NovelToon NovelToon
PERISAI MALAM

PERISAI MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Kaya Raya / Keluarga / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU

Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Liburan keluarga bastiian (1)

Keesokan harinya, matahari pagi menyinari kediaman keluarga Bastian dengan cahaya hangat yang perlahan mengusir sisa dingin malam. Sinar keemasan itu menembus jendela-jendela tinggi, menyentuh lantai marmer dan dinding berwarna lembut, menciptakan suasana damai yang jarang dirasakan rumah itu selama beberapa tahun terakhir.

Biasanya, rumah ini sunyi. Terlalu sunyi.

Clarissa sibuk dengan pekerjaannya, Safira tenggelam dalam dunia kampus, dan Adrian terikat oleh jadwal latihan serta disiplin taruna yang ketat. Namun pagi ini berbeda. Ada suara langkah kaki, ada tawa kecil, ada kehidupan.

Clarissa terbangun lebih dulu. Ia duduk sejenak di tepi ranjang, menghela napas panjang, menikmati rasa tenang yang jarang ia izinkan masuk ke dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak terburu-buru mengejar rapat atau tenggat waktu.

Ia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.

Air hangat mengalir membasahi tubuhnya, membawa pergi sisa lelah yang selama ini menumpuk di bahunya. Clarissa memejamkan mata sejenak di bawah pancuran, membiarkan pikirannya kosong.

Ada rasa syukur kecil yang mengendap di dadanya—karena pagi ini, ia tidak sendirian.

Empat puluh menit kemudian, Clarissa keluar dari kamar mandi. Rambut panjangnya masih setengah basah, ujungnya meneteskan air ke lantai. Ia sudah berganti pakaian santai, jauh dari setelan formal yang biasa melekat padanya.

Matanya langsung tertuju ke ranjang Safira.

Adiknya itu masih terbaring, berselimut hingga dagu. Matanya sudah terbuka, menatap langit-langit kamar, tapi tubuhnya sama sekali belum menunjukkan niat untuk bangun.

Clarissa berjalan ke meja rias, duduk, lalu menyalakan pengering rambut. Suara dengung lembut memenuhi ruangan. Sambil mengeringkan rambut, ia melirik Safira dari sudut mata—dan tak bisa menahan senyum kecil.

Setelah selesai, Clarissa mengoleskan skincare dengan gerakan pelan dan teratur. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—lebih rileks, lebih manusiawi.

“Safira,” panggilnya lembut.

“Hmm?”

“Kamu belum mandi?”

Safira menguap lebar, lalu menarik selimut lebih tinggi.

“Aku sudah bangun, Kak… tapi rasanya selimut ini jahat. Dia tidak mau melepas aku.”

Clarissa menghela napas, setengah kesal, setengah gemas.

“Astaga, anak ini. Sudah pagi, Safira. Bangun. Jangan kalah sama selimut.”

“Sebentar lagi…” gumam Safira malas.

Clarissa berdiri, mendekat, lalu menarik lengan adiknya perlahan namun pasti.

“Tidak ada ‘sebentar lagi’.”

“Aaa, Kak!” Safira tertawa sambil duduk paksa. “Kakak kejam!”

Saat itulah suara langkah kaki terdengar dari luar kamar.

“Berisik sekali pagi-pagi,” suara Adrian menyela, diikuti tawa kecilnya.

Ia berdiri di ambang pintu, handuk kecil tergantung di bahunya, rambutnya masih sedikit basah. Wajahnya segar, tubuhnya tegap—kontras dengan Safira yang masih setengah mengantuk.

“Kalian ini benar-benar tidak berubah,” ujar Adrian. “Aku sudah mandi, sudah sarapan, bahkan siap bantu bersih-bersih rumah.”

Safira menatapnya dengan mata menyipit.

“Sombong amat, Dek.”

Clarissa tertawa kecil.

“Kalau begitu, Tuan Rajin.Tapi jangan sok jago dulu. Tugasmu hari ini bantu Ibu di dapur.”ujar Calrissa

Adrian langsung mengeluh dramatis sembari memasang wajah menderita.

“Dapur? Lagi? Aduh, Kak, jangan sakiti hatiku di pagi hari seperti ini. Pagi pagi sudah dapat cobaan.”

Safira ikut tertawa.

“Tenang saja, Adrian. Aku bisa jadi partnermu. Kita adu siapa yang paling jago masak. Yang kalah cuci piring” ujar safira

Adrian menyeringai.

“Ayo, siapa takut. Aku tidak pernah menolak tantangan. Jangan nangis nanti.” goda Adrian

Clarissa menggeleng pelan lalu menunjuk Safira.

“Baik, baik. Tapi sebelum kalian beraksi di dapur. Kamu mandi dulu. Lihat dirimu—berantakan sekali.”

Safira refleks melihat bayangannya di cermin. Rambut acak-acakan, wajah kusut.

“Oke… oke. Aku mandi sekarang,” katanya pasrah.

