mungkin—semoga.