NovelToon NovelToon
Titisan Darah Biru

Titisan Darah Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Dendam Kesumat / Ilmu Kanuragan
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Mahesa Sura yang telah menunggu puluhan tahun untuk membalas dendam, dengan cepat mengayunkan pedang nya ke leher Kebo Panoleh. Dendam kesumat puluhan tahun yang ia simpan puluhan tahun akhirnya terselesaikan dengan terpenggalnya kepala Kebo Panoleh, kepala gerombolan perampok yang sangat meresahkan wilayah Keling.


Sebagai pendekar yang dibesarkan oleh beberapa dedengkot golongan hitam, Mahesa Sura menguasai kemampuan beladiri tinggi. Karena hal itu pula, perangai Mahesa Sura benar-benar buas dan sadis. Ia tak segan-segan menghabisi musuh yang ia anggap membahayakan keselamatan orang banyak.


Berbekal sepucuk nawala dan secarik kain merah bersulam benang emas, Mahesa Sura berpetualang mencari keberadaan orang tuanya ditemani oleh Tunggak yang setia mengikutinya. Berbagai permasalahan menghadang langkah Mahesa Sura, termasuk masalah cinta Rara Larasati putri dari Bhre Lodaya.


Bagaimana kisah Mahesa Sura menemukan keberadaan orang tuanya sekaligus membalas dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dilema Hati Sang Putri

Sorak sorai terdengar dari mulut para prajurit Lodaya yang menang perang. Perjuangan yang panjang selama hampir satu purnama akhirnya menemui hasil yang mereka harapkan. Lelah dan letih mereka selama hampir satu purnama akhirnya terbayar lunas.

Senopati Banyak Kulawu segera memerintahkan agar para prajurit Kadipaten Kalang yang menyerah di beri kesempatan untuk berubah tetapi proses hukum untuk mereka tetap berjalan. Untuk mereka, para tawanan perang ini dibawa ke penjara kotaraja Lodaya untuk tindakan selanjutnya.

Sedangkan untuk para prajurit Singhakerta yang tewas di kumpulkan, selanjutnya di bakar agar tidak menjadi sarang penyakit. Sedangkan sisa-sisa benteng pertahanan mereka dibakar agar tidak dimanfaatkan oleh pihak lain di kemudian hari.

Sedangkan beberapa barang berharga dan simbol-simbol Kadipaten Kalang mereka kumpulkan dan mereka bawa ke Kotaraja Lodaya sebagai bukti penaklukan mereka atas pasukan pemberontak itu. Untuk penanganan selanjutnya terhadap Kadipaten Kalang akan menunggu keputusan sang penguasa Kerajaan Lodaya, Singhawardhana sang Bhre Lodaya.

Bunyi genderang perang juga bende berbunyi bersahut-sahutan mengiringi langkah para prajurit Lodaya pulang ke Kotaraja Lodaya. Sepanjang jalan para penduduk mengelu-elukan mereka. Kemenangan ini bukan hanya bentuk keunggulan mereka dalam pertempuran tetapi juga merupakan jaminan keamanan bagi seluruh rakyat Lodaya yang sempat gelisah karena ulah Singhakerta. Kedepannya ketentraman hati seluruh rakyat Lodaya pasti akan kembali seperti sediakala.

Di alun-alun Kotaraja Lodaya, Singhakerta sang Bhre Lodaya menyambut kedatangan para pahlawan perang ini bersama dengan Permaisuri Nararya Candradewi, Putri Rara Wilis, Pangeran Singharaja berserta para selir dan anggota keluarga kerajaan Lodaya lainnya.

Mahesa Sura turun dari kuda nya mengikuti langkah Senopati Banyak Kulawu dan Tumenggung Dandang Pengaron. Meskipun mereka pulang dengan tubuh penuh luka, mereka langsung berjongkok dan menyembah pada Bhre Lodaya.

"Bangunlah wahai para pahlawan perang ku!"

Mendengar titah raja Lodaya ini, seluruh prajurit juga para perwira pun bangun sambil berkata, "Sendiko dawuh Gusti Bhre.. ".

