NovelToon NovelToon
THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Sinar matahari pagi yang cerah menembus celah tirai, membawa suasana yang jauh lebih segar dibandingkan hari sebelumnya.

Dokter Sarah datang lebih awal untuk memeriksa kondisi Gladis.

Setelah memastikan suhu tubuh dan tekanan darahnya stabil, Sarah perlahan melepaskan selang infus dari pergelangan tangan Gladis.

"Semua sudah baik, tapi ingat, jangan lewatkan jam makan lagi," pesan Sarah dengan senyum penuh arti sebelum meninggalkan kabin.

Gladis menganggukkan kepalanya sambil menunggu Arkan yang sedang briefing pagi.

Arkan yang sudah kembali mengenakan seragam nakhoda putihnya yang gagah, mendekat ke arah ranjang.

Ia membantu Gladis duduk dan menyiapkan nampan sarapan yang sudah diantar ke kamar.

"Makanlah yang banyak sebelum kamu mulai kuliah daring," ucap Arkan sambil mengelus lembut rambut Gladis.

"Aku harus ke anjungan sekarang. Dalam beberapa jam lagi kita akan bersandar di pelabuhan persinggahan pertama."

Gladis mendongak, menatap mata Arkan yang kini tampak berbinar.

"Pelabuhan?"

"Ya. Setelah urusan administrasi selesai, aku akan menjemputmu. Kita bisa jalan-jalan di darat sebentar, mencari udara yang bukan dari laut. Kamu mau?"

Mendengar tawaran itu, binar kebahagiaan muncul di mata Gladis.

Bayangan bisa menginjakkan kaki di daratan setelah semua ketegangan ini terasa seperti hadiah yang luar biasa.

"Mau, Arkan. Aku mau."

Arkan tersenyum, lalu mengecup kening Gladis dengan lembut.

"Bagus. Pakai pakaian yang nyaman nanti. Aku pergi dulu."

Gladis mengangguk patuh, memperhatikan punggung suaminya yang melangkah keluar dengan wibawa seorang Kapten.

Ada rasa hangat yang mulai menjalar di hatinya dimana rasa yang sebelumnya ia sangka tidak akan pernah ada untuk pria itu.

Namun, di dek bawah, Alex sedang mengamati jadwal kapal yang mulai melambat.

Ia melihat dermaga yang mulai terlihat di cakrawala.

"Pelabuhan," gumam Alex dengan senyum licik sambil merogoh sesuatu di sakunya.

"Tempat yang paling sempurna untuk membuat kecelakaan tanpa ada cctv kapal yang mengawasi. Bersiaplah, Gladis."

Gladis menyelesaikan sarapan dan sesi kuliah daringnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan.

Semangat untuk menginjakkan kaki di daratan memberinya energi baru.

Begitu merasakan getaran mesin kapal yang melambat dan suara jangkar yang diturunkan, Gladis segera bersiap-siap.

Ia memilih pakaian yang santai namun tetap terlihat manis dimana sebuah sundress berwarna putih dengan corak bunga kecil yang senada dengan suasana pelabuhan tropis.

Rambutnya ia biarkan terurai, memberikan kesan segar pada wajahnya yang kini sudah kembali merona.

Begitu pintu kabin dibuka oleh Gerald, Gladis melangkah keluar menuju dek utama.

Dari kejauhan, ia langsung bisa mengenali sosok suaminya.

Arkan berdiri bersandar di pagar kapal dengan kacamata hitam yang membingkai wajah tegasnya.

Meskipun hanya mengenakan kemeja polo putih dan celana linen gelap, aura "Orang Terkaya" dan "Sang Kapten" itu tetap terpancar kuat, membuatnya tampak seperti model majalah bisnis yang sedang berlibur.

Sekelompok penumpang wanita, termasuk Gita dan beberapa sosialita muda, tampak berkumpul di sekelilingnya.

