Karena hukuman, akhirnya Eighar harus di pindahkan ke sekolah aneh yang berisi orang-orang yang aneh pula. Sekolah macam apa yang di maksud?? Tak ada yang khusus, kecuali murid-murid serta sistem sekolahnya yang terbalik. Lalu, apa yang mengganjal dari hal itu??
Baca lah sendiri!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerimis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu dan Dendam
"Siapa disana?" ucap Zeam dari dalam, sambil sibuk melirik ke arah pintu. Ia merasa ada seseorang di sana, sedang mengintip di dalam ruangan. Buru-buru Zeam menutupi tubuhnya dengan baju, tak mau ada yang heran melihat bekas lukanya itu. "Dokter Melissa?" sapa Zeam lagi, tapi tak ada jawaban.
Zeam pun hendak turun dari kursinya, lalu berjalan mendekat ke pintu. Saat ia hampir menjangkau gagang pintu,
Cklek!!
Pintu terbuka sepenuhnya, membuat Zeam berpapasan dengan seorang perempuan dengan rambut cepolnya. "Dokter Melissa?" sergah Zeam, terlihat kebingungan. Zeam pun masih melirik ke pintu, tapi dokter Melissa langsung menuntunnya untuk duduk.
"Duduk lagi ya, biar dokter periksa lagi. Tadi dokter cek ke LAB, masih ada atau enggak salep penghilang bekas luka. Rupanya masih ada, tapi lebih bagus lagi kalau terapi laser. Bisa hilang secara berkala dan lebih cepat." ucap dokter Melissa sambil duduk di kursinya.
Zeam duduk terpaku di kursinya, tapi matanya sibuk melihat gerak gerik tangan dokter Melissa ke kiri, kanan, atas dan bawah. "Menurut saya, gak ada yang salah dari bekas lukanya, dok. Saya gak keberatan."
Perkataan Zeam membuat dokter Melissa terhenti dalam aktivitasnya, dan mencari mata Zeam untuk ia tatap. "Tapi.. itu masa lalu yang buruk. Kamu gak bersalah dan gak seharusnya luka itu menghantui kamu seumur hidup. Lagipula pribumi sudah merdeka enam tahun yang lalu. Jadi, bekas perbudakan ini harus di lenyapkan."
Zeam hanya tersenyum di bibir, tapi matanya hanya menatap datar. "Justru karena hal itu, saya ingin bekas luka ini ada seumur hidup. Saya ingin menunjukkan, kalau budak itu.. masih hidup dan mengutuk orang-orang pada masa itu."
Salep yang di genggam dokter Melissa terlepas, jatuh ke atas meja. Menyadari hal itu, dokter Melissa menggelengkan kepalanya, lalu memasukkan lagi salep tersebut ke kantong obat dan memberikannya pada Zeambi. "Terimakasih sudah hidup sampai sekarang, kamu hebat." ujar dokter Melissa dengan suara yang gemetaran.
Zeam melirik bungkusan obat yang di sodorkan kehadapannya. Ia terdiam cukup lama, mengambil obat tersebut lalu beranjak dari tempat duduknya. "Senang bertemu dengan dokter." ujarnya sambil keluar dari ruangan dokter Melissa.
Pintu tertutup dengan rapat, menyisakan dokter Melissa yang masih duduk sendirian. Ia menarik napas panjang lalu menghelanya perlahan. Ia mendapatkan pasien yang menarik. Eighar dari keluarga konglomerat Riantama, dan Zeam, dari keluarga bangsawan. Ia mendapat anak titipan yang spesial.
Dokter Melissa hendak beranjak untuk mencari keberadaan Eighar di luar ruangannya. Namun pintu tiba-tiba terketuk, dan Eighar langsung membukanya saat dokter Melissa barusaha berdiri dari kursinya.
"Permisi, dok. Ini Eighar." ujarnya, dan dokter Melissa tersenyum menyambut kedatangan Eighar, meskipun hatinya kalut karena pasien sebelumnya.
"Oh, kamu datang tepat waktu. Silakan duduk." pintanya, dan Eighar langsung duduk di kursinya.
"Oke, kita mulai periksa tensi dulu, habis itu suhu tubuh, berat badan, tinggi badan, lalu kita sesuaikan dengan Japimu." ucap dokter Melissa, dan Eighar menganggukkan kepalanya.
"Sebelumnya, maaf kalau saya gak sopan, dok." perkataan Eighar membuat senyum dokter Melissa memudar.
"Ada apa?" tanyanya sambil memasang alat tensi di lengan Eighar.
"Saya tadi nunggu di depan, dan gak sengaja ngedenger pembicaraan dokter sama anak sebelumnya." ujar Eighar, membuat dokter Melissa terkesiap.
"Kamu denger? Jadi tadi kamu juga berpapasan sama dia di depan ruangan?"
Eighar mengangguk, padahal ia langsung bersembunyi dari Zeam saat anak itu keluar, agar tak ketahuan menguping.
"Hah, iya.. Nama anak tadi Zeambi Heatyu. Anak baru juga, kamu pasti udah liat pemberitahuannya di Japi kan, dia masuk hari senin kemarin." terang dokter Melissa, membuat Eighar menatap lekat kearahnya.
