Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 Membuat Panas.
Karena Ravindra tidak ingin pindah kamar membuat Aluna mau tidak mau harus tidur di lantai dengan beralasan karpet.
"Kenapa aku tidak bisa berkuasa, kenapa aku harus di lantai dan dan dia harus berada di ranjang empukku. Benar-benar menyebalkan, bukankah ini sudah zaman emansipasi wanita dan seharusnya aku bisa mempertahankan diri dan tidak bisa bersamanya karena diperlakukan seperti itu,"
"Sudahlah, anggap saja aku hari ini berbuat baik, dia tamu di rumahku dan aku sebagai tuan rumah memberikan tempat yang nyaman untuk tamuku," batin Aluna.
Terlalu banyak bicara sendiri di dalam hatinya membuat Aluna akhirnya perlahan memejamkan mata.
Sementara Ravindra ternyata belum tidur, karena berada di atas ranjang Aluna berada di lantai yang kemungkinan Aluna tidak menyadari bahwa suaminya itu masih membuka mata dengan menatap langit kamar.
"Kamu lihat ini?" Ravindra mengingat bagaimana Jiya menunjukkan foto kemesraan Aluna dengan Firman.
"Bukan mereka berdua yang salah, karena orang yang saling mencintai tidaklah salah, tetapi justru kita berdua karena menjadi pemisah untuk mereka,"
Mata Ravindra terpejam sesaat mengingat semua perkataan Jiya. Ravindra juga kembali mengingat masa lalu, bagaimana gadis yang dijodohkan kepadanya meninggalkan hari pernikahannya dan siapa mereka bertemu di Bandara.
"Benar! pada saat dia menangis di Bandara, bukan karena menyesal telah meninggalkan keluarga dan pernikahannya, tetapi karena kekasihnya tidak menepati janjinya," batin Ravindra.
"Dan sampai saat ini kamu bahkan tidak menyesali perbuatanmu, tidak ada kata maaf sama sekali kepadaku secara langsung dan bahkan tidak mencoba untuk menjelaskan, atau paling tidak mengaku salah,"
"Apa mungkin kamu menerima perjodohan ini dan tahu konsekuensi yang akan kamu dapatkan hanya karena kalau kamu dibenci orang tuamu," Ravindra sejak tadi bergerutu di dalam hatinya dengan semua pemikirannya.
Terlalu lelah berbicara sendiri bertanya dan menjawab pertanyaan itu sendiri membuat Ravindra akhirnya perlahan memejamkan mata.
****
Pagi-pagi Aluna berada di dapur bersama dengan Uminya.
"Kamu tidak membuatkan minuman untuk suami kamu?" tanya Wulan melihat ke arah putrinya yang duduk di meja makan sembari melihat ponselnya.
"Aluna tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya," jawabnya dengan santai.
"Aluna, bagaimana mungkin jawaban kamu terlalu enteng," sahut Wulan.
"Aluna berbicara apa adanya, memang Aluna tidak tahu jika harus melakukan hal seperti itu," jawabnya lagi.
"Aluna, kamu ini adalah seorang istri dan tidak sepantasnya menyiapkan sarapan di pagi hari untuk suaminya, hal kecil seperti membuatkan kopi," ucap Wulan.
"Meski tidak bisa membuat kopi, maka kamu bisa belajar dari Kakak," sahut Jiya tiba-tiba saja sudah berada di dapur.
"Biar Kakak buatkan, kamu perhatikan dengan baik dan kedepannya kamu yang membuatkan," sahut Jiya dengan santai berjalan membuka lemari untuk mengambil gelas.
"Membuatkan untuk siapa?" tanya Aluna dengan wajah ketus.
"Suami kamu .... Maksud Kakak suami kamu udah juga Firman," jawab Jiya mengganti kata-katanya ketika Wulan melihatnya dengan serius.
"Tidak usah, Ravindra tidak minum kopi," jawab Aluna.
"Aluna jika suami kamu tidak minum kopi, maka kamu harus membuatkan yang lain untuk melayaninya, seperti apa yang kakak lakukan kepada Firman, setiap pagi Kakak bangun lebih awal untuk menyiapkan pakaiannya ke kantor, menyiapkan sarapannya dan melakukan hal-hal yang lain sebagai seorang istri," ucap Jiya menggurui Aluna.
"Sayang sekali Ravindra menikahiku dan tidak pernah meminta hal itu kepadaku, karena dia menikahi untuk menjadikanku seperti istri bukan sebagai pembantu," jawab Aluna ketus.
Jiya langsung terdiam mendengar perkataan menohok itu.
"Mana ada seorang istri menjadi seorang pembantu," sahut Jiya tidak mau kalah dan masih memiliki jawaban untuk adiknya.
