NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 18: Konsekuensi

Malam setelah pengungkapan tentang Anjani, Aluna dan Arsen berbaring di tempat tidur dalam keheningan yang tidak nyaman. Bukan keheningan yang penuh kedamaian seperti biasanya, tetapi keheningan yang dipenuhi pikiran yang belum terucapkan.

Arsen memeluk Aluna dari belakang seperti biasa, tetapi pelukannya terasa... ragu. Seperti ia takut Aluna akan menghilang jika ia melepaskan, tetapi juga takut Aluna tidak ingin dipeluk setelah mengetahui masa lalunya.

"Arsen," panggil Aluna pelan di kegelapan.

"Hmm?"

"Cerita lebih banyak tentang investigasi itu," ucap Aluna sambil berbalik menghadap Arsen. "Saya ingin tahu semuanya. Tidak ada lagi rahasia di antara kita."

Arsen terdiam lama, tangannya mengelus rambut Aluna dengan lembut.

"Kamu yakin?" tanyanya pelan. "Ini... ini tidak akan mudah untuk didengar."

"Saya yakin. Saya lebih suka tahu kebenaran yang menyakitkan daripada hidup dalam ketidaktahuan."

Arsen menarik napas dalam, lalu mulai bercerita.

"Setelah kecelakaan, polisi melakukan investigasi rutin. Mereka menemukan bahwa selang rem mobil Anjani... dipotong sebagian. Tidak sepenuhnya, tetapi cukup untuk membuat rem gagal saat digunakan dalam tekanan tinggi seperti saat menuruni bukit di malam hujan."

Suaranya bergetar saat melanjutkan.

"Keluarga Anjani menuntut investigasi lebih dalam. Mereka curiga pada... aku. Karena kami bertengkar malam itu. Karena saksi teman Anjani melihat aku berteriak padanya di tempat parkir kampus. Karena aku pernah bilang..." ia berhenti, menarik napas dalam, "...aku pernah bilang pada Anjani, 'Kalau kamu pergi, aku akan memastikan kamu tidak akan pernah bisa pergi dari hidupku.'"

Aluna tersentak mendengar kalimat itu.

"Itu bukan ancaman untuk membunuh," lanjut Arsen cepat. "Itu hanya... kata-kata possessive bodoh dari pria muda yang terlalu takut kehilangan. Tetapi setelah kecelakaan, kata-kata itu terdengar seperti... motif."

Tangannya mencengkeram Aluna lebih erat.

"Polisi menginterogasi ku selama berjam-jam. Mereka memeriksa alibi. Ternyata, saat Anjani pergi dengan mobilnya malam itu, aku ada di apartemenku sendirian. Tidak ada saksi. Tidak ada alibi."

"Tetapi juga tidak ada bukti bahwa Anda yang memotong selang rem itu," ucap Aluna.

"Ya," angguk Arsen. "Mereka tidak menemukan sidik jariku di mobil Anjani. Tidak ada CCTV yang menangkap aku mendekati mobilnya. Tidak ada bukti fisik sama sekali. Jadi setelah tiga bulan investigasi... kasus ditutup. Kecelakaan dengan sabotase oleh pelaku tak dikenal."

Ia menatap mata Aluna dengan tatapan yang penuh rasa sakit.

"Tetapi keluarga Anjani tidak pernah memaafkan aku. Mereka yakin aku yang melakukannya. Teman-temannya juga. Bahkan sebagian keluargaku sendiri... meragukan aku."

Air mata mulai mengalir di pipinya.

"Selama tiga tahun, aku hidup dengan bayangan itu. Bayangan bahwa orang-orang melihatku sebagai pembunuh yang lolos dari hukuman. Dan yang paling menyiksa adalah... sebagian kecil dariku juga menyalahkan diriku sendiri."

"Kenapa?" tanya Aluna sambil mengusap air mata di pipi Arsen.

"Karena kalau aku tidak possessive berlebihan, kalau aku tidak membentak Anjani malam itu, kalau aku membiarkannya pergi dengan tenang... mungkin dia tidak akan mengemudi dalam keadaan emosional. Mungkin dia akan lebih hati-hati. Mungkin dia masih hidup."

Ia terisak.

"Jadi meski aku tidak memotong selang remnya... secara tidak langsung, aku yang membunuhnya. Dengan sifat possessive ku. Dengan tidak bisa melepaskan."

Aluna merasakan dadanya sesak mendengar rasa sakit dalam suara Arsen. Ia menarik pria itu ke dalam pelukannya, membiarkan Arsen menangis di dadanya.

