"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."
Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).
Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.
Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Menunggu Hati Yang Belum Percaya
Jarum jam di dinding ruangan direktur menunjukkan pukul sepuluh malam lewat lima belas menit. Gedung perkantoran Hasyim Group sudah sunyi senyap, seolah tidur setelah lelah berdenyut seharian.
Di sofa sudut ruangan, Hannah Humaira tertidur pulas. Tubuh mungilnya meringkuk di bawah jas kerja Akbar yang dijadikan selimut dadakan. Laptopnya sudah dalam mode sleep di atas meja, di samping mangkuk bakmi yang sudah kosong.
Akbar, yang baru saja mematikan komputernya, tersenyum melihat pemandangan itu. Rasa lelah di punggungnya seolah menguap melihat wajah damai istrinya. Ia mendekat, berjongkok di samping sofa, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hannah.
"Dek..." bisik Akbar pelan, menyentuh bahu Hannah dengan lembut. "Bangun, Sayang. Kita pulang."
Hannah mengerjap-erjap. Bulu matanya yang lentik bergerak perlahan. Saat matanya terbuka dan menangkap wajah Akbar yang begitu dekat, ia tersentak kaget lalu buru-buru duduk tegak. Jas Akbar melorot dari bahunya.
"Eh? Mas? Maaf... Hannah ketiduran," ucap Hannah panik, suaranya serak khas bangun tidur. Tangannya sibuk merapikan jilbabnya yang miring. "Ya ampun, malu banget. Mas kenapa nggak bangunin Hannah dari tadi?"
"Nggak tega. Kamu pules banget, kayaknya capek ngerjain tugas," bohong Akbar, padahal ia tahu Hannah tertidur karena bosan menunggunya. "Ayo, hujannya sudah reda."
Mereka berjalan keluar gedung menuju parkiran basement. Tangan Akbar menggenggam tangan Hannah erat, memimpin jalan. Hannah yang masih setengah sadar menurut saja, membiarkan dirinya dituntun oleh sang suami.
Di dalam mobil, suasana terasa hening namun nyaman. Jalanan Jakarta malam itu cukup lengang, menyisakan lampu-lampu kota yang memantul di aspal basah.
Hannah menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap butiran air yang tersisa. Pikirannya melayang pada kejadian hari ini. Ia masuk ke kantor Akbar, bertemu Annisa, makan malam berdua, dan... merasa dibutuhkan.
"Dek," panggil Akbar, memecah keheningan.
Hannah menoleh. "Iya, Mas?"
Akbar tidak langsung bicara. Ia mengambil tangan kiri Hannah, membawanya ke pangkuannya, dan menggenggamnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya menyetir.
"Terima kasih ya," ucap Akbar. Suaranya rendah dan dalam. "Terima kasih sudah nemenin Mas hari ini. Terima kasih sudah bikin suasana kerja Mas jadi lebih hidup."
"Sama-sama, Mas. Hannah juga seneng," jawab Hannah malu-malu.
Akbar menepikan mobilnya sebentar di bahu jalan perumahan yang sepi, tepat di bawah sorot lampu jalan yang kekuningan. Ia mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya menghadap Hannah.
Hannah bingung. Jantungnya mulai berdegup kencang. "Kenapa berhenti, Mas?"
Akbar menatap mata Hannah lekat-lekat. Tatapan itu intens, penuh dengan emosi yang tertahan.
"Mas mau ngomong sesuatu. Sesuatu yang kemarin Mas tulis di buku resep, tapi Mas rasa kamu belum benar-benar mendengarnya," ujar Akbar serius.
Napas Hannah tercekat. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Hannah..." Akbar menyebut namanya dengan lembut. "Mas sayang sama kamu. I really love you."
Kalimat itu terucap lagi. Kali ini bukan lewat tinta di atas kertas, tapi langsung dari bibir suaminya, dengan intonasi yang tegas dan yakin.
Hannah terpaku. Seharusnya ia bahagia. Seharusnya ia melompat memeluk Akbar. Tapi lagi-lagi, tembok raksasa bernama 'keraguan' itu muncul menghalangi.
Hannah menunduk, melepaskan genggaman tangan Akbar perlahan. Ia meremas rok gamisnya.
"Mas..." cicit Hannah, suaranya bergetar. "Mas Akbar jangan begitu."
"Jangan begitu gimana?"
"Jangan paksa perasaan Mas," Hannah mengangkat wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Kita baru nikah tiga bulan, Mas. Tiga bulan itu waktu yang pendek banget. Kita nikah karena dijodohin Abah. Mas nggak perlu merasa wajib buat bilang cinta cuma biar Hannah seneng. Hannah tahu posisi Hannah."
"Posisi kamu?" Akbar mengernyit.
"Iya. Hannah cuma anak kecil yang masih kuliah, yang dunianya beda jauh sama Mas. Hannah belum bisa jadi partner diskusi yang sepadan kayak... kayak orang-orang di kantor Mas," Hannah menelan ludah, menahan isak. "Hannah takut kalau Hannah percaya sekarang, nanti Mas sadar kalau ini cuma rasa kasihan atau rasa tanggung jawab sesaat. Terus Mas pergi."
