NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Dosen Killer

Istri Rahasia Dosen Killer

Status: tamat
Genre:Dosen / Nikahmuda / Aliansi Pernikahan / Pernikahan Kilat / Beda Usia / Tamat
Popularitas:28.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: Desy Puspita

Niat hati mengejar nilai A, Nadine Halwatunissa nekat mendatangi kediaman dosennya. Sama sekali tidak dia duga jika malam itu akan menjadi awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.

Cita-cita yang telah dia tata dan janjikan pada orang tuanya terancam patah. Alih-alih mendapatkan nilai A, Nadin harus menjadi menjadi istri rahasia dosen killer yang telah merenggut kesuciannya secara paksa, Zain Abraham.

......

"Hamil atau tidak hamil, kamu tetap tanggung jawabku, Nadin." - Zain Abraham

----

Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 - Malu Seumur Hidup

Strateginya sudah tepat, tapi tetap gagal mencetak gol. Mungkin karena kurang tenaga ketika menendang bolanya, tapi hendak bagaimana? Baru mencoba didorong sedikit saja penjaga gawangnya sudah menangis.

Begitulah akhir kisah Zain tadi malam, sebuah kisah yang membuat Zain tidak bisa tidur nyenyak. Keesokan hari, matanya terlihat memerah, terlihat jelas jika Zain begadang malamnya.

Sudah tentu dia selalu punya alasan, Nadin bertanya apa sebabnya dan Zain menjawab jika dirinya semalam ada pekerjaan. Entah pekerjaan apa yang membuat lingkar matanya sampai menghitam.

Nadin yang sejatinya tidak pernah berbohong jelas percaya-percaya saja. Sementara uminya, jelas saja berbeda dan justru mewawancarai Nadin hingga ke akarnya terkait penyebab mata Zain yang memerah.

"Katakan sama umi apa yang terjadi sebenarnya?"

Nadin menghela napas panjang, entah harus dengan cara apalagi menjelaskannya agar percaya "Kan mas Zain sudah jelaskan apa sebabnya, Umi, dia kerja dan kebetulan tidak bisa tidur jadi ya begadang."

"Tidak mungkin, aura suaminya redup, Halwa ... umi paham betul aura laki-laki tahu kamu?"

Sejak kapan uminya jadi pakar aura? Nadin tidak tahu juga. Yang jelas saat ini dia ketahui uminya mendadak seolah lebih mengenali Zain dibandingkan dirinya. Mungkin karena raut wajah pria itu terlalu kentara, sejak menjemput uminya ke rumah sakit memang tampak lesu dan menguap berkali-kali.

Wajah Zain juga tampak cemberut, sesekali tersenyum, tapi memang lebih banyakan diam. Bicara seadanya, tidak dingin, tapi tidak begitu hangat juga. Tadinya Nadin pikir sang suami hanya lelah karena kini memilih tidur dan sudah cukup lama, tapi setelah mendengar ucapan uminya mendadak Nadin jadi kepikiran.

"Kalau memang ada masalah, ceritakan pada umi, Halwa ... salah-satu kunci samawa adalah memahami pasangan, dan saat ini umi merasa kamu belum memahami suamimu."

Tak segera menjawab, Nadin masih mengerjap pelan. Dia bingung apa maksud uminya, semalam memang mungkin menjadi sebab murungnya Zain, tapi Nadin merasa hal itu tidak akan jadi masalah karena Zain sendiri yang memintanya tidur.

.

.

"Ayo jawab."

"Jawab apa, Umi?"

Umi Fatimah sampai menghela napas panjang. Putrinya memang pintar, tapi tentang memahami lawan jenis masih nol besar. "Pasti sesuatu terjadi tadi malam, kemarin wajah Zain tidak begitu ... bisa tolong jelaskan sama umi, Nak?"

