NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA 2

SUAMI PILIHAN PAPA 2

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 5
Nama Author: Rahmania Hasan

"Saat matahari tak bersinar lagi, bagaimana rembulan akan bercahaya"

Begitu halnya yang terjadi pada Naura dan Hasan, belajar ikhlas itulah kata yang ditanamkan keduanya di hati walau sangat berat dalam melaluinya. mampukah bertahan? atau menyerah dengan kenyataan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhir dari kebungkaman Hanis

CAPTER 34

AKHIR DARI KEBUNGKAMAN HANIS

Naura mendesak Angga agar lebih cepat lagi berkendara, sangking cemasnya ia setelah mendapat panggilan masuk dari Andik tadi. Kali ini Angga tidak menuruti, berani ia menegur Naura kendati wanita itu tak lain adalah atasannya sendiri.

"Nona, saya ngerti tapi ini sudah kenceng saya nyetirnya! Gimana kalo tiba-tiba di depan ada polisi? Ditilang kita!" ujar Angga menegur sekaligus protes.

Baru beberapa belas menit mulutnya tertutup, tak disangka setelah belokan di boulevard itu mobil polisi terparkir manis di pinggir jalan. Tiupan peluit dibunyikan, tangannya memberi aba-aba agar mobil putih yang dikendarai Angga menepi.

"Ya Allah … Ini Nona, baru diomongin udah nongol! Panjang umur benar!" ujar Angga kesal.

Dengan terpaksa ia mengurangi laju mobil, menepi tepat dua atau tiga meter di belakang mobil polisi. Manisnya polisi itu menyapa, memberi hormat pula; padahal yang dihentikan sama sekali melempar pandangan datar sedikit kesal. Angga yang merasa kecepatannya sudah berkurang kebingungan kenapa ia diberhentikan.

"Selamat sore," ucap polisi itu.

"Sore, Pak!" sahut Angga setelah menurunkan kaca mobil.

Naura yang sedari tadi cerewet kini mulutnya terbungkus ketat. Jangankan mau mengomel, bergumam saja tidak. Saat polisi itu mulai mengintrogasi Angga, ia malah memalingkan muka dengan menoleh ke luar kaca mobil. Angga sempat melirik, bertambah kesal dirinya.

"Tolong keluarkan surat-surat Anda," pintanya.

"Iya, Pak!" jawab Angga.

Berikutnya, laki-laki itu merogoh dompet dari saku belakang celana. Menarik SIM dari dalam dompet dan juga mengeluarkan STNK yang terpasang di gantungan kunci mobil.

"Ini SIM punya, kenapa masih belum paham rambu-rambu dan etika berkendara?!" seru polisi tersebut membuat panas telinga Angga yang merasa tersindir.

"Maaf Pak, pelanggaran apa yang saya lakukan?!" tanya Angga yang tidak mengerti.

"Bapak, ini reting kiri tapi jalan terus! Membahayakan yang di belakang, Pak!" jawab polisi tersebut.

Sadarlah Angga jika ia belum mematikan lampu sein setelah berbelok tadi, bahkan kodenya masih menyala-nyala di setir. Segera ia meminta maaf sekaligus menjelaskan.

"Maaf Pak, saya lupa matikan lampu sein sehabis belok tadi!" sahut Angga berterus terang.

"Lain kali lebih fokus ya Pak saat berkendara! Ini surat-suratnya, silahkan dilanjutkan!" ujar polisi tersebut yang ternyata tidak menilangnya, hanya menegur dan memeriksa kelengkapan surat mengemudi.

Pelan, mobil kembali berbelok ke bahu jalan. Sebelum menjauh dari polisi tadi, lewat kaca mobil Angga mengangkat tangannya. Polisi itu membalas dengan memberi salam hormat.

“Aku pikir kenapa?!” gumam Angga bernafas lega.

Sepanjang jalan pulang Naura tidak lagi bersuara, hal itu cukup mengganggu Angga. Tidak ingin keheningan tercipta, Angga pun bersuara. Merusak kebisuan Naura dan juga lamunannya.

"Nona, maaf tadi saya kurang sopan!" ucapnya menyadari sikapnya yang tadi itu berlebihan.

"Ngomong apa Kamu ini?! Yang salah itu aku, aku yang harus minta maaf!" seru Naura menimpali.

"Lantas kenapa Nona diam?!" tanya Angga masih belum puas.

"Pikiranku nggak tenang, Andik ... kenapa sama dia? Benar yang Kamu omongin tadi pagi itu … bulan apa ini kok banyak yang lagi sakit hati?!" ujar Naura kemudian menghela nafas, memperlihatkan beban pikiran yang menumpuk.

