Alyra Almeera adalah gadis sederhana, Setelah kematian sang ibu, membuatnya menjadi wanita yang senang mengurung dirinya di rumah, dia hanya menghabiskan waktu, dengan melanjutkan bisnis usaha kue milik peninggalan ibunya.
Dahulu saat dia baru saja kuliah di pertengahan semester delapan, tiba-tiba harus menghentikan kuliahnya, akibat terhambat biaya yang bentrok dengan biaya kebutuhan sehari-hari, dia malah terus mendorong sang adik untuk terus sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Dia berharap sang adik yang akan meneruskan cita-citanya.
Tidak ada kisah cinta sebelumnya, hingga sang ayah sakit, dia rela jadi pembantu demi biaya pengobatan sang ayah yang tiba-tiba harus di operasi.
Dia hanya mengabdi pada ayah dan adik satu-satunya. Semua kasih sayang hanya tercurah untuk keduanya.
Hingga dia bertemu dengan pria yang bernama Bayu Samudra, juga keluarga lainnya, dia tidak menyangka jika pertemuan setiap hari akan membuat keduanya jatuh cinta.
ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ekha dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BDS. Chapter 32(Yang Tabah Sayang)
Kabar naas yang menimpa Bayu melesat terdengar keluar.
Seluruh karyawan hotel merasa semakin simpati pada boss mereka, mereka rasa semua yang menimpa boss mereka ujian besar, karena bulan ini masalah begitu bertubi-tubi mendera boss mereka.
Lyra semakin sedih 7 hari ini, belum ada tanda-tanda Bayu siuman, dia sering menangisi keadaan suaminya.
Seperti pagi ini, Lyra terduduk di sisian ranjang, menangis terisak setelah membaca Al-qur'an di samping suaminya. Hatinya semakin merasa bersalah pertengkaran terakhir malam itu membuat dia semakin ketakutan.
"Tuan, masih marah kah sama aku, bentak lah aku sesuka mu, jika kamu marah, jangan diamkan aku seperti ini. Bangunlah, siapa yang akan mengurus adik-adikmu." Lyra menangis di samping tubuh lemah itu.
Ceklek
Pintu terbuka, sosok sang ayah tengah berdiri dengan tatapan terlihat penuh kasih sayang, tangannya memegang kusen pintu, terlihat wajahnya sendu, berjalan kearah Alyra berada.
"Yang tabah sayang, ini ujian untuk kalian dan kita semua, berdo'alah semoga dia bertahan dan bisa melewati masa kritisnya."
Suara Ayah Akbar terasa menyentuh hati putrinya, Lyra menangis di pangkuan ayahnya, meluapkan rasa sesak dalam dada nya.
"Ayah aku harus bagaimana atas kejadian semua ini, aku rasa semua ini karena aku terlalu egois."
"Tidak sayang, semua hal kehendak Allah yang Maha kuasa, Mungkin suami mu butuh istirahat panjang, agar cepat memulihkan luka di perutnya, Kita harus berbaik sangka pada takdir tuhan."
"Ayah."
Lyra tak kuasa meneruskan ucapannya tangisannya tidak bisa di bendung lagi, dia sesenggukan di pangkuan sang ayah.
Meluapkan rasa sesak seminggu ini, kehadiran Sonia dalam hubungan pernikahan mereka, membuat dia tiba-tiba yang mudah naik darah.
Ketiga adiknya berjalan kearah keduanya memeluk mereka saling menguatkan satu sama lain.
**
Di Luar tengah berdiri pria paruh baya seumuran ayah Akbar, mengusap air matanya, melihat anak-anaknya menangis, dadanya sesak, dia tidak bisa menjadi pelindung untuk putra putrinya.
Dia hanya bisa menjadi bayangan di balik kegelapan, melihat raga-raga yang benar benar dia rindukan. Menyesal memang di akhir, kini dia hidup dalam kendali orang lain.
