(Novel ini mengandung unsur sensual dan adegan kekerasan)
"Kamu milikku. Aku akan melakukan apapun yang kuinginkan, denganmu. I will give you heaven and i will give you hell"
Setelah bangun dari koma karena percobaan bunuh diri, aku terkejut karena statusku menjadi menikah. Ternyata sebuah rahasia yang disembunyikan suamiku bahwa dia seorang profesional pembunuh bayaran.
Aku tak menyangka lelaki yang ku ketahui sebagai Vice President adalah anggota elite organisasi hitam yang menjadi buronan negara.
Teror demi teror datang. Beberapa pihak punya rencana jahat untuk menyingkirkan ku demi harta dan cinta, termasuk ibu tiri dan adikku.
Aku bersedia menukar tubuhku pada lelaki yang menjadi suami kontrak itu untuk sebuah komitmen balas dendam kematian sang ibu.
Akankah kebenaran tentang masa lalu menghancurkan rumah tangga kami? Penuh ketegangan berbalut kisah romansa yang sensual, ikuti cerita ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Prabowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Wasiat
Rahasia papa apalagi yang aku tidak ketahui?
Aku masih ingin tahu lebih banyak tentang rahasia yang disembunyikan papa. Map kliping beserta dokumen-dokumen lain kusimpan untuk bahan penyelidikan.
Melalui web, aku membuat pencarian tentang tragedi dua puluh lima tahun lalu, lalu muncul banyak artikel yang memuat berita tersebut.
Yogyakarta, 20 Agustus 2000 - Tragedi pembunuhan sadis mengguncang warga Yogyakarta. Sebuah keluarga ditemukan tewas dengan luka bakar di rumah mereka.
Korban yang ditemukan adalah seorang laki-laki berinisial BD (33) dan istrinya, FT (27). Keduanya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa dengan luka bakar yang parah.
Namun, dalam kejadian ini, seorang anak laki-laki yang merupakan anak dari pasangan tersebut, ditemukan selamat. Anak tersebut dikabarkan tidak mengalami luka serius.
Pihak kepolisian telah memulai penyelidikan dan menyatakan bahwa penyebab kejadian ini adalah arus listrik yang menyebabkan kebakaran. "Kami telah menemukan bahwa penyebab kejadian ini adalah arus listrik yang tidak stabil, yang menyebabkan kebakaran dan luka bakar pada korban," kata seorang perwakilan kepolisian setempat.
Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal. Bersamaan dengan berita itu, ada artikel yang menyatakan kalau korban tewas adalah pasangan suami-istri yang merupakan pebisnis. Aku mencoba mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun yang sama.
Tiba-tiba, memori ini teringat akan sesuatu. Abang, anak laki-laki yang dibawa oleh papa untuk tinggal di rumah, datang di tahun itu.
Apakah inisial BD itu untuk Baskara Dermawan? Rekan bisnis papa yang hilang tanpa kabar, mungkinkah ternyata dia telah tewas dalam kebakaran?
Aku membaca kembali berita itu, mencari detail informasi tentang korban dan penyebab kejadian. seorang anak laki-laki selamat dari kejadian itu.
Jika anak yang selamat itu Abang, maka itukah alasan papa membawanya tinggal di rumah mereka?
"Bisa tolong bantu aku?" tanyaku pada Vino melalui telepon. Entah mengapa di saat galau ini hanya dia yang terlintas di kepala. Aku merasa dia yang paling tepat sebagai tempat curahan hati.
"Ada apa sayang?" sahutnya manis. Dia pasti berada di bar karena ada suara musik berisik di panggilannya.
"Bisa tolong cari tahu tentang foto ini?" Aku langsung mengirimkan foto padanya. "Cari informasi tentang anak laki-laki ini, secepatnya."
"Alright, nanti kalau sudah dapat infonya segera kukabari," Tak banyak bicara, Vino langsung mengiyakan.
Mengapa tidak meminta bantuan Biru atau Kin? Alasannya mudah, hatiku belum sepenuhnya percaya pada mereka.
