Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*18
"Mama."
"Iya, Nak. Katakan saja apa yang ingin kamu katakan sama mama. Percayalah! Apapun yang ingin kamu katakan, mama akan mendengarkan dengan baik."
Aina tertunduk. Jujur, hatinya merasa sangat cemas sekarang. Dia sangat takut kalau-kalau apa yang akan dia sampaikan akan membuat wanita ini kecewa. Tapi, kenyataan harus tetap terucap. Meskipun kenyataan itu sangat menyakitkan.
"Ma."
"Hm."
"Se-- sebenarnya, sebenarnya, saat ini, aku .... "
"Aina. Katakan saja, Nak. Jangan canggung. Jangan takut. Mama ini adalah mama kandungmu. Meskipun kita baru bertemu, tapi kamu adalah putriku. Apapun itu, mama akan siap mendengarkannya."
Ain menatap lekat manik mata sang mama. Ketulusan terpancar dengan sangat jelas dari mata tersebut. Seketika, batin Aina merasakan keyakinan yang datang menghampiri. Rasa cemas, rasa takut, perlahan menghilang dari hatinya sekarang.
"Ain."
"Mm-- Ma. Sebenarnya, saat ini, aku sedang mengandung. Mama tenang saja, anak ini bukan anak hasil dari hubungan terlarang. Anak ini adalah anak yang datang dari sebuah pernikahan. hanya saja, pernikahan kami, pernikahan kami kandas beberapa waktu yang lalu. Itu karena ... ka-- karena, ada beberapa alasan yang tidak bisa Ain ceritakan."
Aina berucap cepat meskipun dengan perasaan gugup. Tapi, apa yang ingin ia sampaikan pada mamanya, akhirnya berhasil tersampaikan dengan sangat baik. Hatinya sedikit lega setelah menyampaikan kata-kata tersebut. Meskipun dia belum mendapatkan jawaban atas ucapannya barusan.
"Ap-- apakah kabar ini sangat mengejutkan mama? Atau, kabar ini membuat mama sangat kecewa. Aku ... aku tidak ingin menyembunyikan apapun dari kalian. Jika kalian tidak percaya akan apa yang aku katakan, maka kalian bisa mengusirku dari-- "
Seketika, sang mama langsung memeluk tubuh langsing Aina. Ucapan Aina terputus akibat hamburan pelukan dari mamanya. Sang mama pun langsung menangis sekarang.
"Sesulit apa kehidupan yang telah kamu lalui di luar sana anakku? Sekejam apa dunia ini padamu selama ini? Maafkan mama. Maafkan aku, anakku. Mama tidak bisa melindungi kamu selama ini Nak." Camelia bicara sambil menangis terisak.
Ain terpaku sesaat. Namun, perlahan tangannya bergerak. Menyentuh pelan punggung mamanya dengan satu tangan.
"Ma. Jangan menangis lagi. Jangan merasa bersalah. Jangan minta maaf padaku. Ini bukan salah mama."
"Anakku .... "
"Mama. Tenanglah. Aku baik-baik saja. Kebahagiaan terbesar dalam hidupku adalah ditemukan oleh kalian. Dan, aku diterima dengan baik oleh kalian, Ma. Tolong, jangan menangis lagi."
Sang mama melepaskan pelukan itu secara perlahan. Matanya masih tetap menjatuhkan buliran bening secara perlahan. "Jika mereka menyakitimu, kami tidak akan pernah melakukan hal itu, Nak."
"Apapun kamu, kami akan terima. Anakmu, jika kamu ingin mempertahankannya. Kamu tidak perlu cemas. Kamu tidak sendirian sekarang. Kamu sudah punya keluarga yang akan siap melindungi kamu, Ain."
Ucapan itu sungguh mengharukan bagi Ain. Embun bening pun jatuh seketika. Sekarang, Ain baru tahu, disayangi oleh keluarga itu sangat membahagiakan. Sangat menyenangkan. Perasaan aman, hati bahagia. Damai dan tentram. Sungguh luar biasa.
Kali ini, giliran Ain yang menghambur ke dalam pelukan sang mama. Keduanya pun langsung berpelukan sambil menangis selama beberapa saat.
Sementara itu, di luar kamar, tiga pria sedang gelisah. Mereka maju mundur bak setrikaan yang sedang berjalan di atas baju yang sangat kusut.
"Ya Tuhan. Kapan mama akan keluar dari kamar ini? Kapan pintu ini akan terbuka?" Avin yang awalnya tenang. Eh ... malah ikut-ikutan.
"Apa yang mereka bicarakan? Kok lama banget. Aku sudah tidak tahan lagi rasanya ingin tahu," ucap Bisma pula.
"Kalian ngomong apa? Jangan berisik." Papanya angkat bicara.
Kedua anaknya langsung menoleh secara bersamaan. Lalu, Avin angkat bicara. "Memangnya, papa gak ingin tahu apa yang Ain bicarakan sama mama?"
"Iya. Memangnya, papa gak merasa penasaran gitu?"
"Ah, itu ... tentu saja papa ingin tahu. Tentu saja papa sangat-sangat penasaran. Kalian berdua-- " Ucapan itu langsung terpotong saat sadar akan jawaban yang baru saja dia berikan.
Pertanyaan jebakan dari kedua anaknya. Darius langsung memperlihatkan pandangan kesal.
"Kalian berdua, menyebalkan." Darius berucap pelan.
"Hu ... malah kesal. Tadi aja sok-sokan kuat. Padahal, juga sangat tidak sabaran." Bisma mencibir.
Di kamar, pembicaraan ibu dan anak sudah pun usai. Raut lega tergambar dengan sangat jelas di wajah Aina. Sang mama berulang kali menyentuh wajah anaknya dengan lembut.
"Putriku yang manis. Kamu harus bahagia mulai sekarang, Nak. Jangan pernah pikirkan kesedihan di masa lalu. Kesedihan itu, biarlah menjadi cerita yang harus kamu lupakan. Jangan biarkan dia kembali untuk menghantui ingatanmu, Sayang."
"Terima kasih banyak, Ma. Terima kasih sudah mau menerima Ain yang datang dengan masa-- "
"Ssttt. Kamu anakku. Apapun keadaan kamu, aku pasti akan menerima. Sekalipun dunia membencimu, kami sebagai keluarga akan tetap berdiri di sampingmu, Aina. Percayalah! Kami akan selalu berusaha jadi yang terbaik buat kamu, Nak."
"Jangan ada duka lagi. Apapun keluhan, jangan disimpan sendiri. Berbagi dengan mama ya."
Aina langsung mengangguk sambil tersenyum.
Sang mama terus menatapnya dengan tatapan penuh kasih.
"Sekarang, beristirahatlah. Besok, mama temani ke dokter kandungan. Kita jadwalkan cek-up rutin buat kamu. Bayi ini, harus selalu sehat. Begitu juga dengan mamanya ya."
Aina kembali mengangguk dengan bahagia. Sudah lama dia tidak menerima perhatian dari orang tua seperti ini. Tepatnya, setelah neneknya wafat. kasih sayang, perhatian, semuanya menghilang. Sekarang, dia bisa merasakan kehangatan ini lagi. Dia bisa merasakan perhatian ini lagi. Dia sungguh sangat bahagia.