"Jangan terlalu dipikirkan Nona, baik sangka aja!" tegur Angga menasehati.

"Benar Kamu, semoga segala sesuatunya baik-baik saja!" sahut Naura.

Hingga mencapai rumah, pikiran Naura belum juga tenang. Terlebih kala mendapati belum ada motor terparkir di garasi itu. Naura turun lebih dulu, sebelum melangkah ke teras rumah Naura menoleh ke pagar pintu. Berharap pintu itu terbuka, kemudian sosok Andik dan juga Ilyas muncul sehingga lega hatinya.

"Mau saya temani Nona?!" seru Angga mengajukan diri.

"Katanya Kamu ada rencana lain sore ini?! Sudah sana balik, nanti ia yang nungguin Kamu ngambek lagi!" kata Naura menolak. Nyaris saja ia menyetujui, namun tiba-tiba teringat akan omongan Angga tadi pagi.

"Ah Nona ini salah paham! Saya nggak sedang janjian sama orang!" balas Angga.

"Terus perihal apa selain urusan hati?!" tanya Naura lagi, ingin tahu juga.

Angga tidak langsung menjawab, ia malah tertunduk malu. Naura bertambah penasaran, diamatinya raut muka Angga dengan seksama. Bukan Naura jika hanya diam saja, mulutnya terdorong untuk menggoda laki-laki  itu.

"Loh kok malah tertunduk?!" seru Naura.

"Bukan gitu Nona … Sebenarnya saya…." ungkap Angga tapi terhenti.

Tiba-tiba pagar pintu terbuka, sontak pandangan mata Naura serta juga Angga tertuju ke pagar pintu. Senyum Naura mengembang meski tidak sempurna, Hanis nampak berjalan masuk. Terlihat ia yang masih tidaklah terlalu sehat, mukanya juga masih nampak pucat.

Naura sontak bangkit, niatnya tak lain ingin menghampiri Hanis. Namun, tiba-tiba mereka berdua tersentak. Bahkan Naura berteriak, memanggil Hanis yang lunglai tubuhnya.

"Hanis!" jerit Naura, berlari ia mencapai Hanis.

Pun demikian dengan Angga, sigapnya ia berlari juga. Bahkan tanpa diminta Angga meraih tubuh Hanis, mengangkatnya saat itu juga. Naura mengikuti langkah cepat Angga yang membopong tubuh lemas Hanis, ia bahkan berlari membuka pintu.

"Ayo langsung bawa ke kamarnya!" seru Naura.

Naura mendorong pintu kamar itu hingga terbuka lebar, ia mendahului masuk. Menyambut Angga yang menggotong tubuh Hanis di pinggir kasur. Matanya nanar, cemas menatap Hanis yang belum sadarkan diri.

"Nona, sebaiknya lekas hubungi dokter!" perintah Angga menyentak kesadaran Naura yang diselimuti kecemasan.

"Oh iya!" sahutnya.

Berikutnya, ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Nomor kontak dokter Fahmi langsung ia cari di daftar kontak, lalu membuat panggilan keluar. Butuh beberapa kali mencoba hingga pada akhirnya panggilan itu diangkat juga.

"Siapa yang sakit Mba?!" tanya dokter Fahmi tenang, sementara Naura berucap dengan gusar.

"Ini Pak, adik saya! Tiba-tiba pingsan tadi!" jawab Naura segera.

"Ok, saya kesana … ditunggu yang sabar ya!" ucap pak Fahmi kemudian memutuskan panggilan.

Angga yang sedari tadi menunggu Naura selesai menelpon segera berucap, tidak ada kecanggungan baginya kala meminta Naura mengambil air dan juga minyak kayu putih. Naura segera minggat dari kamar, ia berlari ke kamarnya sendiri untuk mengambil kotak obat. Tas yang ia tenteng dilempar begitu saja ke kasur, kecuali ponsel yang ia selipkan pada saku celana tadi. Masih berlari, ia singgah dulu ke dapur, mengambil segelas air putih.

Di dalam kamar Angga berusaha membuat Hanis tersadar kala Naura datang. Segelas air putih ia taruh di meja sedangkan kotak obat ia  letakkan di dekat Hanis. Sayang, saat tutup kotak obat itu dibuka keduanya tidak mendapati minyak kayu putih atau sejenisnya tersimpan di dalam.

"Nona, coba telepon siapa gitu buat beli minyak kayu putih!" perintah Angga lagi.

Naura teringat dengan Andik namun ia tak berniat untuk menghubungi laki-laki itu. Di pikirannya justru Ilyas yang terbersit. Lekas Naura mengeluarkan ponsel yang tadi ia selipkan ke saku, membuat panggilan keluar. Namun sayang, panggilan itu tidak bisa terhubung meski sudah dicoba berkali-kali.