Mereka mencoba memancing perhatian Arkan dengan tawa yang dipaksakan dan berbagai pertanyaan tentang kota pelabuhan ini.

"Kapten, apakah ada restoran yang bagus di darat nanti? Mungkin Kapten bisa merekomendasikannya secara langsung?" tanya Gita dengan nada menggoda.

Arkan hanya menanggapi dengan anggukan formal dan wajah yang datar. Namun, begitu matanya menangkap sosok Gladis yang berjalan mendekat, ekspresi Arkan berubah seketika.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tidak pernah ia berikan kepada para wanita yang mengelilinginya sejak tadi.

"Maaf, Nona-nona. Putri saya sudah tiba," ucap Arkan dengan suara baritonnya yang lugas.

Tanpa memedulikan tatapan tidak percaya dari wanita-wanita di sekitarnya, Arkan melangkah lebar menyongsong Gladis.

Ia langsung melingkarkan tangannya di pinggang Gladis secara posesif, menunjukkan pada dunia siapa wanita yang berada di bawah perlindungannya.

"Kamu cantik sekali hari ini," bisik Arkan tepat di telinga Gladis, cukup keras untuk terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.

Gladis tersipu malu, apalagi saat ia merasakan puluhan pasang mata menatapnya dengan campuran rasa cemburu dan kecewa.

Para wanita itu hanya bisa menggigit bibir melihat sang Kapten idola mereka memperlakukan Gladis dengan begitu manis dan intim.

"Ayo, mobil sudah menunggu di bawah," ajak Arkan sambil menuntun Gladis menuruni tangga gang way.

Saat kaki mereka menyentuh aspal dermaga, Gladis menghirup dalam-dalam aroma tanah dan pepohonan yang sudah sangat ia rindukan. Namun, di tengah kebahagiaan itu, ia tidak menyadari bahwa dari balik pilar beton pelabuhan, sepasang mata menatap mereka dengan penuh kebencian.

Alex sudah ada di sana, mengenakan topi dan jaket gelap untuk menyamarkan identitasnya.

Ia memegang ponselnya, mengirim pesan singkat kepada seseorang.

"Target sudah turun. Mereka berdua saja tanpa pengawalan ketat di tengah pasar lokal. Lakukan sekarang."

Pasar lokal itu sangat ramai dan penuh warna. Bau rempah dan suara riuh pedagang menciptakan suasana yang menyenangkan bagi Gladis.

Mereka berjalan bersisihan, mencicipi beberapa kudapan khas daerah tersebut hingga akhirnya berhenti di sebuah kedai kecil yang menjual aneka penganan dari hasil hutan.

Arkan yang merasa suasana hatinya sedang sangat baik melihat sebuah mangkuk berisi tumisan jamur yang tampak menggoda.

Tanpa bertanya ia mengambil satu potong besar dan langsung memakannya.

"Arkan, tunggu! Jangan sembarangan—" Kalimat Gladis terputus.

Dalam hitungan detik, wajah Arkan yang tadi segar berubah merah padam.

Ia mencengkeram lehernya sendiri, matanya melotot dan napasnya terdengar berat serta tersendat-sendat.

Ia terjatuh berlutut, berusaha menghirup oksigen yang seolah hilang dari sekitarnya.

"Arkan!" jerit Gladis panik. Ia segera berlutut di samping suaminya.

Gladis menoleh ke arah mangkuk jamur itu dan matanya membelalak.

Ia mengenali jenis jamur itu dari buku botani mendiang ibunya. Itu adalah Jamur Hutan Merah, yang jika tidak diolah dengan benar akan menyebabkan penyempitan saluran pernapasan secara instan.

"Ini jamur beracun kalau belum matang sempurna!" teriak Gladis pada pedagang yang tampak ketakutan.

Gladis tahu ia tidak punya waktu untuk mencari rumah sakit.

Matanya menyisir area sekitar dengan cepat. Ia melihat sebuah pohon tua yang di batangnya tumbuh semacam tanaman merambat dengan daun berbentuk hati yang kecil. Itu adalah penawar alami yang sering tumbuh di dekat habitat jamur tersebut.

