"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Operation: Super Dad (Gagal Total)
"Ini Black Card dan voucher VVIP Royal Spa. Paket full body treatment durasi delapan jam. Supir sudah menunggu di depan."
Cayvion menyodorkan kartu emas itu ke arah Hara yang sedang menyisir rambut Elia di ruang tengah. Minggu pagi yang cerah, tapi wajah Hara masih mendung, sedingin es batu di kutub utara.
Hara menatap kartu itu, lalu menatap wajah suaminya. Dia tidak bertanya, tidak berterima kasih, dan tidak tersenyum.
Dia mengambil kartu itu, berdiri, mencium kening Elio dan Elia sekilas, lalu berjalan keluar rumah tanpa menoleh sedikitpun pada Cayvion.
Blam. Pintu tertutup.
Cayvion menghembuskan napas lega. Tahap satu: Singkirkan Bos Besar (Hara), berhasil. Sekarang saatnya "Operation: Super Dad" dimulai.
"Oke, Pasukan," Cayvion berbalik menghadap dua bocah yang menatapnya dengan pandangan curiga. Dia menggulung lengan kemeja santainya. "Hari ini Mami libur. Papa yang pegang kendali. Kita akan bersenang-senang. Tanpa aturan ketat, tanpa sayur, tanpa omelan. Paham?"
Elio menaikkan satu alisnya. "Papa yakin? Terakhir kali Papa pegang kendali, kita makan mie instan di kamar mandi."
"Itu keadaan darurat, Elio. Ini terencana," sanggah Cayvion percaya diri. "Sekarang, siapa yang lapar? Papa akan masakkan pancake spesial ala CEO."
Tiga puluh menit kemudian, dapur Mansion Alger dipenuhi asap hitam pekat.
Alarm kebakaran nyaris berbunyi kalau saja Cayvion tidak mematikannya dengan sapu. Di atas piring saji, tergeletak tiga gumpalan bulat berwarna hitam legam yang kerasnya bisa dipakai buat nimpuk maling.
"Ini apa, Pa?" tanya Elia ngeri, menusuk benda hitam itu dengan garpu. "Pancake rasa aspal?"
"Ini pancake cokelat, Elia. Cuma agak... crispy," elak Cayvion sambil batuk-batuk kena asap. "Papa pakai api besar supaya cepat matang. Efisiensi waktu."
"Itu gosong, Pa. Bukan efisiensi," koreksi Elio datar. Dia meletakkan piringnya menjauh. "Elio nggak mau makan. Nanti usus Elio hitam."
Cayvion menatap mahakaryanya yang gagal total. Ternyata masak tidak semudah membalikkan telapak tangan atau memecat karyawan.
"Oke, lupakan pancake," Cayvion melempar apron-nya. Dia mengambil ponsel. "Halo? Pizza? Kirim tiga loyang Meat Lovers. Sekarang. Jangan telat satu detik pun."
Setelah pizza datang dan perut kenyang (satu-satunya keberhasilan Cayvion hari ini), tantangan berikutnya menanti: Mandi.
"Elia, waktunya mandi. Mami bilang kamu harus keramas hari ini," perintah Cayvion sambil menggiring putrinya ke kamar mandi luas berlapis marmer.
"Mau main busa!" pinta Elia.
"Boleh. Apapun buat Tuan Putri."
Cayvion menuangkan sabun cair ke bathtub. Karena tidak tahu takaran, dia menuangkan satu botol penuh.
Lima menit kemudian, kamar mandi itu berubah menjadi lautan busa. Busa meluap dari bathtub sampai ke lantai. Cayvion yang mencoba menangkap Elia yang licin seperti belut, terpeleset di atas lantai basah.
GUBRAK!
"Aduh!" Cayvion mendarat dengan pantat duluan. Celana pendeknya basah kuyup. Kemejanya penuh busa.
"Hahaha! Papa kayak ikan duyung terdampar!" Elia tertawa kegirangan sambil menyipratkan air ke wajah ayahnya. Byur!
"Elia! Jangan siram muka Papa! Perih kena mata!" teriak Cayvion panik, mengusap matanya yang pedih kena sabun. "Diam! Jangan gerak! Papa bisa jatuh lagi!"
Bukannya diam, Elia malah melompat-lompat di dalam air, membuat ombak mini yang membanjiri sisa lantai kering. Cayvion harus merangkak keluar kamar mandi dengan kondisi basah kuyup, rambut lepek, dan harga diri hancur lebur.
