NovelToon NovelToon
DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 Benih yang Berjalan Jauh

Matahari musim kemarau menyinari Sukamaju dengan cahaya yang hangat namun tidak menyengat. Udara terasa kering dan penuh dengan aroma daun kering serta bunga kemangi yang tumbuh liar di sekeliling pekarangan rumah. Di depan balai desa, sebuah gerobak kayu yang dihias dengan kain batik lokal sedang disiapkan. Di dalamnya, berbagai produk olahan dari desa rapi teratur—sambal kemasan dengan label yang menarik, keripik singkong rasa pedas dan gurih, sirup buah naga dan belimbing wuluh yang berwarna cerah, serta berbagai jenis teh herbal dari tanaman yang tumbuh di lereng bukit.

Alya sedang memeriksa setiap produk dengan cermat, memastikan semuanya dalam kondisi baik sebelum dikirim. Ratna dan beberapa pemuda desa membantu memuat gerobak ke atas truk yang akan membawa produk mereka ke pasar rakyat yang diadakan di kota kecamatan. Kali ini bukan hanya untuk menjual, tetapi juga untuk mengikuti lomba produk olahan desa yang diadakan oleh pemerintah kabupaten.

“Semua sudah siap, Bu Alya,” ujar Ratna dengan senyum yang penuh kebanggaan. “Kita telah mempersiapkan segalanya dengan baik—dari kemasan hingga deskripsi produk yang menjelaskan cerita di balik setiap barang.”

Alya tersenyum melihat wajah-wajah muda yang bersemangat. “Yang penting bukanlah menang atau kalah, ya,” katanya dengan lembut. “Yang penting adalah kita bisa menunjukkan kepada orang lain apa yang bisa kita capai dengan kerja sama dan kesungguhan.”

Pada saat yang sama, di tepi desa, sebuah mobil kecil sedang memasuki jalan raya yang baru saja diperbaiki. Di dalamnya, Dimas bersama dengan tiga perwakilan dari desa lain yang ingin belajar dari pengalaman Sukamaju. Mereka telah mendengar kabar tentang keberhasilan produk olahan desa dan sistem kerja sama yang berkelanjutan yang telah mereka bangun.

DI PAMERAN YANG MENGHUBUNGKAN DESA

Pasar rakyat yang diadakan di lapangan olahraga kecamatan terlihat sangat ramai. Ribuan orang datang dari berbagai desa dan kota sekitar untuk berbelanja, bertemu teman, dan menikmati acara yang diadakan bersamaan. Di sekeliling lapangan, tenda-tenda kecil berdiri rapi, masing-masing menampilkan produk khas dari daerah mereka. Ada kerajinan tangan dari bambu, tekstil tenun tradisional, makanan khas lokal, dan berbagai produk pertanian segar.

Tenda Sukamaju segera menarik perhatian pengunjung. Desain tenda yang menggunakan bahan alami dan dekorasi dari daun dan bunga kering membuatnya tampak berbeda dari yang lain. Label produk yang mencantumkan nama desa dan cerita di balik pembuatan setiap barang juga menjadi daya tarik tersendiri. Banyak pengunjung yang berhenti untuk melihat dan bertanya, tidak hanya tentang produknya, tetapi juga tentang bagaimana desa Sukamaju bisa bangkit dari banjir dan berhasil membuat produk olahan yang berkualitas.

Bu Wening yang menjadi juru masak utama dalam pembuatan sambal dan makanan olahan, berdiri di belakang tenda dengan senyum ramah. Ia dengan sabar menjelaskan cara membuat sambal yang awet lama tanpa pengawet kimia, serta bahan-bahan alami yang mereka gunakan. “Kita menggunakan cabai dari kebun kita sendiri, yang ditanam dengan pupuk organik,” katanya kepada sekelompok ibu-ibu yang sedang mencoba sambalnya. “Jadi rasanya tidak hanya enak, tapi juga sehat.”