Tanpa mempedulikan gaun putihnya yang cantik, Gladis berlari kencang.

Dengan gesit dan penuh nekat, ia memanjat pohon yang tidak begitu tinggi.

Ia mengabaikan goresan di kakinya demi mencapai dahan yang agak tinggi.

Setelah berhasil memetik segenggam daun itu, ia melompat turun dan kembali ke arah Arkan yang sudah mulai membiru.

"Kunyah ini! Cepat, Arkan! Telan airnya!" perintah Gladis sambil memasukkan daun-daun yang sudah ia remas ke mulut Arkan.

Arkan mencoba mengunyah dengan susah payah.

Beberapa saat kemudian, otot lehernya mulai mengendur.

Ia terbatuk keras, menghirup udara dengan rakus seolah baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam.

Gladis langsung memeluk leher Arkan erat, tubuhnya gemetar hebat karena takut.

"Jangan menakutiku seperti itu! Kamu kapten kapal besar, tapi makan saja sembarangan!" tangis Gladis pecah.

Arkan terengah-engah, tangannya yang besar memeluk pinggang Gladis, mencoba menenangkan istrinya sekaligus dirinya sendiri.

"Maaf, aku pikir itu jamur biasa."

Si pedagang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kejadian itu.

"Tuan sangat beruntung. Istri Tuan bukan hanya cantik, tapi dia tahu rahasia hutan. Jika tidak ada dia, Tuan mungkin sudah tidak bernapas sekarang."

Arkan menatap Gladis dengan pandangan yang penuh rasa haru dan hormat.

Di balik sifat manja dan kekanak-kanakan yang selama ini ia kira ada pada Gladis, ternyata ada sosok wanita tangguh yang baru saja menyelamatkan nyawanya.

Namun, di balik kerumunan, Alex yang sejak tadi mengamati dari jauh mengumpat kesal.

"Sial! Harusnya dia mati karena jamur itu! Sekarang pengawasan Arkan pasti akan makin gila," gumamnya sambil menghilang di balik gang sempit.

Arkan berdiri perlahan, napasnya sudah mulai stabil sepenuhnya. Namun, begitu ia menunduk, matanya yang tajam langsung menangkap kondisi Gladis.

Gaun putih indah yang tadi ia puji kini sobek di bagian bawah karena Gladis memanjat pohon dengan terburu-buru.

Lebih parah lagi, kaki jenjang istrinya itu penuh dengan goresan merah yang mengeluarkan sedikit darah akibat gesekan kulit pohon.

Rasa bersalah menghantam dada Arkan lebih keras daripada racun jamur tadi.

"Lihat dirimu, Gladis..." bisik Arkan dengan suara serak.

Ia mengusap goresan di kaki Gladis dengan jemarinya yang gemetar.

"Kamu terluka karena kecerobohanku."

"Aku tidak apa-apa, Arkan. Yang penting kamu bisa bernapas lagi," jawab Gladis, mencoba tersenyum meski ia sendiri masih gemetar karena syok.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Arkan melepaskan kacamata hitamnya dan memberikannya pada Gladis.

Ia segera merangkul bahu istrinya dengan protektif.

"Kita harus mencari pakaian baru dan mengobati lukamu. Aku tidak akan membiarkanmu kembali ke kapal dengan keadaan seperti ini."

Arkan menuntun Gladis berjalan menjauhi pasar yang riuh tersebut.

Ia mencari toko pakaian terbaik yang ada di pelabuhan itu.

Tak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah butik kelas atas yang tampak kontras dengan pasar tradisional tadi.

Begitu masuk, pelayan toko langsung menyambut mereka dengan hormat, namun terkejut melihat gaun Gladis yang berantakan.

