Gadis itu dijadikan jaminan oleh ayahnya. Bukan sekali dua kali saja. Tapi terlalu sering, bahkan ia hampir kehilangan nyawa. Namun tidak ada kebencian yang terlihat. Membuat Qret, sang ketua gengster penasaran. Terbuat dari apa hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Fitnah
Hari sudah semakin larut. Aku mengajak ibu, kami harus istirahat supaya segar saat menghadiri acara lamaran besok. Usai pamit pada ayah, aku dan ibu menuju parkiran motor setelah sebelumnya memastikan ayah juga kembali ke rumah lama ibu rain taksi.
"Qret," panggil ibu, saat aku sudah menyalakan motor.
"Kenapa Bu?" tanyaku, saat itu terlihat ragu-ragu untuk melanjutkan pembicaraan.
"Setelah kamu dan Yasmin menikah, apa ibu boleh tinggal bersama ayah?" tanya ibu.
"Kalau ayah sudah berpisah dengan istrinya, Qret tidak akan melarang."
"Benarkah, Qret?"
"Iya Bu. Apa rencana ayah dan ibu kedepannya?"
"Kami ingin pindah kepinggir kota, Qret. Ketempat yang orang-orangnya tidak mengenali ayah ataupun ibu. Kami ingin memulai hidup baru. Dari nol. Ayah dan ibu sudah berencana, akan menjual rumah ibu untuk modal membeli rumah sederhana dan tanah perkebunan. Ayahmu ingin bertani, sedangkan ibu ingin membuka warung kecil-kecilan. Kamu tidak keberatan, kan, Qret?"
"Tentu saja Qret tidak keberatan. Asalkan ayah dan ibu bahagia, Qret selalu mendukung. Asal jangan melupakan Qret nantinya."
"Tentu saja tidak. Kami akan selalu mengingatmu, nak. Ayah dan ibu akan datang berkunjung sesekali. Apalagi kalau kalian sudah punya anak. Kami akan semakin sering berkunjung."
"Qret juga akan selalu mengunjungi ayah dan ibu. Sekarang ayo kita pulang dulu."
Aku kembali menghidupkan mesin motor, setelah ibu duduk di boncengan, barulah motor kujalankan.
Membayangkan indahnya hari esok, rasanya sudah tidak sabar agar semuanya segera terwujud. Aku pasti akan menjadi orang yang paling bahagia sedunia. Apalagi jika Tuhan memberikan kami amanah anak-anak.
Sampai di depan rumah, aku dan ibu bingung melihat mobil polisi. Saat kami turun dari motor, paman Rudi dan Riana yang berada di sana langsung menghampiri.
"Qret," panggil paman Rudi.
"Ada apa paman?" tanyaku. Belum sempat paman Rudi menjawab, seorang polisi yang pangkatnya paling tinggi langsung mendekat diikuti dua orang anak buahnya.
"Selamat siang, bisa bicara sebentar pak Qret?" tanya polisi tersebut. "Kami mendapatkan laporan bahwa tadi pagi ada pesta narkoba di sini. Kami minta i,ini melakukan penggeledahan." polisi tersebut menyerahkan surat perintah untuk menggeledah.
"Silakan, pak." aku mengizinkan polisi tersebut masuk meski agar bingung dengan laporan yang tadi disampaikan.
Siapa yang mengadakan pesta narkoba? Di rumah ini hanya ada aku dan ibu. Kami berdua bukan pemakai, walaupun dulu aku adalah seorang ketua gengster, tetapi aku tidak pernah bersentuhan dengan barang haram itu.
Dulu memang pernah ada beberapa geng yang menawarkan kerjasama sebagai bandar narkoba dengan keuntungan sangat besar. Tetapi aku menolaknya sebab nyaliku tidak sebesar itu untuk berurusan dengan hukum.
Sepuluh orang anggota polisi masuk ke dalam. Rumah. Sementara kami menanti di luar. Sepuluh menit kemudian, seorang polisi keluar membawa bungkusan.
"Maaf apa ini punya pak Qret?" tanya polisi tersebut.
"Bukan." jawabku. Saat melihat bungkusan yang tidak kukenal ini tersebut.
"Kalau begitu kamu izin membukanya." saat bungkusan tersebut dibuka, kami semua dibuat kaget sebab isinya adalah ganja kering dengan jumlah cukup banyak.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," kataku.
"Maaf pak Qret, ada berapa orang yang tinggal di rumah ini?" tanya kepala polisi.
"Dua orang. Saya dan ibu." jawabku.
"Kalau begitu kami minta mas Qret dan ibunya dapat ikut ke kantor polisi untuk dilakukan penyelidikan." ucap polisi tersebut sambil mempersilakan.
