NovelToon NovelToon
KEKASIH GELAP WALI KOTA

KEKASIH GELAP WALI KOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:POV Pelakor / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:284
Nilai: 5
Nama Author: Wen Cassia

Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.

Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.

Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 | ALUNAN KEMENANGAN

“Gotcha!”

Summer menjentikkan jari, tersenyum puas menatap layar komputer. Di sana, terpampang sebuah artikel dengan judul besar-besar bahwa akhir pekan nanti akan ada kegiatan amal di rumah sakit onkologi yang akan dihadiri orang-orang penting.

Dan nama Archilles Meridian tertera pada sebaris kalimat di sana.

Hanya ada satu masalah sekarang: Cara Summer menjadi bagian acara itu. Oh, tentu saja juga ada satu solusi paling cepat dan efektif: Kian.

Tanpa menunggu lagi, Summer segera menurunkan kakinya dari kursi, melangkah cepat keluar kamar. Tepat di samping kamarnya, terdapat ruangan dengan pintu tertutup. Sama sekali merasa tidak perlu mengetuk, Summer menendang pintu itu hingga menimbulkan debuman keras, bersamaan dengan teriakan kaget dari dalam sana.

“Kau tidak tahu tata krama? Ketuk pintunya sebelum masuk, Bodoh!” Kian melotot kesal, lantas memungut bukunya yang jatuh ke lantai.

“Bawa aku bersamamu akhir pekan nanti.”

Kian menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi, lalu mendengus. “Kepalamu tidak beres, ya?”

“Hei, aku serius. Acara amal di Rumah Sakit Onkologi Stellar … aku juga ingin ikut. Ayah tunanganmu akan datang, bukan? Kau dan tunanganmu juga pasti akan ke sana.”

“Mau apa kau ke sana?” Kian menyipitkan matanya, menatap menyelidik pada Summer.

“Menyebarkan doktrin bumi datar?”

“Enyahlah ke neraka.”

“Tentu saja untuk menjadi relawan!” Summer berdecak sinis. Dalam hati ia mengeluhkan kepekaan Kian. “Sebenarnya aku punya hati yang kelewat lembut dan penuh kasih. Mungkin kau harus membawa satu pak tisu tambahan kalau-kalau air mataku tidak bisa berhenti saat bertemu dengan para pasien.”

Kian melemparkan tatapan seolah sedang melihat lalat hijau yang baru hinggap di kotoran. “Akan kubawakan karung goni sebagai ganti tisu, untuk melarungmu di laut lepas.” Kian mendengus. “Aku pasti sudah gila kalau mau membawamu ke sana. Membayangkan keributan yang timbul karena ulahmu saja sudah membuatku merinding. Itu mimpi buruk.”

“Aku yakin kau selalu merinding juga setiap kali berkaca,” ucap Summer tenang. “Kau sudah melihat mimpi buruk seumur hidupmu saat menatap pantulan dirimu di cermin, tambahan satu mimpi buruk seharusnya tidak masalah.”

“Kau!” Kian menggertakkan giginya berang. “Keluar dari kamarku!”

“Kau akan membawaku,” tukas Summer, kukuh bertahan.

“Sampai mati pun tidak akan,” tandas Kian tidak mau kalah.

“Kalau begitu akan kuantar kau ke alam baka—tunggu, apa itu?” Summer melongokkan kepala ke arah komik yang agak menyembul di belakang tubuh Kian. Pria itu terlonjak, secepat kilat menyembunyikannya, namun Summer sudah terlanjur melihat sampulnya.

“He-hei, ini—” Kian tergagap, wajahnya pias khas seseorang yang tertangkap basah melakukan dosa.

Summer membeliak, rautnya berubah seakan ingin menguliti Kian hidup-hidup. “Dasar sampah tidak bermoral! Beraninya kau membaca hal cabul seperti itu di rumah ini. Akan aku adukan!” Summer menoleh ke pintu kamar yang terbuka. “Tante Lauren! Tante La—heuk!”

Dalam sekali gerakan cepat, Kian sudah menyumpal mulut Summer dengan roti yang ia sambar dari meja terdekat, membungkam teriakan nyaring adik tirinya seketika.

Kilat membunuh tertera gamblang di mata Summer, ia lantas mengunyah roti dengan kesetanan hingga Kian mundur selangkah sambil tercengang. Saat Kian sedang menduga-duga tindakannya selanjutnya, Summer menyemburkan roti yang sudah setengah halus tepat ke muka Kian.

