Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 - Kemenangan Dari Pertempuran #8
-Lembah yang Tidak Memihak Siapa Pun
Lembah selatan tidak memilih pemenang.
Ia hanya menelan mereka yang datang tanpa persiapan.
Kabut pagi masih menggantung ketika pasukan Duke New Gate memasuki lembah itu. Tanahnya cekung, diapit dua punggungan batu yang tampak sepi terlalu sepi untuk sebuah jalur perang. Tidak ada burung. Tidak ada angin yang bergerak bebas.
Seorang kapten Polein menoleh ke atas.
“Apakah menurut kalian ada sesuatu yang aneh sedang terjadi disini? Seakan tempat ini terasa salah.”
“Kau terlalu banyak berpikir, Kapten Zoel” jawab komandan tentara bayaran. “Florence tidak skan punya nyali menyerang di sini.”
Mereka salah pada satu hal mendasar:
ini bukan tempat menyerang ini tempat menunggu.
Sebuah Perang yang Tidak Dimulai dengan Teriakan
Tidak ada terompet.
Tidak ada aba-aba yang heroik.
Yang terdengar pertama kali hanyalah retakan kayu gerobak suplai paling depan ambruk ketika roda-rodanya patah secara bersamaan. Dalam hitungan detik, jalur utama tersumbat.
“Kaljan semua! Berhenti! Berhenti! Sekarang juga!!” teriak Kapten pasukan New Gate.
Terlambat.
Dari punggungan kiri, batu-batu besar meluncur turun, bukan karena sihir, bukan karena mesin perang melainkan karena pasak penahan yang mulai rapuh ditanam di malam hari.
Tentara bayaran panik.
“Ini jebakan kotor Florence!, segera mundur sekarangg!”
Dan pada saat itulah, panah pertama dilepaskan.
Strategi Arthur Terlihat Jelas
Arthur tidak berada di garis depan.
Ia berdiri di bukit agak jauh, bersama Toxen dan beberapa knight senior Florence dan Fireloren.
Ia tidak berteriak.
Ia hanya mengamati.
“Pasukan inti New Gate masih tertata dengan rapi” kata Sir Hollton.
“Karena mereka masih belum diuji” jawab Arthur.
“Yang diuji pertama selalu yang dibayar dengan emas, bukan sumpah.”
Seperti menjawab ucapannya, satu kompi tentara bayaran mundur tanpa perintah. Bukan karena takut tapi karena jalur keluar telah mereka kenali lebih dulu.
Duke Polein melihatnya dari kejauhan.
“Yoo New Gate, kamu lihat, beberapa kucing mencoba kabur sekarang dari medan pertempuran.”
Wajah Duke New Gate menegang.
“Segara kejar mereka! Kejar para ba#ingan ituu!!”
Namun perintah itu justru memecah formasi.
Florence tidak menyerang penuh. Mereka hanya menekan titik-titik rapuh, memaksa pasukan lawan bergerak sendiri-sendiri, saling menyalahkan, saling ragu.
Knight Florence Mulai Turun Tangan
Ketika pasukan New Gate mulai mencoba bertahan, barulah knight Florence bergerak. Dengan jumlah besar.
Unit terlatih masing-masing tahu perannya.
Arthur memberi satu perintah singkat:
“Jangan kejar terlalu jauh, ingat tujuan kalian untuk pecah formasi mereka, lalu berhenti dan kembali kesini.”
*Pedang beradu. Tombak menghantam perisai*
Namun pertempuran itu terasa aneh, sangat cepat, presisi, dan tidak emosional.
Seorang knight New Gate terjatuh, terengah.
Ia menatap lawannya dan bertanya lirih,
“Kenapa… kalian tidak menyerah saja!? Kenapa kalian masih berusaha...”
Knight Florence menarik pedangnya.
“Karena ini di tanah Florence. Tanah yang tidak mengenal kata menyerah.”
Keputusan Duke New Gate
Saat matahari naik, lembah itu berubah menjadi lautan darah.
Kemenangan gemilang. Kehancuran total.
Namun Duke New Gate tahu satu hal dengan pasti:
Ia kalah dalam kendali.
Ia memerintahkan mundur.
Polein menatapnya, suara bergetar menahan emosi.
“Kita kehilangan ribuan orang… tanpa hasil apapun.”
New Gate menutup mata sejenak.
“Tidak. Kita kehilangan lebih dari itu.”
Ia membuka mata, menatap ke arah benteng Florence yang tidak terlihat.
“Kita hanya kehilangan momentum...”
Akhir Lembah yang Sunyi
Sore hari, pasukan Florence juga mundur.
Arthur berdiri sendirian di tepi bukit, menatap lembah yang kini sunyi. Darah mengering di tanah. Gerobak rusak dibiarkan. Tidak ada sorak kemenangan.
Toxen mendekat.
“Hebatt! Ini kemenangan kita, tuan muda.”
Arthur menggeleng pelan.
“Ini penegasan posisi kita.”
Ia memejamkan mata sejenak.