"Itu bukan salah Anda," bisiknya sambil mengelus rambut Arsen. "Yang memotong selang rem itu yang bertanggung jawab. Bukan Anda."

"Tetapi..."

"Tidak ada 'tetapi,'" potong Aluna tegas. "Anda mencintai Anjani. Ya, dengan cara yang possessive. Tetapi mencintai seseorang bahkan dengan cara yang salah bukan kejahatan. Yang kejahatan adalah orang yang dengan sengaja merusak mobilnya."

Ia memaksa Arsen mendongak menatapnya.

"Dan saya tidak akan membiarkan Anda terus menyalahkan diri sendiri. Anda sudah menderita cukup lama. Sudah waktunya untuk... memaafkan diri sendiri."

Arsen menatap Aluna dengan mata yang penuh air mata dan sesuatu yang menyerupai... harapan.

"Bagaimana aku bisa memaafkan diriku sendiri saat keluarganya tidak pernah memaafkan aku?"

"Dengan memulai dari yang kecil," jawab Aluna sambil tersenyum tipis. "Dengan mencintai saya dengan cara yang lebih sehat. Dengan belajar dari kesalahan masa lalu. Dengan membuktikan bahwa Anda bisa mencintai tanpa... menghancurkan."

Arsen menarik napas gemetar, lalu mengangguk pelan.

"Aku akan mencoba," bisiknya. "Untuk mu, aku akan mencoba."

Mereka berpelukan erat di kegelapan, berbagi rasa sakit, berbagi air mata, berbagi... penyembuhan.

Pagi berikutnya, saat Aluna bangun, ia menemukan Arsen sudah tidak ada di tempat tidur. Tetapi ada catatan lagi di bantal,

"Sayang,

Terima kasih untuk semalam. Terima kasih karena mendengar. Terima kasih karena tidak pergi.

Hari ini aku harus ke kantor untuk menghadapi konsekuensi dari sabotase Darren. Mungkin akan sangat sibuk dan penuh tekanan. Tetapi setiap kali aku merasa ingin menyerah, aku akan mengingat kamu. Mengingat bahwa ada seseorang yang percaya padaku bahkan saat yang lain tidak.

Aku mencintaimu lebih dari kemarin, kurang dari besok.

- Arsen

P.S. Ada hadiah untukmu di meja rias. Pakai, jangan lepas. Itu pengingat bahwa kamu milikku tetapi aku juga milikmu."

Aluna berjalan ke meja rias dengan penasaran. Di sana, sebuah kotak perhiasan kecil menunggu.

Saat dibuka, ia terbelalak.

Sebuah gelang berlian dengan dua liontin liontin "A" dan "A". Satu untuk Aluna, satu untuk Arsen.

Tetapi yang membuat mata Aluna berkaca-kaca adalah ukiran kecil di bagian dalam gelang:

"Milikmu, seperti kamu milikku. - A.M."

Ini bukan lagi tentang kepemilikan satu arah. Ini tentang... kepemilikan timbal balik. Tentang dua orang yang memilih untuk menjadi milik satu sama lain.

Dengan tangan gemetar, Aluna memasang gelang itu di pergelangan tangannya tepat di bawah jam tangan Cartier yang dulu Arsen berikan.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa tanda kepemilikan ini bukan belenggu.

Ini adalah... jangkar.

Jangkar yang menahan dua jiwa agar tidak terpisah oleh badai apa pun.

Namun, badai itu belum selesai.

Sore hari, saat Aluna sedang membaca di perpustakaan, Pak Budi menghampirinya dengan ekspresi tegang.

"Nona Aluna, ada... tamu."

"Tamu?" Aluna mengernyit. Ia tidak mengundang siapa-siapa.

"Nyonya Anjani. Ibu dari almarhum Nona Anjani."

Jantung Aluna berhenti sejenak.

"Kenapa... kenapa beliau di sini?"

"Beliau bilang ingin bertemu dengan Anda. Ingin bicara sesuatu yang penting."

Aluna merasakan dadanya sesak. Tetapi ia mengangguk.

"Baik. Saya akan ke ruang tamu."

Di ruang tamu, seorang wanita paruh baya duduk dengan postur yang tegak tetapi wajah yang dipenuhi kesedihan. Rambutnya sudah memutih di beberapa bagian, matanya yang dulunya mungkin cerah sekarang redup karena duka yang berkepanjangan.

"Nyonya Anjani," sapa Aluna sambil duduk di sofa berhadapan.

Wanita itu menatap Aluna lama tatapan yang menilai, yang mencari.

"Jadi kamu... Aluna Pradipta," ucapnya dengan suara yang lelah. "Wanita yang... menggantikan putriku di hati Arsen."