"Ya sudah jika memang pagi-pagi Ravindra tidak meminum kopi dan kamu bisa membuatkan yang lain untuknya dan jika tidak bisa kamu bisa belajar pelan-pelan, bagaimanapun kamu harus melayani suami," ucap Wulan juga ikut memberikan saran pada putrinya.
"Hmmmm, Umi bukan mau ikut campur tentang urusan rumah tangga kalian, Umi tiba-tiba saja kepikiran, apa kamu sudah menjalankan kewajiban kamu sebagai seorang istri dan kewajiban itu bukan hanya melayani suami kebutuhannya setiap hari tetapi juga kebutuhan ranjangnya," ucap Wulan sangat hati-hati berbicara.
Mata Aluna melihat langsung ke arah Jiya. Tidak bisa bohong dari raut wajah sang kakak terlihat sangat menunggu jawaban Aluna.
"Kalau soal itu jangan diragukan lagi, Aluna sudah dewasa dan tahu kewajiban seorang istri seperti apa. Kewajiban memberikan ketenangan kepada suami di dalam kamar dan bukan masalah urusan dapur," jawabnya dengan percaya diri dan bahkan sembari tersenyum.
Wajah Jiya terlihat tidak suka mendengarnya, tetapi Aluna sepertinya sengaja menjawab seperti itu dan padahal dari reaksi wajahnya sangat jijik saat berbohong tentang urusan ranjang kepada Wulan.
"Alhamdulillah, karena istri yang baik dan solehah memang harus memberikan hak suaminya. Seorang istri akan di laknat sang maha pencipta jika sampai tidak memberikan hak suami. Bukankah Allah begitu sangat baiknya memberikan derajat wanita jauh lebih tinggi. Keinginan untuk melayani suami saja sudah mendapatkan pahala, maka kalian berdua sebagai istri harus benar-benar taat pada suami dan melakukan kewajiban yang sesungguhnya," ucap Wulan memberi pesan kepada dua putrinya.
"Itu sudah pasti Umi. Bukan begitu Kak Jiya. Hmmmm, nanti Aluna akan tanya-tanya kepada Kakak bagaimana cara lebih romantis lagi kepada suami berada di atas ranjang, bukankah Kakak sudah berpengalaman dan sudah dapat dipastikan mengerti cara-caranya. Maklum Aluna masih pengantin baru," ucap Aluna sembari tersenyum dengan menyombongkan diri.
Jiya hanya menjawab dengan senyuman terpaksa.
"Astagfirullah, jangan-jangan benar apa yang dikatakan Melly. Bahwa dia sebenarnya menyukai Ravindra. Aku bisa mencium aura kecemburuan di wajahnya. Jika dia awalnya tertarik pada Ravindra, kenapa tidak meminta saja untuk dijodohkan dan kenapa harus aku. Dia juga malah menikah dengan Firman," batin Aluna terlihat begitu kesal.
Tetapi ada aura kepuasan di wajahnya ketika berhasil berbicara seperti itu dan membuat sang Kakak terdiam.
***
Hanya menginap 2 malam di rumah orang tua sang istri dan akhirnya pasangan suami istri itu sama-sama berangkat ke kantor dari kediaman Aluna.
"Memang melayani seperti apa yang kamu lakukan?" Aluna menoleh ke arah sang suami yang sedang menyetir dengan mengerutkan dahi.
"Apa maksudnya?" tanya Aluna.
"Jadi kamu hanya berbohong saja kepada Umi ?" tanya Ravindra dengan satu alis terangkat.
"Berbohong apa?" Aluna benar-benar kebingungan.
"Astaga!" Aluna tiba-tiba saja menyadari dengan mata melotot.
"Kamu mendengarnya?" tanya Aluna menyadari apa yang dimaksud suaminya itu.
"Sudah melakukan kewajiban kepada suami, dan ingin belajar masalah urusan ranjang," ucap Ravindra.
"Jadi kamu benar-benar menguping pembicaraanku?" tanyanya lagi memastikan.
"Aku tidak menguping dan tidak sengaja saja, disaat aku ke dapur dan mendengar semuanya dan aku juga tidak tahu jika kesukaanku sudah berubah, sejak kapan aku tidak menyukai kopi," ucap Ravindra.
Aluna sudah tidak bisa berkutik lagi dan sudah dapat dipastikan suaminya itu mungkin pembicaraan Aluna.
Wajah Aluna harus menahan malu karena berbohong tentang masalah urusan ranjang dan kata-katanya juga pada dia sepertinya terlalu berlebihan pada hal-hal itu tidak terjadi sebenarnya dan walaupun ada hubungan seperti itu di antara mereka dan seharusnya Aluna tidak membicarakan.
"Jangan kebiasaan menguping pembicaraan orang lain dan aku punya alasan untuk berbohong," ucap Ravindra tidak di tanggapi Aluna.
Bersambung.....