"Aku keluar dulu!" seru Naura dan meminta kunci mobil.

Setelah menyambar kunci mobil Naura berlari keluar, lekas ia mencapai garasi secepatnya. Menempelkan tangan agar pintu terbuka, kemudian mencapai mobil putih. Namun baru saja ia menekan remot tiba-tiba pintu pagar terbuka. Urung Naura membuka pintu mobil, ia menoleh; memperhatikan siapa yang muncul di balik pagar pintu itu.

"Andik!" seru Naura.

Berlari ia keluar dari garasi, tangannya terangkat. Berlambai-lambai, memberi kode agar laju motor Andik lebih cepat.

"Ada apa Mba?!" tanya Andik cemas lantaran melihat wajah cemas Naura.

"Hanis, dia pingsan tadi!" seru Naura panik.

Seketika tangan Andik memutar kunci sementara kakinya mendorong standard samping motor, ia berlari memasuki rumah. Mengabaikan Naura yang masih berdiri di dekat motornya.

"Hanis!" panggil Andik.

Angga bergeser, memberi ruang bagi Andik datang. Laki-laki itu dengan cekatan meraih telapak kaki Hanis setelah melepas kerudung ia dikenakan wanita itu. Kedua tangannya menekan-nekan telapak dalam kaki Hanis, beberapa senti dari jari manis kaki. Terus ia memijat bagian itu agar peredaran oksigen ke otak kembali normal. Kemudian beralih menekan salah satu jempol kaki wanita itu. Butuh dua kali percobaan hingga tubuh Hanis menggeliat; merasakan sakit. Mata wanita itu perlahan terbuka seiring dengan rintihan kesakitan yang terdengar.

Spontan Andik naik ke atas kasur, meraih kepala Hanis untuk diposisikan lebih tinggi. Namun tak seberapa lama dalam posisi itu Andik menangkup kepala Hanis, menyeretnya ke dekapan, kemudian tangan kirinya mengelus kepalanya.

"Kenapa sampai gini? Ada masalah ceritakan ke aku jangan disimpan sendiri!" ucap Andik berat, menahan air mata agar tidak terjatuh.

Mulanya Hanis yang sudah tersadar masih terlihat setengah linglung, namun detik berikutnya wanita itu menangis juga. Mukanya semakin ia sembunyikan ke dada Andik, tangan Andik dengan sendirinya mempererat dekapan. Angga hanya mampu diam, menyaksikan adegan itu dengan kebingungan harus bersikap bagaimana.

Naura sudah mencapai tengah pintu kala matanya menangkap adegan itu. Air matanya keluar juga, tidak tega mendengar tangis Hanis yang mungkin sudah tertahan selama ini. Hampir sama dengan Naura, laki-laki itu pelan namun pasti bangun dari duduknya di tepi kasur.

"Tadi Nona sudah telepon dokter," ucapnya tidak tahu harus berbuat apa.

Andik tidak menjawab, terus ia mendekap kepala Hanis. Sementara kepalanya sendiri tertunduk, berucap rendah; menenangkan tangis Hanis.

Naura mengalihkan pandangan, tak sengaja gelas berisi air putih yang ia letakkan di meja tertangkap juga. Dengan sendirinya kaki Naura melangkah mencapai meja, tangan kanannya mengambil gelas itu lalu mendatangi mereka yang di atas kasur.

"Ini," ucap Naura, menyodorkan gelas itu ke Andik.

Kepala Andik terangkat perlahan, melihat tangan Naura menyodorkan segelas air putih seketika tangan kirinya menuntun wajah Hanis, kemudian mengusap pipi wanita itu. Gelas yang sudah disodorkan, Andik ambil kemudian. Ia membantu Hanis meneguk air putih itu hingga tersisa separuh.

Cekatan, Naura meraih kembali gelas dari tangan Andik dan menaruhnya di meja yang tadi. Ia hendak duduk di tepi kasur kala suara bel pagar pintu berbunyi. Urung niatnya untuk duduk, dengan langkah cepat ia keluar.

"Pasti dokter Fahmi," gumamnya sambil berlari melewati halaman.

Benar juga, mobil hitam yang dikendarai sendiri oleh dokter Fahmi melenggang masuk. Namun tak sampai depan garasi, itu lantaran terhalang oleh motor Andik yang terparkir di tengah-tengah jalan.

Berlari Naura ke depan mobil hitam itu, meski ia tidak pernah memegang motor setidaknya ia berusaha mendorong motor itu hingga menuju depan garasi paling tidak. Tenaganya yang tidak pernah latihan mengangkat benda-benda berat membuat Naura kewalahan, terlebih motor besar seperti itu. Nyaris saja ia hilang keseimbangan kala sampai pada jalan yang menanjak. Syukur dengan cepat dokter Fahmi datang membantu, ia kemudian yang mengambil alih memasukkan motor itu hingga ke dalam garasi.