Dia hanya bisa menatap dari jauh, meskipun dia sudah lama dekat tapi dia tidak bisa merengkuh buah hatinya. Janji tertulis dengan istrinya memaksa dia harus membuang diri dari ketiga putranya.
"Ya tuhan, tolong lindungi putra ku."
Dia menangis sambil berjalan di lorong rumah sakit, Dari semenjak kejadian naas itu, pria tegap itu, rutin mengambil darahnya, untuk bisa tetap mengaliri kehidupan bagi putranya.
Barata melangkah lunglai, dia berjalan terseok-seok, tranfusi darah membuat kepalanya pusing dan badannya terasa lemah.
Dia berbelok menuju toilet, untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Terdengar Suara orang mengobrol di sebelahnya.
"Heh, kenapa lo nggak bikin dia sampai mati saja sih, lihat dia masih belum lenyap dari bumi ini."
Teriakan seseorang di bilik toilet sebelah Barata terdengar, dia terkesiap mendengar suara itu, Barata berpikir keras, apakah pria itu tahu kehadiran dirinya di sana.
Tidak berselang lama, terdengar kerasak kerusuk suara wanita masuk.
"Bagaimana, kamu berhasil membuat dia sekarat."teriak si pria.
"Banyak orang di dalam, mereka tidak meninggalkan dia sendirian." Sahut wanita itu dengan suara ragu..
"Bodoh usaha segitu saja nggak becus, nggak guna kamu." terdengar lagi Lontaran suara kesal dari pria itu.
"Aku sudah berikan seluruh pengabdian ku untuk mu Jo, dan aku sudah melakukan apapun perintah mu, pleace mengerti nggak sih, jadi aku hanya sebagai budak saja di mata mu Jo, aku itu mencintai mu tulus."
Terdengar protes dari wanita itu, Barata, terus saja mendengarkan dengan seksama. Dia baru mengerti wanita itu menjadi mata mata untuk putranya.
"Pergilah aku pusing." nada ketus terdengar dari pria itu, hingga pintu toilet terdengar di banting keras.
Barata masih diam, di dalam toilet, memikirkan hidupnya yang di buat hancur oleh perbuatannya sendiri.
Menangis menyesali semuanya, dia tidak ada lagi harapan untuk meraih kebahagiaan, dia yang membuang sendiri kebahagiaan itu, dan memilih napsu sebagai pemimpin saat itu.
Dia di hianati anak angkatnya sendiri.
Sakit, padahal selama ini dia terus saja mengikuti kemauan dia, tapi tetap saja dia masih menyerang putranya.
Barata keluar dan masih dalam kawasan toilet rumah sakit, Tidak lama, langkah kaki bergema di sampingnya, dia mengumpat berbelok melihat siapa yang datang, ternyata wanita yang berkerudung lebar yang lewat terlihat matanya sembab.
Dia sering melihat gadis itu di sekitaran kamar putranya, tapi siapanya. Barata mendadak tenang melihat wajah cantik itu, dia mengikuti gerak gerik Lyra, ternyata gadis itu masuk ke dalam Mushola.
Lyra merasa ada yang mengikuti, dia kadang kadang menengok kearah belakang, tapi tidak menemukan siapapun.
Hingga dia kembali melanjutkan niatnya, untuk melakukan shalat isya, karena waktu sudah semakin Larut.
Setelah dia selesai dengan shalatnya, lekas berdo'a mengadukan kesusahan dan meminta kesembuhan untuk suaminya, Lyra bergegas melipat mukenanya, hatinya tidak tenang dia memasang kewaspadaan ektra, sambil mengusap urat leher belakangnya yang terasa kaku, dia merasakan ada yang mengikutinya belakangan ini, hatinya gundah sebelum tahu apa yang sedang di rencanakan penguntitnya.
Sunyi hanya suara kendaran yang terdengar berlalu lalang di depan gerbang rumah sakit.