" Kalian semua telah berjasa besar untuk kerajaan Lodaya. Kepahlawanan kalian semua pasti akan abadi dalam ingatan seluruh masyarakat. Aku akan memberikan hadiah atas kerja keras kalian. Meskipun itu mungkin tidak sebanding dengan pengorbanan darah dan air mata kalian, tetapi lewat ini aku mewakili seluruh rakyat Lodaya berterimakasih pada kalian semua! ", lanjut Bhre Lodaya kemudian.

" Hidup Gusti Bhre Lodaya...!

Hidup Kerajaan Lodaya...!!! "

Teriakan keras saling bersahut-sahutan terdengar dari mulut para prajurit yang hadir. Mereka benar benar merasa bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia.

Malam itu diadakan jamuan makan besar di istana Lodaya. Seluruh perwira juga para pejabat tinggi diundang. Sedangkan para prajurit mendapatkan kiriman makanan dari dapur istana. Ini adalah bentuk syukuran mereka atas kemenangan yang diraih.

Sementara para punggawa kerajaan Lodaya sedang berpesta pora, di dalam penjara kota sebuah pemandangan berbeda tersaji di depan mata. Seorang gadis muda dengan paras manis sedang terikat rantai kedua tangannya. Rantai ini menjuntai panjang ke langit-langit bangunan penjara hingga memaksa si gadis berbaju kuning itu berdiri meskipun sesekali tubuhnya limbung tetapi ia berusaha untuk tetap berdiri. Sebab jika ia duduk, tangannya tertahan oleh rantai dan itu sangat menyakitkan.

Krriiiiieeeeettttttttt...!

Suara derit engsel daun pintu penjara terdengar dan dari kegelapan malam seorang laki-laki muda berpakaian biru gelap datang menenteng sebuah obor. Penjaga penjara langsung memutar badannya setelah lelaki yang tak lain adalah Mahesa Sura itu masuk.

"Kauuu!! Mau apa kau kemari?! ", hardik Kemuning penuh amarah.

" Tentu saja menyelesaikan urusan yang belum selesai. Sekarang katakan, dimana Dewi Upas bersembunyi? Jika kau mengatakan yang sebenarnya, aku akan melepaskan mu. Tetapi jika kau berani berdusta, nasib mu akan sama seperti saudari-saudari mu! ", balas Mahesa Sura segera.

Phhuuuuiiiiihhhhh!!!!

" Meskipun aku harus mati, kau tak akan pernah tahu dimana guru ku berada ", tegas Kemuning lantang.

Plookkkk plloookkk plloookkk!

Tepuk tangan Mahesa Sura terdengar sambil tersenyum sinis. Ini jelas bukan tepuk tangan pujian.

" Sungguh-sungguh mengharukan sekali kesetiaan mu, heh perempuan baju kuning. Kalau begitu kita lihat, lebih hebat mana antara kesetiaan buta mu atau siksaan yang akan ku berikan?"

Usai berkata demikian, Mahesa Sura langsung melayangkan tamparan keras ke pipi kiri Kemuning. Seketika itu juga, pipi mulus perempuan itu memerah dan bengkak. Darah segar langsung meleleh keluar dari sudut mulutnya.

"Sekarang katakan, dimana Dewi Upas bersembunyi? ", kembali Mahesa Sura berkata pelan namun terdengar jelas di telinga Kemuning.

" Jangan harap aku berkhianat.. ", ujar Kemuning masih keras kepala. Geram dengan jawaban perempuan berbaju kuning ini, Mahesa Sura mengangkat tinggi-tinggi tangannya bersiap untuk menampar wajah Kemuning.

" Tunggu dulu Pendekar..!! "

Mahesa Sura urungkan niatnya untuk menempeleng lagi wajah Kemuning dan segera menoleh ke sumber suara. Dari arah belakang, Tumenggung Dandang Pengaron datang bersama dengan beberapa orang prajurit.

"Apa maksud mu menghentikan ku, Tumenggung? Apa kau ingin membela nya?! ", ujar Mahesa Sura tidak senang.

" Hehehe mana berani aku mengganggu urusan mu, Pendekar? Kau adalah pahlawan yang menjadi kekuatan kemenangan pasukan Lodaya. Urusan kecil seperti ini tidak pantas mengotori tangan mu", jawab Tumenggung Dandang Pengaron segera takut menyinggung perasaan Si Iblis Wulung.