Siang harinya, setelah Elia yang wangi (dan kamar mandi yang banjir busa) selesai diurus, Cayvion merasa butuh pemulihan ego. Dia melihat Elio sedang bermain game balap mobil di konsol PlayStation di ruang tengah.
"Elio," panggil Cayvion, mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Boleh Papa ikut main?"
Elio menoleh, menatap ayahnya dari atas ke bawah. "Papa bisa main? Ini game butuh refleks cepat. Bukan kayak main saham yang cuma duduk diam."
Darah kompetitif Cayvion mendidih. Dia diremehkan bocah lima tahun?
"Ambilkan stik satu lagi. Papa akan ajarkan kamu apa itu kecepatan," tantang Cayvion.
Permainan dimulai.
Di putaran pertama, Cayvion kalah telak. Mobilnya menabrak tembok lima kali dan masuk jurang tiga kali. Elio menang dengan satu tangan sambil makan keripik.
"Pemanasan," dalih Cayvion, wajahnya mulai merah. "Ulang."
Putaran kedua. Cayvion kalah lagi. Dia finish di urutan terakhir, disalip oleh karakter siput.
"Papa noob," komentar Elio santai.
"Stik ini rusak!" seru Cayvion tidak terima, memencet-mencet tombol dengan kasar. "Tombol gasnya macet! Curang! Kamu kasih Papa stik yang jelek kan?"
"Nggak kok. Itu stik baru," jawab Elio tenang. "Papa aja yang nggak jago. Nggak usah alesan."
"Ulang! Sekali lagi! Papa nggak mungkin kalah sama anak TK!" Cayvion memajukan badannya, matanya melotot ke layar TV. Urat lehernya menonjol. Dia bukan lagi bermain untuk bersenang-senang, dia bermain untuk membela kehormatan laki-laki.
Putaran ketiga. Cayvion membalap dengan agresif. Dia menyenggol mobil Elio sampai keluar jalur.
"Minggir! Minggir!" teriak Cayvion heboh sendiri. "Rasakan itu! Papa menang! Papa di depan!"
Tiba-tiba, di tikungan terakhir, Elio mengeluarkan jurus shortcut rahasia dan menyalip Cayvion tepat di garis finish.
WINNER: ELIO.
Cayvion membanting stik PS-nya ke sofa.
"AH! TIDAK MUNGKIN! Game ini bug! Kamu pasti pakai cheat!" tuduh Cayvion pada anaknya sendiri. Napasnya memburu karena emosi. "Nggak adil! Masa mobil Papa meledak sendiri?!"
Elio meletakkan stiknya pelan. Dia menatap ayahnya dengan tatapan ilfeel.
"Papa kenapa sih? Cuma game kok marah-marah?" tanya Elio heran. "Papa kayak anak kecil yang nggak dikasih permen. Malu-maluin."
Cayvion tersadar. Dia melihat Elia di pojok ruangan yang menatapnya takut. Dia melihat Elio yang menatapnya kecewa. Dia baru saja membentak anak-anaknya gara-gara kalah main game balap mobil.
"Bukan begitu, Elio. Papa cuma..."
"Papa nggak asik," potong Elio, berdiri dari karpet. "Main sama Papa bikin stres. Papa berisik, mau menang sendiri, nggak mau ngalah."
"HUWAAAAAA!"
Tiba-tiba tangis Elia pecah. Kencang dan melengking.
"Mau Mamiiii!" jerit Elia sambil melempar mainannya. "Nggak mau sama Papa! Papa galak! Papa bau gosong! Papa bikin banjir busa! Papa marah-marah mulu!"
"Elia, jangan nangis. Papa nggak marah kok," Cayvion panik, mau mendekat tapi Elia mundur.
"HUWAAAA! MAMI PULANG! RUMAH SAMA PAPA KAYAK NERAKAAA!"
Cayvion berdiri mematung di tengah ruang tamu yang berantakan. Bungkus pizza berserakan, lantai basah karena jejak kakinya, stik PS tergeletak miring, dan dua anaknya menatapnya seolah dia monster.
Dia pikir mengurus anak itu mudah. Ternyata, dia lebih becus mengurus krisis ekonomi global daripada menjaga mood dua balita selama enam jam.
"Oke..." gumam Cayvion lemas, mengangkat tangan tanda menyerah. "Operasi Super Dad... gagal total."
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri