NovelToon NovelToon
Menjadi Madu Dalam Semalam

Menjadi Madu Dalam Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.

"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Sementara di kediaman Suhadi Monika menghentikan kegiatannya mengaduk Adonan kue, ia mendekat dan menyentuh punggung tangan Patricia yang masih memegang pisau. "Cia, tanganmu ini... masih sangat halus. Mama tahu, dua tahun ini bukan waktu yang mudah bagimu. Kenapa kamu tidak membiarkan Hilman membantumu lebih banyak? Bukankah itu kewajibannya?"

Patricia tertegun. Ia meletakkan pisau, lalu merapikan letak jilbab instannya yang sedikit miring. Ia memaksakan sebuah senyum yang paling rapi, jenis senyum yang sudah ia latih di depan cermin warung makannya dulu agar pelanggan tidak melihat matanya yang sembap.

"Kak Hilman sudah memberikan tempat berteduh yang sangat layak untukku dan Mama Selena, Ma. Itu sudah lebih dari cukup," jawab Patricia lembut. Ia kembali memotong wortel dengan gerakan cepat, seolah ingin mengalihkan pembicaraan. "Soal tangan... mungkin ini kebaikan hati Kak Rukayyah dulu yang masih membekas. Tuhan seolah ingin mengingatkanku bahwa aku pernah sangat dimanja, agar aku tidak lupa untuk selalu bersyukur sekarang....kak Rukayyah sangat baik, ia selalu datang dengan membawa kebutuhan seorang wanita,sama persis seperti saat Cia tinggal di rumah ayah Faisal"

Monika mendesah pelan. Ia tahu Patricia sedang membangun benteng. "Tapi mama tahu kamu sering terjaga sampai sepertiga malam, Cia. Mama sering melihat lampu kamarmu masih menyala. Apa yang kamu tangisi? Apakah karena Kirana?"

Mendengar nama istri pertama Alendra disebut, gerakan tangan Patricia terhenti sejenak. Ada denyut perih yang ia tekan kuat-kuat di dadanya.

"Mbak Kirana orang baik, Ma. Dia yang memiliki hati Alendra seutuhnya. Patricia... Patricia hanya pendatang yang numpang berteduh, dan soal sepertiga malam itu, sudah menjadi kebiasaan Cia setelah sadar akan arti hidup yang sebenarnya," bisiknya, suaranya nyaris hilang ditelan suara desis penggorengan. "Patricia tidak punya hak untuk sedih. Ini adalah jalan penebusan dosa yang Patricia pilih sendiri." lanjut nya dengan tersenyum.

Tiba-tiba, terdengar langkah kaki tegap dari arah tangga. Refleks, Patricia menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengatur napasnya agar tetap stabil. Ia tidak ingin Alendra melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.

Alendra muncul di ambang pintu dapur, rapi dengan kemeja kerjanya. Pandangannya sempat tertuju pada punggung Patricia yang terbalut apron, namun ia segera mengalihkan wajah saat menyadari kehadiran ibunya.

"Ma, Alen berangkat sekarang. Ini sudah terlalu siang.... Papa,Kakek dan Kirana saja sudah berangkat sejak pagi tadi," ujar Alendra lembut.

"Alen, tidak mau sarapan dulu? Istrimu—" Monika melirik Patricia, "—Cia sudah masak sup jagung kesukaanmu."

Alendra tersenyum..." Baiklah....ayo kita sarapan" ajak Alendra lembut,ia menarik lembut tangan Patricia tanpa memperdulikan mamanya yang bengong....

Sejak punya Cucu,Monica jarang di rumah,ia selalu ikut membantu mengurus Cucunya,jadi ia tidak tahu keadaan para menantunya di rumah.

" Ayo mah...kita makan bareng" Ajak Patricia...

"Mama sudah sarapan tadi sayang, kamu temenin suamimu saja" Monica mencuci tangan nya lalu pergi ke rumah Najwa,ia tidak mau mengganggu menantu dan anaknya.

" Ini sangat lezat" ucap Alendra berbinar, Kirana tidak pernah memasakkan makanan untuk nya lagi semenjak pulang dari bulan madu,tapi ia tidak mempermasalahkannya.

" Alhamdulillah mas, 2 tahun aku belajar, aku tidak mau menjadi Patricia seperti dulu lagi, yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menghambur-hamburkan uang juga menghina orang" jawab Patricia sendu, ia selalu sedih saat teringat dirinya dulu.

Alendra menggenggam tangan Patricia, "Berarti memang benar ya, ada istilah cinta itu buta, di saat banyak gadis yang mengejarku , Aku malah jatuh cinta pada gadis Sombong ini" kata Alendra membuat wajah Patricia memerah.

Setelah selesai sarapan pagi menjelang siang, Alendra berpamitan untuk ke kantor.

Tanpa berkata, Alendra menarik Patricia ke dalam pelukannya. Ia menyandarkan dagunya di bahu Patricia yang tertutup jilbab instan, menghirup aroma bumbu dapur dan parfum yang biasa Patricia kenakan saat kuliah dulu yang kini menjadi aroma favoritnya jauh lebih ia sukai daripada parfum mahal manapun.

" Aku berangkat dulu, kalau bosan di rumah kau bisa jalan-jalan atau berbelanja seperti dulu saat kau masih menjadi nona muda" ucap Alendra lembut,ia meletakkan kartu hitam miliknya,

" Alen ..ini terlalu berlebih-lebihan, aku sudah bosan hidup seperti dulu, aku ingin menjadi pribadi seperti sekarang" balas Patricia menolak kartu itu.

" kalau kau tidak mau memakainya,kau bisa menyimpannya,ini nafkah dariku....besok aku akan mengesahkan pernikahan kita secara hukum....aku berangkat dulu".

Cup...

Alendra mencium kening Patricia membuat Patricia mematung...

Ia memegang kartu hitam nya dengan tangan bergetar, bukan karena ia senang,tapi karena bingung... Ayah Faisal juga memberikan kartu itu tapi ia tidak pernah memakainya untuk kepentingan pribadi.

Patricia menghela nafasnya panjang,lalu berdiri dan membereskan meja, sisa-sisa makanan.

Siang harinya, Patricia meminta izin untuk mengunjungi Najwa. Di sana, suasananya jauh lebih hangat. Patricia menggendong salah satu bayi kembar Najwa, Aira, dengan sangat hati-hati.

"kak Cia, lihat... dia tenang sekali di gendonganmu. Sepertinya Aira tahu kalau kamu itu tantenya yang baik."

Patricia mencium pipi bayi mungil itu, matanya berkaca-kaca. Ada rasa sakit yang menusuk di dadanya. Ia teringat bahwa di rahimnya mungkin saja sedang tertanam benih Alendra akibat kejadian brutal malam itu. Ia takut, namun juga ada secercah harapan yang ia sendiri tak berani akui.

Patricia berbisik pada bayi Aira "Sehat-sehat ya, Nak... Jangan seperti Tante yang hidupnya penuh kekacauan."

Aira tersenyum, Najwa merasa tenang saat semua orang tidak ada di rumah, mama Monica pergi arisan, yang lainnya bekerja, hanya Alendra yang masih kuliah dan kerja sekaligus, sedangkan dirinya menganggur, saat di rumah orang tuanya,ia sibuk membantu mamanya berjualan di rumah makan.

___

Sore harinya, saat Patricia baru saja kembali dari rumah Najwa, ia berpapasan dengan Kirana yang baru pulang dari rumah sakit. Mereka bertemu di teras depan.

Kirana turun dari mobil dengan langkah goyah. Ia melihat Patricia yang tampak segar setelah bermain dengan bayi, sementara dirinya sendiri merasa seperti mayat hidup.

Kirana berhenti tepat di depan Patricia, menatapnya dengan pandangan menghina meski matanya sayu "Baru pulang dari tempat Najwa? Menyenangkan ya, melihat bayi-bayi itu? Tapi ingat, Patricia... kamu jangan pernah bermimpi bisa melahirkan anak untuk Alendra. Kamu hanya alat penyelamat malam itu, tidak lebih."

Patricia terdiam, ia menunduk dalam, membiarkan Kirana lewat dengan aroma obat-obatan yang samar tercium dari tubuhnya. Patricia merasa ada yang aneh dengan bau itu, namun ia terlalu takut untuk bertanya.

____

Alendra pulang saat matahari hampir tenggelam. Ia melihat Patricia sedang menyiram bunga di taman samping paviliun. Langkahnya terhenti. Ia ingin menghampiri, memeluk wanita itu.

Namun, dari jendela lantai dua, ia tahu Kirana sedang memperhatikannya dengan tatapan penuh luka.

Alendra hanya bisa berdiri di tengah-tengah antara rumah utama dan paviliun. Tangannya mengepal, ia menatap Patricia yang tak menyadari kehadirannya. Cahaya senja menyinari wajah Patricia, membuatnya tampak begitu sangat cantik. Alendra menghela napas berat, merasakan beban dua wanita yang sama-sama hancur karena dirinya.

1
Yuyun Srie Herawati
hmm gila sama kamu mbak Cia
Meiny Gunawan
up yg bnyk atuh thor...
nunik rahyuni
lha..wes konangan to...kurang ahli dalam penyamaran🤣🤣🤣🤣
@Mita🥰
yeeee semoga CIA peka klu itu alen
@Mita🥰
wah Alen bandung Bondowoso ...atau Roro Jonggrang 🤭🤭
Ulandary Ulandary
up lagi min
Sukarti Wijaya
alen bertranformasi jd bandung bondowoso siap beraksi, sblm ayam berkokok dan suara adzan menggema🤣
Yasmin Natasya
lanjut,up yang banyak thor 😁🙏
Nur Ayra
sangat bagus alurnya , 💪🥰🥰
Yuyun Srie Herawati
wahh nanti mbak Cia malah cinta sama kang Asep
@Mita🥰
semangat ya CIA .....Abang Alen selalu ada tuk mu
@Mita🥰
Alhamdulillah klu alendra yang dulu udah kembali🫣🫣🫣
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣 kang Asep Alon" 🤣🤣
Ulandary Ulandary
up lagi min
Nie
alhamdulillah kamu balik lagi ke asal Alen 😁🤭
Sukarti Wijaya
kekonyolannya ale muncul lg😄
@Mita🥰
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sri Supriatin
wouw da cerita baru n sdh 23 bab 👍👍..Happy Valentine days../Heart//Heart/ disimpen dulu bentar lagi Ramadhan...Tks thor tetap semangat ..🙏🙏
Ulandary Ulandary
up lagi min
Sukarti Wijaya
up lg thor, jgn bikin penasaran😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!