Kontrak Dendam

Kontrak Dendam

Suami Dadakan

"How should i punish you?"

Tubuh ini didesak merapat ke dinding. Tatapan lelaki ini sungguh tajam, aku bisa mengendus sebuah nafas kemarahan, dia tidak akan mengampuniku. Dia akan membunuhku.

Tiba-tiba jarinya bergerak menyentuh bibirku, wajahnya mendekat, menatapku seperti elang siap memangsa seekor tikus. "You better be good, or else i'll hurt you more."

Sakit, ah, sangat sakit! Tangan kuat lelaki itu mencekik leher, sangat kuat sampai aku sulit bernafas. Lelaki ini iblis, dia mau membunuhku.

Seseorang tolong aku! Aku belum mau mati!

Tolong aku! Tolong !

"Kea, kamu sudah bangun?"

Deg!

Perasaan bergemuruh apa ini? Rasa kejutnya sama seperti baru saja jatuh dari tempat tinggi. Rasanya kepalaku pening, semua yang kulihat berputar-putar.

"Kea... "

Ada suara lirih dengan ujung yang terdengar getir. Sepasang bola mata, raut wajah sendu, dan senyum cekung milik seseorang yang begitu familiar.

Lelaki itu memelukku erat. Sangat erat sampai aku bisa mendengar degup jantungnya.

Ini ada apa? Apa tadi aku bermimpi?

Sungguh? Rasanya begitu nyata hingga leher ini masih terasa sakit. Dimana aku? Kenapa ada selang infus di tanganku? Apakah aku sakit?

Mengapa memoriku begitu abu tentang semuanya, tentang nafas yang begitu lemah serta tubuh yang terbaring kaku.

Kamu sudah delapan bulan tidak sadarkan diri.

Kamu koma.

Kamu selamat dari percobaan mengakhiri hidup.

Ah..

Benang-benang memori teruntai lagi perlahan. Skenario terakhir buku harian perempuan yang dipanggil Kea ini ada hubungannya dengan percobaan menantang maut dengan meminum obat-obatan keras karena depresi patah hati.

Sangat tolol. Ini semua karena laki-laki itu, dia berhasil membuatku merasa ingin mati saja.

"I'm glad you're okay... "

Tiba-tiba seorang lelaki berkaos abu muncul dari balik pintu. Begitu asing, tapi sepertinya dia punya intensitas kedekatan lebih denganku.

"Siapa kamu?"

"Kin... "

"Kin? Siapa?"

"Dia suami kamu, Kea!"

Sahutan papa membuatku yang sedang minum jadi tersedak. Aku mungkin pingsan lama tapi tidak merasa lupa ingatan. Terakhir kali aku hampir mati karena depresi ditinggal menikah oleh laki-laki bernama Leon. Kenapa sekarang aku punya suami?

Apakah selama koma aku mampir ke surga lalu mengadakan resepsi disana? Menikah dengan siapa? malaikat?

Siapa Kin ini? Dia tidak ada dalam list mantan atau lelaki-lelaki yang mampir dalam diary cinta.

What ridiculous story has happened?

***

Tidak ada jawaban selama tiga hari. Papa tidak bercerita apapun, dia hanya bilang tunggu sampai sehat. Kin atau man from nowhere tidak menunjukkan batang hidungnya. Aktivitasku hanya bisa sebatas kasur dan kamar mandi. Tidur panjang lama membuat tubuh kaku jadi masih harus dibantu oleh asisten yang disiapkan khusus melayaniku.

I feel better now. Sebenarnya apa yang terjadi selama aku sakit?

"Kamu tidak ingat sama sekali, Kea? Sebelum kamu koma lama, kita sempat melangsungkan pernikahan kecil di rumah sakit. Kamu masih sadar saat itu. Kamu setuju saat papa meminta Kin untuk menjaga kamu."

Aku menggeleng. Entah benar-benar lupa atau lupa ingatan? Memori otakku semu dan berkabut setelah sadar.

Papa bercerita cukup panjang tentang hal-hal yang sempat terjadi selama delapan bulan ini. Tentang bisnisnya yang terguncang karena pengkhianatan rekan kerja, keretakan saudara karena warisan, bahkan lelaki paruh baya ini masih punya hasrat untuk menikah lagi untuk yang ketiga kali.

Cih!

Mama istri pertama meninggal saat aku berumur delapan tahun, lalu papa menikah lagi dengan perempuan bernama Rania. Lahirlah adikku Luisa. Pernikahan mereka tidak harmonis karena papa selalu main perempuan. Mungkin calon istri barunya merupakan salah satu koleksi ani-ani miliknya.

Ah, i don't care what he does as long as he doesn't mess up my life.

Mungkin itu memang terjadi, tapi apa sebenarnya misi dibalik ini? Orang gila mana yang rela menikah dengan perempuan sekarat?

"Hai Kea"

"Ya?"

"Aku, Kin"

"Oh... iya"

"Kalau ada sesuatu, please let me know ya"

Kin sedang mencoba memecah jeda diantara kami. Dia membawa vietnam spring rolls dan thai tea. Not bad sih dia bisa sampai tahu favoritku.

"Kamu butuh uang berapa?"

"Hah?"

"Pernikahan ini bersyarat kan? Apa yang papa janjikan, materi atau jabatan atau apa? Aku bisa membayar lebih, just tell me how much you want"

"Lebih baik kamu makan dulu daripada meracau tak jelas. Sini, aku suapi!"

Tangannya menyuapkan satu spring roll utuh membuat mulut ini penuh. Bukan hanya mencomot potongan yang lain, ia bahkan menyeruput Thai Tea tanpa basa-basi.