"Makasih Dokter!" ucap Naura tidak nyaman.

"Santai aja Mba," sahut dokter Fahmi.

Bersama dengan Naura ia berjalan memasuki rumah, menuju kamar Hanis langsung. Naura memberi isyarat pada Angga dan juga Andik agar memberi tempat pada dokter Fahmi. Seketika Angga pindah, sedangkan Andik merebahkan kembali Hanis barulah kemudian ia turun setelahnya dari kasur.

Sebelum betulan enyah, tangannya mengambil kotak obat yang berada di tepi kasur. Kotak obat itu ia pindahkan ke meja. Tepat pada saat meletakkan kotak obat, sesuatu terlintas di kepala Andik. Melangkah diam ia mendatangi Naura, berbisik pada wanita itu.

"Mba, tasnya Hanis mana?!" tanyanya.

"Tasnya Hanis?! Oh itu di meja luar!" jawab Naura menunjuk ke ruang keluarga.

Andik tidak bertanya lagi, ia melangkah tenang keluar dari kamar. Masih tak bersuara, ia mengambil tas Hanis; memeriksa apakah terdapat ponsel di dalamnya. Sepertinya keberuntungan berada di tangan Andik, ponsel itu tersimpan di kantong dalam tas. Segera tangan Andik mengeluarkan ponsel tersebut, sambil berdiri dan masih memegang tas ia nyalakan segera. Berangsur Andik melangkah ke kursi, menjatuhkan diri namun pandangan tetap fokus pada layar ponsel.

Tas yang tadi ia pegang diletakkan ke kursi, di samping dirinya. Jari Andik terhenti pada nomor kontak yang tidak tersimpan, segera ia buka chat dari nomor itu. Dadanya berdebar hebat,megegang manakala membaca setiap chat yang dikirim. Terlebih kala melihat beberapa foto yang dikirim Boy, matanya terbelalak seiring debaran dadanya yang bertambah kencang saja.

"Ya Allah…." gumamnya tidak siap memutar video.

Melihat foto-foto itu saja sudah membuat dadanya semakin terhimpit apalagi dengan rekaman video. Andik terdiam lemas, seolah tak memiliki urat lagi tubuhnya. Nyaris saja ponsel itu jatuh, syukur sukmanya kembali menyatu. Menyisakan sedikit keberanian kala memutar video rekaman tersebut.

Oh, sungguh hancur hatinya kini. Wanita yang baru saja mengisi setiap relung jiwa terlihat tengah berdua dengan seorang pria yang tidak asing baginya. Tidak hanya sekedar berdua, sekalipun ia menyadari hal itu sepertinya sudah menjadi tindakan biasa di abad milenial ini, namun tetap ia tidak bisa mengatasi gejolak yang ditimbulkan.

Andik mencoba tegar, rasa ingin tahu akan kelanjutan dari rekaman itu mengusik dirinya. Memberi dorongan agar ia memutar video tersebut hingga akhir.

"Ya Allah," ucapnya kala video itu lanjut berputar.

Siapa yang tidak terusik? Baginya kala melihat wanita yang ia kasihi tengah berdua dengan seorang pria, tentulah meruntuhkan jiwanya, hatinya terutama. Emosi sempat mendominasi, mengekang jiwanya yang tersakiti dan amat kecewa. Untungnya ia masih teringat menyebut sang Pencipta, beristigfar lewat mulutnya yang masih kaku.

Andik sadar, salah jika ia menghakimi Hanis. Terlebih yang ada pada video itu jauh sebelum mereka saling bertukar pandang; memiliki rindu terpendam di dada.

Andik tak menyelesaikan video yang ia tonton meski kurang beberapa detik lagi. Cukup sudah asal tahu saja. Belum tenang dirinya kala tiba-tiba Ilyas muncul. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, dengan santainya mendatangi Andik.

"Kenapa sama dirimu?" tanyanya.

Andik menengadah, wajahnya lesu bercampur murung. Tak seperti bawaannya yang senantiasa ramai dan slenge'an. Ilyas tersentak, duduklah ia segera di dekat laki-laki itu.

"Ada apa?!" tanyanya setengah berbisik.

"Hanis," ucap Andik sepatah kata. Tak mampu ia meneruskan, terlalu sesak dadanya.

"Hanis?!" seru Ilyas cukup kaget.

Andik menunjuk ke kamar Hanis yang terbuka lebar, bangkitlah Ilyas. Berjalan pelan ke kamar itu, ia sempat terhenti di tengah-tengah pintu. Melihat Angga dan juga Naura di sana, serta seorang dokter Ilyas berhambur masuk kemudian.