"Lalu..??!"

"Urusan mengorek keterangan, biar anak buah saya yang bertindak. Ini hanya urusan kecil. Setelah dapat apa yang kau inginkan, aku pasti akan mencari mu. Oh iya, Gusti Putri Rara Larasati mencari mu, Pendekar. Dia menunggumu di balai tamu kehormatan", kembali Tumenggung Dandang Pengaron bicara.

"Baik.Ku serahkan urusan ini pada mu. Jika sudah ada kabar, lekas temui aku di Balai tamu kehormatan", kata Mahesa Sura sambil merapikan pakaiannya.

" Serahkan semuanya pada ku, Pendekar.. "

Mendengar jawaban Tumenggung Dandang Pengaron, Mahesa Sura segera bergegas meninggalkan tempat itu. Setelah kepergian Si Iblis Wulung, Tumenggung Dandang Pengaron menoleh ke arah empat lelaki bertubuh gempal di belakang.

"Gunakan segala cara untuk mendapatkan berita tentang keberadaan Dewi Upas. Kalian tahu apa yang mesti kalian lakukan".

Empat lelaki bertubuh gempal itu langsung menganggukkan kepalanya. Setelah itu Tumenggung Dandang Pengaron bergegas menyusul ke arah perginya Mahesa Sura. Sayup sayup terdengar suara rintihan disertai bunyi orang dipukuli.

Rara Larasati sedang asyik melihat ke arah bulan sabit yang menggantung di langit malam. Seulas senyuman tersungging di wajah cantik Rara Larasati serta memunculkan lesung pipinya. Malam ini terasa sangat indah bagi perempuan cantik itu.

"Ehemmm ekhem..!! Sedang apa Gusti Putri? Ngelamun jorok ya? Hihihihihihi... "

Suara di belakang membuat Rara Larasati langsung menoleh dan melihat Tunggak sedang berjalan menghampiri nya sambil memegang paha ayam lodho yang masih mengepulkan uap panas. Sepertinya itu baru diangkat dari tempat masak. Rara Larasati langsung menarik nafas lega.

"Bisa tidak untuk muncul di hadapan ku seperti orang kebanyakan dan tidak mengagetkan ku?! ", omel Rara Larasati bersungut-sungut.

" Hehehehe ya maaf to Gusti, gitu aja kok marah?

Mikir apa to kok sampai sebegitu asyiknya? ", goda Tunggak sebelum menjejalkan daging ayam lodho itu ke mulutnya.

" Hehhhhh, aku lega sekali perang ini sudah selesai Nggak, akhirnya rakyat Lodaya kembali bisa hidup dengan tenang.

Namun, ada sesuatu yang mesti akan hilang setelah semua kesengsaraan rakyat Lodaya ini berakhir Nggak. Kakang Mahesa Sura.. ", ucap Rara Larasati sendu.

Tunggak tahu apa yang dimaksud oleh Rara Larasati. Perjanjian mereka memang akan berakhir setelah perang ini selesai. Jadi, Mahesa Sura pasti akan segera pergi setelah ini. Dan Rara Larasati yang telah jatuh hati pada pemuda dingin nan kejam itu tentu tidak mau hal ini terjadi. Sebuah dilema besar sedang melanda hati sang putri raja Lodaya.

"Ya kalau gak mau pergi ya tahan saja, Gusti. Jika harta benda tidak bisa menahan Sura, pasti ada hal lain yang bisa menarik perhatian pohon besi itu", celoteh Tunggak asal bicara.

" Apa maksud mu Nggak? Tolong jelaskan.. ", ujar Rara Larasati segera.

" Masak begitu saja harus saya jelaskan secara rinci. Gusti ini cantik, bisa menarik perhatian para pria manapun di dunia ini.

Ya jika tidak bisa menahan lagi keinginan Si Sura untuk pergi, setidaknya ia pasti akan kembali lagi suatu saat nanti pada Gusti Putri "

Mendengar jawaban Tunggak, Rara Larasati terdiam beberapa saat lamanya. Perlahan matanya menatap ke arah bawah tubuh nya sembari membatin,

'Apa aku harus melakukan itu? '

1
saniscara patriawuha.
sikattttt baeee manggg tunggggg.....
🗣🇮🇩Joe Handoyo🦅
Ini pasti Kemuning murid si Dewi Upas 🤔
Batsa Pamungkas Surya
klo emg terpaksaya gimana lagi gusti putri
Idrus Salam
Masih menunggu kelanjutan ceritanya

Bukan lagi menunggu waktu berbuka 🤭
Idrus Salam: Oke siap
Ebez: sudah up loh bang Idrus 😁😁🙏🙏
total 2 replies
Kurniawan Sudrajat
mantap kang ebez
Ebez: terimakasih atas dukungan nya bang Kurniawan 😁😁🙏🙏
total 1 replies
Windy Veriyanti
keberhasilan menumpas pemberontak 👊👊👊
Ebez: pas hari raya Idul Fitri ya kak Windy 😁😁😁🙏🙏
total 1 replies
Tarun Tarun
up
Ebez: otewe tuh bang Tarun 😁😁🙏🙏
total 1 replies
pendekar angin barat
selamat hari raya idul Fitri...maaf lahir dan batin
Ebez: sama sama bang Pendekar 🙏🙏😁😁
total 1 replies
Batsa Pamungkas Surya
menang menang menaaaa@ng
Batsa Pamungkas Surya: ok ok
Ebez: hehehe menang semuanya ya bang Batsa 😁😁🙏🙏
total 2 replies
saniscara patriawuha.
gasssssd polllllll maningggg manggg eebbEEzzzzzz....
Ebez: assiiiiiaaaaaappp kang Saniscara 🙏🙏😁😁
total 1 replies
🗣🇮🇩Joe Handoyo🦅
Nah gitu baru pejantan namanya Singhakerta klo berani duel satu lawan satu 👍
Ebez: Lha wong dia juga terpaksa karena sudah putus asa kok bang Joe 😁😁🙏🙏
𝒯ℳ: kalo sultan pejantann apa nih
total 2 replies
Ali Khadafy
penasaran ama tawaran Larasati
Ali Khadafy
sekali-kai bikin cerita yg MC nya kocak to kang ebez biar ga tegang trs
🦋⃟ℛ⭐Wangky Tirtakusumah⭐🦋ᴬ∙ᴴ
Kapayunan ka Kang Ebez sareng para wargi sobat penggemar karya-karya Kang Ebez, abdi ngahaturan wilujeung boboran Iedul Fitri 1446H.
Mugi urang sadaya dipaparin kasalametan dunya sareng akherat, kabarokahan rizki sareng yuswana.
Aamiin. Yaa Robbal Aalamiin.. 🤲🏽🙏🌹💐
🦋⃟ℛ⭐Wangky Tirtakusumah⭐🦋ᴬ∙ᴴ: Sami-sami Kang Ebez. 🙏
Ebez: aamiin ya rabbal alamin Kang Wangky 🙏🙏
Nuhun nya 😁😁
total 2 replies
Windy Veriyanti
tinggal dua racun lagi yang ditumpas...
Ebez: hehehe assiiiaaaappp kak Windy 🙏🙏😁😁
total 1 replies
pendekar angin barat
selamat hari raya idul Fitri Thor dan semua pembaca
Ebez: hehehe terimakasih bang Pendekar 😁😁🙏🙏
total 1 replies
🗣🇮🇩Joe Handoyo🦅
Yang jelas bukan Dewi Sambi yang ngajarin Ajian Tapak Wisa 😁
Ebez: hehehe itu jelas bang Joe 🙏🙏😁😁
total 1 replies
saniscara patriawuha.
dengannnn tulisan yangg samaaa manggg eeBbezzzzz,,,
Ebez: apa itu kang Saniscara? 🙏🙏😁😁
total 1 replies
Tarun Tarun
slmt idul Fitri jg kg ebez minal aidin wal fa idzin jg.
SMG upnya jgn di tunda trs
Ebez: hehehe iya bang Tarun 🙏🙏😁😁
total 1 replies
Batsa Pamungkas Surya
rasakan pendeitaamu sisa murid dewi upas
Ebez: hehehe assiiiaaaappp bang Batsa 😁😁🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!