Dibohongi, ditipu, direndahkan itulah Sascha Hardiansyah di mata calon suaminya. Hati Sascha sungguh hancur berantakan bagaikan butiran debu. Namun tak lama sang sahabat menawarkan untuk mengambil S2 di Amerika. Di Amerika Sascha mulai melupakan perlakuan terhadap keluarga mantan calon suaminya itu. Setelah mengambil S2, Sascha memutuskan untuk bekerja di pusat perusahaan itu di Tokyo. Beberapa tahun sudah Sascha menjadi manager keuangan. Ketika Sascha pulang ke Indonesia menjadi orang sukses mantan pacarnya kembali lagi dan meminta untuk menikahinya. Namun saat kembali Sascha sudah menikah dengan sang sahabatnya sendiri.
Apakah Sascha mau bercerai dengan sahabatnya untuk kembali ke mantannya? Atau sebaliknya Sascha akan selalu bahagia hidup dengan sang sahabatnya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sischa Daniasri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
APAKAH MIMPI CHLOE BERKAITAN?
"Ya... Gue bilangin sama mama biar dikeluarin dari kartu keluarga. Gue tahu kalau lu enggak becus kerja! Gara-gara lu Sascha jadi kabur! Karena lu enggak bisa mempertahanin. Lumayan... Lu bisa nikahin dan eretin duitnya!" ketus Santi.
Billi berdiri dan mendekati Santi. Lalu Billi mendaratkan tangan kekarnya di pipi Santi.
Plakkkkkkkkkkk!
Plakkkkkkkkkkk!
Billi kesal hingga mendorong Santi jatuh tersungkur mencium lantai. Jelas-jelas Billi tidak menyukai Sascha kok sekarang malah dipaksa. Sebenarnya Santi meminta Billi untuk menikahi Sascha hanya diambil hartanya saja. Setelah miskin Billi bisa menceraikan Sascha. Namun Billi tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Santi rencana itu.
Sementara itu Fatin dan Dina keluar. Mereka tidak sengaja melihat Santi yang masih tersungkur dan memegangi pipinya yang merah itu. Santi tidak menangis melainkan kesal terhadap Billi. Kemudian Fatin menatap Santi yang jatuh tersungkur sambil menghela nafasnya, "Kalian ini memang tidak pernah akur! Selalu berantem dan pukul-pukulan! Bisa enggak sih kalian akur untuk mengemban tugas dari mama!"
"Tugas apa ma?" tanya Dina.
"Tugas untuk memiskinkan Sascha," jawab Fatin.
Dina tersenyum manis dan melihat Fatin lalu matanya beralih ke arah Santi. Kemudian Fatin menyuruh Santi untuk berdiri, "Santi, apakah kamu mau seperti itu secara terus-menerus?"
Ingin rasanya Santi berakting seperti itu. Namun Fatin mengetahui akting sang putrinya itu. Santi ingin memojokkan sang kakak agar dibenci sama Fatin. Akan tetapi semuanya itu hanya sia-sia.
Beberapa saat kemudian datang Risa dan mendekati Billi. Risa duduk di samping Billi kemudian melihat Dina dan Santi. Lalu Risa bertanya, "Apakah sudah siap rencana untuk memiskinkan Sascha?"
"Ternyata ini rencana kamu?" tanya Billi.
"Ya... Memang ini rencanaku. Aku ingin membuat Sascha menderita," jawab Risa.
"Kalau begitu kita bicarakan semuanya," ujar Fatin.
Mereka duduk melingkar dan membuat rencana. Billi akan tetap menikahi Risa secara sah di hukum dan agama. Namun setelah itu Risa meminta Billi menikahi Sascha untuk dijadikan istri kedua. Mata Billi membulat sempurna dan menggelengkan kepalanya. Jujur saja Billi tidak ingin mempunyai istri dua. Bahkan pernikahan Risa pun seharusnya tidak terjadi.
"Aku enggak mau nikah sama Sascha!" bentak Billi.
"Kamu harus mau menikahinya jika ingin mendapatkan hartanya. Kamu tahukan kalau Sascha adalah staf keuangan dari D'stars yang gaji pokoknya tiga puluh lima juta. Itu hanya gaji pokoknya belum tunjangan yang lainnya. Jika ada tunjangan yang lainnya bisa dipastikan gajinya hampir enam puluh juta," ucap Risa yang mengetahui secara jelas upah milik Sascha.
Mendengar kata uang telinga Billi sangat tertarik. Bahkan Billi bisa tersenyum manis ketika mengetahui gaji pokok Sascha yang cukup besar. Namun Risa tidak mengetahui kalau selama ini gaji yang diberikan oleh D'Stars ditahan oleh Dewa dan dibekukan hingga Billi putus dari Sascha. Dewa tahu kelicikan Billi dan keluarganya.
"Benarkah itu?" tanya Billi. "Aku kira gajinya hanya sepuluh juta."
"Ya itu benar. Aku memang mengetahuinya sejak dulu. Mungkin saja sekarang gajinya bertambah menjadi tujuh puluh atau delapan puluh juta," jawab Risa.
"Kalau begitu baiklah. Aku akan menikahi Sascha. Tapi aku harus melamar Sascha balik," jawab Billi yang semangat.
"Aku akan membiayai kamu sayangku," ucap Risa.