"Unethical... " gumamku pelan. Kin mendengarnya tapi bersikap bodo amat.

"Tidak usah khawatir tentang apapun. Silakan atur privasi masing-masing. Aku tidak akan mengganggumu, but you can tell me if you need anything... "

Dia memberikan kotak berisi handphone yang masih baru. Tangannya membuat call me gesture lalu menghilang dibalik pintu.

This guy is quite interesting. I think i should get to know him better.

***

Satu bulan sudah melalui masa kehidupan kedua. Hidup kedua, ya aku menganggap kalau ini jalan reinkarnasi untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Selama pemulihan aku didampingi spesialis kejiwaan, mental, dan spiritual. Aku sudah bukan lagi tahanan kamar, bisa berjalan-jalan sekitar rumah walau masih ditemani asisten. Papa terkadang datang memastikan kondisi anaknya baik dan sehat.

By the way, kemana Kin?

What did he do?

Apa status kontrak suami pura-pura nya sudah berakhir?

Are you dead?

You miss me? :)

Damn. Rasanya ingin menghilang ditelan bumi karena dia merespon cepat pesanku sebelum sempat menariknya. Sekarang dia pasti tertawa senang mengira aku memikirkannya.

Alasan aku mencari Kin mungkin karena kesepian. Papa membatasi komunikasi. Di kontak handphone hanya ada papa, Kin, dan asisten. Tidak ada sosial media hanya aplikasi nonton online berbayar untuk hiburan.

Bosan.

Sepertinya aku harus mengatur ulang goals serta resolusi baru. Wajah dan penampilan baru justru lebih baik. Apa aku operasi plastik saja ya? Bagaimana dengan identitas baru? Nama baru?

"Ini serius?"

"Sure. Aku sudah mencari tahu klinik bedah plastik yang oke. Hanya masih bingung, better di Korea atau Thailand. Pokoknya masalah ini aku akan handle sendiri, kamu hanya harus bujuk papa untuk setuju saja. Tidak usah khawatir tentang dana, i have a lot of money."

"Kalau aku tidak mau?"

"You have to. Kamu tidak punya opsi untuk memilih yes or no."

"Haishhh... do what u want lah" ketusnya menghela nafas panjang lalu melemparkan sesuatu. Dinner party invitation. Luisa and Jordan.

Lui? Luisa?

Kenapa dia?

Sibling relationship dengannya cukup buruk karena kebencianku dengan istri papa. Rania tidak akan pernah bisa jadi pengganti Mama. Masih terekam di ingatan perilaku abusive nya dulu. Sosok yang diharapkan menjadi pemberi kasih justru menjadi pemberi sakit. Bahkan bekas sundutan rokoknya masih membekas di lengan sampai sekarang. Tentu dia orang pertama yang kecewa karena aku masih hidup, anaknya gagal menjadi pewaris tunggal.

Let karma do its works.

Nanti juga tiba saatnya dia hancur, apalagi sebentar lagi papa mau menikah lagi. Cukup diam dan duduk manis menikmati drama.

Dinner invitation ini untuk perayaan tunangan Luisa dengan pacarnya. Papa menyuruh Kin untuk mengajakku. Tentu aku menolak keras, tapi salah satu perkataannya berhasil mencubitku.

"It's time for the flower petals to show their bloom"

Dia benar. Aku harus datang dan menunjukkan versi diri yang baru.

***

Kin berkata akan menjemput jam tujuh. Masih ada senggang empat jam untuk mempersiapkan semuanya. Akhirnya aku pergi ke butik dan salon lagi setelah sekian lama, mendapatkan kembali kenyamanan dan kesenangan seperti perempuan modern lainnya.

Jakarta masih sama seperti sebelumnya. Ah, apalah arti delapan bulan berlalu. Kota ini masih panas, berisik, dan egois. But this city made me rich jadi aku cukup menikmatinya.

Memotong sial dengan mengubah gaya rambut. Aku benci karena orang pertama yang harus melihat hasil make over ini adalah Kin. Selera fashionnya buruk, sama seperti lidahnya.

"Bagaimana? Bagus tidak?"

Mungkin terkesan lebay, tapi reaksi berbinar dan takjub adalah sesuatu normal yang diharapkan perempuan saat memamerkan sesuatu.

Please tell me that i am pretty or stunning gitu!

Kenapa dia harus memberikan tatapan datar.

Sangat datar.

"Okay, nice"

Dia bahkan hanya melakukan scan penampilan baruku tidak lebih dari satu detik. From head to toe, cuma satu detik.

"Hanya itu saja?"

"Tidak ada yang berubah, sama saja, hanya beda belahan poni"

"Sama saja? Maksudnya?" tanyaku sambil menekan gas emosi.

"Sama saja tetap cantik, "

Bangsat!

My face is as red as a tomato.

Seperti tomat busuk yang mau pecah.

Terpopuler

Comments

Verlit Ivana

Verlit Ivana

Kak ide ceritanya keren /Smile/.
Ini pas dialog, saran bubuhkan dialog tag nya untuk tau siapa yg lagi bicara.

2025-03-10

4

IamEsthe

IamEsthe

daripada scan, ganti ke mengamati


Dia bahkan diam saja, tapi tatapannya mengamatiku dari atas hingga ke bawah secara pelan, seolah mencari sesuatu yang berbeda dariku.


begitu juga bisa. kalo kata scan masti mengarah ke kertas atau dokumen /Sweat/

2025-02-28

3

✧˖°. Dilaa 𝜗𝜚 ‧₊˚ ⊹

✧˖°. Dilaa 𝜗𝜚 ‧₊˚ ⊹

halo kak aku sudah mampir

2025-03-06

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!