Saat Lyra keluar dan sedang berjalan di lorong yang sepi, tiba-tiba tangan kokoh seorang pria menarik tangannya, dengan sigap dia membalikan keadaan, tehnik memutar tangan untuk melepasakan cekalan itu, namun sayang pria itu begitu erat memegang pergelangan tangannya.
Dia terpaksa menyerang menggunakan kakinya, melumpuhkan serangan tepat di bagian barang pusaka pria itu.
Badan tegap dan besar itu terhuyung, melepasakan cekalan tangan gadis di hadapannya.
"Siapa kamu, mau apa menarik tangan wanita tengah malam, kalau tidak untuk berbuat jahat." Nada bengis terlihat dari wajah cantik itu.
Barata terkejut bagaimana gadis cantik itu bisa melumpuhkannya dalam satu serangan, gerakan kakinya saja tadi sampai tidak terlihat. Luar biasa pikir Barata.
Lyra mematung, meliaht bola mata pria itu, yang terlihat sama seperti salah satu adik iparnya, namun wajahnya masih samar karena berbeda dengan foto yang dia lihat beberapa waktu lalu.
"Cantik, Maaf saya tidak berniat jahat kok, hanya penasaran saja, kenapa kamu ada di sekitaran rawat inap pemilik hotel samudra."
Lyra tertegun mendapat pertanyaan tersebut, antara jujur dan tidak, kalau mereka adalah pasangan suami istri, tapi untuk apa harus jujur, dia tidak kenal dengan pria itu.
"Anda Siapa, kenapa tidak langsung masuk dan bertanya siapa aku sebenarnya." Lyra malah balik bertanya membuat Barata semakin kagum dengan gadis cantik di hadapannya.
"Bisakah, kita ngobrolnya di tempat lain nak, aku tidak akan berbuat jahat kok."
Pria itu memohon, Lyra berpikir keras bingung, tapi dia juga penasaran pada sosok pria itu.
Lyra tidak mengiyakan, dia hanya berjalan menuju balkon rumah sakit lantai dua, disana sunyi dan cukup tenang juga untuk berbicara serius.
Lyra masih terus waspada, sambil mengusap kening yang masih terasa sakit saat gerakan sujud terjadi tadi, dan ternyata masih mengeluarkan basahan berupa darah putih.
"Siapa sebenarnya anda pak, kenapa saya sering melihat bapak akhir-akhir ini."
Lyra langsung menyerang dengan pertanyaannya.
"Apa, jadi kamu tahu saya sering melihat kalian diam-diam?" tanya Barata terkejut.
"Yupss, tepat sekali, tapi aku tidak ingin berburuk sangka, toh nggak ada kejadian buruk kok." Jawab Lyra enteng, dia menatap wajah pria paruh baya itu.
"Saya mohon jangan bilang-bilang mereka ya nak," Barata menunduk matanya redup wajahnya memerah.
"Aku, a-ku adalah ayah dari mereka."
Dengggg...terdengar mendengung di telinga dan kepala Alyra, dia terkejut sekaligus mengerti arah pembicaraan pria di hadapannya.
"Aku banyak melakukan kesalahan di masa lalu, yang membuat kami bercerai berai, dan mungkin saja saya tidak akan, dan pasti sulit sekali mendapat maaf dari mereka semua." Sambung Barata dengan mata berkaca-kaca.
Entah kenapa Alyra merasa bahagia, hatinya menghangat.
berarti dia adalah ayah mertua ku.
Rutuk Lyra dalam hati, kembali matanya menatap wajah dan warna bola mata yang sama dengan salah satu adik iparnya.
"Aku pembantu di rumah tuan Bayu pak,"
"Pembantu, kamu cantik begini jadi pembantu." protes Barata tergugu terkejut.
