Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Gelisah
Bab 16
Gelisah
Dika terus mengirim pesan kepada Lyra. Dan detik itu juga, pesan di hapus jejaknya. Ia hanya menunggu balasan dari kekasihnya, namun tak satupun ada tanda-tanda notif yang masuk ke handphonenya.
Dika gelisah. Ia beranjak berdiri dan berjalan keluar rumah dengan perasaan gusar. Mendekati mobilnya dan membuka pintu baca itu perlahan. Namun baru saja kakinya hendak masuk ke dalam mobil, suara Novia mengejutkan dirinya.
"Mas, mau kemana?" Tanya Novia tiba-tiba sudah ada di ambang pintu.
"Cari rokok." Jawab Dika singkat dan cepat tanpa menunjukkan kegugupan. Ia sudah terbiasa berbohong, seperti menghadapi Lyra disana.
Namun saat sudah duduk di jok kemudi, tatapannya berubah sedikit tajam saat melihat Iqbal berjalan dari dalam rumah mendekati Novia. Tapi saat ini, Dika lebih memilih mencari kabar Lyra ketimbang perasaan ketidaknyamanannya terhadap adik kandungnya sendiri. Pintu mobil di tutup, dan Dika pun berlalu pergi.
Ya, Dika cemburu kepada Iqbal sang adik. Iqbal dan Novia adalah teman satu sekolah SMA dulu. Novia sering datang ke rumah mereka karena mengerjakan tugas kelompok bersama. Sejak saat itu, pertemanannya dengan Iqbal semakin dekat. Dari situ lah Dika mengenal Novia dan jatuh cinta kepada wanita yang sekarang telah menjadi istrinya.
-
-
-
"Bang Dika kemana?"
"Eh! Kamu Iq?!" Novia menekan dadanya yang berdetak keras karena terkejut tiba-tiba ada Iqbal di berdiri tidak jauh di belakangnya. "Sejak kapan ada di belakang ku?"
Iqbal terkekeh geli, lalu melangkah dan duduk di sofa ruang tamu
"Belum lama."Bagaimana kabar ibu dan Bapak mu Nov? Kak Desi juga, sehat?"
Iqbal berbicara santai kepada Novia yang seumuran dengannya tetapi menjadi kakak iparnya. Dan Novia masih berdiri di ambang pintu melihat pada Iqbal.
Sebenarnya pikirannya sedang mengarah pada sikap Dika sebelum pergi tadi. Novia menaruh curiga sejak Dika menatap layar handphonenya tadi. Tetapi kehadiran Iqbal mengalihkan perhatiannya. Lelaki yang dulu di awal pertemanan sempat pernah mengisi hatinya itu, tersenyum lembut kepadanya dan tak pernah berubah sejak dulu.
"Alhamdulillah sehat. Kamu nggak pernah main ke rumah Pak Lek Leman lagi?"
"Sudah jarang. Aku nggak bisa ninggalin Ibu sendirian disini."
Benar, sejak Bapak mertuanya meninggal 3 tahun yang lalu, Iqbal lah yang menjaga ibu mertuanya disini.
Dulu Iqbal dan Dika tinggal di rumah Pak Lek Leman yang merupakan adik bungsu dari ibu mertuanya sewaktu mereka masih sekolah. Dan Dika sendiri sedang menjadi mahasiswa saat itu. Rumah yang sekarang Iqbal tempati bersama ibunya merupakan rumah asal tempat Dika dan Iqbal lahir dan dibesarkan. Berjuta kenangan sudah hadir di rumah itu. Dan menjadi tempat pulang setiap mereka rindu.
Beberapa waktu terasa hening memupuk ketidaknyamanan di antara mereka. Baik Novia dan Iqbal sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Sadar mereka bukan lagi teman sekolah, yang sedikit bebas untuk berada dalam ruang yang sama. Dan sebuah status kini harus membatasi mereka.
"Aku... ke dalam dulu ya." Ucap Novia ragu-ragu dan canggung.
Iqbal hanya melirik sesaat lalu mengangguk dan mengalihkan pandangan.
Novia segera melangkah sembari menunduk. Dengan cepat dan langsung masuk ke kamar dan menutup pintu.
-
-
-
Di dalam mobil, di pinggir jalan. Dika memukul stir bulatnya dengan tangan terkepal. Membeli rokok hanyalah sebuah alasan untuknya bisa menghubungi Lyra. Beberapa kali ia mencoba menelpon kekasih gelapnya itu. Tapi tak satupun panggilannya di angkat, dan belasan pesan sudah tak terbalas.