"Bagaimana ini Qret?" tanya ibu dengan wajah panik.
"Qret, ikut saja. Nanti paman akan menyusul bersama pengacara." kata Paman Rudi.
"Terimakasih paman." aku mengikuti polisi tersebut bersama dengan ibu yang masih bingung dengan apa yang sedang terjadi. Akupun tidak bisa berkata apa-apa sebab merasakan hal yang sama dengan ibu.
Langkah ini terasa berat, tetapi tidak lupa kurapalkan zikir dan istighfar yang diajarkan Heri, dengan harapan terhindar dari semua hal buruk.
Sampai di kantor polisi, aku dan ibu dibawa ke ruang pemeriksaan untuk melakukan tes urine. Setelah semua selesai, kami belum diizinkan pulang, sebab masih harus menunggu hingga hasil pemeriksaan keluar.
"Bagaimana ini Qret?" entah sudah berapa kali pertanyaan itu keluar dari lisan ibu.
"Kita jalani saja ya, Bu. Prosesnya." aku mencoba menenangkan ibu, meski sebenarnya sangat iba pada ibu yang terlihat sedih, lelah dan bingung.
Begitu mudahnya Allah bolak-balikkan semuanya. Beberapa waktu lalu, aku dan ibu merasa sangat bahagia sekali, tapi kini kami diberikan ujian yang membuat kami ketakutan, sedih dan gelisah.
"Aku benar-benar berlindung padaMu, Rabb. Dari segala fitnah yang menimpa kami." doa yang kurapalkan diantara zikir dan istighfar.
"Tapi kenapa harus kita Qret? Kita kan tidak memakai narkoba. Menyentuhnya pun tidak. Mengapa ada barang haram itu di rumah?"
"Qret juga tidak tahu, Bu,"
"Apa ada seseorang yang sengaja meletakkannya?"
"Qret tidak tahu, Bu,"
"Qret, sejak pagi tidak ada siapapun yang datang ke rumah selain Riana. Apa jangan-jangan?"
"Bu!" aku menggelengkan kepala sebagai isyarat agar jangan ada prasangka buruk pada siapapun. Ini adalah ujian dari Tuhan, bagaimana agar kita ikhlas menjalankan. Jika benar ada yang sengaja memfitnah, biar Allah yang buka tabirnya dengan caraNya. "Kita pasrah saja, ya, Bu." kataku.
"Qret!" ibu menggelengkan kepalanya. Aku tahu ia benar-benar kacau sepertiku. Tapi dengan prasangka hanya akan membuat hati ini jadi resah.
Sedang menanti, paman Rudi datang bersama pengacara yang akan mengurus masalah ini.
"Kamu tenang saja Qret, paman tidak akan membiarkanmu sendiri." bisik paman Rudi. "Apa kamu mencurigai sesuatu?"
"Maksudnya apa paman?"
"Bisa saja ini jebakan. Paman yakin kamu tidak akan melakukan hal sehina ini Qret,"
"Entahlah paman. Qret bingung,"
"Semua ini seperti sudah terencana. Pasti yang melakukannya kenal dengan kamu,Qret. Buktinya ia bisa meletakkan semuanya dengan rapi di dalam rumah. Siapa yang bisa keluar masuk kecuali orang yang mengenal rumah."
Mendengar penuturan paman Rudi yang sama seperti kata-kata ibu, tiba-tiba hatiku berdetak mengingat seseorang. Tapi cepat-cepat kutepiskan. Tidak mungkin ia melakukan hal sejahat ini padaku dan ibu. Apa salah kami sampai ia harus melakukannya?
"Paman, Qret tidak mencurigai siapapun," kataku.
"Kamu yakin?" tanya paman Rudi lagi.
Pembicaraan kami berhenti ketika pengacara memberitahu kalau hasil tes urine sudah keluar. Aku tidak terlalu khawatir dengan hasilnya karena kami benar-benar tidak mengkonsumsi apapun. Yang membuatku takut hanya ancaman jika kami tidak bisa membuktikan bahwa itu bukan barang milikku.
Punya ganja seberat dua kilogram bisa disebut sebagai bandar atau pengedar. Ancamannya adalah hukuman mati. Ya Allah. Aku langsung membatin.
Lalu bagaimana hidupku nantinya? Apakah harus dihabiskan di dalam penjara, lalu berakhir sebagai pesakitan. Tiba-tiba muncul bayangan wajah Yasmin. Jika ia tahu kejadian yang menimpaku, apa yang akan dilakukannya?
Ya Allah ... Ya Allah ... Ya Allah. Tolonglah aku. Suasana hatiku makin gelisah. Tidak ada jalan keluar yang bisa terpikir. Semua terasa buntu. Apakah ini akhir segala-galanya?