"Tidak dosa kan jadi pembantu, asal aku tidak nyuri, aku rasa tidak apa-apa." jawab Lyra Lirih, entah kenapa dia merasa minder ketika harus mengaku sebagai istri di hadapan pria itu.
"Nak, bisakan ketemukan aku dengan putra ku, tapi adik-adiknya jangan ada disana, aku belum siap harus jauh lagi dengan putraku, saat mereka tahu aku berada dekat, pasti mereka kembali memberiku jarak lagi, aku ingin melihat mereka dari dekat lebih lama, jika sudah saatnya aku akan datang menemui putri-putri ku." Pinta Barata sendu, dia begitu berharap gadis itu mau menolongnya.
Lyra menarik nafas dalam, dia tidak berhak melarang hal silaturahmi antara ayah dan anak, apapun yang terjadi dia rasa harus mengabulkan permintaan pria di hadapannya.
"Baiklah pak, aku akan mengabulkannya, Semoga saja, kehadiran mu membuat dia segera cepat sadar, kasian adik-adiknya."
Pria itu menatap wajah gadis cantik itu, ucapannya menyentuh di hati, dia merasa iba, atas perhatian gadis cantik itu.
"Bapak tunggu saja, saat mereka sudah pulang, Baru aku akan memberi kode untuk masuk." Jelas Lyra dan mendapat anggukan dari pria itu, Barata ingin memeluk gadis itu, tapi dia ragu, takut enggan bersentuhan dengan pria lain, jika melihat pakaian yang di kenakannya.
Andai Barata tahu jika itu adalah menantunya, pasti dia akan bahagia sekali.
***
"Kakak dari mana saja?"
Tanya Murni penasaran, dia melihat wajah kakak iparnya sedikit heran.
"Dari Mushola kakak langsung kedepan beli basok yang mangkal di depan rumah sakit ini, tadi tiba-tiba perut kakak lapar." Jawab Lyra berbohong.
"Lapar, kakak tadi kita habis makan malan lo, jangan jangan kakak hamil."
"What, hamil." Lyra terkejut, mendapat pernyataan seperti itu.
"Issh, kalian aneh dech, makan baksok aja harus di sangkut-sangkut dengan wanita hamil aja emang." sanggah Lyra dengan senyum simpul.
"Kakak, udah anu kan,"
Masya Allah adik-adiknya berubah jadi menyebalkan wajah Lyra bersemu merah. Dia malu mengingat tragedi di hotel minggu lalu.
"Diam, kalian kepo."
"Kakak, bisakan berikan kami keponakan yang imut-imut macam kita ini." Rengek Uci dengan manja, Lyra terperangah bagaimana bisa, manusia menyebalkannya sedang terbujur koma, bagaimana bisa ada janin di rahimnya, Lagian terlalu tinggi sampai harus berpikir kesitu.
"Husst, pulanglah ini sudah larut malam,
Besok bawakan kakak sarapan oke." Alyra mengalihkan pembicaraan yang membuat wajahnya merah.
"Baiklah demi si jabang bayi kita rela kabulkan semua ke inginan tuan putri." Ucap kedua adik iparnya, kekeh dengan candaan yang sama, membuat Alyra tersenyum merona.
Cuup, Alyra mendapat ciuman di kedua pipinya.
"Kami pulang dulu kakak Ly, kakak Bay, tidurlah yang nyenyak, besok kamu harus bangun memberikan kami keponakan yang banyak." Suara kedua adiknya berdesis di samping telinga Bayu mereka terbiasa mencium pipi kakaknya sebelum pulang.
Lyra mengantar adik-adiknya sampai depan pintu, dan mereka sesekali menengok kearahnya, dengan lambaian tangan, lalu menghilang saat mereka sudah memasuki lorong rumah sakit.
Interaksi itu, tidak luput dari pengawasan tajam pria yang sedang menangis, melihat buah hatinya sudah beranjak semakin dewasa.
semoga aja mey jodoh nya derek