Sejak kecil Celine Attea selalu berdiri di sisi Ethan Solomon Montgomery, Presiden Direktur Montgomery Group sekaligus pemimpin organisasi dunia gelap Amox. Celine adalah satu-satunya perempuan yang mampu masuk ke semua pintu keluarga Montgomery. Ia mencintai Ethan dengan keyakinan yang tidak pernah goyah, bahkan ketika Ethan sendiri tidak pernah memberikan kepastian. Persahabatan, warisan masa kecil, ketergantungan, dan cinta yang Celine perjuangkan sendirian. Ketika Cantika, staf keuangan sederhana memasuki orbit Ethan, Celine merasakan luka bertubi-tubi. Max, pria yang tiba-tiba hadir dalam hidup Celine membawa warna baru. Ethan dan Celine bergerak dalam tarian berbahaya: antara memilih kenyamanan masa lalu atau menantang dirinya sendiri untuk merasakan sesuatu yang baru. Disclaimer: Novel ini adalah season 2 dari karya Author, “Falling in Love Again After Divorce"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberi Batas
“Bagaimana dia?” tanya Ethan dingin, kedua tangannya terlipat rapi di belakang punggung.
Mike berdiri tegak di depan Ethan, matanya tak lepas dari monitor dari kaca observasi. “Masih terkendali, Tuan. Sistem sarafnya sengaja kami tekan. Chip itu tertanam di jaringan neural mikro sehingga pengangkatannya meninggalkan trauma saraf. Jika ia sadar terlalu cepat akan muncul kejang lokal, bahkan amnesia parsial.”
“Pastikan tidak ada jejak saat ia membuka mata.” perintah Ethan.
“95 persen, Tuan.” jawab Mike. “Hanya ada bekas sayatan samar yang sangat kecil, tidak ada nyeri dan inflamasi abnormal. Saat ia bangun nanti, yang ia rasakan hanya pusing ringan dan kehilangan waktu seolah ia hanya pingsan saja.”
Ethan menatap tubuh Cantika yang terbaring di balik kaca.
“Saya pastikan dia tidak akan bangun sampai jaringan itu pulih sepenuhnya, Tuan.” tambah Mike. “Tidak akan ada bukti bahwa benda itu telah diambil.”
Ethan mengangguk satu kali.
“Lakukan yang terbaik,” katanya dingin. “Aku tidak ingin satu kesalahan pun.”
“Tentu, Tuan,” jawab Mike. “Semuanya akan selesai sebersih mungkin.”
Ethan menoleh pada Jerry, memberi perintah tanpa suara.
Jerry mengangguk, lalu mengeluarkan amplop coklat besar dari balik jasnya. "Sisanya setelah misi selesai."
Mike mengambil amplop itu, "Terimakasih, Tuan." katanya menunduk hormat.
Ethan mengangguk, kemudian masuk lebih dalam ke ruangan sunyi itu diikuti Jerry yang setia berdiri di belakang tubuhnya.
Cantika tampak rapuh di bawah cahaya lampu redup. Pemandangan itu menghantam sesuatu di dada Ethan. Ia teringat masa kecilnya sendiri. Hidup berdua dengan Ariana, tanpa sosok seorang ayah. Masa itu masih terekam jelas di dalam ingatan, meski sudah puluhan tahun berlalu.
“Kau sudah mengurus adiknya?” Ethan bertanya tanpa menoleh.
Jerry mengangguk, “Seseorang telah mengurusnya, Tuan. Dia hanya tahu kakaknya pergi untuk bekerja.”
“Bagus.”
Sejak awal, tidak ada yang kebetulan. Cantika diterima bekerja di Montgomery Corp bukan karena keberuntungan, bukan pula murni prestasi. Ethan sudah melihatnya lebih dulu, dan mengamatinya dari jauh. Ia mengincarnya sejak awal, bukan sebagai seorang wanita tapi sebagai pion yang potensial. Namun kerapuhan itu… membuat Ethan Montgomery, pria yang fokus pada kendali, sempat ragu.
Ia berdiri beberapa detik lebih lama, menatap wajah Cantika tanpa ekspresi. Sejauh ini semua berjalan sesuai rencana kecuali satu hal, hubungannya dan Celine.
Ethan berbalik dan keluar tanpa suara.
“Tetap awasi dia,” perintahnya singkat pada Mike tanpa menoleh.
“Dilaksanakan, Tuan,” jawab Mike.
Pintu Ruang Rose menutup perlahan. Ethan mengambil langkah lebar, menuju seseorang yang berani membuat pikirannya tidak stabil beberapa hari ini.
Ethan membuka pintu, lalu masuk ke ruangan itu tanpa halangan. Meski kunci digitalnya jelas menunjukkan status locked from inside, tapi aksesnya sebagai pemimpin Amox meniadakan semua batas.
Jerry langsung berhenti di lorong, mengambil tempat sepuluh meter dari pintu. Puluhan tahun berdiri di sisi Ethan, membuatnya paham betul sampai batas mana kakinya harus berhenti. Apa pun yang terjadi di dalam, bukan wilayahnya. Ruangan Celine, berbeda dari seluruh ruang di markas Amox.
Dinding berwarna cream, bukan abu-abu atau hitam khas markas Amox. Lampu-lampu memancarkan cahaya hangat, bukan kegelapan. Aroma bunga peony dan white musk menyebar di udara, kontras dengan bau mesiu dan besi di luar sana. Satu tempat tidur queen size berada di tengah ruangan. Meja rias putih berdiri anggun, parfum, perhiasan, kosmetik eksklusif yang tertata simetris mengisi setiap celahnya. Tirai tipis menjuntai dari langit-langit ke lantai, memberi kesan keanggunan yang hidup.