Sementara itu, Ratna sedang menjelaskan tentang sistem kerja sama yang mereka jalankan kepada beberapa pemuda dari desa tetangga. “Kita tidak bekerja sendiri-sendiri,” katanya dengan percaya diri. “Setiap orang memiliki peran yang jelas—ada yang menangani pertanian, yang menangani pengolahan, yang menangani pemasaran, dan yang menangani dokumentasi. Semua keputusan diambil bersama melalui musyawarah.”

Pada sore hari, sesi lomba produk olahan dimulai. Setiap desa mengirimkan perwakilannya untuk mempresentasikan produk mereka di depan dewan juri yang terdiri dari ahli makanan, pengusaha lokal, dan perwakilan dari dinas pertanian. Ketika giliran Sukamaju tiba, Alya berdiri di depan panggung dengan percaya diri.

Ia tidak membawa data atau angka yang rumit. Sebaliknya, ia membawa sebuah wadah kecil berisi tanah dari Sukamaju dan sebuah botol berisi air dari sungai desa. “Produk yang kami tawarkan hari ini bukan hanya hasil dari tanah dan air yang ada di desa kami,” ujarnya dengan suara yang jelas dan penuh perasaan. “Ini adalah hasil dari kerja sama, kesabaran, dan keinginan untuk hidup berdampingan dengan alam secara berkelanjutan.”

Ia kemudian menceritakan tentang banjir yang pernah melanda desa, tentang bagaimana mereka bangkit dari kekalahan, dan tentang bagaimana mereka belajar untuk tidak hanya bertani, tetapi juga untuk mengelola sumber daya dengan bijak. “Kita tidak ingin hanya menjual produk,” ujarnya sambil menunjuk ke berbagai produk yang ditampilkan di depan panggung. “Kita ingin berbagi cerita, berbagi pengetahuan, dan membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan semua orang.”

Suara tepuk tangan yang meriah memenuhi lapangan setelah presentasi Alya selesai. Bahkan beberapa peserta dari desa lain yang awalnya merasa bersaing, kini melihat Sukamaju dengan mata yang penuh rasa hormat dan kagum.

PERTEMUAN YANG MENGINSPIRASI

Setelah acara lomba selesai, Alya mendapati diriinya dikelilingi oleh banyak orang yang ingin bertanya dan berbagi cerita. Seorang perempuan bernama Siti dari Desa Cinta Makmur datang mendekatinya dengan wajah yang penuh harapan. “Kami juga mengalami masalah yang sama dengan banjir dan harga komoditas yang fluktuatif,” katanya dengan suara lembut. “Kami ingin membangun kerja sama seperti di Sukamaju, tapi kami tidak tahu harus mulai dari mana.”

Alya meraih tangannya dengan hangat. “Kita juga tidak tahu harus mulai dari mana pada awalnya,” jawabnya dengan jujur. “Yang penting adalah memulai dari hal kecil—mulailah dengan berdiskusi bersama warga desa, cari tahu apa yang kalian butuhkan dan apa yang kalian bisa lakukan. Jangan takut untuk membuat kesalahan, karena dari kesalahan itulah kita belajar.”

Ia kemudian mengundang Siti dan beberapa perwakilan dari desa lain untuk datang ke Sukamaju dalam beberapa hari ke depan. “Kita bisa berbagi apa yang kita ketahui,” ujarnya dengan senyum. “Tidak ada yang lebih bahagia daripada melihat desa-desa lain juga tumbuh dan berkembang.”

Pada malam hari, ketika mereka kembali ke Sukamaju, truk yang membawa produk mereka kembali dengan wadah yang hampir kosong. Banyak produk yang terjual habis, dan mereka bahkan mendapatkan beberapa pesanan besar dari toko-toko di kota yang ingin menjual produk olahan Sukamaju. Namun yang lebih penting adalah piala penghargaan yang mereka bawa pulang—tidak sebagai juara satu, tetapi sebagai juara kategori “Produk dengan Nilai Budaya dan Lingkungan Terbaik”.