Mendengar pengakuan jujur istrinya, hati Akbar mencelos. Ternyata rasa insecure itu masih bercokol kuat, bahkan setelah semua perlakuan manisnya hari ini.
Akbar tidak marah. Ia justru semakin sadar betapa rapuhnya hati gadis di hadapannya ini. Hannah bukan tidak mau mencintainya, Hannah hanya takut untuk mencintainya.
Akbar menghela napas panjang, lalu tersenyum teduh. Ia tidak memaksa meraih tangan Hannah lagi. Ia memberikan ruang.
"Dek," ucap Akbar tenang. "Dengerin Mas. Cinta itu bukan soal durasi waktu. Ada orang pacaran sepuluh tahun tapi nggak ada rasa. Ada orang baru ketemu sehari langsung yakin. Bagi Mas, tiga bulan bersamamu itu sudah cukup buat Mas sadar kalau Mas nggak mau kehilangan kamu."
Akbar menunjuk dadanya sendiri.
"Mas ini laki-laki dewasa, Hannah. Mas bukan ABG yang gampang ngomong cinta. Mas ngomong ini karena Mas merasakannya. Saat lihat kamu masak, saat lihat kamu ketawa, bahkan saat lihat kamu ngambek... Mas sadar kamu sudah jadi bagian hidup Mas."
Hannah terdiam, air matanya menetes satu per satu. Ia ingin percaya. Demi Tuhan, ia ingin sekali percaya.
"Tapi..." Hannah terisak pelan. "Hannah masih belum yakin, Mas. Rasanya... terlalu indah buat jadi kenyataan. Hannah takut jatuh."
Melihat air mata itu, Akbar sadar ia tidak bisa memburu waktu. Memaksa Hannah untuk percaya sekarang hanya akan membuat istrinya semakin tertekan. Hati manusia tidak bisa dipaksa, apalagi hati yang sedang terluka oleh rasa rendah diri.
Akbar menghapus air mata di pipi Hannah dengan ibu jarinya.
"Nggak apa-apa," bisik Akbar menenangkan. "Nggak apa-apa kalau kamu belum yakin. Mas ngerti. Mungkin Mas terlalu cepat buat kamu."
"Maafin Hannah, Mas..."
"Ssst, jangan minta maaf. Perasaan itu nggak ada yang salah," potong Akbar lembut.
Akbar kembali menyalakan mesin mobil. Ia menatap jalanan di depan, lalu kembali menatap Hannah sekilas dengan senyum yang menyiratkan kesabaran tanpa batas.
"Mas akan tunggu," ikrar Akbar.
"Mas?"
"Mas akan tunggu sampai kamu yakin," lanjut Akbar mantap. "Mas nggak akan berhenti berbuat baik sama kamu, Mas nggak akan berhenti berusaha nyenengin kamu. Mas akan terus ada di samping kamu, sampai suatu hari nanti, tembok keraguan kamu runtuh sendiri."
Akbar mengusap puncak kepala Hannah.
"Mas ini orang proyek, Dek. Mas biasa nunggu beton kering, nunggu izin turun, nunggu cuaca bagus. Jadi kalau cuma nunggu hati istri Mas terbuka, itu sih enteng. Mas jagonya sabar."
Mendengar analogi proyek itu, Hannah tertawa kecil di sela tangisnya. Tawa yang terdengar lega.
"Mas Akbar ih... masa Hannah disamain sama beton," protes Hannah sambil mengusap hidungnya yang merah.
"Lha iya, sama-sama keras kepala tapi kalau udah jadi pondasi, kuatnya minta ampun," canda Akbar.
Suasana tegang di mobil itu mencair. Hannah merasa beban berat di pundaknya sedikit terangkat. Akbar tidak memaksanya. Akbar tidak marah karena cintanya belum berbalas sepenuhnya. Akbar justru memberinya waktu.
"Makasih ya, Mas. Makasih udah sabar sama Hannah," ucap Hannah tulus.
"Sama-sama, Sayang. Udah, jangan nangis lagi. Nanti matanya bengkak, dikira Mas ngapa-ngapain kamu di mobil," goda Akbar.
Hannah tersenyum malu, lalu kembali menyandarkan tubuhnya di jok.
Mobil kembali melaju menuju rumah mereka. Malam ini, Hannah belum bisa membalas ucapan "I love you" itu. Lidahnya masih kelu, hatinya masih berhati-hati. Tapi jauh di lubuk hatinya, satu bata dari tembok keraguannya telah runtuh lagi.
Akbar benar. Dia adalah pria yang sabar. Dan mungkin, hanya pria sesabar itulah yang mampu meyakinkan Hannah bahwa dirinya berharga.
Sesampainya di rumah, saat Akbar membukakan pintu untuknya, Hannah menatap punggung tegap suaminya.
Tunggu Hannah ya, Mas, batin Hannah berjanji. Sebentar lagi. Tunggu sampai Hannah merasa pantas berdiri di samping Mas tanpa rasa takut.
Dan malam itu, mereka tidur dengan perasaan yang lebih damai, diselimuti oleh kesabaran Akbar yang seluas samudera dan harapan Hannah yang mulai bertunas.
Bagaimana gaes lanjut?