Ruangan itu dibangun khusus untuk Celine. Hasil dari rengekan manjanya, dan Ethan yang tak pernah benar-benar mampu untuk menolak keinginannya.
“Jaga etikamu, Ethan,” suara Celine terdengar dingin. Sekalipun tak menoleh, ia sudah tahu siapa yang berani memasuki ruangan ini tanpa izin.
Celine duduk di depan meja rias, mengoleskan lipstik merah dengan gerakan elegan. Wajahnya bersinar di bawah cahaya. Aura seorang wanita yang tidak hanya memiliki sisi feminim, tapi juga kekuatan yang bisa mengguncang dunia.
“Ruangan pribadiku adalah milikku sendiri.” katanya datar.
Ethan mendekat, menatap pantulan wajah Celine di cermin.
“Sejak kapan aku harus izin masuk ke ruangan ini?” Suaranya berat dan menekan. Nada yang membuat orang di sekitarnya menunduk, namun membuat Celine tergila-gila… dulu.
“Sejak hari ini,” jawab Celine singkat. Ia menutup lipstiknya dan memasukkannya ke dalam tas kecil berwarna hitam.
“Tempat ini adalah wilayah kekuasaanku,” lanjut Ethan dingin. “Aku bebas pergi ke mana pun aku mau.”
Celine melepaskan rol rambutnya satu per satu, menata helaian rambutnya dengan anggun, seolah perdebatan itu hanya gangguan kecil.
“Kalau begitu,” katanya tenang, “ini hari terakhirku menggunakan ruangan ini.”
Ethan mengepal, sama sekali tidak menyangka tak ada rengekan dan ancaman manja.
Celine berdiri, merapikan gaun sepaha yang baru saja ia kenakan, memasang heels dengan cepat lalu meraih tasnya. Ia berjalan lurus ke arah pintu.
“Mau ke mana?” tanya Ethan, berdiri menghalangi jalannya. “Bukankah kau belum istirahat sejak kembali?”
“Kau tidak perlu tahu,” jawab Celine dingin, bahunya menabrak tubuh Ethan tanpa ragu.
Namun sebelum tangannya sempat menyentuh gagang pintu, Ethan lebih dulu bergerak memutar kunci, lalu mencabutnya dengan cepat.
“Istirahat!” perintahnya tegas, nada yang tidak menerima bantahan.
Celine menghembuskan napas panjang, lalu menengadahkan tangannya.
“Berikan kuncinya.”
“Tidak,” jawab Ethan. “Aku bilang istirahat sekarang.”
“Jangan mengaturku,” suara Celine menajam, tidak berteriak namun jelas penuh keseriusan. “Aku tidak punya urusan apa pun denganmu selain Amox.”
“Jangan kekanakan, Celine,” Ethan melangkah lebih dekat.
Celine terkekeh kecil.
“Aku memang kekanakan,” katanya lirih. “Jadi jangan dekat denganku. Aku tahu kau tidak suka hal itu.”
Dengan gerakan cepat, Celine merampas kunci dari tangan Ethan. Dan sialnya, Ethan tidak pernah, tidak pernah sekalipun mampu berlaku kasar pada Celine.
Suara kunci terdengar berputar sebelum pintu terbuka. Celine melangkah keluar tanpa menoleh. Siapa pun bisa mendengar kepercayaan diri dalam setiap hentakan langkahnya.
Begitu pintu tertutup, kendali Ethan runtuh. Ia menendang meja rias itu keras.
Brak!
Kaki meja patah, botol parfum kristal dan kosmetik kesayangan Celine berserakan di lantai.
“Brengsek,” makinya pelan, pada pada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa ia kendalikan.
Urat nadinya masih menegang, ketika ia berbalik keluar. Namun tepat sebelum pintu tertutup sepenuhnya, pandangannya jatuh lagi pada kekacauan itu.
Ia berdecak kasar,
“Paman,” panggilnya.
Jerry datang cepat, berdiri tegap di hadapan tuannya.
“Ganti semuanya,” perintah Ethan dingin. “Pastikan bentuk, merek, dan susunannya sama persis.”
“Dilaksanakan, Tuan.”
Ethan melangkah pergi tanpa menoleh.
Jerry menghela napas pelan, memandangi ruangan yang hancur itu. Ia sudah memperingatkan Ethan sejak awal. Namun tuannya terlalu terbiasa menguasai, hingga lupa caranya memahami.
------
Amnesia parsial: kehilangan memori tertentu/sebagian.
Inflamasi: peradangan pada area yang disayat.
kamu bakalan di eksekusi Ethan
🤣🤣🤣🤣🤣
ganggu aja kamu yaaa ,Ethan mau kiss kiss Celine malah gak jadi...
buktikan sampai darah penghabisan bahwa kamu tulus mencintai Celine..
kalau perlu belah lah dada mu untuk Celine 🤣🤣🤣🤣
bahkan sampai urat nadi...
cuma yaaa masih kecewa ma kamu aja...
Mak Mak Reader juga masih kesel ma kamu...
pengen timpuk otakmu dulu waktu sama Cantika...
dimaafkan atau gak Celine???
udah ngemis ngemis gtu lho Ethan nyaaa...
maafkan ya,ntar klo Ethan buat ulah lagi,kebiri aja.buang aja ke Antartika,atau tembak bahu dan kakinya...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
aku senyam senyum lho Ethan