"Mba, kenapa sama Hanis?!" tanyanya di dekat telinga Naura.

"Oh Kamu?! Tadi aku telpon tapi kok nggak nyambung?!" kata Naura balik bertanya.

"Maaf Mba, hp ku tadi pagi lupa nggak dicas jadinya ngedrop, terus cesan ku ketinggalan!" kata Ilyas berterus terang.

"Hanis, kenapa Mba?!" tanyanya lagi sambil menoleh ke Hanis yang masih ditangani oleh dokter Fahmi.

"Tadi dia pingsan," jawab Naura singkat.

Tidak ada pertanyaan lagi yang keluar dari mulut Ilyas, laki-laki itu hanya fokus memperhatikan Hanis. Langkah Angga pelan kala mendekati Naura dan Ilyas yang berdiri berdampingan.

"Nona, maaf saya pamit dulu ya," ucapnya izin balik lebih dulu.

"Oh iya, makasih ya Angga," sahut Naura.

Ia juga mengantar Angga hingga teras rumah, serta ia tak langsung masuk lagi melainkan menunggu Angga keluar dari garasi. Saat laki-laki itu muncul dengan motornya yang melaju rendah, Angga mengangkat tangannya.

"Hati-hati!" ujar Naura juga melambaikan tangan.

Angga sudah tak terlihat lagi, segera Naura balik ke dalam. Namun langkahnya terhenti kala mencapai ruang keluarga. Melihat sosok Andik duduk membisu, ia tak tega melihatnya. Naura berjalan mendatangi laki-laki itu, tangannya mendarat ke lengan Andik seraya berkata. "Jangan terlalu dipikirkan, Hanis sudah diperiksa sama dokter Fahmi."

"Mba…." ucap Andik berat suaranya kala berucap.

Naura tercengang manakala mendengar nada suara yang tak biasa itu. Tak kuasa  hanya diam saja, diraihnya tangan Andik untuk digenggam. Memberikan dukungan agar laki-laki itu tak merasa sedih.

Seketika Andik tertunduk, mulutnya terkunci pula. Tangan Naura yang kosong, mendarat ke punggung Andik. Diusapnya punggung itu, sementara mulutnya terangkat bicara.

"Kenapa Kamu? Ada hal lain?" tanyanya.

"Mba, Hanis dalam masalah," ungkap Andik menimpali pertanyaan Naura.

Dua alis Naura ringsek seketika, dahinya nampak tegang kala mengamati Andik. Mulutnya dengan sendiri berucap lagi.

"Masalah?!" seru Naura. Andik mengangguk pelan, menegaskan.

"Masalah apapun asal kita hadapi bersama pasti bisa diselesaikan, jelaskan sama mba masalah apa yang lagi dihadapi?!" kata Naura, menuntut penjelasan lebih dari Andik.

Laki-laki itu tidak segera membuka mulut, ia masih menenangkan diri agar bisa menjelaskan semuanya.  Perlahan, kepala Andik terangkat bersamaan dengan mulutnya yang terbuka. Ia hendak menceritakan apa yang sedang dihadapi Hanis kala Ilyas memanggil mereka berdua.

Sontak keduanya bangkit dari kursi itu, tak jadi membahas hal lain. Mereka berjalan cepat mendatangi kamar Hanis. Naura terus melangkah ke depan, mendatangi dokter Fahmi sementara Andik terhenti langkahnya di samping Ilyas.

"Gimana dokter?!" tanya Naura segera.

"Jangan cemas, tidak ada masalah serius namun adik ini butuh refreshing atau ketenangan mungkin, dia dalam tekanan yang menyebabkan hormon pemicu stres naik!" tutur dokter Fahmi menjelaskan.

"Saya sudah resepkan obat dan juga vitamin," imbuh dokter Fahmi.

Kemudian, dokter Fahmi mengemasi peralatan medis yang ia bawa. Andik mengambil peran, mendatangi Hanis yang terbaring di atas kasur.  Sementara itu, dengan kesadaran sendiri Naura mengantar dokter Fahmi, namun sebelum keluar dari kamar ia menyerahkan resep obat pada Ilyas.

"Bagi tugas," ucap Naura, mengedipkan mata.

Kedipan itu tak pelak memancing senyum terjalin di wajah Ilyas. Kemudian, laki-laki itu berpamitan pada Andik untuk membeli obat. Melaksanakan dengan segera tugas yang dilimpahkan padanya.

"Dik, aku keluar dulu!" ucapnya lalu keluar segera.