Warga desa sudah menunggu di depan balai desa dengan obor dan musik tradisional. Mereka merayakan keberhasilan itu bukan sebagai kemenangan individu, tetapi sebagai kemenangan bersama yang diraih dengan kerja keras dan kerja sama. Anak-anak berlari-lari mengelilingi truk, sementara ibu-ibu menyajikan makanan khas desa untuk semua orang.

Pak Lurah berdiri di atas panggung kecil yang telah dipasang, memegang piala penghargaan dengan bangga. “Hari ini kita tidak hanya menunjukkan kepada dunia apa yang bisa kita capai,” katanya dengan suara yang kuat dan jelas. “Kita juga menunjukkan bahwa desa kecil seperti kita bisa menjadi contoh bagi banyak orang. Semua ini tidak mungkin terjadi tanpa kerja sama kita dan tanpa bantuan dari teman-teman kita yang percaya pada kita.”

Ia kemudian menyerahkan piala itu ke tengah kerumunan, menunjukkan bahwa penghargaan itu bukan milik seseorang, tetapi milik seluruh desa Sukamaju. Suara sorak dan tepuk tangan kembali memenuhi udara malam desa yang tenang.

DESA YANG MENJADI JEMBATAN

Beberapa hari kemudian, seperti yang dijanjikan, beberapa perwakilan dari desa lain datang ke Sukamaju. Mereka diterima dengan hangat oleh warga desa, yang dengan senang hati menunjukkan kebun mereka, tempat pengolahan produk, dan menjelaskan sistem kerja sama yang mereka jalankan. Pak Suroto menunjukkan cara membuat pupuk organik dari kompos, Bu Wening mengajarkan cara membuat sambal yang awet lama, dan para pemuda desa menunjukkan cara menggunakan teknologi sederhana untuk mendokumentasikan kegiatan dan memasarkan produk mereka secara online.

Siti dari Desa Cinta Makmur melihat semua itu dengan mata yang penuh kagum. “Kita selalu berpikir bahwa kemajuan hanya bisa dicapai dengan bantuan besar dari luar,” katanya kepada Alya saat mereka berjalan di sekitar kebun. “Tapi sekarang saya menyadari bahwa kekuatan sebenarnya ada di dalam kita sendiri—hanya perlu seseorang untuk membantu kita melihatnya.”

Alya tersenyum. “Kita tidak bisa melakukan segalanya sendiri,” jawabnya. “Kita membutuhkan bantuan dan dukungan dari orang lain, tapi kita juga harus siap untuk mengambil langkah pertama dan bekerja keras untuk mencapai tujuan kita. Setiap desa memiliki keunikan dan potensi sendiri yang harus dihargai dan dikembangkan.”

Selama beberapa minggu berikutnya, Sukamaju menjadi seperti sebuah pusat pembelajaran bagi desa-desa sekitar. Banyak orang datang untuk belajar, berbagi cerita, dan mencari inspirasi. Alya dan beberapa warga desa bahkan dibuat menjadi tim konsultan sukarela yang membantu desa-desa lain membangun sistem kerja sama dan produk olahan mereka sendiri. Mereka tidak mengambil bayaran apa pun—hanya meminta agar pengetahuan itu terus diteruskan ke desa-desa lain yang membutuhkan.

PERUBAHAN YANG TIDAK TERLIHAT

Seiring berjalannya waktu, perubahan mulai terlihat tidak hanya di Sukamaju, tetapi juga di desa-desa sekitarnya. Desa Cinta Makmur berhasil membuat produk olahan dari buah nangka yang tumbuh melimpah di daerah mereka. Desa Harapan Jaya membangun sistem irigasi yang lebih baik dan mulai menanam tanaman hortikultura yang memiliki nilai jual tinggi. Desa Sejahtera Bersama bahkan mulai membuat kerajinan tangan dari limbah pertanian yang sebelumnya hanya dibuang percuma.