Emosi Dika mulai naik ke kepala. Ia menarik rambut di bagian atas kepalanya, frustasi. Dika berpikir keras dengan otaknya. Ia merasa Lyra sedikit berubah akhir-akhir ini. Ini bukan kali pertama Lyra mengabaikan teleponnya. Dan perdebatan yang terjadi di antara mereka akhir-akhir ini pun baru-baru ini saja. Dulu Lyra tidak pernah begini. Dulu mereka selalu harmonis dan romantis. Tak sekalipun menyenggol emosi.
Dika kembali mencoba menghubungi Lyra. Dan lagi-lagi, kekecewaan yang harus ia terima.
"Kamu kemana aja sih Ra?! Apa kamu sedang berselingkuh di belakang ku?! Awas saja kalau kamu berani macam-macam!"
Gigi Dika bergemelutuk. Rahangnya mengerat membayang Lyra sedang bermain dengan pria lain disana. Amarahnya nyaris beledak tapi tertahan. Rasanya Dika ingin kembali ke rumah dinasnya saat itu juga.
"Triiing...! Triiing...!"
Dering telepon menyita perhatian Dika untuk segera melihat nama yang muncul di layar pipih itu. Ia bersiap untuk menumpahkan amarahnya jika nama nama Pak Joko tanpa profil muncul memenuhi layar handphonenya.
Ya, tidak ada nama Lyra di daftar kontaknya. Yang ada hanya nama ganda 'Pak Joko' dan tanpa profil sesuai permintaan Dika yang melarang Lyra memasang fotonya dengan dalih cemburu jika orang lain menatap wajah cantik kekasihnya itu. Dika pernah berdalih pada Novia jika Pak Joko, rekan kerjanya itu memiliki dua nomor kontak. Padahal Pak Joko hanya memiliki satu nomor dan foto profilnya sudah pernah di lihat Novia.
Tapi sayangnya nama yang muncul adalah nama Novia. Dengan malas, Dika pun mengangkat panggilan dari istrinya itu.
"Hmm..."
"Halo, Assalamualaikum Mas."
"Wa'alaikumsalam."
"Mas dimana? Sudah hampir sore, katanya mau bawa ibu makan di luar?"
"Ya sebentar lagi sampai, Mas sudah di jalan pulang."
"Beli rokoknya kok lama amat sih?!"
"Tempat yang dekat nggak ada stok."
"Ya sudah, hati-hati."
"Hmm."
Dika berbohong lagi. Padahal ia hanya berada 100 meter dari lingkungan rumah orang tuanya. Dengan malas ia menghidupkan mesin mobilnya dan berbalik arah menuju rumah orang tuanya kembali. Hatinya masih gelisah bercampur amarah karena Lyra masih belum bisa di hubungi.
Begitu tiba di rumah, semua sudah tampak bersiap. Rupanya tanpa sadar Dika sudah keluar selama hampir 2 jam dengan alasan membeli rokoknya. Dika segera mengatur napasnya. Mencoba menutupi emosinya dengan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
"Mas kok lama sih?"
"Iya, ini kan sudah datang. Mas mandi bentar, gerah."
Semua dengan sabar menunggu Dika selesai mandi. Lalu setelah itu, mereka pun menuju kuliner terdekat yang menyajikan aneka makanan yang lezat.
Obrolan hangat tentang cerita masing-masing mengalir. Tawa dan keharmonisan berjalan seirama. Sampai perpisahan sementara kembali hadir menyisakan kerinduan yang masih ada.
"Main lagi ke sini, kalau libur ya? Ibu masih kangen sama kalian."
"Iya Bu, nanti. Kapan-kapan kami main lagi," jawab Dika ketika mereka berpamitan dan bersiap masuk mobil.
"Bu, kami pulang ya. Mudahan-mudahan kita semua sehat biar nanti kapan-kapan kita bisa kumpul lagi," ucap Novia sembari memeluk ibu mertuanya.
"Aamiiin... ya Allah. Jangan lupa kabari ibu kalau sudah sampai ya."
"Iya, Bu." Novia memeluk Ibu mertuanya, di susul Ibra menyalami Nenek dan Omnya. "Iq, kami pulang ya... Jagain Ibu."
Iqbal hanya mengangguk dan mengacungkan jempol kepada Novia sambil tersenyum. Dika, Novia dan Ibra pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan mobil mulai berjalan perlahan.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra