Aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu.
Saat terbangun, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran 2x1 meter yang di susun oleh besi-besi, ada gelas air di sudutnya dan sebuah handuk kotor di pegangan pintu. Seperti kandang hamster berukuran manusia.
Tampak putung rokok di meja sana mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga terlihat menggantung di tembok serta puluhan keris berdiri di lemari.
"Tutupi tubuhmu!!" Tiba-tiba seorang kakek tua mengejutkanku dari arah yang lain dengan melemparkan selembar kain jarik.
Aku baru sadar kalau sedari tadi tubuhku sudah tak mengenakan apa pun.
Kemana perginya pakaianku?
Hijabku?
HP ku?
Ya, tuhan.
Apa mereka benar-benar menghabisiku pada malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dukun
...Panca...
...────୨ৎ────...
10 hari yang lalu...
Pagi ini berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Si Mbah biasanya sudah santai dengan Teh Tawar panasnya di teras sambil memandangi pekarangan. Tapi kali ini dia malah sibuk sama menyan dan bunga-bunga di cawan. Dan sialnya kini aku harus berada di sampingnya, kalau-kalau beliau membutuhkan bantuan.
Aneh, kan?
Aku yang sedari tadi menguap, gara-gara semalaman harus dengerin obrolan si Bayu sama Yoana yang bosenin, yang selalu bahas-bahas tentang hal ghaib. Kini aku harus mengawasi si Mbah yang udah hampir 2 jam lebih 59 menit, enggak ngapa-ngapain. Jadi aku di sini cuma dipaksa lihatin kumisnya yang kadang bergetar kena asap menyan.
Tahun 2025, loh.
Masih percaya dukun?
Masih percaya ghaib?
Percaya itu harusnya kepada tuhan yang maha esa, bukan hal-hal yang membodohi masyarakat begini!
...PLAKKKKKK...
Seakan tahu apa yang aku pikirkan, Si Mbah mengetok pelan kepalaku dengan keris, "Kamu jangan kebanyakan nonton konten pesulap merah!"
Entah dari mana dia tahu hal itu, padahal setiap kali mau kirim WA saja harus aku yang mengetikkan untuknya karena si Mbah gak bisa baca tulis.
Aku kembali tertunduk menemani si Mbah meditasi, bukan, lebih tepatnya bersila memejamkan mata sambil menghirup aroma menyan di pagi hari.
...────୨ৎ────...
"Kemaren sudah habis? Seratus Ribu itu jatahmu seminggu, Le. Masak Baru tiga hari sudah minta lagi." tawar si Mbah sambil menyodorkan punggung tangannya untuk kucium. "Ya udah, nanti pulang kamu telepon ibumu, biar Mbah yang ngomong!"
"Ya, udah. Panca berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam..."
Aku pun bergegas menuruni bukit untuk menunggu angkot yang menuju ke kampus. Biasanya setiap 30 menit sekali muncul di perempatan itu.
Sambil jalan biar kuceritakan sedikit tentang keluargaku. Kata ibuku, 18 tahun lalu aku dilahirkan di gubuk reyot milik si Mbah, sebelum sekarang menjadi rumah yang layak huni. Ibuku seorang TKW, sudah bekerja di Malaysia menjadi Asisten Rumah tangga 5 tahun sebelum aku lahir. Tapi sampai saat ini aku belum pernah bertemu dengan ayahku sendiri.
Kata ibu, dia berjanji akan membawaku ke Malaysia untuk bertemu dengan ayah. Tapi selalu saja beralasan kalau sekarang belum waktu yang tepat untuk menemui ayah.
Aku sempat curiga tentang siapa ayahku yang sebenarnya. Mendengar cerita Yoana, kalau dia tak sengaja pernah mendengar percakapan Mamanya dengan Ibuku, saat berkunjung ke rumahnya.
Dia bilang kalau ibuku pernah menangis di hadapan mamanya, bingung menjelaskan semuanya kepadaku. Yang intinya aku adalah anak yang tidak dikehendaki olehnya dan majikan tempatnya bekerja. Maka aku di buang di desa ini bersama Si Mbah.
Dan aku masih ingat kata Yoana, "Meskipun kamu anak haram, Panca. Kamu tetap mewarisi darah sultan! Kamu harusnya bangga."
Betul.
Aku harus bersyukur atas diriku, apa pun itu. Karena kehidupanku memang benar diwariskan oleh seseorang, tapi mereka tetap tidak berhak menentukan aku. Bagaimana aku harus hidup dan kemana aku harus menuju. Karena semua kendali ada pada diriku sendiri.
Dan aku juga bangga sama Yoana, kepekaan hatinya sungguh luar biasa. Sampai-sampai dia sudah berada di ujung perempatan menungguku dengan motor matic putihnya.
"Larii, dong! Telat loh kita!" teriaknya sambil membuka kaca helm menunjuk ke arah ku.