Aluna tidak tahu harus menjawab apa.

"Aku tidak datang untuk menyakitimu," lanjut Nyonya Anjani. "Aku datang untuk... memperingatkan mu."

"Memperingatkan saya tentang apa?"

"Tentang Arsen Mahendra," jawab wanita itu dengan suara yang bergetar. "Tentang bagaimana cintanya bisa membunuh."

Aluna menegang.

"Arsen tidak membunuh Anjani..."

"Secara langsung, tidak," potong Nyonya Anjani. "Tetapi possessiveness-nya, cemburu butanya, kontrol berlebihannya... itu yang mendorong putriku ke jurang. Itu yang membuatnya mengemudi dalam keadaan emosional di malam hujan."

Air mata mulai mengalir di pipi wanita itu.

"Malam sebelum kecelakaan, Anjani meneleponku. Dia menangis. Dia bilang dia tidak tahan lagi dengan sifat Arsen. Dia bilang dia merasa tercekik. Dia bilang dia ingin putus tetapi... takut dengan reaksi Arsen."

Aluna merasakan dadanya sesak.

"Dan keesokan harinya," lanjut Nyonya Anjani dengan suara pecah, "putriku meninggal. Dalam kecelakaan yang... mungkin bukan kecelakaan."

Ia menatap Aluna dengan tatapan tajam.

"Aku tahu kamu percaya Arsen tidak memotong selang rem mobil Anjani. Mungkin memang bukan dia. Tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa Anjani meninggal karena mencoba kabur darinya."

"Arsen sudah berubah," ucap Aluna dengan suara gemetar. "Dia belajar dari kesalahan masa lalunya. Dia..."

"Orang seperti Arsen tidak berubah," potong Nyonya Anjani dingin. "Mereka hanya... menyembunyikannya lebih baik. Dan suatu hari, saat kamu mencoba pergi, saat kamu merasa tercekik seperti Anjani dulu... kamu akan mengingat kata-kataku."

Ia bangkit dari duduknya.

"Aku kehilangan putriku karena Arsen Mahendra. Aku tidak ingin ada gadis lain yang mengalami nasib yang sama. Jadi kumohon... lari. Lari sejauh-jauhnya dari pria itu sebelum terlambat."

Dengan itu, Nyonya Anjani keluar dari mansion, meninggalkan Aluna duduk sendirian dengan pikiran yang berputar kacau.

Malam itu, saat Arsen pulang, ia langsung tahu ada yang salah. Aluna duduk di sofa dengan tatapan kosong, gelang yang ia berikan masih terpasang di pergelangan tangan, tetapi ada... jarak di mata Aluna yang membuat hati Arsen mencelos.

"Aluna?" panggil Arsen sambil berjalan mendekat. "Ada apa? Kamu..."

"Nyonya Anjani datang tadi sore," potong Aluna dengan suara datar.

Arsen membeku.

"Apa?"

"Ibu Anjani. Dia datang ke sini. Dia ingin memperingatkan saya tentang Anda."

Arsen merasakan dunianya runtuh.

"Aluna, apa pun yang dia katakan..."

"Dia bilang Anjani ingin putus dari Anda malam sebelum kecelakaan," lanjut Aluna, suaranya tetap datar tetapi ada air mata yang mulai menggenang. "Dia bilang Anjani merasa tercekik. Merasa ketakutan."

Ia akhirnya menatap Arsen dengan mata berkaca-kaca.

"Apa itu benar?"

Arsen tidak bisa berbohong. Tidak pada Aluna.

"Ya," bisiknya dengan suara serak. "Itu... itu benar. Anjani bilang dia butuh jarak. Butuh waktu untuk berpikir. Dan aku... aku panik. Aku membentak. Aku bilang aku tidak akan membiarkannya pergi. Aku..."

Suaranya terputus, air mata mengalir.

"Aku membuat kesalahan yang sama seperti yang aku lakukan sekarang padamu. Aku terlalu mencintai hingga mencekik. Dan itu membunuh Anjani."

Ia jatuh berlutut di depan Aluna, tangannya meraih tangan Aluna yang dingin.

"Tetapi aku berjanji, Aluna. Aku berjanji aku tidak akan membiarkan sejarah terulang. Aku belajar. Aku berubah. Aku..."

"Sudah berubah?" tanya Aluna dengan suara yang sangat lembut. "Atau hanya... lebih pandai menyembunyikannya?"

Pertanyaan itu menusuk tepat di jantung Arsen.

Ia tidak bisa menjawab.

Karena dalam hatinya, ia sendiri tidak tahu jawabannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!