NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Office Romance
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh,detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 — CONTROL PROTOCOL

Lantai teratas Volt-Tech sudah gaduh sejak jam delapan pagi. Arsenio masuk ke ruang rapat utama, para direksi tidak menoleh saat Arsenio masuk, mereka sibuk menatap layar masing-masing dengan rahang terkatup.

"Perubahan struktur proyek ini terlalu mendadak, Arsenio," cetus Pak Handoko tanpa basa-basi. Jarinya mengetuk meja, menuntut penjelasan soal manuver berisiko itu. Arsenio tak langsung menjawab. Dia cuma merapikan letak jam tangannya dengan teliti.

"Klien butuh kepastian, bukan eksperimen."

Arsenio mendongak, membuat Pak Handoko mendadak berhenti mengetuk meja.

"Perusahaan bukan soal opini publik atau spekulan," sahut Arsenio.

Suasana langsung senyap. Dia tidak memberi ruang debat. Baginya, visi Volt-Tech sudah mutlak.

Baskoro maju. "Kami butuh angka, bukan kesombongan."

Suaranya rendah. Tekanan memuncak, tapi Arsenio tetap tegak.

Arsenio paham mereka hanya butuh rasa aman. Ketakutan itu cuma variabel yang bisa diredam dengan hasil nyata. Dia tak butuh simpati.Dia menekan remote. Proyeksi laba kuartal depan muncul di layar.

"Jika Bapak sekalian lebih memilih stabilitas daripada pertumbuhan agresif, silahkan cari direktur lain."

Gertakannya berisiko. Para direksi tertegun menatap layar. Angkanya naik tajam di tengah kekacauan.

Semuanya diam. Arsenio tidak peduli pujian. Cukup mereka tahu siapa bosnya.

"Rapat selesai. Jalankan jadwal saya."

Dentuman laptop yang tertutup rapat menjadi titik akhir debat itu. Arsenio melenggang keluar, membiarkan bunyi sol sepatunya menghantam lantai marmer lorong dengan irama yang angkuh, meninggalkan para direksi yang masih mematung menatap layar.

Di depan pintu, Alinea sudah menunggu.

Suara ketukan bolpoin pimpinan komisaris menghentikan langkah Arsenio. Map biru keluar dari laci. Arsenio berbalik, tahu ada yang tidak beres.

"Dewan sepakat audit total proyek Artha Capital," ucap Pak Handoko datar. Dia tidak melihat Arsenio, hanya menatap draft yang penuh tanda tangan. Ini bukan sekadar pemeriksaan rutin. Ini serangan.

Arsenio bersandar di pintu. Dia menunggu siapa yang akan memimpin audit itu. Biasanya, dia yang pegang kendali. Kali ini, senyum para direksi terasa beda. Ada yang janggal.

Pak Handoko mengetuk meja. Pintu terbuka, dan seseorang melangkah masuk.

Pintu terbuka. Alinea melangkah masuk dengan setelan kerja rapi. Layar besar di ruangan itu menyala dari tablet di tangannya. Kehadiran Alinea di sana adalah tamparan buat Arsenio.

"Ibu Alinea akan membedah risiko proyek ini secara mandiri," lanjut Pak Handoko. Jelas sudah. Dewan tak lagi mau mendengar versi Arsenio. Mereka hanya butuh angka dari sang konsultan.

Alinea berdiri di depan layar, membelakangi Arsenio. Begitu slide pertama terbuka, semua celah proyek yang baru saja Arsenio banggakan terpampang jelas. Tanpa basa-basi, Alinea langsung menyerang titik terlemahnya.

Arsenio menarik kursi di barisan belakang. Dia memilih duduk, menonton visinya sendiri dibongkar habis. Dewan sedang memberi panggung buat Alinea. Ini bukan lagi soal efisiensi, tapi soal siapa yang lebih dipercaya. Di ruangannya sendiri, Arsenio merasa jadi orang asing.

Suara Alinea tenang, membedah angka satu per satu. Isinya adalah koreksi telak atas semua keputusan Arsenio bulan ini. Para direksi sibuk mencatat, sesekali bertukar pandang penuh arti.

Arsenio menatap lekat seorang anggota dewan yang paling semangat mengangguk. Dia menandai wajah itu dalam kepalanya.

\*\*\*\*\*

Pintu ruangan itu terbuka tanpa peringatan. Arsenio tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang berani melanggar privasinya. Dia tetap menyesap kopinya yang mulai mendingin, membiarkan aroma pahit itu mengisi rongga dadanya sebelum akhirnya meletakkan cangkir di meja dengan denting porselen yang tajam.

Di ambang pintu, Alinea berdiri tegak. Ketegangan dari ruang rapat tadi seolah menempel di lipatan setelan kerjanya, ikut masuk dan mencekik sirkulasi udara di sana. Arsenio akhirnya mengangkat wajah, matanya mengunci sosok di depannya dengan intensitas yang menuntut penjelasan.

"Dewan minta saya presentasi strategi besok," kata Alinea tanpa basa-basi. Dia berdiri tegak di depan meja Arsenio. Arsenio meletakkan cangkirnya, menatap Alinea dengan mata lelah yang masih waspada.