Ia berlari kecil ke kamar mandi, sementara Adrian kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Clarissa membuka laptop sebentar, membaca beberapa pesan masuk, yang di kirim oleh asisten nya.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, ketiga saudara itu turun ke ruang tamu bersama. Clarissa membawa tas dan laptopnya, Safira tampak lebih segar, dan Adrian sudah siap dengan pakaian santai.

Langkah kaki mereka terdengar menuruni anak tangga.

Elisabet muncul dari dapur mengenakan apron, senyumnya merekah.

“Wah, anak-anakku sudah bangun semua. Bagus! Hari ini kita masak bareng, lalu buat pesta kecil di halaman.”

Armand yang duduk di ruang keluarga tersenyum sambil menyeruput kopi.

“Ini baru liburan yang nyata. Rumah akhirnya hidup lagi. Ayah suka.”

Elisabet kembali ke dapur untuk mulai memasak. Clarissa mengikutinya dan meletakkan tas serta laptop di sudut meja.

“Baik, Bu. Tunjukkan resep hari ini. Aku siap jadi asisten,” ujar Clarissa sambil tersenyum nakal.

Safira dan Adrian ikut bergabung. Safira mengambil mangkuk dan spatula, sementara Adrian menyiapkan bahan-bahan.

Hari itu mereka membuat beberapa jenis kue dan hidangan berbahan dasar tepung.

“Adrian, jangan sampai tepungnya berterbangan lagi seperti kemarin,” tegur Clarissa sambil menahan tawa.

“Kak, itu bagian dari seni memasak. Namanya kreativitas,” jawab Adrian santai.

Dapur kembali ramai. Tepung ditimbang, adonan diaduk, dan sesekali terdengar teriakan kecil saat Adrian menaburkan tepung terlalu semangat.

“Adrian!” teriak safira

“Maaf, Kak. Refleks atlet.” ujar Adrian dengan wajah polos nya

Tawa pun pecah.

Elisabet hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya.

“Kalian ini memang selalu punya cara sendiri membuat dapur ramai. Tapi Ibu senang… rasanya lengkap.”

Dapur dipenuhi suara tawa, bunyi alat masak, dan aroma adonan yang dipanggang. Clarissa mengatur langkah, Safira menimbang bahan dengan serius, sementara Adrian menjadi tukang aduk sekaligus tukang cicip diam-diam.

Tak terasa, aroma masakan menyebar ke seluruh rumah.

“Hidangannya sudah selesai! Tadaa!” seru Adrian dengan bangga.

Armand dan Elisabet menatap anak-anak mereka dengan penuh kebanggaan.

“Lihat anak-anak kita,” ujar Elisabet terharu.

“Dari kecil sampai sekarang, selalu bisa membuat rumah ini penuh tawa.

“Kamu benar, Sayang. Mereka memang hebat,” puji Armand.

Karena dapur sudah berubah jadi sedikit kacau, Elisabet menyuruh ketiga anaknya membersihkan diri sebelum makan. Mereka pun langsung menuruti, sementara para pelayan membersihkan dapur.

...****************...

Menjelang malam, ketiga kakak-beradik turun kembali dari kamar masing-masing. Armand langsung mengarahkan mereka ke halaman belakang.

Meja makan telah ditata sederhana namun indah—lampu gantung kecil, bunga segar, dan piring berwarna cerah.

“Wah, cantik sekali,” ucap mereka hampir bersamaan.

“Apa Ayah yang menatanya?” tanya Safira.

Armand mengangguk bangga.

“Sudah, nanti dulu kagumnya. Ayo duduk,” ujar Elisabet.

Mereka duduk bersama. Makan. Tertawa. Berbagi cerita kecil yang selama ini terlewat.

Mereka makan bersama, tertawa, dan berbagi cerita.

“Ini lebih enak dari restoran,” komentar Adrian.

Safira mengangguk.

“Karena kita masak bersama. Ada cinta di setiap suapan.”

Clarissa tersenyum, menatap kedua adiknya.

“Dan ini baru awal liburan kita.”

“Benar!” sahut Adrian bersemangat.

Tawa kembali pecah.

Para pelayan yang melihat pemandangan itu ikut merasa haru. Akhirnya, tuan dan nyonya mereka bisa kembali tertawa lepas bersama anak-anaknya.

Clarissa menatap kedua adiknya. Untuk sesaat, dunia terasa utuh.

“Semoga waktu berhenti di sini,” pikirnya.

Namun jauh di lubuk hatinya, ada perasaan samar—tenang ini terlalu sempurna. Seolah hanya jeda sebelum sesuatu yang lebih besar datang.

Hari itu, rumah keluarga Bastian benar-benar dipenuhi kehangatan—tawa, aroma masakan, dan kebersamaan yang telah lama dirindukan. Setiap detik terasa begitu berharga, karena mereka tahu: momen bersama keluarga adalah hal paling mahal yang tak bisa digantikan apa pun.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Dan tanpa mereka sadari, bayangan masa lalu perlahan mulai bergerak mendekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!