Sebenarnya malu, tapi Nadin merasa dia memang perlu jalan keluar. Jujur dia akui, sikap Zain yang agak sedikit berbeda membuatnya bingung hendak harus bagaimana. Atas alasan itulah, Nadin memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi semalam.

Sudah pasti ada yang dia tutup-tutupi, sebisa mungkin Nadin melindungi dirinya dan Zain. Sepolos-polosnya, Nadin bisa membedakan apa yang perlu diutarakan dan yang tidak. Terkait penyebab kenapa lain kenapa malam keduanya sampai gagal tetap dia rahasiakan, tapi yang jelas Nadin mengatakan intinya saja.

Umi yang mendengar seketika mengerjap pelan, matanya membola kemudian menggeleng pelan. "Ya, Tuhan kasihan ... wajar saja dia selemas itu, dari sejak menikah belum kamu berikan?"

"Belum, Umi, mas Zain tidak minta."

Jawaban Nadin sukses membuat Umi Fatimah tepok jidat. "Aduh, gawat ini."

"Gawat? Gawat kenapa, Umi?"

"Halwa ... kamu mungkin belum terlalu memahami, tapi Zain sudah dewasa dan sebagai istri kamu wajib memberikan haknya, Sayang."

Nadin tahu, dia paham tentang itu. Bukan tidak mau, bukan pula menolak, tapi terbukti semalam Zain sendiri yang tidak mampu karena sakitnya sungguh menyiksa Nadin. Ucapan uminya memang benar, dia tidak akan menampik hal itu dan juga Nadin tidak akan membela diri.

Karena jika Nadin sampai mengatakan alasan sebenarnya, bisa dipastikan Umi Fatimah akan sehancur apa. Sebagaimana tekadnya, apa yang terjadi malam itu cukup menjadi rahasia dan tidak perlu sampai ke telinga uminya.

Hingga, di tengah kebimbangan Nadin, dia seketika terpikirkan jawaban paling aman yang mungkin akan membuatnya dicubit setelah mengatakan hal itu. "Sakit, Umi," jawab Nadin seraya meringis hingga lebih meyakinkan uminya.

"Memang begitu awalnya." Masih aman, uminya masih memaklumi dan mengusap pelan puncak kepala Nadin.

Merasa hal itu belum cukup, Nadin kemudian menggunakan nama Zain sebagai perlindungan terakhir agar uminya tahu jika dirinya sudah berusaha. "Mas Zain sendiri yang memilih menunda."

"Oh iya?" tanya Umi Fatimah memastikan. Bukan tanpa alasan dia sampai bertanya seperti ini, wajah Zain terlalu berbeda dan sebagai ibu, wanita itu hanya mencoba menengahi agar keharmonisan rumah tangga putrinya terjaga.

"Iya, semalam Mas Zain bilang lain kali saja ... jalanya kurang beccek, gitu, Umi."

"Heh?"

Prank

Berkat jawaban Nadin, bukan hanya umi yang terkejut, tapi sang suami yang baru saja datang dari arah dapur juga begitu. Bahkan, gelas di tangannya sampai terlepas hingga pecah menjadi beberapa bagian. Nadin tidak tahu sejak kapan sang suami ada di sana, karena seingatnya sejak tadi Zain tidur siang.

Buru-buru dia menghampiri Zain, dengan wajah cemas khawatir sang suami marah, dia turut berjongkok dan hendak memunguti pecahan gelas tersebut. Namun, secepat mungkin Zain menepis tangan sang istri. "Biar aku saja."

"Mas kapan bangunnya? Sudah lama?"

"Be-belum, baru bangun kok." Selama ini Zain tidak pernah sampai gagap, tapi di hadapan mertuanya Zain seolah tidak lagi memiliki harga diri.

Wajahnya memerah, bahkan Zain buru-buru memunguti pecahan gelas tersebut tanpa peduli dengan goresan di tangannya. Terlalu besar malu pada sang mertua, lukanya sampai tidak berasa dan Nadin yang sadar kala melihat tetesan darah di lantai.