Jeritan ngeri Kian membahana nyaring, namun Summer tidak membiarkan pria itu berlama-lama karena ia segera menubruk Kian sambil menjambak rambutnya. Gedebuk tubuh Kian yang membentur lantai diikuti oleh ia yang mengaduh kencang. Summer bergegas menduduki perutnya, semakin menarik rambutnya.

“Bawa aku ke sana atau kuhabisi rambutmu!”

...****...

Dress hitam selutut berpotongan sederhana Summer bergerak-gerak pelan seiring kakinya yang berbalut heels berwarna senada melangkah melewati lobi yang luas. Rambut hitam panjangnya yang tergerai indah sedikit terayun, sejumput anak rambutnya jatuh melintang ke dahi dan matanya ketika angin dari jendela yang terbuka menyapu lembut wajahnya.

Riasan naturalnya tampak selaras dengan tema hari ini: relawan sosial untuk pasien kanker. Kendati riasannya tidak mencolok dan tipis, sejatinya Summer hampir dibuat gila karenanya. Hampir dua jam dia hanya berkutat dengan makeup, mencoba menutup segala cela di wajahnya, menonjolkan beberapa area tanpa berlebihan. Hari ini tidak boleh ada setitik pun kecacatan dalam dirinya. Summer harus tampil sempurna di depan pria itu.

Di depan Archilles Meridian.

“Tetap di sampingku. Jangan macam-macam dan berkeliaran sendirian,” Kian berbisik penuh peringatan pada Summer.

“Membayangkan menempelimu seharian saja sudah membuatku merinding. Kuharap aku tidak kudisan setelah ini,” balas Summer.

“Tentu tidak, kau akan tertular ‘kewarasan’ dariku, sesuatu yang tidak pernah kau miliki. Hibur dirimu dengan itu.”

Bau obat-obatan mulai tercium saat Summer dan Kian melewati koridor panjang dengan kamar pasien yang berada di kanan-kirinya. Beberapa pejabat terlihat sedang sibuk memberikan instruksi pada bawahannya dan beberapa relawan, kilat kamera muncul di sana-sini. Tentu saja acara sosial ini bukan hanya sekadar bentuk kemurahan hati orang-orang itu. Sudah menjadi rahasia umum jika kegiatan macam ini banyak dimanfaatkan untuk mendongkrak citra orang-orang tertentu yang memiliki kepentingan besar untuk menarik simpati masyarakat.

Kian berbelok di ujung koridor, mendorong pintu kaca ruang serbaguna. Di sana, di ruangan yang cukup luas itu, banyak bertumpuk barang-barang yang akan disumbangkan kepada pasien penderita kanker. Selimut, pakaian hangat, buku, mainan anak, parsel buah, bahkan beberapa buket bunga, menjadi pelengkap bantuan utama kepada rumah sakit: akselerator linear—alat radioterapi.

“Kian!” Seorang wanita berbalut kemeja biru lembut dengan rumbai di kerah dan celana panjang putih terlihat berseri-seri menghampiri Kian, tak lama setelahnya perempuan itu melompat kecil untuk memeluknya erat.

Dorongan untuk memutar mata tidak terelakkan, Summer segera menjauh dari Kian untuk menekan risiko mual. Tidak perlu menjadi cenayang untuk tahu perempuan itu adalah Isla Amiri, tunangan Kian, sekaligus putri sang anggota dewan, Ryan Amiri.

“Oh astaga, maafkan aku.” Isla melepas pelukannya saat ekor matanya menangkap Summer yang nyaris merapat ke dinding untuk menjauhi mereka. “Summer, ya? Kian sudah bilang kalau kau akan datang.”

Senyum yang cantik, wajah manis, penampilan berkelas … oh, tentu saja perempuan itu adalah tipe ideal Kian. Sebenarnya agak menyedihkan melihat perempuan secantik itu terikat hubungan romantis dengan Kian yang seperti ikan cakalang.

Summer mengulurkan tangannya sembari tersenyum sopan. “Summer.”

“Aduh, cantik sekali ….” Isla menyambut tangan Summer dengan hangat. “Tidak perlu sungkan memanggilku dengan nama saja. Aku tidak suka terdengar tua jika dipanggil ‘kak’.” Isla mengedip cantik.