Tinggallah Andik dan Hanis di kamar itu, namun tidak ada percakapan diantara keduanya. Hingga Naura kembali dan bergabung bersama mereka, keheningan menyelimuti.

"Hanis, kalo ada masalah jangan dipendam sendiri, akibatnya nggak baik ke tubuh kita!" kata Naura menegur sambil duduk di tepi kasur.

"Itu dengerin kata Mba, jangan coba diselesaikan sendiri!" sambung Andik.

"Sekarang coba cerita ke kita, apa masalah itu? Kita semua pasti akan membantu, nggak akan ngebiarin Kamu terjatuh sendiri!" lanjut Naura.

Ia bertambah jeli menggiring Hanis untuk bisa buka suara. Dan semua itu tak lepas dari perkataan dokter Fahmi tadi selagi ia mengantarnya hingga teras rumah. Inti dari kondisi Hanis saat ini tak lain dari tekanan pikiran, itu menurut dokter Fahmi. Ia juga meminta Naura untuk menangani segera, atau jika perlu membawa wanita itu pada konseling. Mulut Hanis kekeh membisu, ada banyak ketakutan yang mengekang dirinya.

Tak tahan juga, akhirnya lepaslah perkataan yang cukup menyentak Naura dari mulut Andik, terlebih Hanis.

"Hanis, aku berjanji laki-laki itu pasti akan mendapat ganjaran dari perbuatannya, aku akan pastikan dia mendekap di penjara!" kata Andik yang sudah tak bisa menahan diri.

Mata Naura mendelik, setengah menganga mulutnya kala menatap Andik. Sudah kadung terlanjur, akhirnya Andik buka mulut. Namun ia tidak memberitahu darimana ia mengetahui masalah itu. Ia mengambil jalur aman, yakni dengan menceritakan apa yang tadi ia perbuat saat dokter memeriksa wanita itu.

"Kalo Kamu menyimpan semua ini karena takut aku akan marah atau kecewa, ya itu benar! Aku memang kecewa, marah tapi aku akan lebih kecewa dan marah kalo Kamu nggak jujur padaku, nggak terbuka ke aku!" lanjut Andik berbicara, mencoba melegakan hati Hanis supaya bersedia terbuka dan berbagi beban itu.

Bukannya menanggapi, Hanis malah bangun dari posisi baringnya. Tak peduli dengan kehadiran Naura, wanita itu menjatuhkan diri ke pelukan Andik.

"Maafkan aku…." ucapnya berat, di balik isak tangisnya.

Sama dengan wanita itu, Andik mengabaikan kehadiran Naura juga. Ia membalas pelukan Hanis, bahkan tangan kanannya menangkup kepala belakang Hanis.

Tak terlintas di benak Naura meski dihadapkan pada adegan pelukan, baginya itu adalah hal wajar di antara saudara, seperti dirinya dan Andy.

Pergolakan emosi pada diri Hanis berangsur melemah, setelah melepaskan diri dari pelukan Andik wanita itu mulai bercerita. Ia juga bahkan bercerita mengenai foto serta rekaman itu, ia tidak menyangkal namun juga bersumpah tidak lebih dari yang terekam.

Andik tidak berkomentar, sebaliknya laki-laki itu justru mengeluarkan ponsel miliknya sendiri. Kemudian, ia menghubungi nomor kontak Ilham.

"Iya Dik, ada apa?!" tanya Ilham begitu mengangkat panggilan telepon.

"Kamu dimana, Ham?!" Tanya Andik balik.

"Aku lagi di jalan, ini ngisi bensin dulu! Kenapa Dik?!" tanyanya balik.

"Ham, bisa nggak mampir ke sini? Ke rumahnya mas?!" sambung Andik.

"Sekarang?!" timpal Ilham.

"Iya," sahut Andik singkat.

"Ok, aku langsung kesana!" balas Ilham dan menutup panggilan.

Hampir bersamaan sampainya Ilham dan Ilyas di rumah Hasan, namun lebih dulu Ilyas. Saat motor itu menunggu pagar pintu bergeser terbuka, dari belakang terdengar bunyi klakson. Ilyas menoleh, "Loh Kamu, Ham?!" seru Ilyas kaget.

"Ayo buruan masuk!" sahut Ilham. Kemudian mendahului Ilyas yang terhenti tadi, menerobos masuk ke depan garasi.

Bersamaan mereka memasuki rumah, tangan Ilyas menenteng kantong tas kecil yang berisi obat. Begitu mencapai ruang keluarga, Ilyas memanggil Andik. Memberitahu laki-laki itu akan kedatangan Ilham.

Tidak hanya Andik yang bangkit, Naura juga ikutan bangkit. Namun baru hendak berjalan kakinya terpaksa berhenti. Andik menoleh, "Iya!" ucapnya.

