NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Persaingan Mafia
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lea

Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.

Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.

Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.

Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.

Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.

Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 3

Beberapa mobil pengawal berusaha mengejar Jay secara berurutan. Namun saat Jay terus menambah kecepatan, satu per satu mulai kewalahan. Mereka berpencar ketika akhirnya kehilangan jejaknya.

“CIIITTT—!!!”

Jay menghentikan mobilnya mendadak di pinggir jalan. Ia keluar begitu saja, meninggalkan mobil sport hitam itu tanpa menoleh kembali. Pria itu berjalan tanpa arah, hingga akhirnya duduk di sebuah halte bus yang sepi.

Hujan turun sejak siang, membuat jalanan lengang. Malam pun sudah terlalu larut untuk orang-orang keluar rumah.

Jay duduk sendiri, menyandarkan punggung, menatap hujan yang jatuh tanpa henti. Suasana sunyi itu pecah ketika seseorang duduk di sebelahnya.

Seorang gadis.

Ia masih mengenakan seragam cleaning service, tas gendong sederhana di punggungnya. Earphone terpasang di kedua telinganya. Gadis itu menoleh sebentar ke arah Jay, matanya menangkap lebam dan luka di tubuh pria itu.

Tanpa banyak kata, gadis itu merogoh tasnya dan mengulurkan sebuah plester kecil bergambar hati.

Jay hanya memandanginya. Diam.

Gadis itu menggerakkan tangannya sedikit, tersenyum tipis, seolah menyuruh Jay segera menerimanya.

“Kalau kita ketemu lagi,” katanya ringan, “kau harus bayar. Oke?”

Baru setelah itu, dengan ragu, Jay mengambil plester tersebut.

Bus yang ditunggu gadis itu datang. Sebelum berdiri, ia kembali merogoh tasnya.

“Aku tadi juga jatuh,” katanya sambil memperlihatkan lututnya yang sudah ditempeli plester dengan gambar yang sama.

“Jadi aku beli beberapa obat luka. Pakailah dulu. Kalau kita ketemu lagi, kau harus menggantinya. Bus-nya sudah datang. Aku pergi dulu.”

Ia meletakkan sebuah kantong plastik putih berisi obat-obatan di samping Jay, lalu berlari naik ke dalam bus.

Jay belum sempat mengatakan apa pun.

Saat bus mulai berjalan, gadis itu membuka jendela dan berteriak sambil tertawa.

“Namaku Anna Barthley! Ingat baik-baik namaku ya! Kau harus janji buat menggantinya!!”

Bus itu menjauh.

Jay menunduk, menatap plester bergambar hati di tangannya dan kantong plastik di sampingnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, sebuah senyuman tipis yang bahkan tak ia sadari.

Dadanya terasa lebih ringan.

“Padahal… aku tidak mengenalnya,” gumam Jay pelan.

“Tuan Muda!”

Suara terengah-engah memecah momen itu. Beberapa pengawal berlari mendekat.

“Kami mencari Anda ke mana-mana. Jangan menghilang seperti ini lagi, Tuan Muda. Kalau Tuan Besar tahu, kami semua bisa mati.”

Beberapa sedan hitam mewah berhenti di depan halte.

Seorang pria asing turun dari salah satu mobil dan berjalan mendekat.

“Saya Drew,” katanya sambil membungkuk sopan.

“Pengawal baru yang akan bertugas di sisi Anda. Mohon kerja samanya, Tuan Muda Kedua.”

Jay berdiri dan berjalan melewati Drew menuju mobil pengawal. Saat melangkah, ia melirik Drew sekilas.

“Sudah kau laporkan pada ayahku,” ucap Jay dingin, “kalau kali ini aku pergi dan berniat kabur dari rumah?”

Drew menelan ludah.

Tatapan Jay terlalu dalam, terlalu tenang, membuat bulu kuduknya seketika meremang.

Di dalam mobil, suasana sunyi.

Mesin menderu stabil, wiper menyapu sisa hujan di kaca depan. Jay duduk di kursi belakang, menyandarkan kepala, tatapannya lurus ke depan. Tidak marah. Tidak gelisah. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kabur dari rumah.

Drew duduk di kursi penumpang depan. Punggungnya tegak, tangannya terkepal di atas paha.

Ia pernah mengawal banyak orang. Bos mafia yang temperamental. Anak-anak pejabat yang brutal.

Pewaris perusahaan yang suka pamer kuasa.

Namun Jay, dia berbeda.

“Berapa lama kau bekerja untuk ayahku?” tanya Jay tiba-tiba, tanpa menoleh.

“Dua belas tahun, Tuan Muda,” jawab Drew cepat.

“Berapa orang yang mati selama kau mengawal mereka?”

Pertanyaan itu membuat Drew terdiam sepersekian detik.

“…Tidak terhitung, Tuan.”

Jay mengangguk pelan. Seolah itu jawaban yang memuaskan.

“Dan menurutmu,” lanjut Jay, “siapa yang paling berbahaya?”

Drew ragu. Ia memilih jawaban aman.

“Mereka yang mudah marah dan tak ragu menumpahkan darah.”

Jay tersenyum tipis. Sangat tipis.

“Itu salah.”

Mobil terus melaju.

“Mereka yang berbahaya, adalah yang tidak perlu mengotori tangannya sendiri.” kata Jay lagi dengan suara datar.

Drew merasakan tengkuknya dingin.

Drew menoleh sekilas lewat kaca spion. Jay masih terlihat santai. Namun ada sesuatu di matanya, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Bukan kegilaan. Bukan amarah. Sikap tenangnya yang penuh perhitungan.

Jay mengeluarkan plester bergambar hati dari sakunya. Menatapnya sebentar, lalu menyimpannya kembali.

“Kau tahu kenapa ayahku resah padaku?” tanya Jay.

Drew menelan ludah. “Tidak, Tuan.” Kata Drew berbohong.

Tentu saja seharusnya Drew tahu, kenapa dia di tugaskan untuk selalu berada di sisi Jay. Tidak lain dan tidak bukan, untuk mengawasi Jay, menjadi mata-mata Jackman tentang semua yang Jay lakukan. Tentang semua hobi aneh Jay. Dan tentang semua tentang kehidupan Jay.

“Karena aku tidak menikmati semua yang ayahku berikan. Aku menikmati caraku sendiri, yang ayah ku menyebutnya hobi aneh.” Kata Jay.

“Kau pasti sudah tahu itu bukan.” Kata Jay penuh suaranya penuh tekanan.

Keringat menetes di pelipis Drew. Seolah Jay menyadari ketidak jujuran Drew.

Jay akhirnya menoleh. Tatapannya bertemu dengan Drew lewat spion. Tatapan Jay seolah penuh dengan tusukan.

Jay meraih plester bergambar hati lagi, dan mengangkatnya sebatas dahinya, ia mendongak ke atas sedikit lalu memandangi plester bergambar hati tersebut.

“Aku suka pada orang yang datang dengan sukarela. Meminta. Menyerahkan diri. Itu jauh lebih jujur.” Kata Jay menyimpan plester itu lagi ke dalam saku. Seolah Jay mengisyaratkan bahwa gadis yang baru saja ia temui dan memberikan plester padanya adalah gambaran nyata kesukaannya.

Drew merasa napasnya tercekat.

Ia baru sadar, selama perjalanan ini, Jay tidak pernah memerintah. Tidak pernah mengancam. Tidak pernah meninggikan suara. Namun auranya justru menusuk dan semua orang, selalu menuruti Jay.

“Drew,” panggil Jay pelan.

“Y-ya, Tuan.”

“Kau tidak perlu takut padaku,” ucap Jay.

“Aku tidak pernah menyakiti pengawalku.”

Jay berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada hampir ramah namun dingin dan datar penuh peringatan.

“Kecuali mereka berbohong.”

Mobil berhenti di depan apartemen. Drew turun dengan perasaan yang berkecamuk, pria itu cekatan membukakan pintu dengan tangan yang sedikit gemetar.

Saat Jay melangkah keluar, Drew menunduk lebih dalam dari yang seharusnya. Bukan karena perintah. Bukan karena jabatan. Melainkan karena insting.

Untuk pertama kalinya sejak bekerja di keluarga itu, Drew mengerti satu hal yang membuat dadanya dingin. Zavier berbahaya karena amarahnya. Jackman berbahaya karena kekuasaannya. Helena berbahaya karena keangkuhannya.

Namun Jay. Jay berbahaya karena ia membuat orang ingin berada di sisinya, bahkan saat mereka tahu itu salah. Bahkan saat mereka tahu, kepalanya akan hilang jika mereka berada di sisi Jay.

Dan Drew sadar, ia baru saja menjadi salah satu dari mereka. Drew sadar, ia tidak akan melaporkan apa pun kepada Jackman, tentang Jay yang sempat mencoba kabur, tentang malam ini.

“Berat sekali pekerjaan kali ini.” Kata Drew mengehela napasnya berkali-kali.

“Kurasa setelah pekerjaan ini selesai aku harus pensiun dan lebih menikmati hidup.”

Bersambung

1
@emak aisyah
tidak tau lagi mau berkata apa,di tunggu pertempurannya Thor pastikan Jay tak terkalahkan
wiwied
next
@emak aisyah
ya ampun,bang NEWBE update bersamaan tapi kenapa aku lebih milih Jay,Jay aku padamu 😍😍
daniez
upp
daniez
ok
@emak aisyah
keren,tidak ada kata selain keren,KEREN KALI THOR semangat di tunggu updatenya 🙏
@emak aisyah
cas cis cus pokoknya gas torr
@emak aisyah
satu kesalan satu ciuman bikin kesalahan trs aahhh🤣🤣
@emak aisyah
lah jadi kacau,kasihan Anna nggk tau apa² jadi sasaran semua orang gerak cepat Jay simpan jangn sampai ada yang menyentuhnya
@emak aisyah
nggk bisa nafas aku bacanya
@emak aisyah
masuk babak menegangkan,apakah Jay masih diam saja saat di tindas zavier
@emak aisyah
blm terjadi tapi aku udah kasihan Ama Anna
@emak aisyah
lah kirain tak sama,ternyata sama² psikopat
@emak aisyah
ko bisa orng berbahaya kaya Jay bisa kuat diam saja di siksa😔😔
@emak aisyah
keren tidak salah kalian author terbaik semangat thor💪💪
@emak aisyah
halo kakak author salam kenal saya fans NEWBEE HK mau ikut nimbrung di sini🙏🙏
eva nindia
makasih up nya thor...
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....
eva nindia
baguss kluar ajaa jay,,, bangun dinasti baru mu....
eva nindia
🙄 knapa insting c jackman gak jalan
eva nindia
cba tahta itu d serahin ke zavier djamin ancurr 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!