“Tentu saja, aku juga lebih nyaman begitu.” Bersamaan dengan jabatan tangannya dengan Isla yang terlepas, Summer mengedarkan pandangan ke seisi ruangan. “Kau sedang mengecek perlengkapan bantuan, ya?”

“Benar. Relawan sudah membawa sebagian, kurasa aku juga akan bergabung dengan mereka sebentar lagi setelah memastikan seluruh barang sampai di sini.”

“Wah, aku akan membantumu kalau begitu. Kau juga jangan hanya berdiri tidak berguna di sini.” Summer menyenggol lengan Kian, berdecak.

“Bocah ini.” Kian melotot, namun sebelum ia mengomel lebih panjang, punggungnya sudah lebih dulu didorong Summer.

“Bantu tunanganmu! Aku akan mengecek sebelah sini.” Summer segera melangkah ke tumpukan selimut dan buku, pura-pura mengamati dengan cermat. Saat ia mencuri pandang ke arah Kian, menemukan pria itu sedang sibuk mengangkat tumpukan selimut, tanpa membuang waktu lagi Summer menyambar sembarangan beberapa buku dan selimut anak.

Saatnya kabur!

Ia menyelinap keluar, berusaha tidak membuat suara sedikit pun. Tiba di koridor, Summer melangkah cepat sembari sesekali menengok ke belakang, memastikan Kian tidak mengikutinya.

Baru setelah sengaja berbelok acak beberapa kali, Summer akhirnya mengembuskan napas lega. Ia lantas menatap berkeliling sembari melangkah melewati bilik-bilik kamar pasien, mendapati beberapa relawan dan pejabat yang sedang berbincang dengan para pasien ditemani fotografer yang sibuk memotret.

“Sial, ini cukup merepotkan.” Spontan Summer menghela napas. Membayangkan akan berkeliling rumah sakit delapan lantai ini saja sudah membuatnya lelah. “Archilles Meridian … sebaiknya kau orang yang mudah karena aku sudah berusaha sekeras ini.”

Summer menajamkan mata setiap melewati kamar pasien yang dikunjungi pejabat dan relawan, memastikan ada tidaknya Archilles di sana.

Hampir setengah jam berkeliling, Summer hampir menyerah saat tidak menemukan Archilles di mana pun, tebersit pemikiran bahwa pria itu tidak datang. Buku anak dan selimut yang masih ia bawa sejak tadi mulai terasa membebani, belum lagi kekhawatiran jika Kian segera menemukannya.

“Tipe pejabat sekali, menghilang ketika dibutuhkan.” Summer menahan diri untuk tidak mengacak rambutnya yang telah ia semprot hair spray hingga setengah kaku. Ia menyandarkan satu lengannya pada pembatas pagar lantai tiga, mengatur napasnya yang tersengal karena berusaha bergerak cepat. “Kalau hari ini aku tidak bisa menemukanmu, akan kudatangi rumahmu. Aku serius!”

Semilir angin membantu meredakan panas yang merangkupi wajah Summer. Setidaknya, di sini aroma lavender dan lili dari taman belakang di bawah sana terasa menyegarkan, Summer merasa otot-ototnya perlahan rileks. Tambahkan tentang alunan lembut gitar yang berpadu dengan suara anak-anak yang menyanyi dengan ceria di bawah pohon trembesi yang rindang di area tengah taman. Sungguh pemandangan yang menghangatkan hati—tunggu.

Summer terkesiap, untuk sedetik setelahnya sempurna membeku.

Lengan kemeja yang digulung, rambut hitam legam yang berkilau diterpa seberkas cahaya matahari, dan mata yang lebih gelap dari malam ….

Senyum samar tertera di sudut bibir Summer, berikut kilat antusias di mata cokelat keemasannya. Ia pandangi sejenak pria yang masih santai memetik senar gitar dan memusatkan atensi pada anak-anak itu, kemudian sesuatu seperti tengah meletup-letup dalam dada Summer. Mendadak, suara gitar seperti tengah mengalunkan kemenangan yang menentramkan.

“Aku menemukanmu.”

...****...

1
Amaya Fania
jujur paling suka kalo kian muncul. ketawa mulu kalo lagi berantem sama summer, saling ejek, tapi diem diem sayang adek
Amaya Fania
penasaran lanjutannya, ayo lanjut kak
aspidiske ☆: okaii 😳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!