Naura yang juga terhenti dan menoleh lanjut berjalan, membiarkan Andik mengurus Hanis terlebih dulu.

"Kakak…." panggilnya lagi.

"Ada apa?!" sahut Andik sambil berjalan merapat.

"Aku ikut…." seru Hanis, memelas.

Senyum Andik dipaksa mengembang, meski sukar baginya untuk bersikap normal, apalagi santai. Ia ulurkan tangannya ke wanita itu, sembari membantunya turun.

"Kenapa nggak tiduran aja?!" tegurnya.

"Aku nggak ingin sendirian," sahut Hanis mencengkeram lengan Andik.

Di ruang keluarga tengah terlibat diskusi serius, Naura menceritakan apa yang tengah dihadapi Hanis kini pada Ilham. Andik membimbing Hanis duduk bersama dengannya. Bersama mereka, Andik ikut berdiskusi.

"Menurutku, kalau dia punya rekaman kayak gitu, itu artinya memang sudah disengaja, bisa jadi sudah direncanakan di awal!" tutur Ilham menyampaikan analisa singkatnya setelah mendengarkan cerita versi Naura.

"Benar juga, apalagi sebelum pemerasan dia sudah suka pinjam uang! Jelas nggak beresnya!" tambah Ilyas.

"Terus gimana Ham? Apa Kamu punya rencana?! Atau kita langsung lapor polisi?" lanjut Andik memeras otak Ilham.

"Emm … Kita ikuti aja sesuai permainannya," sahut Ilham.

“Mengikuti permainan?!” seru Ilyas serta Andik.

"Aku setuju, urusan hukum kita serahkan pada David! Biar dia jatuh karena perbuatannya sendiri!" sambung Naura menyumbang pendapat.

"Hanis, apa cowok itu punya akun sosmed?!" Ilham melempar tanya pada Hanis.

"Ada Kak, tapi aku nggak ngerti masih bisa buka akunnya apa nggak?!" jawab Hanis.

"Coba tunjukkan ke aku!" pinta Ilham.

Setelah mendapatkan apa yang diminta dan mencoba mencari akun itu lewat miliknya, Ilham menghubungi seorang teman.

"Nelfon siapa Ham?!" tanya Ilyas.

"Biasa … si Erik!" jawab Ilham sambil menunggu panggilan dijawab.

Setelah panggilan terangkat, Ilham lekas menjelaskan apa yang ingin ia dapat dari laki-laki itu.  Namun tadi ia sedikit berbasa-basi lebih dulu, meski Erik sudah bisa menebaknya.

"Ok, gampang itu … mana akunnya?!" sahut Erik menerima permintaan Ilham.

"Habis ini aku kirim Bro," balas Ilham.

"Yoi, ditunggu!" balas Erik.

Tanpa jedah, Ilham mengirim foto serta video yang tadi sudah di bluetooth olehnya ke ponsel sendiri, tentu setelah mendapat izin dari Hanis.

"Kita tunggu hasil dari Erik, aku yakin itu cowok bukan sekali ini saja meras cewek … begitu ada info nanti aku kabari lagi!" ujar Ilham pada semuanya.

"Kira-kira berapa lama, Ham?!" tanya Andik tidak sabar dengan hasil yang diperoleh.

"Sabar, besok atau lusa pasti sudah ada informasi seputar itu anak!" jawab Ilham menenangkan ketegangan Andik.

"Sekarang itu yang terpenting gimana caranya Hanis bisa nyiapin uang seperti yang diminta itu anak!" lanjut Ilham.

"Soal itu serahkan ke aku, sehari sebelum eksekusi aku pastikan ada!" sambung Naura turut andil.

“Kayaknya butuh hal lain juga dah Mba nanti!” sambung Ilham yang di otaknya mulai merancang sebuah rencana kecil, membelokkan permainan saja.

“Jangan khawatir, semua yang dibutuhkan serahkan sama mba!” balas Naura.

Untuk saat itu Ilham masih belum mengungkapkan rencananya, jaga-jaga saja khawatir tidak seperti analisa dirinya sekarang.

Sebelum pamit pulang, Ilham berpesan agar semua chat yang masuk dari Boy tidak dihapus. Dan juga jika laki-laki itu menghubungi kembali, Ilham meminta Hanis bersikap tenang, ikuti saja permainan yang ada. Ilham juga mengajarkan Hanis mengulur waktu jika laki-laki itu menyinggung masalah uang yang diminta.

"Iya Kak," ucap Hanis rendah.

"Kalo gitu aku balik dulu, kasihan istriku sendirian!" ujar Ilham berpamitan.

"Alah pakai alasan Veny," ujar Ilyas menggodanya.