“Perang dimenangkan hari ini. Tapi hari ini, semua pihak tahu jalan kekerasan bukan lagi milik satu orang.”
Arthur berbalik menuju benteng.
Di belakangnya, lembah selatan kembali diam.
Seolah menyimpan satu pesan sederhana:
Siapa pun yang datang tanpa memahami perang, akan selalu pergi dengan kehilangan.
Malam datang dengan cepat tanpa perayaan.
Benteng Marquis Florence tidak bersorak atas apa yang mereka sebut kemenangan. Obor dinyalakan seperlunya, gerbang tetap tertutup rapat, dan para knight berjalan dengan langkah berat bukan karena luka, tetapi karena kesadaran bahwa perang ini belum benar-benar berakhir.
Arthur berdiri di balkon batu, menatap ke arah selatan. Angin membawa bau besi dan tanah basah.
Perang pertama selalu meninggalkan pertanyaan, bukan jawaban.
-Retakan di Antara Para Duke
Di perkemahan Duke New Gate, suasana jauh lebih buruk.
Peta-peta dilempar ke meja. Cangkir perak terguling.
“Dasar ####### New Gate!!! Kau menarik pasukan tanpa memberi tahu ku!” bentak Duke Polein.
New Gate tidak langsung menjawab. Ia menatap api unggun yang menyala di tengah tenda.
“Jika aku tidak segera menarik mereka dari sana, kita akan kehilangan lebih dari dua ribu orang hari ini.”
“Dan sekarang kita kehilangan wibawa kita dihadapan bocah licik itu!!” Polein membalas.
New Gate akhirnya berdiri. Suaranya dingin, nyaris datar.
“Hey Polein, Wibawa tidak dapat menahan pedang. Logistik menahan perang.”
Polein terdiam, namun sorot matanya berubah. Bukan lagi marah melainkan curiga.
Di malam itu, kepercayaan mulai runtuh, bukan karena kekalahan, tetapi karena perbedaan cara melihat perang.
-Benteng Florence dan Keheningan Arthur
Arthur dipanggil ke ruang strategi. Marquis Florence duduk di ujung meja panjang, wajahnya tampak lebih tua di bawah cahaya lilin.
“Kau menahan pasukan kita, Arthur...” kata sang Marquis.
“Karena jika kita mengejar, kita membuka sisi belakang yang lemah” jawab Arthur tenang.
Beberapa bangsawan berbisik. Ada yang setuju, ada yang ragu.
Florence mengangkat tangan.
“Cukup!!.”
Ia menatap Arthur lama.
“Anak Moren… kau tidak bertarung seperti seorang pewaris. Kau bertarung seperti seseorang yang pernah melihat perang yang sudah memakan keluarganya.”
Arthur tidak menjawab.
Karena itu benar meski ia sendiri belum sepenuhnya sadar kapan rasa itu tumbuh.
-Gerakan Organisasi Enam
Di tempat lain jauh dari benteng, jauh dari tenda perang sebuah ruangan diterangi satu lampu minyak.
Clorfin duduk bersandar. Permo tersenyum tipis. Vastorci masih memutar cincin di jarinya.
“Polein terlalu cepat marah saat ini” kata Ervin pelan.
“Dan Florence mulai terlalu percaya diri.”
Borein, yang berdiri di sudut, menutup mata.
“Arthur bukan bagian dari rencana awal.”
“Tidak, tidak Borein” jawab Vastorci.
“Dia kini termasuk kedalam rencananya.”
Mereka tidak sepakat sepenuhnya.
Namun satu hal jelas: perang ini membuka celah.
Dan celah selalu mengundang predator.
-Surat dari Utara
Menjelang tengah malam, seorang kurir tiba di benteng Florence. Bajunya koyak. Napasnya berat.
Surat itu disegel dengan lambang yang tidak dikenal.
Arthur yang pertama membacanya.
Isinya singkat, ditulis dengan tinta hitam pekat:
“Bentengmu aman. Dan... Keluargamu tidak.”
Tangannya mengencang.
Toxen memperhatikan perubahan wajahnya.
“tuan muda…?”
Arthur melipat surat itu perlahan.
“Organisasi enam itu masih saja tidak menyerang medan perang” katanya.
“Mereka bermain-main terhadap rumah kita.”
-Api di Timur
Sebelum siapa pun sempat bertanya lebih jauh, lonceng darurat berbunyi.
Seorang knight masuk dengan wajah pucat.
“Laporan dari timur wilayah... tuan Marquis Fireloren…”
Ia menelan ludah.
“Desa perbatasan sedang terbakar... Dan simbol yang ditinggalkan… bukan lambang Koalisi Duke.”
Arthur menutup mata sejenak.
Ketika ia membukanya kembali, suaranya tidak lagi terdengar seperti seorang pewaris.
“Ini bukan perang antar bangsawan lagi,” katanya pelan.
“Ini perburuan...”
Dan jauh di timur, api terus menyala
menandai bahwa perang yang sesungguhnya baru saja memilih T.A.R.G.E.T. nya.
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