Alya melihat semua itu dengan hati yang penuh rasa syukur. Ia tahu bahwa perubahan yang terjadi tidak hanya tentang ekonomi atau produksi. Ini tentang bagaimana orang-orang mulai melihat diri mereka sendiri dengan cara yang berbeda—tidak lagi sebagai orang yang lemah atau tertinggal, tetapi sebagai orang yang memiliki kekuatan dan potensi untuk mengubah hidup mereka sendiri.

Pada malam hari yang cerah, Alya duduk di teras rumahnya bersama Sultan dan Satria. Mereka melihat ke arah desa yang kini tampak lebih ramai dan hidup—lampu-lampu rumah menyala terang, suara anak-anak yang bermain dan orang dewasa yang berbicara riang terdengar jelas, dan aroma makanan yang lezat mengisi udara malam.

“Kamu pernah berpikir bahwa Sukamaju akan menjadi seperti ini?” tanya Sultan dengan suara lembut.

Alya menggeleng perlahan. “Saya hanya berharap bisa membantu mereka menemukan cara untuk hidup lebih baik,” jawabnya. “Tapi apa yang terjadi sekarang jauh melampaui apa yang saya impikan. Mereka tidak hanya hidup lebih baik—mereka juga membantu orang lain untuk melakukan hal yang sama.”

Satria yang sedang bermain dengan boneka beruangnya tiba-tiba mengangkat kepalanya dan berkata, “Mama, besok kita akan ke desa lain ya? Akan mengajari mereka membuat keripik seperti kita?”

Alya tersenyum dan menggendongnya. “Ya nak,” jawabnya dengan lembut. “Kita akan membantu mereka karena itu yang benar untuk dilakukan. Bagaimana kalau kamu mengajari mereka cara membuat keripik yang bentuknya lucu seperti hewan?”

Satria mengangguk dengan senyum lebar, lalu kembali bermain dengan bonekanya. Alya melihat ke arah langit malam yang penuh dengan bintang-bintang terang. Setiap bintang seolah mewakili desa-desa yang telah mereka bantu dan yang akan mereka bantu di masa depan—semua terhubung dalam satu sistem yang saling mendukung dan menginspirasi.

Ia membuka buku catatannya dan menulis beberapa kalimat di halaman terakhir:

“Saat saya pertama kali datang ke Sukamaju, saya membawa benih harapan yang kecil dan rapuh. Saya tidak tahu apakah benih itu akan tumbuh atau tidak. Namun hari ini, saya melihat bahwa benih itu tidak hanya tumbuh menjadi pohon yang kuat dan rindang, tetapi juga telah menyebarkan bijinya ke banyak tempat lain. Setiap desa yang kita bantu adalah sebuah cabang baru yang akan terus tumbuh dan menyebarkan benih harapan ke tempat-tempat lain. Perubahan tidak pernah berhenti—ia terus mengalir seperti air sungai, menghubungkan semua tempat dan semua orang dalam satu aliran kehidupan yang penuh makna.”

Ia menutup buku catatannya dan merasakan kedamaian yang mendalam mengalir di dalam dirinya. Di kejauhan, suara adzan mulai berkumandang dari masjid desa, menandakan waktu untuk melakukan shalat malam. Dan seperti setiap malam yang datang, mereka semua akan beristirahat dengan rasa syukur dan bangga, siap untuk bangkit lagi esok pagi dan melanjutkan perjalanan mereka dalam membangun dunia yang lebih baik.

Sukamaju tidak lagi hanya sebuah nama desa di peta. Ia telah menjadi simbol harapan, kerja sama, dan kebaikan yang bisa tumbuh dari tanah yang pernah terkena badai. Dan benih yang mereka tanam bersama akan terus berkecambah dan tumbuh, menjangkau tempat-tempat yang jauh dan membawa cahaya ke setiap sudut yang masih dalam kegelapan.

1
Anonymous
pakai chatgpt?
niadatin tiasmami: kok komen gt
total 2 replies
only siskaa
seruu🔥mmpir juga ya kk
niadatin tiasmami: ok kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!