Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.
Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.
Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"
Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?
----------
Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan ( Rodrigo)
Ruang tamu keluarga yang megah namun terasa dingin. Di luar, langit abu-abu pekat seolah menahan tangis. Langit duduk menyesap kopi, sementara Sky dan Shyla sibuk dengan gadget mereka. Angel sedang merapikan vas bunga saat langkah kaki berat terdengar dari tangga.
Rodrigo berhenti di anak tangga terakhir, menggenggam erat tali tas besarnya."Dad... Mom..."
Angel menoleh perlahan, matanya membelalak melihat tas besar itu. "Rodrigo? Kau sudah rapi sepagi ini? Mau ke mana kau membawa tas sebesar itu, Sayang?"
Rodrigo menarik sudut bibirnya, membentuk senyum kaku yang tidak sampai ke mata. "Aku hanya ingin berlibur sejenak ke luar negeri, Mom. Kurasa... aku butuh udara baru untuk menenangkan diri."
Langit meletakkan ponsel di genggaman nya, mengerutkan dahi. "Liburan? Mendadak sekali? Kita bahkan tidak membicarakan ini saat makan malam kemarin, Rodrigo. Ada apa sebenarnya?"
Sky dan Shyla serempak menoleh, wajah mereka penuh kebingungan. "Kak? Kau meninggalkan kami?"
Rodrigo menatap lekat kedua saudaranya. "Hanya sebentar. Bukankah setiap burung perlu sesekali terbang jauh dari sarangnya untuk melihat dunia yang sebenarnya?"
Angel mendekat, mencoba menyentuh bahu putranya. "Tapi cuaca sedang buruk, Nak. Dan hatiku... tiba-tiba merasa tidak tenang. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
*Rodrigo menghindar secara halus, batinnya berteriak." Hati yang tidak tenang? Atauka*h Mommy takut kehilangan piala kemenangan? "
"Aku baik-baik saja, Mom. Benar-benar baik. Aku hanya lelah menjadi 'pajangan' yang sempurna di rumah ini."
"Apa maksudmu dengan pajangan? Kau adalah kebanggaan keluarga ini!"
Rodrigo terkekeh getir, menatap tajam ke arah Angel. "Ya, kebanggaan. Sebuah piala kemenangan yang berkilau, bukan? Aku pergi dulu. Jaga diri kalian baik-baik... terutama rahasia-rahasia yang kalian simpan rapat di balik tembok rumah ini."
Lamunan kelam itu pecah hanya ketika sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya, membawa Angel kembali ke realitas kenyataan, menyisakan tatapan bingung dari Langit yang menyadari bahwa istrinya telah kehilangan jiwanya sejak semalam.
"Angel, jujur padaku, sejak semalam kau seperti memikirkan sesuatu?"
Angel menarik nafas, menghembuskan nya, matanya menatap Langit dengan sendu. " 5 Tahun yang lalu.. saat Rodrigo pergi meninggalkan rumah ini.. dia.. dia tidak pernah kembali lagi, dia menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang tau dimana dia sekarang.. kematian 6 orang di pesta pernikahan itu-- entah kenapa hatiku mengatakan bahwa sebuah pembalasan dendam masa lalu sekali lagi membayangi hidup kita."
Langit terdiam memikirkan nya, dia menyentuh lengan Angel lembut. " Apa kau curiga jika Rodrigo yang melakukan nya? Tapi mustahil, Angel... kematian itu, kita semua tau bahwa ada jejak sihir yang tertinggal meskipun tidak terlihat.. sementara Rodrigo, dia tidak memiliki sihir."
Angel menggeleng cepat. "Justru karena dia rasional, itu yang berbahaya. Ada sesuatu yang bisa melawan sihir atau takdir sekalipun, Langit... yaitu pengetahuan sains yang lebih berkembang. Mungkin Rodrigo tidak menggunakan sihir untuk membalas dendam, tapi dia menggunakan otaknya. Kau tahu sendiri, dia memiliki otak yang sama pintarnya dengan Sky dan Shyla. Jika dia menggunakan kecerdasannya untuk menghancurkan kita... kita tidak akan pernah melihat serangannya datang."
" Sains adalah sihir modern bagi mereka yang tidak mengerti cara kerjanya. Dan Rodrigo... dia adalah ahlinya." Lanjut Angel-- dia memejamkan matanya. Kenangan masa lalu tentang keluarganya dan Langit yang menentang keputusan Angel untuk mengadopsi Rodrigo kembali terngiang. Sekarang.. sekali lagi dia harus bertanya pada dirinya.
Apakah keputusan nya di masa laku telah membuat seorang monster jauh lebih kuat? Ataukah.. karena pilihan nya seorang monster terlahir?
•
•
Suasana laboratorium itu terasa mencekam, dipenuhi bau logam yang tajam dan kelembapan yang menusuk tulang, menciptakan kontras yang mengerikan dengan peti kaca yang berpendar redup di tengah ruangan.
Rodrigo, yang kini tampak lebih seperti pahatan marmer daripada manusia hidup, telah melewati tujuh puluh dua jam dalam koma buatan setelah cairan sintetis yang mengubah struktur selnya mulai mengalir melalui pembuluh darahnya.
Tanpa setetes pun bantuan magis, murni melalui kejeniusan teknologi yang melampaui zaman, para profesor telah mengabulkan hasrat terdalam Rodrigo----sebuah evolusi paksa menuju kekuatan absolut yang mampu menghancurkan apa pun di jalannya.
Viona hanya bisa terdiam, bayangannya terpantul di permukaan kaca yang lembab, menyaksikan proses kelahiran seorang manusia super yang identitasnya mungkin telah terkikis habis oleh dinginnya ambisi mereka sendiri.
Viona menyentuh permukaan kaca yang berembun dengan ujung jemari yang gemetar namun dingin. "Tiga hari, Profesor. Tiga hari Ayahku membiarkan dirinya menjadi kelinci percobaan di dalam peti es ini. Apakah cairan itu benar-benar sebanding dengan sisa kemanusiaan yang dia miliki?"
Profesor Hanz memperbaiki letak kacamatanya sembari memantau grafik detak jantung di layar monitor. "Kemanusiaan adalah kelemahan yang ingin dia buang, Nona Viona. Cairan Project Chimera atau Aethelgard ini tidak hanya memperkuat otot, tapi menyusun ulang struktur seluler untuk menahan rasa sakit yang luar biasa. Dia tidak butuh sihir jika dia bisa menjadi dewa di antara manusia!"
"Dewa? Ataukah monster? Aku melihatnya setiap malam sebelum dia masuk ke sini... matanya tidak lagi memancarkan kasih sayang, hanya ada bayangan api yang membakar. Dia begitu terobsesi menghancurkan Sky sampai dia lupa bahwa dia adalah satu-satunya keluarga yang tersisa bagiku."
Suara Profesor Hanz merendah, dingin. " Dendam adalah bahan bakar yang paling efisien, lebih kuat dari serum mana pun yang kami ciptakan. Lihatlah monitor ini... detak jantungnya melambat, namun tekanan darahnya meningkat sepuluh kali lipat. Dia sedang berevolusi."
Viona mendekatkan wajahnya ke kaca, menatap wajah Rodrigo yang pucat pasi. "Bangunlah, Ayah. Bangun dan tunjukkan pada dunia bahwa kau telah menang. Tapi ingatlah satu hal... saat kau menghancurkan Sky nanti, pastikan kau masih mengenali wajah putri-mu ini. Jangan biarkan kekuatan itu membunuh hati yang selalu tersenyum."
Tiba - tiba...
Keheningan itu pecah seketika saat sepasang mata Rodrigo terbuka, menyorotkan warna perak yang tajam dan asing, memicu gelombang tekanan yang menghancurkan kaca pelindungnya hingga berkeping-keping.
Transformasi itu tampak mengerikan--- urat-urat di sekujur tubuhnya menonjol secara paksa, membentuk labirin garis berwarna biru keunguan yang berpendar di bawah kulitnya yang pucat.
Tubuh Rodrigo sempat melayang sejenak, menentang gravitasi dalam keheningan yang menyesakkan, sebelum akhirnya kakinya menghentak lantai laboratorium yang dingin.
Ruangan itu seketika tercekat--- para ilmuwan menahan napas dalam ketakutan yang murni, sementara Viona hanya mampu memejamkan mata, menyadari bahwa sosok yang berdiri di hadapannya bukan lagi ayahnya, melainkan sebuah senjata pemusnah yang lahir dari dendam dan ambisi yang buta.
Viona mundur selangkah, namun tatapannya tetap tajam dan bergeming. "Waktunya telah tiba. Kehancuran mereka... dimulai sekali lagi."
•
•
•
BERSAMBUNG