"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi satu suro yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan ke tujuh dari penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran."
Harapan untuk menimang buah hati pupus sudah. Sagara pulang dengan kecewa.
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara.
"Tahu Mas, kebetulan kekasihku di kampung memiliki tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari." jelas Alang lagi.
"Lang, kamu mau nggak?" sagara meraih bahu Alang.
"Mau apa Mas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baru Sah
Bangun di pagi sekali, di minta ganti baju, lalu pergi ke rumah kepala desa. Seketika kata sah langsung di dapat. Ternyata menikah tidak sesulit itu, tak perlu menunggu dan menunggu lagi.
"Niken, maafkan bapak. Waktu kamu pergi meninggalkan desa ini, bapak sedang tidak ada di tempat." sesal kepala desa kepada Niken.
"Tidak apa-apa. Hanya saja, aku tidak percaya orang tua ku melakukan hal seperti yang mereka tuduhkan." jawab Niken.
"Aku tahu, aku pun kenal dekat dengan bapakmu."
Entah karena uang yang di berikan Saga cukup besar, atau memang tulus dari hatinya. Kepala desa itu bercerita banyak hal termasuk jasad kedua orangtuanya yang di makamkan di ujung desa. Di lahan milik Ibrahim sendiri, dimana tak akan ada yang menggangu di sana.
"Terimakasih sudah memakamkan bapak dan ibu." ucap Niken.
Selain kepala desa dan beberapa tokoh agama yang menikahkan Niken secara siri, tidak ada orang lain lagi.
Kini Niken bisa tenang setelah mengetahui kabar orangtuanya. Pun dengan statusnya.
Tapi, pernyataan terakhir kepala desa itu membuat Niken tak bisa berhenti memikirkannya.
"Seingat ku, kalian memiliki seorang pembantu. Saat kebakaran, kami tidak menemukannya."
Niken ingat, pembantu yang sudah bekerja amat lama, bahkan lebih lama dari usia Niken sendiri. Kalau mayatnya tak ada, lalu kemana Mak Sun itu pergi.
Bertahun-tahun bekerja dan tinggal di rumah besar milik haji Ibrahim, tapi ketika kebakaran malah menghilang.
"Kami juga tidak menemukan barang berharga milik ibumu, yang kami semua tahu, kalau ibumu memiliki banyak perhiasan emas. Tidak mungkin jika semuanya habis terbakar."
"Pak, tolong cari Mak Sun itu. Aku yakin kebakaran besar seperti itu ada penyebabnya. Kalau hanya api sesaji, ku rasa tak akan langsung melahap hingga ke atap yang tinggi." ucap Saga, membuat beberapa orang itu mengangguk-angguk.
"Apakah ada yang sengaja membuat rumah kami terbakar?" gumam Niken, setelah pergi dari rumah kepala desa itu.
"Mungkin saja." jawab Saga, menggenggam tangan Niken erat, merengkuhnya ke dalam pelukan. "Maaf, aku menikahimu seperti ini."
"Masih lebih baik, karena aku sadar diri." Niken bergumam di dalam hati.
Bolehkah merebut suami orang? Pertanyaan itu tiba-tiba terselip diantara bahagia.
Merebut suami sesama manusia memang jahat, tapi merebut Saga dari istrinya yang setengah setan, rasa-rasanya tidak terdengar buruk.
Genggaman tangan Saga bagai memberi kekuatan, pun sebaliknya, Saga merasa hidupnya baru di mulai. Tangan kecil Niken memberinya keyakinan, menghapus ketakutan.
"Mau Siang pertama, atau ke rumah Mbak Rasni?" tanya Saga, mereka kembali meluncur menuju pusat perkampungan. Senyumnya mengembang, menggoda Niken.
"Kita selesaikan urusan Mbak Dewi. Aku merasa, Mbak Dewi dan Mas Alang memang harus segera di nikahkan." ucap Niken.
"Ya, baiklah Sayang." Mobil melaju menuju ujung desa, cukup jauh hingga melewati beberapa belukar.
Mengingatkan betapa dulu ia kepayahan berjalan kaki menelusuri jalan itu bersama Alang.
Alang tak bisa di usir dari posisi pernah berarti, tapi tidak lagi dengan cinta. Sudah ada penggantinya.
"Niken! Saga!"
Pekikan Bu Rasni itu terdengar nyaring, bahagia melihat Niken dan juga Saga yang datang tak memberi tahu.
"Apa kabar Mbak?" Saga meraih tangan Rasni, mencium punggung tangannya.
"Baik banget, apalagi kedatangan kalian berdua." Rasni mengajak keduanya masuk.
"Kok tiba-tiba datang? Cuma berdua?" tanya Rasni.
Saga menatap Niken sejenak, kemudian duduk lebih tegap. "Mbak, kami pulang ingin memberi tahukan, bahwa Dewi dan Alang ingin menikah."
"Hah! Kok Ndak bilang langsung?" Rasni terkejut, menatap heran Niken dan juga Saga.
Keduanya pun bingung mau menjelaskan. Tapi, kalau diam maka Rasni akan curiga.
"Bu, Niken pulang juga karena itu. Pastinya, Mas Alang tidak memiliki keberanian untuk melamar Mbak Dewi. Takut tidak di restui." jawab Niken, dengan suara pelannya.
"Jadi, nyuruh adiknya yang melamar begitu?" tanya Bu Rasni. "Kalau mau menikah ya menikah saja. Mereka sudah lama saling kenal. Kalau kata Dewi baik, ya ibu merestui." kata Rasni.
Dengan alasan kerja, pulang tak boleh lama. Alang diminta pulang siang ini juga, dan mereka akan menikah nanti malam.
Sore itu rumah Rasni langsung ramai mempersiapkan pernikahan Alang dan Dewi, Niken dan Saga pun menunggu kehadiran mereka.
"Niken!" Dewi turun lebih dulu, ia langsung menghambur memeluk Niken yang berdiri di teras rumah kepala desa itu. "Makasih ya Dek." bisik Dewi, gadis itu memeluknya semakin erat, sambil menangis bahagia.
"Tidak perlu berterima kasih Mbak. Yang penting kalian bisa menikah, dan hidup bahagia." ucap Niken.
Alang turun dari mobil dengan wajahnya yang kusut, matanya langsung tertuju kepada Niken yang kini berdiri dengan pakaian bagus dan sopan. Ia mengernyit heran.
Tapi bukan itu yang menjadi kejutan, melainkan seseorang yang turut dalam perjalanan mereka.
Brak! pintu mobil di tutup rapat.
Baik Niken maupun Saga tercengang, Gendis yang anti masuk kampung tiba-tiba menyusul. Ia berjalan menuju teras, matanya tak lepas dari wajah Saga.
"Untuk apa kamu datang?" ucap Saga, menepis tangan gendis yang ingin memeluknya.
"Mas, di depan orang jangan membuatku malu!" bisiknya, penuh tekanan.
Saga langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan Gendis yang kesal karena pelukannya tak berlabuh, tangannya mengambang.
Niken menggandeng Dewi, meskipun ada rasa cemburu karena Gendis tiba-tiba datang. Tapi ia memilih mengabaikan karena saat ini akad mereka akan di mulai.
Lumayan lancar, setelah berkali-kali Alang gagal mengucapkan ijab dengan benar, matanya tak bisa berpaling dari Niken yang tampak semakin cantik.
"Alhamdulillah."
Sebuah ucapan yang melegakan, kini Alang benar-benar menjadi suami Dewi Ratri. Sedangkan Niken, kini menjadi istri Sagara, meskipun masih di rahasiakan oleh mereka.
Gendis berdiri di belakang keramaian, memandangi Saga yang terlihat tenang dan semakin tampan. Aura positifnya terbuka, dan aura hitamnya menipis.
"Mas Sagara, apa yang sudah kamu lakukan? Rasanya kamu sedang berusaha meninggalkan aku." gumam Gendis, mengamati setiap orang, tapi tak ada yang mencurigakan. Andaikan Sagara menikahi orang lain, Gendis pasti tahu. Tapi, di sini tak ada yang mencurigakan sehingga ia menjadi teramat bingung.
"Niken, ayo kembali_"
"Mas Saga!" Gendis kembali mendekati Saga.
Buru-buru pula Niken melepaskan tangan Saga.
"Ada apa?" tanya Saga, ia mengeluarkan bungkus rokok lalu mengambil salah satunya.
"Aku lelah, temani aku istirahat." ajak Gendis.
"Aku juga lelah, urusanku juga masih banyak. Kau tidurlah sendiri."
"Saga! Kau lupa aku bisa membuatmu tak berdaya, bahkan tak bisa bicara." ucap Gendis, geram Saga mengacuhkannya.
"Aku tidak lupa. Aku selalu ingat bahwa kau_"
"Saga! Tolong Mas mu. Jatuh di kamar mandi, pingsan!" teriak Rasni.
Jadilah malam itu semua orang tidur di rumah kepala Desa, lantaran sepupunya Saga itu tiba-tiba jatuh.
"Kok bisa Mbak?" ucap Saga.
"Tidak tahu, tadi aku mendengar Mas mu berteriak." jawab Rasni.
"Berteriak?" tanya Saga.
Rasni mengangguk. "Teriak, Setan!"
aq mlah deg2an wis semua terbongkar kan alang mau dewi tau kebusukan mu juga lang
waktu ku tolol aq ga tau yang nongol2
ku sengol2 ku kira pistol ehh ternyata nya pistol 🤭🤭🤭
gendis g bisa lagi bikin saga tunduk akhirnya cari tumbal lain dan memghabisi dgn dgn sadis krn ketahuan 👻👻👻👻👻 the mit nya laper cuuuyy
kasih mie ayam apa yaaa 🤭
jd sebenarnya siapa itu hayoo
dan gendis ohh klakuan mu sunguh iblis