"Carikan pakaian terbaik yang kalian miliki. Yang paling nyaman dan berbahan sutra lembut untuk istriku," perintah Arkan dengan nada otoritas yang mutlak. "Dan ambilkan kotak pertolongan pertama sekarang juga!"

Sambil menunggu pelayan mengambilkan baju, Arkan mendudukkan Gladis di sebuah kursi beludru yang mewah.

Sang Kapten besar yang biasanya memerintah ribuan kru, kini berlutut di lantai di depan kaki Gladis.

Ia mengambil kain bersih dan mulai membersihkan goresan di kaki istrinya dengan sangat teliti dan lembut.

"Sakit?" tanya Arkan pelan, matanya menatap Gladis dengan penuh penyesalan.

Gladis menggeleng, ia menatap puncak kepala Arkan dengan perasaan campur aduk.

"Sedikit perih, tapi aku senang kamu baik-baik saja."

Arkan mendongak, menatap mata Gladis dalam-dalam.

"Mulai hari ini, aku berutang nyawa padamu, Gladis. Dan aku berjanji, mulai detik ini, tidak akan ada satu goresan pun yang akan menyentuh kulitmu lagi selama aku masih bernapas."

Di luar butik, Alex yang masih membuntuti hanya bisa menggertak gigi.

Rencananya berantakan total dan ia melihat hubungan Arkan dan Gladis justru semakin kuat karena kejadian ini.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Gladys 😄 cocok jadi pasangan hidup Arkan
Ita Putri
seruuuu
lanjut💪💪
Ariany Sudjana
bagus Gladys kamu harus tegas, jangan biarkan pelakor murahan seperti Angela merusak rumah tangga kamu dengan Arkan
Ariany Sudjana
sedih lihat perjuangan Gladys sampai segitunya demi menyelamatkan suami tercinta
Ariany Sudjana
ini kenap sih ada pelakor datang? Gladys yang berjuang menyelamatkan Arkan di pulau, malah dipeluk pelakor, dan orang tua Arkan juga diam, jangan-jangan Arkan sudah dijodohkan dengan perempuan ga jelas itu
Ariany Sudjana
Suka dengan karakter Gladys, tidak peduli dengan semua halangan, dia hadapi demi menyelamatkan suami tercinta, walaupun awalnya mereka berdua menikah karena terpaksa
Ariany Sudjana
Alex harus dihukum berat, jangan biarkan dia lolos
Ariany Sudjana
semoga Arkan dan Gladys lekas ditemukan dengan kondisi selamat dan sehat. semangat juang Gladys luar biasa, tidak ada sosok manja, semua dilakukan demi keselamatan suami tercinta
Ariany Sudjana
semoga Arkan bisa diselamatkan dan bisa sadar kembali dan kembali sehat, jangan tinggalkan Gladys
Ariany Sudjana
bagus Arkan, jangan biarkan Gladys hancur karena omongan julid dari orang yang ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Ariany Sudjana
tetap waspada yah Arkan dan Gladys, jangan biarkan Alex atau siapapun menghancurkan rumah tangga kamu kalian
Ita Putri
sweet banget gk sih mereka berdua 🥰
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Gladys sudah tahu kejadian sebenarnya, dan jangan pernah meragukan suami kamu untuk melindungi kamu Gladys
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
Gladys kamu jangan bodoh, jangan mudah emosi, Arkan itu kapten kapal, dan dia harus menjaga wibawanya di depan seluruh penumpang. dan lagi, jangan karena kamu istrinya, Arkan harus percaya begitu saja, tidak seperti itu. bukti paling kuat CCTV, dan jika bukti itu keluar, nama kamu bisa dibersihkan. ingat Gladys, Alex dan antek-anteknya ada di sekeliling kamu, segala cara akan dilakukan untuk menjatuhkan kamu dan Arkan
Ariany Sudjana
bukannya seram Gladys, tapi itu cara Arkan untuk melindungi kamu selaku istrinya
Ita Putri
alur cerita seru gk bertele tele
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ita Putri
semangatnya outhor 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!