"Nanti kalau Kamu sudah punya istri ya bakal ngelewatin kehidupan kayak aku ini, Yas!" timpal Ilham tidak terima.

"Ya sudah buruan balik, salam buat Veny!" sambung Naura.

"Keterlaluan benar Mba ini, habis manis sepah dibuang!" sahut Ilham.

Naura terkekeh, bangkitlah ia dari duduknya hanya untuk mengantar Ilham. Disusul oleh Ilyas, laki-laki itu ikutan bangkit; mengantar Ilham bersama dengan Naura.

Di dalam tinggal Andik dan Hanis, keheningan tercipta di antara mereka. Namun tiba-tiba Andik berucap, "Jangan takut, kita semua ada buatmu! Terutama aku….”

"QUESTION"

Jika kalian menjadi tokoh Andik, bagaimana sikap kalian???

Please ... write ur answer🙏

1
Susy Hermaningshih
Hiii ... mba Rachma belum lanjut menulis lagi yaaa ... Swlemiga di thn baru ini mulai semangat lg utk menulis, ibu tunggu lanjutan ttg Naura n Hasan nya ... Semangat mba Rachma😍
Susy Hermaningshih
Hiii ...thor ...msh berlanjutkah cerita bagus ini???, Semoga masih ya nanggung soalnya ...
Ditunggu up nya .... Sehat selalu, semangat thor /Drool/
Yosephine Nidya Ayu Puspajati
Thor itu trs Hasan pisah sama Salma gimana ceritanya? tau² Hasan sudah sendiri saja
Neni Lontong Naura Niken
kok lama banget jeda nya kak. di tunggu nih lanjutan Hasan dan Naura nya
Sukar Miyati
Beneran nangis dibuatnya.
Sukar Miyati
Ayo semangat...
Lanjutkan dan tuangkan ide kreatifmu Tor ! 😍
Rahmania: terimakasih,, sya sudah vakum menulis...
total 1 replies
Jusmiati
Thor sy jadi bingung, wanita kan memiliki masah Iddah selama 4 bulan, kok langsung dinikahkan begitu aja sih...
Jusmiati
ini Salma kok mau-maunya menikah, apa gunanya nikah sama lelaki yg enggak cinta sama kita, yg ada makan hati dong nantinya...
Jusmiati
jadi ikut ngiler deh dgn rujak nya 🤤🤤🤤
Jusmiati
pak Malik menikah beda akidah ya Thor...🤔🤔🤔🤔
Endang Werdiningsih
maaf ga lanjut baca ya.....
Endang Werdiningsih
hati bisa berbagi buat orang tua ke anak"a,,,antar anak aja bisa ada rasa saling cemburu,,, jgn buat naura jd menyek" demi berbakti kpd suami merelakan hasan berbagi tubuh.... jgn pernahenyakiti hati satu wanita demi kebahagiiaan wanita lain... karena tdk akan ada satu manusiapun yg bisa adil dimuka bumi ini.. jika hasan mau menikahi salma lepaskan naura,,, jika terjadi poligami,,, maaf lsg stop baca novel ini...
sy anti yg nama'a poligami....apalagi yg dipoligami janda muda yg msh bisa melindungi diri sendiri,,,jgn sedikit" mengatas namakan sunnah mengikuti baginda nabi junjungan kita Muhammad SAW...
Endang Werdiningsih
jika semua bisa jujur dr hati terdalam,,,tdk ada yg nama'a rela berbagi suami....
pak yai pinter yaaaa,,, anak'a sdh janda trus disodorin sama orang yg akhlak'a baik spt hadan,,,, knapa ga dari hasansh bujang aja djodohiin...
jgn karena ingin anak'a bahagia pak yai relaengorbankan perasaan orang lain....
Endang Werdiningsih
naura rubahlah cara berbelanjamu,,, walau dimanfaatkan buat berbagi tp setidak'a hargai perjuangan hasan buat mengumpulkan uang....
secara tdk lsg hasan sering mengeluhkan kebiasaan naura
Muda MACMUDAH
thor biar angga balik ama lusi aja thor kasian lusi😞😞
Endang Werdiningsih
tinggal pilih ilyas,,, maria apa ira...... kalo matia terkendala keyakinan ga ya,,,, kalau terkendala ya jgn atuh ya ilyas
Endang Werdiningsih
ilyas sama ira saja,,,, lucu mereka berdua.... ga jadi dukung ilyas sama indah. 😀
Endang Werdiningsih
ga pernah respect sama lisa.... biar angga sama lusi,,, ilyas sama indah...
Muda MACMUDAH
ceritanya gimana ni thor katanya saudara kok bs berciuman thor🙏🙏🙏
Sugiono Sugiono
kok g lanjut2 ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!