Fatin, Dina dan Santi tersenyum bahagia dan menyetujuinya. Risa akhirnya meminta mereka untuk mempersiapkan lamaran. Di rumah sakit milik Nakata Sascha masih dirawat. Dewa yang masih menunggu dokter keluar. Hatinya gelisah dan dadanya sesak. Airmatanya menetes dan tidak bisa terbendung.
Dewa menunduk dan menangis dalam diam. Dewa mengucapakan doa dalam hati, "Tuhan jika Sascha adalah teman masa kecilku tolong sembuhkanlah dia. Aku ingin menikahinya dan menjadi suami yang baik."
Gerre mendekati Dewa sambil berkata, "Berdoalah nak... Supaya calon istrimu sembuh. Jika Sascha adalah Aulia. Papa akan merestui kamu."
"Jika tidak?" tanya Dewa dengan lirih.
"Wa... Aku merasakan Sascha adalah putriku. Meskipun lama berpisah ikatan batin mama ke Sascha kuat. Bahkan sangat kuat sekali dan tidak pernah terputus sama sekali. Kamu harus yakin kalau Sascha adalah teman kecilmu," jawab Chloe.
Dewa menganggukan kepalanya tanda setuju. Lalu Dewa memandang ke depan dengan tatapan kosong. Tak sengaja Chloe mengatakan kalau tadi bermimpi melihat sang putri dipukul memakai tongkat hingga jatuh pingsan. Dewa yang mendengar itu langsung menatap Chloe, "Apakah itu benar ma?"
"Ya... Itu benar," jawab Chloe.
"Kenapa nyonya Chloe bermimpi jika Aulia pernah dipukul dengan benda tajam ya. Lalu sekarang Sascha merasakan kepalanya sangat sakit sekali. Apakah mimpi ini ada kaitannya? Apakah Sascha kepalanya dipukul dengan benda tajam?" tanya Dewa dalam hati.
Dewa segera mengambil ponselnya dan meminta Timothy untuk menyelidiki masa lalu Sascha. Lalu Dewa menghubungi Timothy. Beberapa saat kemudian Timothy yang berada di markas besar meraih ponselnya. Timothy melihat nama yang tertera di ponselnya itu dan mengangkatnya, "Hallo."
"Aku ingin kamu menyelidiki masa lalu Sascha sekarang. Besok pagi aku menunggu jawabannya!" perintah Dewa.
"Baiklah," balas Timothy.
Sambungan terputus.
Devan menatap tajam ke arah sang putra. Bisa-bisanya Dewa menyuruh Timothy menyelidiki masa lalu Sascha. Ingin rasanya Devan menghajar Dewa saat ini juga, "Apa yang kamu bilang tadi?"
"Aku meminta Timothy untuk menyelidiki Sascha. Apakah benar kepala Sascha terkena benda tumpul?" jawab Dewa.
"Yang dikatakan oleh Dewa benar apa adanya. Kita harus mencari bukti itu. Jika kita menemukanya cepat atau lambat Sascha bisa sembuh," sahut Tara yang menganalisis keadaan.
"Baiklah papa setuju pendapat mama. Papa akan menurunkan orang untuk membantu Timothy," ucap Devan.
"Aku juga," sahut Gerre dengan gelisah.
Lalu Dewa menganggukkan kepalanya tanda setuju. Devan dan Gerre menghubungi orang kepercayaannya untuk mencari bukti yang kuat. Tak lama dokter Ming keluar dari ruangan Sascha. Dokter Ming melihat mereka dan membungkukkan badannya sambil mengucap salam, "Selamat pagi tuan."
"Bagaimana kabar calon istriku?" tanya Dewa yang to the point.
"Maaf tuan. Kami menemukan banyaknya gumpalan-gumpalan darah yang menyumbat aliran darah ke otak. Beberapa jam lagi kami akan melaksanan operasi untuk mengambil gumpalan darah itu," jawab Dokter Ming.
"Apa!" pekik Dewa yang tubuhnya melemas.
"Apakah Nona Sascha kepalanya pernah terkena pukulan benda tumpul cukup keras?" tanya Dokter Ming.
Mereka terdiam dan tidak bisa menjawab. Kemudian otak Dewa mulai bertraveling ke masa lalu saat berkenalan dengan Sascha. Namun Dewa tidak pernah melihat Sascha yang terkena pukulan fisik.
"Saya kurang tahu itu. Orang kami sedang menyelidikinya," jawab Dewa.
"Apakah kalian bersedia jika nona Sascha dioperasi hari ini juga?" tanya Dokter Ming.
"Lakukanlah yang terbaik buat putriku. Tapi sebelumnya aku meminta sampel darahnya!" perinfah Gerre.
Dokter Ming pun menganggukkan kepalanya. Lalu dokter Ming pamit dan masuk ke dalam ruangan itu untuk mempersiapkan meja operasi untuk Sascha. Tak lupa juga Dokter Ming mengambil darah Sascha sedikit kemudian memberikan kepada Gerre.
"Ini tuan sampel darahnya," ucap Dokter Ming sambil menyodorkan ke arah Dewa.
"Terima kasih," balas Dewa yang mengambil sampel darah itu.
Kopinya nih wat temen up malem2.
Anaknya nanti twins genius.
terima kasih sudah mampir di ceritaku.
sehat selalu dan tetap semangat
Semangat thor
Semangat thor.....