"Bukan itu yang saya mau tau." sahut Eighar, membuat dokter Melissa tercekat. "Saya gak sengaja liat bekas luka di tubuh anak itu. Banyak banget dan mengerikan. Setahu saya melalui sejarah, setiap orang-orang yang memiliki bekas luka, adalah tanda kalau itu adalah budak pribumi yang dimiliki oleh kasta atas alias penjajah pada masa itu."
"Ini emang obrolan sensitif, mengingat kasus pembantaian enam tahun silam di seluruh kota dan desa-desa oleh oknum kasta atas yang menjajah. Dan karena saya juga bagian dari kasta atas, saya gak mau membuka kasus lama, hanya aja.. Zeam kan kaum bangsawan, kok.. dia bisa dapat penyiksaan pribumi?" tanya Eighar, membuat dokter Melissa mengerjapkan matanya dengan cepat, seraya mengatur napasnya yang tak beraturan.
"Nak, kamu tau darimana kalau Zeam itu berasal dari kaum bangsawan?" tanya dokter Melissa, tapi Eighar tak tampak terkejut dan biasa saja.
"Dia murid baru dan sekelas dengan saya, jadi dia menarik dan saya mencari informasi detil mengenai dia. Dia kaum bangsawan, tertulis jelas di Japi." jawab Eighar.
Dokter Melissa menarik napas panjang, menghelanya seraya tersenyum. "Ya, benar. Dia kaum bangsawan dari informasi yang di terima saat masuk. Menurut cerita dari Zeam, dulu ia tinggal di satu desa kecil, tempat dimana orang-orang besar menjadikannya sebagai medan pertempuran. Bom dan senjata api, serta reruntuhan tak menakutkan lagi. Desanya di serang tanpa mereka tau apa kesalahan mereka. Hasil ladang, perternakan, bahkan rumah-rumah penduduk di masuk paksa dan mereka mencuri sisa-sisa persediaan makanan."
"Bukan sampai disitu aja, bahkan mereka pun memperkosa gadis-gadis belia dan juga ibu-ibu muda. Tempat itu seperti neraka, namun yang tinggal di sana adalah penghuni surga yang tidak tau apa-apa. Mereka tidak salah, tapi mereka di serang."
"Akibat penyerangan itu, kedua orang tua Zeam dibunuh di depan mata kepalanya sendiri. Gak sampe disitu aja, dia juga disiksa dan ditandai sebagai budak oleh pembunuh orang tuanya. Sejak hari itu ia selalu menderita, mencuri untuk bisa makan di desa lain, saat ketahuan, ia di arak warga dan di lempari batu."
"Kan dia bangsawan, siapa yang berani menyentuh kaum bangsawan??" Eighar memotong pembicaraan dokter Melissa.
"Saya kurang tau itu, hanya aja dari cerita Zeam begitu. Bekas lukanya parah dan dia pasti punya trauma yang berat untuk menjalani hidup. Tapi, dari apa yang dokter liat, dia itu tulus dan baik. Matanya kosong, dia bercerita seperti tak melibatkan perasaan sama sekali. Dia, seperti sudah memaafkan semua yang terjadi. Dia hebat dan jiwanya sehat, dia tak merasa kalau masalah itu terlalu berat, dia bilang.. semua orang punya masalah jadi dia tak mau mengeluh." terang dokter Melissa panjang lebar.
Eighar terdiam, mengerutkan dahi menatap dokter Melissa yang kelihatan senang dengan Zeam. "Ya, semua orang punya masalah.. tapi tidak semua orang bisa menerima apa yang terjadi pada mereka." ucap Eighar, membuat dokter Melissa terdiam dan menatapnya.
Sebenarnya tidak ada yang sedang membandingkan, hanya saja Eighar merasa kesal kala mendengarnya. Kenapa Zeam bisa menerima semua itu dan jiwanya tak terluka, sementara dirinya tak bisa menerima apa yang terjadi pada dirinya, dan jiwanya terluka.
Eighar mengeratkan giginya, mengepalkan kedua tangannya dengan kuat hingga kuku-kukunya menancap tajam dan melukai telapak tangannya sendiri.
Ia membayangkan wajah papanya, dan mengutuk bayangan yang muncul tersebut. "Kenapa Papa saya juga gak mati kayak papa Zeam? Kalau dia gak ada di dunia ini, semuanya pasti baik-baik aja." ujarnya dengan mata yang penuh dendam.
Bersambung...
.......
.......
.......
Assalamualaikum pembaca kuu..
Maaf hari ini aku telat update, kondisi badan lagi gak fit dan baru sekarang bisa pegang HP. Selamat membaca yaaa, semoga puasa kita semua lancar dan diberikan kesehatan..
Wassalam...
sekolah militer juga bukan
waktu itu Meta ngasih infonya salah terus, aku bilang payah.
si Meta bilang "gunakan bahasa yg baik & sopan"
lah aku jawab Meta marah, ngambek? katanya tidak, saya tidak punya emosi trus dia lgsg mengalihkan topik pembicaraan
takut ketahuan kalo sebenarnya ada "manusia" yg mengoperasikan si meta ini.
othor pernah chat sama meta jg ga? 😁