***
Ruangan rapat dewan komisaris Bastian Group dipenuhi oleh para anggota dewan. Suasana di ruangan lebih terasa ketegangannya, karena rapat ini akan membahas tentang pergantian struktur organisasi perusahaan.
Setelah papa meninggal, siapa yang paling antusias untuk memiliki hartanya? Tentu Rania, perempuan itu bahkan tidak menunjukkan raut kesedihan pasca berkabung.
Pengacara papa, Joshua, berdiri di depan ruangan dan memulai pembacaan surat wasiat.
"Surat wasiat ini dibuat oleh Adrian Mulia pada tanggal 12 Maret 2023. Dalam surat wasiat ini, Adrian Mulia menunjuk Raskindra Anan Baskara sebagai penerima 70% saham Bastian Group."
Ruangan rapat menjadi sunyi. Semua mata terfokus pada Kin, yang duduk di pojok ruangan dengan wajah tenang sambil memutar-mutar pulpen.
"Selain itu, Adrian Mulia juga menunjuk Raskindra Anan Baskara sebagai Komisaris Utama Bastian Group," lanjutnya.
Rania, istri Adrian Mulia, bangun dari kursinya dengan wajah merah padam. Matanya amarahnya terlihat jelas. Ia merebut surat wasiat di tangan Joshua, membacanya, lalu membanting surat itu.
SURAT WASIAT
Saya, ADRIAN MULIA, lahir di Jakarta, pada tanggal 12 Agustus 1965, dengan alamat di Jalan Merpati, No. 12, Jakarta Selatan, membuat surat wasiat ini untuk menunjukkan keinginan saya tentang pembagian harta warisan saya setelah meninggal.
Saya menunjuk RASKINDRA ANAN BASKARA sebagai penerima 70% saham Bastian Group, perusahaan yang saya dirikan dan pimpin selama ini. Saya percaya bahwa Raskindra Anan Baskara memiliki kemampuan dan integritas yang tinggi untuk menjaga dan mengembangkan Bastian Group menjadi lebih baik.
Selain itu, saya juga menunjuk RASKINDRA ANAN BASKARA sebagai Komisaris Utama Bastian Group, untuk mengambil alih tanggung jawab saya sebagai pemimpin perusahaan.
Saya juga meninggalkan 10% saham Bastian Group kepada istri saya, RANIA MUTIARA, 10% saham kepada anak saya, KEANA HANA MULIA, dan 10% saham kepada anak saya, LUISA VINSA MULIA.
Saya berharap bahwa keinginan saya ini akan dihormati dan dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait.
Saya membuat surat wasiat ini dengan sadar dan tanpa paksaan dari pihak lain.
Tandatangan saya,
ADRIAN MULIA
Saksi-saksi:
1. Joshua Raihan, Pengacara
2. Melati, Sekretaris
Tanggal: 12 Maret 2023
"Apa ini? Ini surat palsu!" Rania berteriak dengan suara yang membuat ruangan rapat menjadi gempar.
"Surat ini sah dan telah terlegalisasi badan hukum."
Papa menyerahkan hampir seluruh kekayaannya pada Kin? Gila! Bukan hanya Rania, aku sebagai anak kandung tidak bisa terima dengan keputusan ini.
Aku mengambil surat wasiat itu lalu membacanya. Tidak ada penjelasan kenapa papa melakukan semua ini. Surat itu tampak asli, Joshua pun pengacara terpercaya yang sudah mengabdi lama pada keluarga. Ini aneh, apakah ada sabotase?
"Kamu! Kamu adalah orang yang telah membuat Adrian melakukan ini! Kamu adalah orang yang telah merusak keluarga kami!" Rania berteriak lagi, sambil menunjuk jari telunjuknya ke arah Raskindra Anan Baskara.
Sungguh, aku ingin marah juga, tapi aku masih berusaha menahan. Untuk saat ini lebih baik memilih keluar dari ruangan. Ledakan amarah Rania ikut memancing emosiku, tapi ekspresi santai dan senyum Kin sangat membuatku muak.
***