"Itu mau mereka, bukan perintah saya," sahut Arsenio dingin. Dia bersikap seolah pengkhianatan tadi cuma urusan bisnis biasa. Tangannya merapikan dokumen di meja, mencoba mencari kesibukan.

Arsenio menyandarkan punggung, memutar kursi perlahan sambil memperhatikan pantulan cahaya di ujung sepatu Alinea, membiarkan keheningan itu bekerja menekan mental lawannya.

"Presentasi besok... itu juga bagian dari rencana Bapak?" tanya Alinea pelan. Dia ingin tahu apakah Arsenio sengaja menjebaknya di depan dewan. Dia menunggu, menuntut jawaban yang jujur.

Arsenio tersenyum tipis. "Bukan saya lagi yang mengatur, Alinea. Itu kemauan dewan," sahutnya datar. Dia kembali fokus pada dokumen di mejanya, membiarkan Alinea berdiri di sana tanpa jawaban pasti.

Alinea tidak bergeming. Dia melipat tangan, menatap Arsenio tanpa gentar.

"Baik. Saya pastikan presentasinya tidak mengecewakan. Termasuk bagi Anda," katanya tenang.

Arsenio mengangguk singkat. Begitu pintu tertutup, dia langsung menarik laci meja dan mengeluarkan sebuah map. Isinya data yang tidak dipegang siapapun, termasuk dewan maupun Alinea.

Kerumunan karyawan di lobi tidak lagi bergerak tapi mata mereka terpaku pada layar besar yang memampang headline 'Dualisme Kepemimpinan' dengan font tebal, menyeret nama Arsenio dan Alinea dalam satu baris berita yang sama.

Orang-orang di lobi mendadak diam saat Alinea lewat.

Efeknya langsung terasa. Saham Volt-Tech anjlok tiga persen bahkan sebelum jam makan siang. Investor mulai panik dan lepas tangan, tidak mau bertaruh pada perusahaan yang bosnya sedang "perang saudara".

Koridor terasa makin gerah. Bisikan orang-orang terdengar riuh, beradu dengan suara telepon di meja staf yang tak berhenti berdering. Semua orang dari luar menuntut jawaban yang sama sekali tak bisa mereka beri.

Arsenio menghubungi tim humas. "Rilis bantahan keluar dalam tiga puluh menit. Jangan lewat sedetik," perintahnya dingin. Dia tahu tiap menit yang terbuang berarti uang yang hangus. Di ujung koridor, para dewan justru tampak tenang. Bagi mereka, anjloknya saham hari ini cuma harga kecil untuk menyingkirkannya.

Alinea menatap angka-angka merah di layarnya. Dia tahu namanya sekarang jadi alasan saham itu terjun bebas. Reputasi buruk yang sebenarnya tidak dia inginkan, tapi dia tahu betul kalau kekacauan selalu menyisakan celah. Dan Alinea punya cara sendiri untuk menyelinap di sana.

Banjir warna merah di layar itu tidak membuat jemari Alinea bergetar. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat tipis. Dia tahu namanya sedang dicaci di luar sana, tapi baginya, kekacauan ini hanyalah panggung yang baru saja ia nyalakan.

Arsenio mengumpat tertahan. Tak! Dia menutup laptopnya dengan kasar, menyabet jas di sandaran kursi, lalu melesat keluar. Dia butuh jawaban sekarang juga.

\*\*\*\*\*

Arsenio membiarkan ruangannya gelap. Di bawah lampu meja, dia membuka map itu dan menyisir baris-baris audit di sana. Gerakannya mendadak berhenti pada satu nama di bagian paling bawah. Sial. Seluruh rencananya baru saja hancur.

Artha Group tidak meminta Alinea karena reputasi. Seseorang dari dalam Volt-Tech sudah lebih dulu membukakan pintu, membocorkan celah strateginya, lalu menaruh nama Alinea sebagai satu-satunya jalan keluar. Semuanya sudah diatur sejak awal.

Alinea tidak datang karena kebetulan. Seseorang dari dalam Volt-Tech sengaja membukakan pintu untuknya. Arsenio menatap sekeliling ruangannya yang mendadak terasa asing. Seolah tiap sudut gedung ini sedang mengintai.

Dia menyambar ponsel cadangan, mengetik satu pesan, lalu mematikannya. Permainan ini baru saja dia ambil alih.

Arsenio menyambar kunci mobil, meninggalkan laptopnya yang masih menyala di meja.

Di parkiran, dia memutar kemudi ke arah yang berlawanan dari rumahnya.

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
🙌
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
🙆✨🥰 👉👍👈
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
readers tekan jempolnya mana????

👍

🙆✨🔥
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
yang mau aku UP terosss 🫵 komen lanjut!!!
kalo gak aku gakan UP lagi loh🫸
🙌 eitss!! becanda yak readers 😹

terimakasih banyak buat pembaca setia 🫶✨✍️🔥
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: oiyaaaa kalo Sukak novel ini, pencet jempol likenya yak 👍🙆🫰
total 1 replies
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!