"Mas sebentar, tanganmu luka."

Beberapa kali Nadin memanggilnya, dan Zain memilih pura-pura tuli. Tiba di dapur, dia berhenti tanpa aba-aba hingga Nadin membentur tubuhnya. "Aaawwhh!!" keluh Nadin seraya mengusap keningnya, tak dapat dipungkiri memang sakit sekali.

Zain berbalik, menatap sang istri yang kini sibuk sendiri seolah paling tersakiti. "Kenapa sejujur itu?"

"Hah? Mas marah?"

Tidak sebenarnya, Zain tidak marah. Tapi, jujur dia katakan, "Malu, Sayang malu!! Kenapa pakai dibilang perkara jalan beccek itu sama umi? Hm?"

"Mas sendiri yang bilang begitu, terus salahnya dimana, Mas?" tanya Nadin dengan mata yang kini mengerjap pelan dan hanya mampu Zain tanggapi dengan senyuman. "Tidak, kamu tidak salah, tetangga kita yang salah."

.

.

- To Be Continued -

1
Herlina Anggana
pdhal GK pernah di apa2in Zain kok bsa hmil
Herlina Anggana
itu Zayn LG di kmar mandi nongolin kepala doang ambil ngbrol bhas cinta2n gitu Astaga gak ada cara yg lebih romantis apa zain
Herlina Anggana
komedi romantis nih
Herlina Anggana
🤣🤣🤣🤣🤣 ya Allah capek bgt keram perut gini terus 😄😄🤣🤣🤣🤣 Thor kamu juara pokoknya
Herlina Anggana
mendadak umi🤣
Herlina Anggana
anaku yang manis 😄😄😄 kebayang gemesnya 🤭
Herlina Anggana
kan emang bner2 tu dosen killer jadi kaya balita kan gara2 bucin.. gak sabaran banget
Herlina Anggana
cool family klo lagi ngumpul emang banyol banget ya hari2nya
Herlina Anggana
lemari plastik keranjang cucian kontras bgt sama istana hunian suamimu 😄
Herlina Anggana
tuh kan sayang lagi kan aduh salto juga nih aku
Herlina Anggana
sayang?what sayang?😍😍😍
Herlina Anggana
aku sih dongkol bgt jadi Nadin susah payah,GK d ksih kelonggaran buat nylesaiin soal... asli pelit bgt
Herlina Anggana
susah bgt merubah kebiasaan makan anak kost,yg irit bgt, kebiasaan nahan lapar gitu . adek ku dulu sampe di suapin padahal dah bujang
Herlina Anggana
inget komen orang yg pas habis akad di pegang ubun2nya begitu udah kelar acara istrinya nanya,"yang tadi kamu doa apa pas pegang kepala aku?"
lakinya jawab"lah emangnya suruh doa?"🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Reni Fitria Mai
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Reni Fitria Mai
lucu membacanya ketawa sendiri 🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
laahh kalau mau keluar kota naik pesawat bukannya pake pasport, jd atomatis Jihan sama Ronald bawa doongng buat pelengkap surat² keberangkatan jd kenapa ga mikir ke sana... kalau cuma muter keliling doang di situ ga mungkin lagi pake surat².🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
hadeuuuhhh pada kenapa siihh.. pak Zain masih hidup masih saja pada mikir aneh, udah lewat seminggu loohh masa masih pada takut.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
biarkan saja Nad mungkin Zan masih butuh rehat untuk maksimalkan energinya yg terkuras habis pasca kecelakaan tenggelam di laut.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
ampuuunn si Azka masih saja parnoan yg hororr².
🤣🤣🤣
trs Zeshan yang namanya pengen sesurga itu ga harus yg sudah beristri doang tapi juga buatmu yg jomblo biar tar sapa dapet pasangan yg sholehah jd bisa sesurga juga.🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!